• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MORAL LINGKUNGAN HIDUP

4.5 Moral Lingkungan Hidup

Masalah lingkungan hidup menunjukkan bahwa kesadaran untuk mengelola lingkungan hidup belum membudaya. Lingkungan hidup masih dianggap sebagai suatu “tempat” yang menyediakan segala kebutuhan manusia, sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup. Manusia telah mengeruk kekayaan alam untuk berbagai macam kepentingan dengan tidak bijaksana. Akibatnya, kerusakan lingkungan hidup semakin parah. Berhadapan dengan situasi demikian, manusia harus berusaha keras agar kehidupan di bumi menjadi nyaman lagi, berbagai kebutuhan hidup manusia dan mahluk ciptaan lainnya dapat terpenuhi dan bencana-bencana dapat dicegah.

Masalah ekologi terkait dengan krisis moral. Kesadaran ekologis muncul sejak kerusakan lingkungan hidup disadari oleh masyarakat, yang menyadari adanya kesalahan sikap dasar manusia terhadap lingkungan hidup. Banyak orang yang berpandangan bahwa hanya manusialah yang mempunyai nilai intrinsik, sedangkan mahluk ciptaan lainnya hanya bernilai instrumental. Oleh karena itu lingkungan hidup dapat dieksploitasi oleh manusia.

fakta melainkan pada nilai yang melekat pada fakta. Oleh karena itu nilai muncul sebelum, saat atau setelah mengenal fakta.

Ada tiga pendekatan yang dipakai dalam berelasi dengan lingkungan hdiup, yakni: pendekatan anthroposentris, pendekatan biosentris dan pendekatan ekosentris.10 Pendekatan anthroposentris mendukung kewajiban moral manusia untuk menghargai alam karena alam itu berguna bagi manusia. Alam dilihat dari sudut kegunaannya bagi manusia. Manusia menjadi pusat perhatian dalam pembicaraan tentang lingkungan hidup. Titik berat pendekatan ini adalah kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dalam alam semesta. Lingkungan hidup hanya dinilai berharga bila memenuhi berbagai macam kepentingan manusia. Hubungan antara manusia dan mahluk ciptaan lainnya bersifat instrumental, hanya mengutamakan kepentingan manusia. Alam dihormati dan berharga hanya sejauh bermanfaat bagi manusia. Ciptaan lain dinilai sebagai alat bagi kepentingan manusia. Kalaupun manusia peduli terhadap alam, itu hanya dilakukan supaya alam tetap menyediakan dan menjamin kebutuhan manusia, bukan karena alam itu mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Pendekatan ini dinilai sebagai etika lingkungan hidup yang dangkal (shallow environmental ethics).11 Pendekatan ini memandang bahwa hanya manusialah yang layak

10Lihat lebih jauh dalan A. Sony Keraf, Etika Lingkungan Hidup, Kompas, Jakarta, 2010, 47-121.

Juga dalam Maria Purwanto, “Bumiku Sakit”, Kajian Lingkungan Hidup: Tinjauan Perspektif Pastoral Sosial, Sekertariat Komisi PSE/APP bekerjasama dengan LDD-KAJ dan Komisi PSE KWI, Jakarta, 2007, 81-83.

11Para peganut antroposentrisme memberikan argumen bahwa Allah memberikan kewenangan penuh kepada manusia untuk mengeksploitasi alam untuk kepentingan manusia dalam Kej 1:26-28). Selain itu, karena manusia memakan buah tentang pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, maka manusia tidak lagi patuh secara otomatis kepada perintah dan kehendak Allah melainkan manusia dapat memutuskan sendiri mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang harus dihindari. Manusia terbuka matanya untuk mengetahui mana yang baik dan yang buruk secara moral. Selain itu, dalam rantai kehidupan/the great chain of being (oleh tradisi Aristotelian yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Aquinas), manusia menempati urutan teratas dari rantai ciptaan sehingga dianggap paling mendekati yang Kuasa dan dengan demikian menjadi superior atas yang lain. Di samping itu pula, manusa lebih tinggi dari ciptaan lain karena manusia merupakan mahluk bebas dan rasional (the free and rational being). A. Sony Keraf, Etika Lingkungan Hidup, Kompas, Jakarta, 2010, 46-63.

dipertimbangkan secara moral. Manusia adalah subjek dan alam adalah objek.

Yang mendapat pertimbangan moral adalah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan manusia.

Pendekatan biosentris melihat manusia sebagai anggota dari komunitas kehidupan.12Mahluk hidup tidak hanya mencakup manusia, tetapi juga mencakup mahluk hidup lainnya. Manusia hanyalah merupakan salah satu bagian dari seluruh mahluk hidup yang ada di bumi ini. Pendekatan ini menegaskan bahwa semua unsur dalam alam ini mempunyai nilai bawaan (inherent value). Setiap mahluk hidup memiliki nilai pada dirinya sendiri, lepas dari kepentingan dan penilaian manusia. Nilai tersebut melekat pada diri masing-masing sejak mereka diciptakan dan hidup di bumi ini. Karena mahluk hidup mempunyai nilai masing-masing, maka setiap mahluk hidup mempunyai hak mendapatkan perlakuan sesuai dengan nilai yang melekat pada dirinya sendiri.

Pendekatan biosentris menekankan bahwa setiap mahluk mempunyai nilai dan berharga. Oleh karena itu, setiap mahluk hidup harus diperlakukan dengan baik. Segala bentuk kehidupan di bumi memiliki nilai, terlepas dari pertimbangan untung rugi bagi manusia.13

12Manusia termasuk anggota kesatuan ciptaan dan kehidupan di bumi sebagaimana mahluk ciptaan lainnya. Hal ini didasarkan pada: adanya kesamaan kebutuhan antara manusia dan mahluk hidup lainnya; setiap mahluk hidup memiliki kelebihannya masing-masing; setiap mahluk hidup memiliki kebebasan untuk melestarikan keberadaannya; semua mahluk hidup berasal dari Pencipta yang sama; manusia sangat tergantung pada biosfer, tetapi tidak sebaliknya. Selain itu, manusia dan mahluk hidup lainnya merupakan kesatuan ekosistem yang mempunyai korelasi satu dengan yang lainnya (interdependensi). Di samping itu pula, setiap mahluk hidup memiliki hidupnya masing-masing dan manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lainnya dan demikian sebaliknya. Paul W. Taylor, Respect for Nature: A Theory of Environmental Ethics, Princenton Press University, New Jersey, 1986, 12.

13Biosentris didasarkan pada empat keyakinan, yakni: pertama, bahwa manusia adalah anggota dari kesatuan ciptaan dan komunitas kehidupan di bumi yang berada dalam arti dan kerangka yang sama dengan mahluk ciptaan lainnya sebagai anggota komunitas ciptaan yang hidup; kedua,

Pendekatan ekosentris melihat segala sesuatu yang ada di bumi sebagai keseluruhan. Secara ekologis, mahluk hidup dan ciptaan abiotis saling terkait.

Oleh karena itu, yang bernilai tidak hanya manusia dan mahluk hidup lainnya, melainkan semua realitas ekologis.14 Manusia tidak dapat dipisahkan atau memisahkan diri dari ciptaan lainnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya memperhatikan dan memperlakukan lingkungan hidup dengan baik karena manusia hanyalah bagian dari seluruh ekosistem.

Tidak ada ciptaan yang tidak dikenal oleh Allah. Manusia maupun ciptaan lainnya adalah ciptaan Allah yang mempunyai nilai karena keberadaannya dikehendaki oleh Allah. Karena setiap ciptaan mempunyai nilai intrinsik (intrinsic value), ia harus dihormati oleh manusia. Alam atau lingkungan hidup tidak boleh diperlakukan sesuka manusia, karena lingkungan hidup mempunyai nilai luhur.

Etika ekologis mengajak manusia untuk melihat kembali konsep moralitas yang selama ini dianut. Moralitas tidak hanya diarahkan kepada sesama manusia melainkan juga kepada subjek yang berada di luar dirinya dengan tetap memperhatikan nilai intrinsik masing-masing.15 Moralitas tidak hanya mencari apa yang baik bagi manusia melainkan juga apa yang baik untuk ciptaan lainnya.

Maka, sikap yang perlu dibangun adalah sikap menghargai dan menghormati.

bahwa spesies manusia bersama dengan semua spesies yang lain adalah bagian dari sistem yang saling tergantung sedemikian rupa sehingga kelangsungan hidup dari mahluk hidup dan

peluangnya untuk berkembang biak atau sebaliknya tidak ditentukan oleh kondisi fisik lingkungan melainkan oleh relasinya satu sama lain; ketiga, bahwa semua organisme adalah pusat kehidupan yang mempunyai tujuan sendiri. Dengan kata lain, setiap organisme adalah unik dalam mengejar kepentingan sendiri sesuai dengan caranya sendiri; keempat, bahwa manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul daripada mahluk lainnya. A. Sony Keraf, Etika Lingkungan Hidup, Kompas, Jakarta, 2010, 69.

14Salah satu versi pendekatan ekosentris adalah deep ecology yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. A. Sony Keraf, Etika Lingkungan Hidup, Kompas, Jakarta, 2010, 93.

15Mateus Mali, “Ekologi dan Moral”, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, Kanisius, Yogyakarta, 2008, 149.

Tujuannya adalah terciptanya harmonisasi alam dan kehidupan yang layak di bumi ini.

Pada umumnya, orang lebih sering menggunakan pendekatan anthroposentris. Sikap demikian adalah sikap moral yang materialistik.16Sikap ini tidak menghargai nilai intrinsik yang ada dalam ciptaan non-human dan memperlakukan mereka hanya berdasarkan kegunaan mereka. Alam dijadikan

“obyek” yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan manusia. Etika tersebut tidak mendukung usaha-usaha untuk mengembalikan fungsi lingkungan hidup dan makhluk-makhluk lain yang ada di dalamnya. Karena itulah kerusakan lingkungan hidup terus-menerus terjadi hingga saat ini.

Menghadapi kerusakan lingkungan hidup yang terus terjadi, pendekatan anthroposentris tidak lagi memadai. Perlu suatu pendekatan etis yang tidak hanya mementingkan manusia. Kita membutuhkan pendekatan etis yang lebih “ramah”

terhadap lingkungan hidup, misalnya pendekatan biosentris. Pendekatan ini tidak menjadikan lingkungan hidup dan makhluk ciptaan lainnya sebagai “obyek”.

Pendekatan ini menghargai mereka sebagai “subyek” yang memiliki nilai pada dirinya (intrinsic value). Nilai mereka tidak ditentukan dari kegunaan mereka (nilai kegunaan/utility value) bagi manusia. Oleh karena itu, mereka layak diperlakukan dengan respect.17

Tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini manusia masih menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala kehidupan yang ada di bumi ini.

16Mateus Mali, “Ekologi dan Moral”, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, Kanisius, Yogyakarta, 2008, 149.

17Paul W. Taylor, Respect for Nature: A Theory of Environmental Ethics, Princenton Press University, New Jersey, 1986, 13.

Manusia menempatkan mahluk ciptaan lainnya di bawahnya sehingga ia dapat mengobjekkan mereka untuk kepentingannya. Manusia cenderung memahami diri sebagai penguasa alam. Manusia menyelidiki fungsi-fungsi dan kegunaan ciptaan non-human bagi manusia. Hal tersebut terjadi karena manusia memandang dirinya lebih dari ciptaan yang lainnya. Manusia memandang dirinya sebagai ciptaan yang memiliki segala macam kelebihan. Manusia dapat bekerja, berpikir, berbicara, menciptakan benda-benda yang dapat mengatasi keterbatasan fisiknya dan lain sebagainya. Ciptaan lain kadangkala dipandang rendah karena keterbatasan mereka. Yang kadang-kadang dilupakan manusia adalah bahwa manusia dan ciptaan lainnya merupakan ciptaan Allah yang mempunyai posisi yang sama di hadapan Sang Pencipta. Kelebihan diberikan Allah kepada manusia untuk mengurus dan memelihara bumi ini. Manusia, sebagai pengelola bumi, bertanggung jawab atas kelangsungan bumi ini.

Ciptaan non-human belum dipandang sebagaimana mestinya. Orientasi manusia dewasa ini cenderung materialistik (konsumeristik) dan hedonistik. Hal tersebut mempunyai andil yang cukup besar dalam hal terjadinya kerusakan lingkungan. Cara pandang yang demikian melahirkan perilaku yang eksploitatif dan tidak bertanggungjawab atas alam dan lingkungan hidup. Orientasi pengelolaan alam adalah keuntungan yang sebesar-besarnya dan pemenuhan kebutuhan hidup, sehingga dampak negatifnya tidak mendapat perhatian bahkan diabaikan. Materialisme, kapitalisme dan pragmatisme yang berjalan bersama

ilmu pengetahuan dan teknologi ikut mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan hidup, baik lokal maupun global.18