• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESA SADAR LINGKUNGAN DESA MANDIANGIN TIMUR, KECAMATAN KARANG INTAN, KABUPATEN BANJAR

DESA SADAR LINGKUNGAN DESA MANDIANGIN TIMUR,

PENDAHULUAN

Masalah lingkungan akibat minimnya pengelolaan sampah merupakan masalah belum teratasi dan menjadi beban serta permasalahan serius di beberapa wilayah di Indonesia (1). Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyatakan bahwa jumlah peningkatan sampah di Indonesia telah mencapai

175.000 ton/hari atau setara 64 juta ton/tahun. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya. Tantangan terbesar pengelolaan sampah adalah penanganan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan (2).

Permasalahan sampah di suatu kawasan meliputi tingginya laju timbulan sampah, kepedulian masyarakat yang masih rendah sehingga suka berperilaku membuang sampah sembarangan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dilakukan hampir di semua kalangan masyarakat, disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang sampah dan dampaknya. Perilaku buruk ini semakin menjadi karena minimnya sarana kebersihan yang mudah dijangkau oleh masyarakat di tempat umum (3).

Masalah lingkungan dan sampah erat kaitannya dengan dengan pola hidup serta budaya masyarakat. Dalam prakteknya, penanggulangan lingkungan dan sampah membutuhkan partisipasi masyarakat (4). Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan yang hijau, bersih dan sehat serta menguatkan inisiatif masyarakat dalam menjaga, memelihara dan meningkatkan fungsi lingkungan. Salah satu upaya untuk dapat menyelesaikan permasalahan sampah adalah dengan melakukan pengelolaan sampah yang dapat dilakukan dengan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) (5).

Kunci keberhasilan program kebersihan dan pengelolaan sampah terletak pada pemilihan. Tanpa pemilihan pengolahan sampah menjadi sulit, mahal dan beresiko tinggi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan. Sosialisasi danpelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai jenis-jenis sampah sehingga dapat dipisahkan menurut jenisnya dan akan mudah untuk diolah. Pelatihan pengolahan sampah yang telah dipisahkan melalui upaya independent composting atau komposting secara mandiri dan pembuatan barang kreasi dari sampah non-organik (5).

Suwerda mengemukakan beberapa dampak apabila sampah tidak dikelola dengan baik diantaranya dapat menjadi sumber penyakit. Pembakaran sampah dapat berakibat terjadinya pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, dan memicu terjadinya pemanasan global. Pembusukan sampah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap dan berbahaya bagi kesehatan, cairan yang dikeluarkan dapat mencemari badan air. Pembuangan sampah kesungai atau badan air dapat menimbulkan pendangkalan sungai, sehingga dapat memicu terjadinya banjir. Dalam upaya untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif sampah diperlukan pengelolaan sampah yang baik dan benar (6).

Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan suatu program pengembangan masyarakat desa sebagai upaya meningkatkan kesadaranmasyarakat desa terhadap pengelolaan lingkungan melalui gerakan desa sadar lingkungan di Desa Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Kegiatan yang dapat

dilakukan meliputi Advokasi , Bina Suasana, Pembentukan Kader, dan Pelaksanaan Pelatihan. Rekayasa sosial melalui pengembangan Desa Sadar Lingkungan merupakan suatu kebutuhan dalam upaya penyelesaian masalah lingkungan yang ada di Desa Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.

METODE KEGIATAN

Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Adapun rincian dalam tiap kegiatan adalah sebagai berikut:

Tahap persiapan berupa analisis situasi dan permasalahan dalam rangka penetapan lokasi kegiatan, penentuan waktu pelaksanaan dan perizinan.

Berdasarkan hasil analisa situasi lokasi kegiatan dilakukan di Desa Mandiangin Timur. Selanjutnya kegiatan perizinan dan penentuan waktu kegiatan akan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Tahap selanjutnya adalah persiapan bahan dan instrumen yang akan digunakanpengabdian.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pengembangan konsep pemberdayaan masyarakat yaitu Advokasi, Bina Suasana, dan Gerakan Kemasyarakatan (ABG).

Advokasi dengan pihak terkait yang diikuti dengan komitmen serta kesepakatan.

Selanjutnya pembentukan kader sebagai bentuk rekayasa sosial yang mendukung desa sadar lingkungan. Transfer pengetahuan dan keterampilan akan diberikan kepadamasyarakat.

c. Monitoring danevaluasi

Kegiatan monitoring dilakukan untuk mengawasi keberlanjutan dari kegiatan yang dilakukan. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari kegiatan yang dilaksanakan yaitu dengan mengukur tingkat pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses kegiatan PDM ini dilaksanakan Hari Rabu Tanggal 26 Juni 2019.

Kegiatan penyuluhan dimulai pada pukul 10.00 WITA. Kegiatan PDM ini berjalan dengan baik dan lancar dan teratur. Adapun lokasi pelaksanaan PDM bertempat di halaman depan kantor Kepala Desa Mandiangin Timur.Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penyampaian tujuan kegiatan oleh timpelaksana kegiatan PDM yang dilanjutkan dengan pemberian pre-test yang terdiri dari10 (sepuluh) pertanyaan kepada 30 warga Desa Mandiangin Timur. Selanjutnya dilaksanakan penyampaian materi pelatihan yang disertai dengan kegiatan pelatihan dan demonstrasi pembutaan pupuk yang dilakukan bersama-sama antara tim pelaksana kegiatan PDM dan peserta kegiatan. Pelatihan pembuatan kompos yang disampaikan dan dipraktikkan oleh fasilitator dari TPA Cahaya Kencana.

Setelah penyampaian materi dan demonstrasi dilakukan sesi diskusi dan tanya jawab dimana peserta yang menjawab pertanyaan dengan mendapatkan hadiah/doorprize. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan evaluasi melalui pemberian soal post-test kepada seluruh peserta. Kegiatan diakhiri dengan pemberian bahan kontak kepada seluruh peserta. Dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan berupa plakat kepada pihak aparat desa dan fasilitator dari TPA Cahaya Kencana, kemudian diakhiri dengan penutupan serta fotobersama.

Adapun sebagian besar peserta kegiatan PDM merupakan ibu rumah tangga sebanyak 24 orang dan sebagian kecil merupakan bapak-bapak 6 orang yang tergabung dalam unit lingkungan desa Mandiangin Timur. Hasil nilai pre-tes danpost- test penilaian pengetahuan pada peserta disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Hasil Nilai Pre-test dan Post- test

Persentase No.Responden Nilai Pre-test Nilai Post-test Selisih Peningkatan(

%)

1 80 90 25 13%

2 75 90 0 20%

3 65 80 0 23%

4 75 70 40 -7%

5 70 85 0 21%

6 65 75 30 15%

8 50 65 50 30%

9 95 95 0 0%

10 80 95 30 19%

11. 85 85 60 0%

12. 90 90 30 0%

13. 55 75 0 36%

14. 55 75 0 36%

15. 70 100 50 43%

16. 55 75 40 36%

17. 55 75 40 36%

18. 40 80 40 100%

19. 65 70 40 8%

20. 50 75 50 50%

21. 90 90 50 0%

22. 75 85 50 13%

23. 90 90 0 0%

24. 85 75 50 -12%

25. 75 80 30 7%

26. 85 85 40 0%

27. 90 90 60 0%

28. 95 95 40 0%

29. 55 80 0 45%

30. 80 95 10 19%

Nilai rata-rata 72,3 83,5 19%

Berdasarkan tabel 1 diketahui hasil penilaian pre test, sebanyak 2 orangpeserta (6.7%)memperolehskortertinggiyaitu95dan 1 orang peserta (3.3%) memperoleh skor terendah yaitu 40, sedangkan hasil penilaian post test menunjukan adanya peningkatan skor dimana 1 orang peserta (3.3%) memperoleh skor tertinggi yaitu100dan 1 orang peserta (3.3%) memperoleh skor terendah yaitu 65. Nilai rata- ratapre test yang diperoleh adalah 72.33 poin, sedangkan nilai rata-rata post test yang diperoleh adalah 83.50 poin.

Berdasarkan perbandingan nilai tertinggi dan terendah tersebut dapat disimpulkan terdapat kenaikan skor pengetahuan sebesar 19% dari total 30 peserta kegiatan PDM setelah diberikan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah pada masyarakat Desa Mandiangin Timur.

Tabel 2. Persentase Peningkatan Hasil Pre-Post Test

Keterangan Jumlah Persentase(%)

Meningkat 20 66.7

Tetap 8 26.7

Menurun 2 6.6

Total 30 100

Tabel 2 menggambarkanpeningkatan pengetahuan sebesar 66,7% (20 peserta dari total 30 peserta kegiatan), 8 orang peserta (26.7%) tidak mengalami peningkatan ataupun penurunanskorpengetahuan dan 2 orang peserta (6.6%) mengalami penurunan skor pengetahuan.

Presentase peningkatan skor pengetahuan ini berada dalam ambang nilaicukup baik dan hasil kegiatan pengabdian dapat dikategorikan berhasil karena mampu meningkatkan pengetahuan peserta mencapai hampir 70%. Adapun setelah dilakukan uji analisis dengan menggunakan uji T Berpasangan (data berdistribusi

normal) hasil yang diperoleh adalah nilai sig 0,0001 < 0,05, keputusannya adalah Ho ditolak yang artinya ada perbedaan rerata antara pre test dan posttest.

Menurut Notoatmodjo (2012) dalam Wulandari (2016), sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan (7). Pernyataan tersebut mendukung hasil kegiatan bahwa kegiatan melalui pendidikan atau penyuluhan kesehatan dapatmempengaruhi pengetahuan. Adanya perbedaan pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ruhmawati dkk (2017), mengenai peningkatan pengetahuan dan sikap kepala keluarga tentang pengelolaan sampah melalui pemberdayaan keluarga dikelurahanTamansari kota Bandung yang menunjukan bahwa ada perbedaan pengetahuan secara signifikan (p=0.001) antara sebelum dan sesudah intervensi (8).

Tabel3. Persentase Nilai Hasil Pre Post Test Sikap

Pre Test Post Tes t

Skor Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase

(%)

50 1 3.3 0 0

70 1 3.3 0 0

80 5 16.7 2 6.7

90 3 10.0 5 16.7

100 20 66.7 23 76.7

Total 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 3 diketahui dari hasil penilaian pretest bahwa 20 orang peserta (66.7%) memperoleh skor tertinggi yaitu 100 dan 1 orang peserta (3.3%) memperoleh skor terendah yaitu 50, sedangkan hasil penilaian post test menunjukan 23 orang peserta (76.7%) memperoleh skor tertinggi yaitu 100 dan 2 orang responden (6.7%) memperoleh skor terendah yaitu 80. Berdasarkan perbandingan nilai tertinggi dan terendah tersebut dapat disimpulkan terdapat kenaikan skor sikap mengenai pengelolaan sampah dari total 30 peserta kegiatan PDM setelah diberikan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah pada masyarakat Desa Mandiangin Timur. Penilaian skor sikap masyarakat ini merupakan bentukgambaranrepresentatif dari kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah.

Adapun setelah dilakukan uji analisis dengan menggunakan uji statistik non parametrik menggunakan uji Wilcoxon, didapatkan nilai sig 0.013 < 0.05, dimana Ho ditolak yang artinya ada perbedaan mean antara pre test dan post test. Menurut Campbell (1950) dalam Notoatmodjo (2012) dalam Wulandari (2016), sikap merupakan kumpulan gejala dalam merespon stimulus, sehingga sikap melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain (Wulandari dan Woro, 2016). Pernyataan tersebut sesuai dengan kegiatan penyuluhan berupa adanya stimulus pendidikan kesehatan, peserta memberikan respon perbedaan sikap antara sebelum dan sesudah kegiatan.

Hal tersebut juga didukung oleh penelitian dari Ruhmawati dkk (2017), mengenai peningkatan pengetahuan dan sikap kepala keluarga tentang pengelolaan sampah melalui pemberdayaan keluarga di kelurahan Tamansari kota Bandung yang menunjukan bahwa ada perbedaan sikap secara signifikan (p=0.005) antara sebelum dan sesudah intervensi (8).

PENUTUP

Hasil dari kegiatan diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan mengenaipengelolaan lingkungan minimal 70% dari peserta kegiatan. Berdasarkan hasil dari kegiatan PDM diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 66,7% dari peserta kegiatan. Hasil uji T Berpasangan (data berdistribusi normal)

diperoleh nilai sig 0,0001 < 0,05, dimana Ho ditolak yang artinya ada perbedaan rerata antara pre test dan posttest.

Peningkatan pengetahuan merupakan langkah awal perubahan perilaku.

Untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku yang benar diperlukanpendampingan, pengawasan dan peran pemerintahdaerah.

Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah diharapkan bagi Desa Mitra adalah meneruskan pembuatan pupuk kompos yang dapat menambah pendapatan warga dengan dijual atau digunakan sendiri. Hal tersebut merupakan benefit lain dari tujuan utama penelitian ini yaitu mengurangi pembuangan sampah di Desa Mandiangin Timur.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kami ucapkan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat atas pembiayaan yang diberikan serta kepada Kepala dan masyarakat Desa Mandiangin Timur atas penerimaan dan kerjasama yang dilakukan. Selain itu kepada mahasiswa dan tim pendamping pelaksana lapangan yang turut membantu terselenggaranya program ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Krisnani H, dkk. Perubahan pola pikirmasyarakat mengenai sampah melalui pengolahan sampah organik dan non organik di Desa Genteng, KecamatanSukasari, Kab. Sumedang. Jurnal Penelitian & PPM 2017; 4(2):129- 389.

2. Sa’diyah K, Juliastuti SR. Pengaruh Jumlah Katalis Zeolit Alam Pada Produk Proses Pirolisis Limbah Plastik Polipropilen (Pp). Jurnal Bahan Alam Terbarukan 2015; 4(2): 40-45.

3.

4. Mulasari SA, Sulistyawati. Keberadaan TPS legal dan TPS illegal di Kecamatan Godean Kabupaten Sleman. Kemas 2014; 9(2): 122-130.

5. Sahil J, Al Muhdar MHI, Rohman F, Syamsuri I. Sistem pengelolaan dan upaya penanggulangan sampah di Kelurahan Dufa-Dufa Kota Ternate. Jurnal Bioedukasi 2016; 4(2):478-487.

6. Sulistiyorini NR, Darwis RS, & Gutama AS. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di lingkungan Margaluyu Kelurahan Cicurug. Share Social Work Jurnal 2015; 5(1): 71-80.

7. Kahfi A. Tinjauan terhadap pengelolaan sampah. Jurisprudentie 2017; 4(1): 36- 49.

8. Wulandari R, Woro K.H.O. 2016. Efek smartcards dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik dalam memilih pangan jajanan. Journal of Health Education 1(1): 85-90.

9. Ruhmawati T, Karmini M, Tjahjani P.D. 2017. Peningkatan pengetahuan dan sikap kepala keluarga tentang pengelolaan sampah melalui pemberdayaan keluarga di kelurahan Tamansari kota Bandung. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 16 (1): 1-7.

PEMBERIAN MEDIA KOMUNIKASI, INFORMASI DAN