• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA IBU BALITA DAN IBU HAMIL

Introduction: Exclusive breastfeeding is breastfeeding only to infants up to 6 months of age without the addition of fluids or other foods. Mother's Milk (ASI) is the best food for babies because it can have positive effects on a child's physical, cognitive, and emotional development. According to UNICEF, 30,000 infant deaths in Indonesia and 10 million deaths of children under five in the world each year can be prevented through exclusive breastfeeding without providing additional food and drink to babies. Purpose: to explain the results of the work program in the Birayang Inpatient Health Nutrition Sector.

Method: The method used in this research is descriptive observation method. The population in this study were pregnant women and toddlers in Posyandu Working Area of Birayang Inpatient Health Center with a sample of 90 people using a questionnaire instrument. Results: Posyandu 1 Before the intervention 40% had good knowledge and after the intervention was carried out 80% had good knowledge and the respondent's attitude from negative attitude 10% changed to 7%, Posyandu 2 Before the intervention 33% had good knowledge and after the intervention had 77% good knowledge and

PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP

PENDAHULUAN

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi karena dapat memberikan dampak-dampak yang positif bagi perkembangan fisik anak, kognitif, dan emosional(1).

Air susu ibu, nutrisi ideal untuk bayi karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi dan mengandung seperangkat zat perlindungan terhadap berbagai penyakit (2).

Menurut UNICEF, 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI eksklusif tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan kepada bayi (3).

Begitu pentingnya dan karena ASI Eksklusif adalah hak bayi untuk mendapatkannya, maka pemerintah melalui dinas terkait yaitu Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 450/2004 tentang pemberian ASI Eksklusif sejak lahir sampai dengan usia 6 bulan dan dilanjutkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dan pemberian ASI diteruskan sampai usia dua tahun atau lebih. Dalam pelaksanaan ASI Eksklusif, bayi tidak mendapatkan asupan makanan lain selain ASI. Oleh karenanya ASI yang dihasilkan haruslah yang berkualitas.

Untuk mendapatkan ASI yang bermutu maka harus didukung dengan asupan makanan yang bergizi bagi si ibu (4).

Berdasarkan data pencapaian kinerja Puskesmas Rawat Inap Birayang, program Gizi. Terdapat enam program yang dilaksanakan,. Pertama yaitu pelacakan balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan, capaian realisasi program adalah 100%.

Kemudian, pemberian vitamin A pada balita -6-59 bulan, capaian realisasi program adalah 82,5%. Penimbangan balita di posyandu, capaian realisasi program adalah 73,8%. Pengelolaan pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan balita kurang gizi, capaian realisasi program adalah 100% , bayi usia <6 bulan mendapatkan Asi Eksklusif ,capaian realisasi program 47% (5).

Berdasarkan data diatas, perlu dilaksanakan intervensi untuk meningkatkan capaian bayi usia <6 bulan mendapatkan Asi Eksklusif. Salah satu program yang dapat dilaksanakan adalah dengan kegiatan penyuluhan mengenai Asi Eksklusif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Penyuluhan merupakan suatu proses pendidikan yang akan membawa perubahan sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan. Perubahan perilaku memerlukan waktu. Sebelum melakukan perilaku yang ditawarkan , sasaran penyuluhan harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa perilaku baru tersebut sangat bermanfaat dan mampu dilakukan oleh sasaran. Demikian pula halnya dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif bagi bayi. Harus diyakinkan betul bahwa hal itu bermanfaat bagi bayi serta keluarga, dan ibu mampu melaksanakannya (6).

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi deskriptif.

Penelitian dilakukan di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Birayang pada tanggal 18 Juli 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan ibu balita di attitude negative 23% changed to 3% negative attitude and 97% positive attitude, Posyandu 3 Before the intervention 57% had good knowledge and after the intervention became 83% good knowledge and negative attitude as much as 30% to 10% and 90%

positive attitude. Conclusion: the instrument made was considered effective in increasing respondents' knowledge and attitudes.

Keywords: ASI, Toddler Pregnant Women, Puskesmas

Posyandu wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Birayang dengan jumlah sampelsebanyak 90 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan metode observasi deskriptif.Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan ibu balita di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Birayang dengan sampel sebanyak 90 orang menggunakan instrumen kuesioner. Data sekunder didapat dari data program gizi Puskesmas Rawat Inap Birayang, sedangkan data primer didapat dari hasilwawancara dengan kepala nutrisionis.

HASIL DAN PEMBAHASAN Posyandu 1

Kategori Pre Test Post Test

Baik Cukup

12 orang (40%) 15 orang (50%)

24 orang (80%) 6 orang (20%) Kurang

Total

3 orang (10%) 30 orang (100%)

0 orang (0%) 30 orang (100%)

Kategori Pre-test Post-test

Positif 90% 93%

Negatif 10% 7%

Total 100% 100%

Posyandu 2

Kategori Pre-test Post-test

Baik 10 orang (33%) 23 orang( 77%)

Cukup 12 orang (40%) 7 orang(23%)

Kurang 8 orang( 27%) 0 orang (0%)

Total 30 orang (100%) 30 orang

(100%)

Kategori Pre-test Post-test

Positif 77% 97%

Negatif 23%% 3%

Total 100% 100%

Posyandu 3

Kategori Pre-test Post-test

Baik Cukup Kurang

Total

17 orang (57%) 13 orang (43%) 0 orang( 0%) 30 orang (100%)

25 orang( 83%) 5 orang(17%)

0 orang (0%) 30 orang (100%)

Kategori Pre-test Post-test

Positif 70% 90%

Negatif 30% 10%

Total 100% 100%

Berdasarkan tabel di atas terdapat peningkatan pengetahuan pada saat sebelum diberikan intervensi posyandu 1 dan sesudah diberikan intervensi. Sebelum dilaksanakan intervensi terdapat 10% responden berpengetahuan kurang, 50% responden berpengetahuan cukup, 40% berpengetahuan baik dan setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan meningkat menjadi 80% berpengetahuan baik dan sikap negatif sebanyak 10 % setelah dilaksanakan intervensi sikap responden berubah menjadi 7% perubahan sikap tersebut dilihat dari jawaban yang telah diberikan dan dapat dilihat dari hasil kuesioner post-test dan 100% responden memiliki sikap yang positif terhadap masalah Asi Eksklusif. Posyandu 2 Sebelum dilaksanakan intervensi terdapat 27% responden berpengetahuan kurang, 40% responden berpengetahuan cukup, 33% berpengetahuan baik dan setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan meningkat menjadi 77%

berpengetahuan baik, 23 % berpengetahuan cukup dan sikap responden sesudah dilakukan penyuluhan meningkat, yaitu dari sikap negatif sebanyak 23 % setelah dilaksanakan intervensi sikap responden berubah menjadi 3 % sikap negatif dan 97%

responden memiliki sikap yang positif terhadap masalah Asi Eksklusif. Posyandu 3 Sebelum dilaksanakan intervensi terdapat 0% responden berpengetahuan kurang, 43%

responden berpengetahuan cukup, 57% berpengetahuan baik dan setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan meningkat menjadi 83% berpengetahuan baik, 17 % berpengetahuan cukup dan sikap responden sesudah dilakukan penyuluhan meningkat, yaitu dari sikap negatif sebanyak 30 % setelah dilaksanakan intervensi sikap negatif responden menjadi 10% dan 90% responden memiliki sikap positif terhadap pentingnya pemberian Asi secara Eksklusif ke bayi.

Menurut Azwar (2009) bahwa pengetahuan yang baik dapat membentuk keyakinan yang baik. Keyakinan yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap perilaku. Keyakinan tersebut akan mempengaruhi sikap seseorang apakah perilaku tersebut menghasilkan sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan penambahan pengetahuan sebagai awal pembentukan sikap pemberian ASI eksklusif (7).

Wenas, Malonda, Bolang dan Kapantow (2013) menyatakan bahwa banyak sikap dan kepercayaan yang tidak mendasar terhadap makna pemberian ASI yang membuat para ibu tidak melakukan ASI eksklusif selama 6 bulan. Umumnya alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusifmeliputi rasa takut yang tidak berdasar bahwa ASI yang dihasilkan tidak cukup atau memiliki mutu yang tidak baik, teknik pemberian ASI yang salah, serta kepercayaan yang keliru bahwa bayi haus dan memerlukan cairan tambahan. Selain itu, kurangnya dukungan dari pelayanan kesehatan dan keberadaan

pemasaran susu formula sebagai pengganti ASI menjadi kendala ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (8).

PENUTUP

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Bidang Gizi Puskesmas Rawat Inap Birayang bersama Kepala Nutrisionis, didapatkan intervensi yaitu Penyuluhan tentang ASI Eksklusif. Rencana kegiatan (plan of action) yang dilakukan dimulai dari tahap persiapan dengan melakukan diskusi bersama Kepala Nutrisionis mengenai metode yang digunakan dalam pelaksanaan Penyuluhan tentang ASI Eksklusif . Pelaksanaan kegiatan penelitian yaitu pelaksanaan Penyuluhan tentang ASI Eksklusif dengan responden ibu hamil dan ibu balita, hingga monitoring dan evaluasi adalah bahwa tercapainya peningkatan pengetahuan dan sikap ibu balita dan ibu hamil dan diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap. Dalam hal ini, artinya Responden telah memahami apa yang disampaikan oleh pemateri.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Puskesmas Rawat Inap Birayan dan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, serta pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alamsyah D, Marlenywati, Ruthhayana. 2017. Hubungan Antara Kondisi Kesehatan Ibu, Pelaksanaan IMD Dan Iklan Susu Formula Dengan Pemberian Asi Eksklusif.

Jurnal IKESMA 13(1):68-76.

2. Fahriani R. 2014. Faktor yang Memengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Cukup Bulan yang Dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Jurnal Sari Pediatri 15(6):394-402.

3. Surya, Made Oka Kumala. Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Timur Tahun 2016”.

Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, 2016.

4. Darmawan D. 2012. Strategi Komunikasi Bidan Untuk Meningkatkan Partisipasi Ibu- Ibu Menyusui Dalam Program Asi Eksklusif Di Jabon Sidoarjo. Jurnal KANAL 1(1):

1-101.

5. Puskesmas Rawat Inap Birayang. 2018. Profil Kerja Institusi Puskesmas Rawat Inap Birayang.

6. Aritonang I, Priharsiwi E. Busung Lapar: potret buram anak Indonesia di era otonomi daerah.Yogyakarta:Media Pressindo.

7. Azwar. 2009, Pelaksanaan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Jakarta: Warga Kesehatan Masyarakat.

8. Wenas, Malonda, Bolang dan Kapantow. (2013). Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Menyusui Dengan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Tompaso Kecamatan Tompaso: Laporan Penelitian . Manado : Bidang Minat Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universita Sam Ratulangi Manado

IMPLEMENTASI MEDIA PROMOSI HEMAT ENERGI LISTRIK