BAB III REFLEKSI TEOLOGIS ATAS LINGKUNGAN HIDUP
3.6 Perintah Menguasai Bumi
Dalam Kej 1:26-28, Allah menjadikan manusia dan memberikan perintah kepada mereka:
26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
terhadap tedong di Toraja akan berbeda dibandingkan dengan perlakuan terhadap hewan lainnya.
Tedong akan selalu disiapkan makanannya, minumnya dan mempunyai tempat khusus (kandang) serta akan selalu dibawa ke tempat rumput yang hijau dan bahkan akan selalu ditunggui oleh penggembalanya (pangkambi’). Bahkan untuk beberapa jenis tedong spesial untuk pesta rambu solo’ (seperti saleko, bonga, pu’du’, dll./kerbau belang), akan diperlakukan lebih khusus lagi.
Tedong spesial akan tinggal dalam semacam kelambu dan akan selalu bersih(kadang-kadang tedong tersebut lebih sering mandi daripada pangkambi’nya).
Perintah Allah itu tidak memberi kepada manusia hak untuk melakukan apa saja atas ciptaan di bumi ini.23Teks ini tidak melegitimasi perlakuan yang semena-mena terhadap kekayaan alam dengan mengeksploitasinya. Oleh karena itu teks tersebut tidak dapat dijadikan dasar atau pembenaran atas berbagai upaya eksploitasi alam secara tidak bertanggung jawab.24
Kata “berkuasa” hendaknya dimengerti berdasarkan konteks penulisan.
Kata “berkuasa” harus dikaitkan dengan konsep berkat yang diberikan Allah kepada manusia (Kej 1:28) dan dengan pembagian yang diberikan Allah kepada manusia dan binatang (Kej 1:29-30). Yang menjadi makanan manusia adalah segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala pohon yang buahnya berbiji.
Sedangkan yang menjadi makanan binatang adalah segala tumbuh-tumbuhan hijau. Tidak ada saling membunuh atau saling memakan dan dimakan.25 Perlu juga dipahami bahwa kisah penciptaan dalam Kej 1 menggambarkan bumi yang ditata secara teratur dan harmonis. Dengan memperhatikan konteks tersebut kita dapat memahami bahwa perintah Allah itu tidak melegitimasi tindakan yang menguasai mahluk ciptaan lainnya. Perintah itu lebih tepat diartikan sebagai tugas dari Allah untuk memelihara dan mengusahakan atau mengelola bumi ini. Hal tersebut sesuai dengan gambaran tentang raja di Timur Tengah kuno yang bertugas mengatur dan mengupayakan agar rakyat yang dipimpinnya hidup dalam
23Stefan Leks, Kejadian, Arnoldus, Ende, 1977, 28-29.
24M. Harun, “Taklukkanlah Bumi dan Berkuasalah”, Alkitab Ibrani dan Dampaknya untuk Lingkungan Hidup, STF Driyarkara, Jakarta, 1998, dalam Adrianus Sunarko,”Perhatian pada Lingkungan: Upaya Pendasaran Teologis”, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, Kanisius, Yogyakarta, 2008, 33-38.
25Nanti setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan karenanya Allah memusnahkan seluruh ciptaan-Nya kecuali Nuh beserta keluarganya dan mahluk yang ditetapkan dan yang diperintahkan kepada Nuh untuk dibawa serta ke dalam bahtera, barulah terjadi konflik antara manusia dan hewan. Allah menyerahkan segala mahluk untuk menjadi makanan manusia (Kej 9:2-3). Jadi toleransi untuk memakan hewan baru ada setalah air bah surut dan mulailah kehidupan baru di permukaan bumi.
keadaan damai dan sejahtera (bdk. Yes 11:6-9), ibarat seorang gembala yang selalu mengantar ternaknya ke padang yang berumput dan ke dekat sumber air serta menjaga segala ternaknya di padang baik pada siang hari maupun malam hari agar ternaknya aman dari ancaman atau serangan binatang buas.
Demikian pula kata “taklukkanlah” harus diartikan dalam konteks Kej 1.
Kata tersebut tidak boleh diartikan secara negatif (bdk. Zak 9:15),26melainkan secara positif. Jika dipahamai atau dimengerti demikian, maka perintah Allah untuk menaklukkan bumi (Kej 1) tidak dapat dijadikan dasar untuk membenarkan tindakan eksploitasi atas alam. Manusia dalam konteks Kej 1 hendaknya dilihat sebagai wakil Allah di bumi ini yang bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan dan pengelolaan segala hal yang ada di bumi. Kepada manusia Allah memberikan (=mempercayakan) segalanya untuk dipelihara dan dikelola atau diusahakan, untuk kepentingan bersama seluruh mahluk di bumi. Tanggung jawab dan tugas tersebut harus dilaksanakan dengan semangat dan penuh tanggung jawab terhadap Allah yang telah mengaruniakan semuanya. Allah menyerahkan segalanya kepada manusia dalam keadaan baik. Maka segala kerusakan/krisis atau kekacauan yang terjadi di bumi merupakan tanggung jawab manusia, sebagai pengelola dan penerima tanggung jawab atas bumi ini.
Menurut Jürgen Moltmann pandangan di atas masih bersifat antroposentris. Dalam pandangan itu, manusia masih ditempatkan di atas ciptaan yang lain, manusia masih menjadi pusat ciptaan dan bumi dilihat sebagai milik
26TUHAN semesta alam akan melindungi mereka, dan mereka akan menghabisi dan menginjak-injak pengumban-pengumban. Mereka akan minum darah seperti minum anggur dan menjadi penuh seperti bokor penyiraman, seperti penjuru-penjuru mezbah.
manusia. Moltman menegaskan bahwa pusat ciptaan bukan manusia, melainkan Allah atas segala karya ciptaan-Nya yang sungguh baik (Kej 1:31).27
Moltmann menegaskan bahwa teologi penciptaan perlu memandang dunia sebagai ciptaan Allah. Manusia tidak boleh dipandang sebagai yang utama dari yang lain. Ciptaan adalah sesuatu yang fana dan bukan ilahi. Oleh karena itu ia tidak boleh disembah (“didewakan”). Ciptaan juga bukan sesuatu yang jahat pada dirinya sendiri, sehingga ia tidak perlu ditakuti. Ciptaan yang ada tidak dapat diobjekkan karena manusia adalah juga ciptaan Allah. Iman kristiani mengakui bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Manusia adalah bagian dari ciptaan dan karenanya tidak dapat ditempatkan menjadi yang utama dari seluruh ciptaan yang ada.
Di samping itu, perintah Allah di atas hendaknya dipahami sebagai perintah agar manusia meneruskan karya penciptaan Allah.28 Ada dua cara manusia melanjutkan karya penciptaan Allah yakni dengan beranak cucu dan bertambah banyak dan berkuasa atas ciptaan serta menaklukkannya (baca:
mengusahakan dan mengola serta memelihara). Lewat perkembangbiakan, melalui perkawinan, kelangsungan hidup manusia di bumi ini terjamin. Setiap individu yang muncul atau lahir dari suatu perkawinan merupakan ciptaan baru.
Dengan melahirkan anak atau individu baru, manusia meneruskan karya penciptaan yang telah dimulai oleh Allah. Karya itu juga diteruskan lewat usaha atau kerja manusia dalam rangka mengolah dan memelihara bumi ini. Manusia telah diberi hak untuk mengatur, menyelenggarakan dan mengembangkan bumi.
27Adrianus Sunarko, “Perhatian pada Lingkungan: Upaya Pendasaran Teologis” dalam Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, Kanisius, Yogyakarta, 2008, 35.
28Stefan Leks, Kejadian, Nusa Indah, Arnoldus, Ende, 1977, 28-29.
Menurut Kej 2:15, manusia ditempatkan di taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya. Itu berarti bahwa manusia ditempatkan di taman tersebut (baca:
bumi) tidak untuk berpangku tangan saja, tetapi untuk mengatur atau mengusahakan dan memelihara bumi. Ia harus bekerja. Dalam Ayub 28:9-11 dikatakan:
9 Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya; 10 di dalam gunung-gunung batu ia menggali terowongan, dan matanya melihat segala sesuatu yang berharga; 11 air sungai yang merembes
dibendungnya, dan apa yang tersembunyi dibawanya ke tempat terang.
Dewasa ini, pekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat.
Perkembangan tersebut sangat berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan seperti: pendidikan, informatika, media massa, komunikasi, transportasi, industri, militer, perumahan (apartemen), pertanian, perkebunan dan lain sebagainya.
Berbagai macam “temuan baru” dicapai dan kemudahan dapat diperoleh manusia untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya yang dari waktu ke waktu semakin kompleks. Sebenarnya segala macam temuan merupakan kekayaan alam yang telah disediakan oleh Allah. Manusia hanya menggalinya dan mengusahakannya untuk kesejahteraan dan kemajuan manusia. Dengan itu, manusia melanjutkan karya penciptaan Allah. Dengan itu pula, manusia melanjutkan kegiatan Allah sebagai Pencipta (LE 4).