PEMBERIAN MEDIA KOMUNIKASI, INFORMASI DAN
Keywords: Non-Smoking Area, cigarettes, indicators
PENDAHULUAN
Menurut World Health Organization (WHO), perilaku merokok merupakan salah satu penyebab kematian paling besar di dunia (1). Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 1,1 miliar perokok di dunia yang sepertiganya berasal dari kelompok berusia 15 tahun ke atas. Sementara itu, prevalensi perokok di Indonesia pada penduduk umur di atas 10 tahun sebesar 27,7% (2). Berdasarkan Laporan Kementerian Kesehatan tahun 2016 menunjukkan bahwa proporsi perilaku merokok penduduk umur 15 tahun ke atas sebesar 32,8%, dan mengalami peningkatan di tahun 2018, yaitu 33,8%. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 9,1%
penduduk umur 10-18 tahun merupakan perokok aktif (3).
Rerata jumlah batang rokok di Provinsi Kalimantan Selatan melebihi angka nasional. Proporsi rerata jumlah batang rokok di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 16,7 batang, sedangkan di Indonesia proporsi reratanya sebanyak 12,3 batang. Jumlah rerata batang rokok yang dihisap di Provinsi Kalimantan Selatan menempati urutan kedua di Indonesia setelah Bangka Belitung. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa perokok di Provinsi Kalimantan Selatan yang berusia ≥10 tahun adalah sebesar 23,5%
(4). Berdasarkan data Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang di lakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru pada tahun 2019 diketahui bahwa terdapat 44,2% keluarga yang merokok di Kota Banjarbaru (5). Artinya angka perokok di Kota Banjarbaru lebih tinggi dibandingkan angka perokok di Provinsi Kalimantan Selatan.
Data laporan Kinerja Instansi Pemerintahan Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru tahun 2018 tentang upaya implementasi kawasan tanpa rokok di sekolah dengan indikator kinerja persentase upaya implementasi sebanyak 50% dan hanya terealisasikan sebanyak 10%. Dari hasil tersebut dapat diketahui apabila upaya implementasi kawasan tanpa rokok di sekolah belum memenuhi dari target yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru (6). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu alternatif intervensi terkait upaya implementasi KTR yang belum memenuhi target capaian Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru.
METODE
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif.
Penelitian eksplanatif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian secara kuantitatif maupun kualititatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui data-data yang terdapat di dalam Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru tahun 2018. Melalui laporan tersebut dapat dilakukan identifikasi permasalahan program yang belum memenuhi target capaian. Selain pengumpulan data secara kuantitatif juga diperlukan pengumpulan data secara kualitatif. Pengumpulan data secara kualitatif dilakukan melalui metode wawancara mendalam kepada kepala bidang P2TM, kepala seksi dan pemegang program KTR yang mengetahui lebih mendalam terkait permasalahan atau kendala yang di alami, dengan tujuan mendapatkan informasi lebih mudah dan mendalam mengenai faktor penyebab belum dapat terpenuhinya target capaian dari program tersebut.Permasalahan yang diangkat terkait masih belum tercapainya target upaya implementasi program KTR di Kota Banjarbaru yang kemudian
yaitu banner kepada pihak sekolah terkait 8 indikator yang harus di penuhi agar sekolah dapat dikatakan sebagai sekolah yang telah menerapkan KTR. Instrumen yang digunakan berupa lembar checklist dan isian yang berisi tentang isi banner, desain, gambar dan ketersampaian pesan serta saran untuk perbaikan media.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penerapan kawasan tanpa rokok harus memuat informasi mengenai 8 indikator yang wajib di penuhi sekolah agar dapat dikatakan sebagai sekolah yang telah menerapkan KTR. Indikator yang harus di penuhi yaitu antara lain adalah tidak ada tempat merokok, tidak ada bau asap rokok, adanya tanda larangan merokok, tidak menyediakan asbak dan atau korek api, tidak ada puntung rokok, tidak ada orang yang merokok, tidak ada iklan promosi rokok, tidak ada penjual rokok. Jika di sekolah dapat memenuhi 8 indikator diatas maka sekolah tersebut dapat dinyatakan sebagai sekolah KTR namun apabila terdapat salah satu indikator saja yang tidak dapat dipenuhi maka sekolah tersebut belum bisa dinyatakan sekolah KTR. Berdasarkan laporan kinerja tahunan implementasi KTR tahun 2018 yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru didapatkan hasil bahwa hanya terdapat 7 (10%) sekolah dari 70 sekolah yang di nyatakan sebagai sekolah yang menerapkan KTR. Penerapan KTR di sekolah masih banyak yang belum dapat memenuhi 8 indikator tersebut disebabkan masih banyak ditemukan puntung rokok dilingkungan sekolah, yaitu sebesar 59 sekolah (84%).
Permasalahan lainnya ialah masih banyak sekolah yang menyediakan asbak di dalam ruangan kantor yaitu sebesar 24 (34%) sekolah. Berdasarkan permasalahan tersebut dibuat media KIE berupa banner dengan tujuan dapat meningkatkan pengetahuan warga sekolah serta tamu yang datang kesekolah atau masyarakat di sekitar sekolah dapat mengetahui larangan dan yang harus dipenuhi dalam mengimplementasikan KTR di sekolah.Untuk mengetahui pernyataan keinginan dari pihak sekolah mengenai agar banner dapat terdisribusi merata keseluruh sekolah di Kota Banjarbaru. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1 Hasil Kuesioner Pernyataan Keinginan untuk Mendapatan Banner
Keinginan Mendapatkan Banner Frekuensi Persentase
Ya 36 100%
Tidak 0 0%
Total 36 100%
Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa semua sekolah sangat mengharapkan adanya pembagian media informasi mengenai KTR yang dapat menunjang kegiatan promosi dan upaya implementasi dari setiap sekolah. Data tersebut dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengajuan anggaran pembuatan banner KTR.
PENUTUP
Program kerja yang belum dapat terlaksana dengan maksimal dapat dikarenakan kurangnya informasi terkait indikator yang harus di penuhi dari setiap sekolah agar sekolah tersebut dapat dinyatakan sebagai sekolah yang menerapkan KTR. Pengaruh dari faktor luar, seperti perilaku dari masyarakat sekitar yang berkunjung atau hanya melalui dilingkungan sekolah tersebut. Sehingga masih banyak terdapat putung rokok disekitar lingkungan sekolah yang kemudian sekolah tersebut tidak dapat dikatan sekolah KTR di karenakan adanya salah satu indikator yang belum dapat terpenuhi.Berdasarkan
media KIE berupa banner yang berisi informasi 8 indikator yang harus di penuhi untuk penerapan KTR.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan pelaksanaan magang di Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, pada Bidang Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk dapat belajar lapangan dengan sangat baik. Fauzie Rahman, SKM, MPH selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat sekaligus dosen pembimbing fakultas dan Dosen penguji, Nur Laily, SKM, M.Kes di Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization (WHO). Tobacco control country profiles. American cancer society, world health organization and international union against cancer, 2003.
2. Bahtiar A, Rahardja E. Pengaruh brand equity, harga dan distribusi terhadap keputusan pembelian vape (studi pada Vape Store 5time).Journal of Management 2017; 6: 1-10.
3. Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018.
4. Darlianis. Profil pencapaian tugas perkembangan siswa di SMP Negeri 8 Teluk Kuantan. Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan Humaniora 2016; 2.
5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun 2018
6. Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru. Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru. Banjarbaru, 2018.