Alpiannor, Ayu Riana Sari, Nita Pujianti, Anisah Uswatun Hasanah, Recksy Harisandi
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat Email Korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Remaja dan permasalahannya menjadi isu penting saat ini dan mengakibatkan remaja memerlukan perhatian besar dalam pembinaannya. Menurut hasil Susenas tahun 2018, Indonesia adalah rumah bagi 63,82 juta jiwa pemuda. Pembinaan kelompok BKR yang belum optimal di kabupaten banjar mengakibatkan masalah pernikahan dini yang tinggi. Tujuan penelitian untuk menganalisis situasi dan permasalahan di Sub bidang Bina Ketahanan Remaja, Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi deskriptif.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kelompok bina keluarga remaja di Kecamatan Gambut dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang menggunakan teknik purposive sampling.
Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu indepth interviewAdapun instrumen yang digunakan pada saat magang adalah lembar pre-posttest, lembar sharing antar kader BKR dan lembar checklist. penelitian menunjukkan kader BKR yang berhadir adalah 15 orang (75%) dan diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dari pengetahuan rendah 26,67% setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan yang rendah berkurang menjadi 13,33%. Kader BKR telah memahami apa yang disampaikan oleh promotor, serta terjadinya feedback berupa saran yang diberikan oleh peserta yang berhadir untuk kemajuan pelaksanaan kelompok BKR yang ada di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar.
Kata kunci: Remaja, BKR, BKKBN
ABSTRACT
Introduction:
Youth and Consideration Become Important Issues Today and Youth Considerations Need Great Attention In Their Development. According to the 2018 Susenas results, Indonesia is home to 63.82 million young people. Purpose: to analyze and discuss in the Youth Resilience Development Sub- Sector, BKKBN Representative of South Kalimantan. Methods: The method used in this research is descriptive observation method. The population in this study were all cadres of adolescent family building groups in Gambut with a total sample of 20 people using purposive sampling technique. Data collection methods used were in-depth interviews As an instrument used during the trial sheet, the sharing sheet between BKR cadres and the checklist sheet. Results:
the study showed that there were 15 cadres of BKR present (75%) and
were known to increase knowledge from low knowledge 26.67% after the
intervention of knowledge which increased to 13.33%. Conclusion: BKR
cadres have agreed to what was promoted by the promoter, also sent
feedback containing suggestions given by participants who attended to
progress the implementation of the BKR groups in Gambut, Banjar
regency.
Keywords:Youth, BKR, BKKBN
PENDAHULUAN
Remaja dan permasalahannya menjadi isu penting saat ini dan mengakibatkan remaja memerlukan perhatian besar dalam pembinaannya (1). Menurut hasil Susenas tahun 2018, Indonesia adalah rumah bagi 63,82 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut merupakan seperempat dari total penduduk Indonesia. Pemuda laki-laki lebih banyak daripada pemuda perempuan, dengan rasio jenis kelamin sebesar 102,36, yang berarti setiap 102 pemuda laki-laki terdapat 100 pemuda perempuan. Persentase pemuda di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan (56,68 persen berbanding 44,32 persen) (2). Jumlah yang sangat besar tersebut adalah potensi yang memerlukan pengelolaan yang terencana, sistematis dan terstruktur agar dapat dimanfaatkan menjadi modal pembangunan kedepan (1).
Disamping jumlahnya yang banyak, tercatat angka kelahiran di usia remaja masih tinggi. Berdasarkan hasil SDKI 2012, di Indonesia age specific fertility rate (ASFR untuk kelompok umur 15-19) 48 per 1000 perempuan, yang artinya dari 1000 remaja perempuan yang berusia 15-19 tahun, terdapat 48 kelahiran (3). Permasalahan lain yang cukup memprihatinkan pada remaja adalah pernikahan dini pada remaja, perilaku seks pranikah dan penyalahgunaan napza.Pernikahan dini merupakan pernikahan yang terjadi pada remaja putri di bawah usia 16 tahun yang seharusnya belum siap untuk menikah(4).
Hal ini bertentangan dengan UU No. 1 tahun 1974, pasal 7 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria telah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun”. Sebuah perkawinan dikatakan kasus pernikahan dibawah umur ketika usia dari salah satu atau kedua mempelai berada di bawah usia yang telah ditetapkan tersebut (5). Salah satu masalah kesehatan reproduksi remaja yang banyak diperhatikan adalah masalah perilaku seks bebas pranikah pada remaja. Tingginya angka kejadian perilaku pacaran remaja yang tidak sehat dapat mengarah pada perilaku seks bebas pranikah (6).
Upaya BKKBN dalam mengatasi permasalahan remaja yaitu dengan melakukan pendekatan kepada remaja yang dilaksanakan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) dan pendekatan kepada orang tua yang memiliki remaja yang dilaksanakan melalui pengembangan kelompok bina keluarga remaja (BKR). Dari sisi pengembangan kelompok BKR, dinilai penting untuk mengaktifkan kelompok ini, karena para orang tua yang tergabung dalam kelompok BKR dapat berdiskusi tentang teknik berkomunikasi dan cara mendampingi anak remaja mereka (1). Berdasarkan data dalap 2019, jumlah kelompok bina keluarga remaja (BKR) adalah 44.740 (7).
Direktorat Bina Ketahanan Remaja merupakan salah satu direktorat di bawah Kedeputian Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KS/PK), yang memiliki tugas antara lain melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK), pemantauan dan evaluasi serta pemberian bimbingan teknis fasilitasi di bidang Bina Ketahanan Remaja.Kelompok bina keluarga remaja (BKR) adalah wadah kegiatan yang beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja usia 10–24 tahun. BKR bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja, dalam rangka meningkatkan kesertaan, pembinaan dan kemandirian ber-KB bagi anggota kelompok (8).
Hasil dari pembinaan kelompok BKR menunjukkan bahwa keluarga menjadi anggota BKR yaitu sebesar 13,41% di kabupaten banjar terendah dari kabupaten lainnya dan pada kecamatan gambut yaitu sebesar 0% (Dalap, 2019). Hal ini masih jauh dari capaian kerja institusi yaitu sebesar 100% untuk pelaksanaan pembinaan genre yang ada di kabupaten/kota (9).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu upaya intervensi Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kelompok BKR tersebut perlu dikembangkan suatu kegiatan yang memacu kelompok untuk lebih maju dan mandiri. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Bina BKR. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan
metode pembinaan yang tepat yaitu on & off the job training yang tujuannya mengintroduksikan kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan baru kepada para kelompok BKR untuk mempertahankan tugas dan tujuan dan mencapai target yang diinginkan (10). Pembinaan tersebut diharapkan akan mendorong setiap Kelompok BKR untuk berusaha meningkatkan kualitas dan kapasitasnya. Kelompok BKR yang menjadi unggulan sebagai model, tempat rujukan, studi banding, dan magang bagi kelompok BKR, dan membina BKR lainnya yang masih kurang dari target yang ada.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi deskriptif.
Penelitian dilakukan di Desa Guntung Papuyu KecamatanGambut pada tanggal 31 Juli 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kelompok bina keluarga remaja di Kecamatan Gambut dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu indepth interview kepada kasubbid Bina Ketahanan Remaja dan Penyuluh KB Kecamatan Gambut. Indepth interview dilakukan karena lebih mudah untuk mendapatkan informasi dengan waktu yang berbeda-beda serta dapat dilakukan kapan saja. Data primer juga diperoleh dengan menggunakan kuisioner untuk mengukur pengetahuan Kader BKR yang ada. Data sekunder:Laporan KB Nasional BKKBN. Adapun instrumen yang digunakan pada saat penelitian ini adalah lembar pre-post test, lembar sahring kelompokBKRdan lembar checklist.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Variabel Kategori Jumlah Presentase
Kehadiran kelompok BKR Berhadir 15 75%
Tidak Berhadir 5 25%
Kehadiran ketua kader BKR Berhadir 1 50%
Tidak Berhadir 1 50%
Mengisi lembar kuesioner Mengisi 15 100%
Tidak mengisi 0 0%
Pengetahuan sebelum penyuluhan Rendah 4 26,67%
Tinggi 11 73,33%
Pengetahuan sesudah penyuluhan Rendah 2 13,33%
Tinggi 13 86,67%
Pembimbingan petugas Baik 14 93,33%
Cukup 1 6,67 %
Kurang 0 0%
Pelaksanaan sharing Baik 15 100%
Tidak 0 0%
Sumber: Data primer, 2019
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa kader BKR yang berhadir adalah 15 orang (75%) dan kader BKR yang tidak berhadir adalah 5 orang (25%). Untuk itu, Merupakan awal yang baik untuk pelaksanaan selanjutnya untuk meningkatkan minat dalam Kader BKR ataupun anggota nantinya.
Ketua kader BKR yang berhadir adalah 1 orang (50%) dan kader BKR yang tidak berhadir adalah 1 orang (50%). Berdasarkan wawancara ketidakhadiran ketua kader dikarenakan adanya musim panen untuk itu ketua kader tidak dapat berhadir dalam pertemuan yang dilaksanakan.Penggerakan upaya pemimpin untuk menggerakkan (memotivasi) seseorang atau kelompok orang yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan atau motive dalam dirinya untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Sudjana (2000:156) yang menyatakan bahwa penggerakan sebagai upaya pimpinan untuk menggerakan (memotivasi) seseorang atau kelompok orang yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan atau motivasi dalam dirinya untuk melakuakan tugas atau kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi (11).
Peserta yang berhadir mengisi lembar pre-post test adalah 15 orang (100%) dan tidak mengisi adalah 0 orang (0%). Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kemampuan kader dalam membaca dan menjawab pertanyaan sendiri dan juga mengikuti rangkaian dalam kegiatan pelaksanann intervensi yang dilakukan.
Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan berkategori tinggi. Adapun, tingkat pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan meningkat, yaitu dari pengetahuan rendah 26,67% setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan yang rendah berkurang menjadi 13,33%. Dalam hal ini, artinya kader BKR telah memahami apa yang disampaikan oleh promotor. Peranan orang tua begitu besar dalam mencegah dan juga menanggulangi kenakalan remaja. Orang tua perlu dibekali pengetahuan mengenai cara mendidik remaja, cara berkomunikasi dengan remaja, dan cara menyelesaikan permasalahan remaja. Hal tersebut diperlukan agar menciptakan keluarga yang harmonis (12). Peran orang tua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternative jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orang tua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternative supaya remaja itu bisa berpikir lebih jahu dan memilih yang terbaik. Orang tua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat anak dan remaja tambah bingung (11).
Pembimbingan yang dilakukan mahasiswa/petugas menurut kader BKR sebagian besar berpendapat adalah baik (93,33%) dengan keterangan bahwa mahasiswa memberikan arahan yang mudah dipahami, peserta dapat berinteraksi dengan pembicara dan juga penyampaian yang mudah dimengerti. Selanjutnya 1 orang berpendapat cukup (6,67%) dengan keterangan bahwa tingkat penyampaian yang bagus dan tingkatkan lagi.
Pelaksanaan pembimbingan dilakukan dengan baik dengan berpendapat ya (100%) dengan keterangan bahwa masyarakat dengan atusias untuk bertanya dan menjawab serta dapaat membuka pikitan ibu-ibu untuk membimbing remaja dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam kelompok BKR yang ada.Hasil masukan yang diberikan oleh peserta yang berhadir untuk kegiatan kelompok BKR selanjutnya yang melalui lembar isian adalah diharapkan nantinya dalam pelaksanaan semua dapat bersosialisasi dengan baik karena dapat membantu cara mendidik anak dengan benar.
Dimana pelaksanaan selanjutnya dapat dilakukan di majelis taqlim, perkumpulan maulid, perkumpulan pengajian dan diharapkan pihak pemerintah dapat lebih sering melakukan sharing BKR agar masyarakat antusias serta mendukung kelompok BKR yang ada.
PENUTUP
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Subbidang Bina Ketahanan Remaja BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan diketahui kendala yang dihadapi ketika akan tidak adanya pembinaan yang dilakukan untuk kelompok BKR di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama Kepala Subbidang Bina Ketahanan Remaja, didapatkan intervensi yaitu pembinaan kelompok BKR. Rencana kegiatan (plan of action) yang dilakukan dimulai dari tahap persiapan dengan melakukan diskusi bersama Kepala Subbidang Bina Ketahanan Remaja mengenai metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan kelompok BKR.
Pelaksanaan kegiatan penelitian yaitu pelaksanaan pembinaan kelompok BKR mawar dan kasih ibu, hingga monitoring dan evaluasi adalah bahwa tercapainya kader BKR yang berhadir adalah 15 orang (75%) dan diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dari pengetahuan rendah 26,67% setelah dilaksanakan intervensi pengetahuan yang rendah berkurang menjadi 13,33%. Dalam hal ini, artinya kader BKR telah memahami apa yang disampaikan oleh promotor, serta terjadinya feedback berupa
saran yang diberikan oleh peserta yang berhadir untuk kemajuan pelaksanaan kelompok BKR yang ada di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan dan PKB Kecamatan Gambut, Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, serta pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Bina Keluarga Remaja 2016.
2. Badan Pusat Statistik, Sub Direktorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial.
Statistik Pemuda Indonesia. Badan Pusat Statistik Jakarta. 2018.
3. Rizkianti, A., Amaliah, N., & Rachmalina, R. Penggunaan Kontrasepsi pada Remaja Perempuan Kawin di Indonesia (Analisis Riskesdas 2013). Buletin Penelitian Kesehatan 2017. 45(4): 257-266.
4. Chandra Merta Sari DAE. Hubungan dukungan keluarga dengan motivasi remaja terhadap pernikahan dini di Desa Sukowono Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember. Skripsi. Jember: Universitas Jember. 2015.
5. Sari DT. Wacana dispensasi perkawinan di bawah umur di Jombang. Jurnal Paradigma 2014. 2(2): 1-6.
6. Istiqomah, N., & Notobroto, H. B. Pengaruh Pengetahuan, Kontrol Diri terhadap Perilaku Seksual Pranikah di Kalangan Remaja SMK di Surabaya. Jurnal Biometrika dan Kependudukan 2017. 5(2): 125-134.
7. Laporan Dalap. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
8. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Direktorat Bina Ketahanan Remaja. Pedoman pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR). 2012.
9. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Profil Kerja Institusi BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan. 2019.
10. Notoatmodjo S. Pengembangan sumber daya manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
2009.
11. Apriani, F., & Suminar, T. Manajemen penyelenggaraan program bina keluarga remaja melalui kegiatan keterampilan merajut di Rw 06 Kelurahan Bandarjo Ungaran Barat. Journal of Nonformal Education and Community Empowerment 2015. 4(1): 1-6.
12. Hayati, R. N. Peran Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana Melalui Program Bina Keluarga Remaja Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja (Di Desa Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang). Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang. 2017.