• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-langkah Penelitian Sanad

1. Penelusuran Hadis pada Sumber Aslinya

Penelusuran hadis kepada sumber aslinya adalah melakukan kon-firmasi kepada sumber utama atau sumber asli rujukan sebagaimana yang dilakukannya sebelumnya.

2. I‘tibar as-sanad dan Skematisasi Sanad

I‘tibar Menurut istilah adalah, “Menyertakan sanad-sanad yang lain

untuk suatu hadis tertentu yang hadis itu pada bagian sanad-nya tanpak hanya terdapat seorang perawi semata; dengan mengikut sertakan

sanad-sanad yang lain akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain

ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadis dimaksud.7 Dengan melakukan i‘tibar, maka jalur sanad hadis yang diteliti dan sanad-sanad lain yang sama lafalnya atau yang semakna, yang sudah teridentifikasi dengan metode penelusuran hadis sebelumnya, akan terlihat dengan jelas; demikian juga dengan nama-nama periwayat dan metode periwayatan yang digunakan masing-masing periwayat tersebut. Dengan melakukan kegiatan ini, maka seorang peneliti dapat melihat pendukung sanad yang diteliti, baik itu sebagai mutabi‘ ataupun syahid.8 Selain itu dengan i‘tibar akan diketahui pula seberapa banyak jalur sanad hadis tersebut sehingga ia dapat diklasifikasikan sebagi hadis mutawatir, masyhur, atau ahad.

Skematisasi berarti membuatkan bagan atau ranji untuk melihat rangkaian sanad suatu hadis dan jalur-jalur periwayatannya, sejak dari sumber awal hingga mukharrij. Dalam membuat skema perlu diperhatikan jalur seluruh sanad, nama-nama periwayat untuk seluruh sanad, dan mengikut serta metode periwayatannya. Hal ini dilakukan untuk me-mudahkan kegiatan selanjutnya, yaitu melakukan identifikasi keberadaan dan penilaian terhadap sanad. Peneliti harus cermat melakukan

7 Mahmud ath-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadits Maktabah al-Ma‘arif, Ritad, 1987, h. 141.

8Secara leksikal, syahid berarti orang yang menyaksikan. Menurut istilah hadis adalah hadis yang sama-sama dalam periwayatannya periwayat hadis dari jalur lain, baik pada lafal dan maknanya ataupun pada makna saja, dengan catatan berbeda sahabat Nabi [yang meriwayatkannya]). Mahmud Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadits, h. 141.

Mutaba‘ah adalah seorang periwayat hadis ada yang mencocoki hadis yang

diriwayatkannya dari periwayat lain. Lalu, ia meriwayatkannya dari syaikhnya atau dari orang yang di atasnya (non sahabat). Nur ad-Din ‘Itr, Manhaj an-Naqd, h. 394.

tisasi, sebab terkadang seorang periwayat dituliskan di dalam kitab-kitab sumber dengan nama yang berbeda atau hanya menggunakan laqab (gelar sapaan), atau kunyah (lafal abu atau umm) atau terdapat kemiripan nama tetapi orangnya berbeda.

3. Identifikasi dan Penilaian

Dimaksud dengan identifikasi di sini adalah upaya untuk melaku-kan penelitian dan penelaahan terhadap nama para periwayat, terhadap hadis yang diteliti, masa hidupnya, guru dan muridnya, penilaian para kritikus hadis terhadap para periwayat hadis yang diteliti, dan tarjih.

a. Nama Lengkap

Nama lengkap adalah nama periwayat yang diteliti. Semakin panjang nama seorang periwayat, semakin mudah diidentifikasi. Semakin banyak atribut yang disandarkan kepadanya semakin jauhlah peneliti dari

kekeliruan dan kesalahan orang (sosok) periwayat yang ditelitinya. b. Masa Hidup

Masa hidup adalah waktu atau era ketika periwayat hidup, yaitu terdiri dari tahun kelahiran dan tahun kematian. Namun terkadang seorang periwayat hanya diketahui tahun lahirnya sedangkan tahun kematiannya diperselisihkan atau tidak diketahui sama sekali. Namun untuk kasus terakhir ini dapat diperkirakan masa hidupnya dengan melakukan identifikasi selanjutnya, yaitu melalui penelitian siapa sosok gurunya atau muridnya. Jika kedua hal ini diketahui maka masa hidup periwayat tersebut dapat diklasifikasikan pada thabaqah tertentu yang hidup para era tertentu.

c. Guru dan Murid

Guru adalah seseorang yang diambil periwayat hadis darinya. Biasanya di dalam kitab rijal diistilahkan dengan ungkapan rawa ‘an, sementara itu murid adalah orang yang meriwayatkan hadis dari seseorang. Untuk mengetahui bagaimana proses penerimaan riwayat dan pendistribusiannya dapat dilihat di dalam pembahasan at-tahammul wa al-ada`.

d. Penilaian Para Kritikus

Ada dua hal yang yang harus diteliti seorang peneliti hadis berkaitan dengan pribadi periwayat apakah riwayatnya dapat diterima sebagai hujah atau ditolak. Kedua hal itu adalah berkaitan dengan keadilan dan

dan ke-dhabit-an berhubungan dengan kapasitas intelektual. Apabila kedua hal ini dipenuhi peneliti, maka ia dinyatakan tsiqah. Dengan demikian istilah

tsiqah adalah gabungan di antara adil dan dhabith.

Keadilan mencakup dari empat kriteria, yaitu beragama Islam, mukallaf dalam menyampaikan hadis dan sudah berusia tamyiz ketika menerimanya, melaksanakan ketentuan agama [baik perintah maupun larangan], dan memelihara muri`ah [kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya kebaikan moral dan kebiasaan yang dikethui pada masing-masig tempat].

Prilaku yang merusak keadilan seorang periwayat dapat dirumuskan sebagi berikut: (i) suka berdusta [al-kazib]; (ii) tertuduh berdusta [at-tuhmah bi al-kazib] (iii) berbuat atau berkata fasik yang belum menjadikannya kafir dengan prilakunya tersebut [al-fisq] (iv) tidak dikenal jelas pribadinya sebagai periwayat hadis [al-jahalah] (v) berbuat bidah yang mengarah kepada fasiq [al-bid‘ah]

Ke-dhabith-an seorang periwayat merupakan sebuah keniscayaan. Periwayat yang dhabith adalah periwayat: (i) mampu menghafal dengan sempurna hadis yang diterimanya dan mampu menyampaikannya dengan baik kepada orang lain atau (ii) selain itu mampu pula memahami dengan baik atau (iii) di bawah kriteria pertama yang disebut khafifu dhabthi. Kualitas dhabith yang terbaik adalah kualitas yang kedua, setelah itu yang pertama, dan yang terakhir adalah yang ketiga yang hadisnya hanya sampai ke tingkat hasan.

Hal-hal yang merusak ke-dhabthan adalah (i) dalam menyampaikan hadis, lebih banyak salahnya daripada benarnya [fahusya ghalathuhu], (ii) lebih menonjol sifat lupanya daripada hafalnya [al-ghaflah ‘an al-itqan], (iii) riwayat yang disampaikan diduga keras memiliki kekeliruan [al-wahm], (iv) riwayat yang disampaikan bertentangan dengan riwayat orang yang tsiqah [mukhalafah ‘an ts-tsiqah], (v) jelek hafalannya kendatipun masih ada yang benar [su` al-hifzh].

e. Tarjih

Tarjih yang dimaksud di sini adalah penempatan kedudukan periwayat hadis yang diteliti setelah melakukan periksaan dengan teliti di dalam kitab-kitab rijal. Dalam kaitan ini, seorang peneliti harus benar-benar menguasai istilah-istilah yang terdapat di dalamnya dengan bantuan ilmu al-jarh wa at-ta‘dil. Peneliti juga harus menguasai urutan-urutan terminologi yang digunakan di dalam ilmu tersebut.

4. Pemeriksaan ittishal, syuzuz, illah, tadlis, dan irsal.

Setelah seorang peneliti mengetahui kedudukan periwayat hadis secara keseluruhan yang ada di dalam sanad yang ditelitinya, maka ia harus melihat ketersambungan sanadnya. Sebab, salah satu hal yang terpenting dalam kesahihan hadis adalah ketersambungan sanadnya.

Ketersambungan sanad dapat dilacak dari dari kitab-kitab rijal dengan (a) melihat tahun kelahiran dan kewafatan (mu‘asharah) antara periwayat yang diteliti dengan sanad yang di atasnya, (b) melihat guru-gurunya yang ada di dalam kitab rijal [jika ia termasuk sebagai murid di dalam kitab-kitab tersebut berarti ia sanadnya bersambung ke atas. Begitulah seterusnya dari bahwah sampai ke atas atau dibalik dari atas sampai ke bawah dengan mengalihkan objeknya, yakni darinya samapi ke muridnya. Namun kedua cara ini belumlah positif secara mutlak bahwa antara periwayat yang diteliti dan sanad di atasnya bersambung dalam hadis yang diriwayatkannya. Bagian c adalah dengan mengetahui informasi dari kitab-kitab rijal bahwa periwayat yang diteliti adalah menerima hadis tersebut dari gurunya. Akan tetapi, informasi ini jarang ditemukan.

Selain hal di atas, peneliti juga harus memeriksa simbol-simbol penerimaan dan pendistribusian hadis (at-tahammul wa al-ada`). Lambang-lambang tersebut bermacam-macam, misalnya lafal sam‘tu, haddatsani, ‘an,

dan anna. Lafal sama‘ tersebut disepakati ulama memiliki akurasi yang

paling tinggi menunjukkan ketersambungan sanadnya, sementara lafal ‘an dan anna merupakan periwayatan munawalah, yakni masih dipersoalkan tingkat akurasinya. Masalah ini dapat diperdalam di dalam pembahasan

at-tahammul wa al-ada`.

Penggunaan lafal at-tahammul wa al-ada` yang diakui memiliki nilai yang tinggi adalah apabila ia diucapkan (dipakai ketika meriwayatkan hadis) oleh periwayat yang tsiqah. Jika ia digunakan oleh periwayat yang daif, maka tidak memiliki nilai yang tinggi.

Setelah diketahui bahwa suatu riwayat bersambung sanadnya dalam jalur sanad, maka hadis tersebut dinyatakan shahih kecuali ia mengandung sifat-sifat syuzuz. Ualam berbeda pendapat mengenaik makna syaz tersebut. Namun yang paling populer adalah apabila ada hadis yang diriwayatkan orang yang tsiqah tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang tsiqah juga. Inilah yang dikatakan oleh imam mazhab kami, al-Imam asy-Syafii.

‘Illat merupakan cacat yang tersembunyi di dalam suatu

periwayatan hadis. Hal ini sangat sukar diketahui kecuali oleh orang yang sudah mengetahui jalur-jalur sanad hadis dan telah biasa melakukan penelitian.

Untuk memudahkan mengatahui ‘illat tersebut, maka al-Khathib al-Baghdadi memberikan tips sebagai berikut:

a. Perlu dihadirkan dan diteliti seluruh sanad hadis untuk matan yang semakna, bila hadis tersebut memang memiliki mutabi’ ataupun syahid. b. Perlu dihadirkan seluruh periwayat dalam berbagai sanad yang

diteliti berdasarkan kritik yang telah dikemukakan oleh para ahli kritik hadis.

Sesudah melaklukan hal ini maka sanad yang satu diperbandingkan dengan sanad yang lain. Berdasarkan ketinggian pengetahuan ilmu hadis yang dimiliki oleh peneliti hadis tersebut, maka akan dapat ditemukan, apakah sanad hadis yang bersangkutan mengandung illat atau tidak. Kendatipun hal ini sukar dilakukan, namun kitab-kitab tentang ‘illat ini sudah banyak ditulis berbeda dengan masalah syuzuz, samapi saaat ini belum kita ketahui ada yang secara khusus mengkompilasikannya.

5. Konklusi

Jika seluruh rangkaian penelitian telah dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan hasil penelitiannya dengan mengakategorisasikan hadis yang ditelitinya sahih, hasan, atau daif. Namun, hal ini baru sebatas penelitian sanad dan selanjutnya peneliti melakukan kritik matan.