Ajaran Iktizal Ushul al-Khamsah dan Ajaran Lainnya
C. Beberapa Masalah sebagai Kelanjutan Ajaran-Ajaran Pokok Aliran Mu’tazilah
I. Beberapa Masalah dari Ajaran Keesaan Tuhan
Aliran Mu’tazilah yang telah memperluas pengertian dan batasan-batasannyaterhadap ajaran keesaan Tuhan, telah menimbulkan beberapa masalah. Masalah-masalah tersebut ialah: dengan ajaran keesaan, mereka”meniadakan sifat Tuhan”. Mereka pun mengatakan nahwa:”Al-Qur’an itu makhluk dan tidak qadim”(non-azali); serta bahwa:”Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat”. Hanya tiga masalah ini yang sempat disampaikan didalam pembicaraan berikut, yang berhubungan dengan keesaan Tuhan.
1. Masalah sifat Tuhan
Sebelum membicarakan masalah yang dimaksud, perlu disampaikan sekitar pengelompokkan sifat-sifat Tuhan menurut para Mutakalimin pada umumnya. Yaitu bahwa sifat-sifat Tuhan itu dapat dikelompokkan kepada tiga bagian sebagai berikut:
a. Sifat Nafsiyah
Sifat Nafsiyah yang disebut juga sifat zatiyah adalah sifat Wujud. Dinamakan sifat Nafsiyah atau zatiyah, karena sebagaimana disepakati para Mutakallimin bahwa sifat Wujud tersebut sebagai nafsuda /
ainudz-zat. Yakni bahwa sifat Wujud tersebut bukan merupakan ambahan bagi zat. Dia adalah zat Tuhan itu sendri.
دوجولا ةفصف دوجولا نيعخراخلا ىف وه لب جر اخل ا ىف ققحت لا ىر ابتع ا ىم وهفم
17
b. Sifat Salbiyah
Pada kelompok sifat Salbiyah ini terdiri dari sifat-sifat: qidam, baqa’, mukhalafatu lilhawadits, qiyamuhu binafsih dan wahdaniyat. Dengan sifat Salbiyah tersebut, maka tertolaklah / mustahillah segala sesuatu yang tidak pantas bagi Tuhan.dan didalam kelompok sifat Salbiyah ini pun para Mutaklallimin sepakat, bahwa sifat Salbiyah sebagai sifat-sifat yang diakui adanya, tetapi tidak terwujud nyata yang merupakan tambahan serta berdiri disamping zat.
جر اخلا ىف ققحت لا ةير ابع ا ت ام وهسم ىهف
18
c. Sifat Ma’ani
Sifat Ma’ani sebagai kelompok ketiga yang disebut juga”sifat zat”atau”sifat fi’liyah”terdiri dari sifat-sifat: qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam.19 Dengan sifat Ma’ani tersebut menggambarkan adanya aktifitas dan hubungan Tuhan dengan segala yang maujud; baik berupa yang wajib, yang mingkin maupun yang mustahil. Dan pada bagian sifat Ma’ani inilah terjadi perbedaan pandangan diantara para Mutakallimin.
Aliran Asy’ariyah misalnya, berpendapat bahwa sifat Ma’ani itu merupakan sifat yang maujud dan kekal serta tambahan bagi zat. Yanbi, bahwa sifat-sifat Ma’ani tersebut bukan zat Tuhan, tetapi bukan pula selain dari zat Tuhan itu sendiri. Dikatakan bahwa sifat Ma’ani itu adalah:
هت ا ذ ريغ تسيل و هت ا ذ نيع تسيل
20
Sedangkan aliran Salaf, mengatakan bahwa sifat Ma’ani itu didalam pemikiran dan pengertian akal sama dan sesuai dengan zat Tuhan itu sendiri. Yakni, kalau akal tidak mampu mengetahui tentang zat Tuhan, maka demikian pula sifat-sifat-Nya. Apakah sifat-sifat tersebut
17 Abdurrahman al-Jaziri, Taudhidul Aqaid, Dewan Mahasiswa, IAIN Yogyakarta, (t. thn), h. 47.
18 Ibid, h. 48.
19 Loc cit.
merupakan tambahan bagi zat ataukah zat Tuhan itu sendiri, akal tidak mampu mengetahuinya.21
Sedangkan aliran Mu’tazilah, meniadakan sifat-sifat Ma’ani tersebut bagi Tuhan; Tuhan tidak mempunyai sifat. Sebab kalau Tuhan mempunyai sifat, maka sifat-sifat tersebut selayaknya dan semestinya kekal pula seperti kekalnya zat Tuhan. Akibatnya timbullah beberapa kekal (ta’addudul qudama’). Hal tersebut tentu akan membawa faham syirik yang sama sekali tidak dapat diterima didalam akidah Islam.
Dengan peniadaan sifat bagi Tuhan itu, tidak berarti orang Mu’tazilah tidak mengakui bahwa Tuhan itu zat yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan sebagainya. Tuhan bagi mereka tetap sebagai zat yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan sebagainya, tetapi semuanya itu tidak dapat dipisahkan, bukan selain Tuhan dan bukan pula merupakan tambahan bagi zat Tuhan. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa zat Tuhan itu adalah yang Maha Mengetahui, ia (kemahatahuan itu) adalah zat tuhan. Abu Hudsail al-Allaf, salah seorang tokoh liran Mu’tazilah mengatakan:
وه وه ة ايعب ص و , وه وه ةر دقب ر د اقو , وه وه ملعب مل اع هنا
22
Dengan demikian, maka yang dimaksud Tuhan tidak mempunyai sifat bagi aliran Mu’tazilah, ialah karena yag disebut sifat-sifat itu adalah essensi Tuhan itu sendiri. Zat Tuhan dengan sifat-sifat-Nya adalah satu. Dia yang mengetahui, yang berkuasa adalah dengan zat-Nya, bukan dengan sifat ilmu, sifat qudrat, yang merupakan tambahan bagi zat-Nya. Sebab kalau dikatakan Tuhan zat yang mengetahui, yang berkuasa, dengan sifat ilmu dan sifat qudrat yang merupakan tambahan bagi-Nya, hal tersebut seperti terjadinya sifat mausuf pada diri manusia. Akibatnya dapat menimbulkan penjisiman. Dan kalau dikatakan bahwa sifat-sifat tersebut sebagai sifat yang berdiri sendiri, maka timbullah beberapa qadim; dengan kata lain terdapat beberapa Tuhan.23
Demikianlah disekitar sifat Ma’ani; demikian juga sifat-sifat yang terdapat didalam Al-Qur’an – menurut mereka – bukan sifat Tuhan, tetapi ia adalah zat Tuhan itu sendiri.
21 Ibid, h. 48.
22 Ahmad Amin, Zhuhrul Islam, IV, Maktabah an-Nahdhah al-Misriyah, Caero, 1964, h.74.
2. Masalah Al-Qur’an
Al-Qur’an disebut juga kalam Allah. Yang menjadi masalah dikalangan Mutakallimin ialah apakah makna disifatkannya Allah dengan”Al-Mutakallimin”dan Al-Qur’an dengan kata”Kalam Allah”.
Menurut Abu Al-Hasan al-Asy’ari (wafat th.330 H), AL-Qur’an yang disebut juga Kalam Allah itu, dimaksudkan dengan dua makna. Makna yang pertama”kalam”tersebut sebagai kalam”nafsi”; sehingga Tuhan disebut sebagai zat yang berfirman (Al-Mutakallimin). Dan dalam arti ini pulalah Al-Qur’an yang disebut juga Kalam Allah itu kekal. Makna kedua ialah, Al-Qur’a yang berarti yang”dibaca”(al-maqru’) yang terdiri dari surat-surat, ayat-ayat dan tersusun dari huruf-huruf, hal itu adalah baru dan diciptakan.24
Aliran Mu’tazilah didalam pendapatnya mengatakan, apabila Tuhan dengan sifat-Nya merupakan satu kesatuan yang tidak verubah / mengalami perubahan, maka Al-Qur’an sebagai Kalam Allah itu mustahil sebagai sifat Tuhan, sebab - sebagaimana diketahui- AlQur’an didalamnya mengandung amar, nahi, kabar gembira, peringatan dan sebagainya. Hal tersebut merupakan kenyatan yang menggambarkan bahwa satu berbeda dengan lainnya (misalnya amar berbeda dengan nahi). Maka mustahil kalau yang”satu”itu terdiri dari beberapa maca dan berbeda-beda.25 Demikian juga mustahil, kalau dikatakan bahwa Al-Qur’an sebagai kala Alllah itu”azali”dan ia merupakan sifat Tuhan. Sebab, perintah, larangan dan sebagainya yang terdapat dalam Al-Qur’an itu tidak ada artinya, selama ia tidak ditujukan kepada pihak yang diperintah. Tidak artinya ة لاصلااوميقا,
Kecuali apabila ditujukan kepada yang diperintah. Padahal pada zaman azali (sesuai dengan keazalian Al-Qur’an), pihak yang diperinah yang menjadi tujuan / obyek perintah itu tidak / belum ada. Mustahil yang tidak ada itu dibebani perintah. Karena itu, mustahil Al-Qur’an itu azali.26
Selanjutnya, mereka mengatakan bahwa sebelum adanya perselisihan pendapat didalam masalah Al-Qur’an kaum muslimin sepakat menyatakan bahwa AL-Qur’an itu Kalam Allah yang didalamnya
24 Ibid, h. 40.
25 Ibid, h. 34.
terdiri dari sura-surat, ayat-ayat dan huruf-huruf yang tersusun. Kalimat yang tersusun itu dibaca dan didengar, mempunyai pembukaan dan penutup. Dan sepakat pula bahwa Al-Qur’an itu berada ditangan kita, kita membacanya, kita melihat dan sebagainya. Maka mustahil kalau seluruh kenyataan tersebut dnyatakan sebagai sifat Tuhan.27
Dan sebagai dalil naqlnya, mereka mengemukakan ayat-ayat antara lain:
ةكئلملل كبر لاقذاو . Menurut mereka, huruf”ذا”adalah sharaf zaman untuk masa lampau (madhi). Maka firman-Nya yan terjadi pada saat yang dimaksud adalah khusus untuk zaman tertentu. Sedangkan yang khusus untuk zaman tertentu itu, adalah baru. Dan dengan ayat lain لاك عمسي ىتح
الله م . Dengan ayat tersebut jelas, bahwa yang”didengar”itu adalah baru.
Dan ia terdiri dari huruf-huruf dan suara. Jadi menurut mereka, kalau Al-Qur’an dan semua kitab-kitab yang pernah diturunkan itu mustahil qadim, maka pantaslah ia baru dan diciptakan.28
3. Masalah Ru’yatullah
Di dalam Al-Qur’an kecuali terdapat ayat yang menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat, terdapat pula ayat yang memberi kesan bahwa Tuhan itu dapat dilihat diakhirat. Misalnya: ان اهب ر ىلا-ةرض ان ذنم وي هوج و ) ةم ايقلا( ةرظ.”Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannyalah mereka melihat”
Dalam maslah tersebut alairan Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat diakhirat. Mereka mengatakan bahwa menurut dhahirnya nas, memberi pengertian bahwa ru’yat itu bisa terjadi. Dan kami tidak beralih dari dhahirnya nas kecuali apabila membawa kepada kemustahilan bagi kesucian Tuhan.29
Bagi aliran Mu’tazilah; sesuai dengan ajaran keesaan Tuhan, yang ia bukan materi dan tidak mengambil tempat, maka tidak mungkin Tuhan dapat dilihat.30 Terhadap ayat 22 dan 23 pada surat Al-Qiyamah tersebut diatas, mereka mentakwilkannya dengan memberi arti:”wajah-wajah pada hari itu berseri-seri; dan dan kepada rahmat / ni’mat Tuhan –Nya lah
27 Ibid, h. 35.
28 Ibid, h. 36.
29 Abdurrahman al-Jaziri, h. 139.
mereka itu”menunggu-nunggu”. Selain itu, mereka pun mengemukakan pula ayat yang lain seperti:
)م امنلاا( ريبخلا فيطللاوه و رصب لاا كر دي ورصبلاا هكر دتلا
Selain dengan dalil naql seperti tersebut diatas, mereka mengemukakan juga dalil aql. Mereka mengatakan, bahwa untuk dapat melihat sesuatu, harus dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
a. Bahwa sesuatu yang dilihat itu, harus berada pada suatu tempat tertentu;
b. Bahwa sesuatu yang dilihat itu, harus berhadap-hadapan atau berada pada arah yang melihatnya;
c. Bahwa antara yang melihat dan dilihat itu, harus berada pada jarak yang tidak terlalu jauh atau terlalu deka;
d. Bahwa antara yang melihat dan yang dilihat itu, harus ada sinar yang menghubungkan antara keduanya;
e. Bahwa antara yang melihat dan dilihat itu, harus tidak ada hijab / penghalang.31
Padahal –demikian kata mereka- syarat-syarat tersebut mustahil bila dihubungkan dengan Tuhan, yang immateriil dan tidak mengambil tempat itu. Karena itu, mustahil Tuhan dapat dilihat.
Setelah disampaikan beberapa masalah sebagai kelanjutan ajaran keesaan Tuhan dari aliran mu’tazilah, dapat dimengerti bahwa semuanya itu justru memperkuat ajaran keesaan Tuhan itu sendiri. Tuhan dinyatakan tidak mempunyai sifat adalah untuk menghindari timbulnya pengertian dan faham tajsim dan tasybih di satu pihak serta kesan terwujudnya beberapa yang qadim di lain pihak. Dan sebagai Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.