• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orientasi Seksual Pengertian Orientasi Seksual

GENDER, JENIS KELAMIN, DAN SEKSUALITAS

Penugasan 5. Konsep Gender di Antara Laki-laki dan Perempuan

4. Memahami Lebih Dalam Seksualitas Manusia 1. Gender dan Seksualitas

4.4. Orientasi Seksual Pengertian Orientasi Seksual

Kepada orang dengan jenis kelamin apa, Anda memiliki ketertarikan secara seksual? Jawaban atas pertanyaan tersebut menunjukkan orientasi seksual Anda. Cukup banyak pernyataan yang bisa digunakan untuk menjelaskan pengertian orientasi seksual.

Orientasi seksual adalah ketertarikan secara seksual dan emosional terhadap jenis kelamin tertentu.

Disebutkan bahwa ketertarikan yang ada adalah kombinasi antara ketertarikan secara emosional dan ketertarikan secara seksual secara bersamaan yang dimiliki oleh seseorang.

Macam-Macam Orientasi Seksual

Penggolongan orientasi seksual secara umum ada tiga.

• Homoseksual, ketertarikan pada jenis kelamin yang sama, laki-laki tertarik pada laki-laki (gay), dan perempuan tertarik pada perempuan (lesbian). Secara kasatmata, dilihat dari jenis kelaminnya, waria termasuk dalam penggolongan homoseksual, tetapi fenomena waria tidaklah sesederhana itu.

Aspek psikologis lebih dominan di mana waria lebih suka diklasifikasikan ke dalam penggolongan identitas gender.

• Heteroseksual, ketertarikan pada jenis kelamin yang berbeda, laki-laki tertarik pada perempuan dan sebaliknya.

• Biseksual, ketertarikan pada semua jenis kelamin, laki-laki tertarik pada perempuan dan laki-laki, perempuan tertarik pada perempuan dan laki-laki.

139

Gambar 1. Gender Unicorn

Gender Unicorn didesain untuk membantu memahami gender, jenis kelamin, dan ketertarikan (atau yang sering kali disebut dengan seksualitas).

Identitas Gender. Dapat dilihat unicorn memikirkan gambar pelangi. Ini karena identitas gender ada di dalam diri kita; terkait bagaimana perasaan kita tentang gender kita sendiri. Teori binari menganut hanya ada laki-laki dan perempuan. Namun ada berbagai macam pemahaman tentang gender.

Seseorang bisa saja merasa identitas gendernya bukan laki atau perempuan, tetapi di antara laki-laki atau perempuan, ini bisa disebut dengan non-binari. Seseorang yang tidak merasa identitas dirinya menjadi laki-laki atau perempuan bisa disebut dengan agender.

Ekspresi Gender. Titik-titik hijau di luar unicorn adalah simbol dari ekspresi gender, ada di luar unicorn.

Ini karena ekspresi gender adalah sesuatu yang terlihat oleh orang lain.

Jenis Kelamin Waktu Lahir. Dokter atau bidan yang membantu melahirkan akan mengidentifikasi seseorang berdasarkan karakter fisik pada saat lahir. Kebanyakan orang akan ditulis dalam akta kelahiran sebagai laki-laki atau perempuan berdasarkan organ genital luar. Ada yang diklasifikasikan sebagai “interseks” ketika karakteristik jenis kelamin, kromosom, atau hormonnya agak membingungkan dan tidak jelas apakah bisa dikategorikan sebagai laki-laki atau perempuan.

Ketertarikan Fisik dan Emosional. Dalam unicorn, digambarkan ada hati berwarna oranye dan merah yang menggambarkan ketertarikan fisik dan emosional. Kedua bentuk ketertarikan ini sering kali overlap, dan biasanya mewakili orientasi seksual dan seksualitas.

Ketertarikan fisik menunjukkan karakter seseorang yang secara fisik atau seksual membuat seseorang tertarik. Ketertarikan ini dapat terbangun dari berbagai faktor, termasuk identitas gender, ekspresi gender, atau jenis kelamin yang dibawa sejak lahir.

140

Ketertarikan emosional berhubungan dengan karakter seseorang yang membuat secara emosional atau romantis tertarik. Ini juga dibangun dari berbagai faktor, termasuk identitas gender, ekspresi gender, atau jenis kelamin yang dibawa sejak lahir.

Umumnya, kita cenderung berpikir bahwa ada batas yang pasti antara homoseksualitas dan heteroseksualitas. Kalau seseorang mengaku bahwa dia homoseksual, kita percaya bahwa dia tidak akan tertarik pada lawan jenisnya. Namun, sebetulnya, orientasi seksual bukanlah dikotomi seperti utara-selatan atau hitam-putih. Memang ada orang yang seratus persen homoseksual. Begitu juga ada orang yang seratus persen heteroseksual. Orang-orang tersebut mewakili sisi-sisi paling berlawanan dari spektrum orientasi seksual. Ada pula individu yang berada di antara kedua ujung spektrum tersebut, yang orientasi dan pengalamannya bercampur dan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, orientasi seksual tidak dapat ditentukan pada satu waktu tertentu, tetapi mesti mengamati polanya sepanjang hidup.

Skala Kinsey. Dari hasil analisis pada subjek orang Amerika, seksolog Alfred Kinsey merumuskan suatu kontinum orientasi seksual yang terdiri dari tujuh titik sebagai berikut.

Gambar 2. Skala Kinsey

Menurut penelitian, ada variasi pola di mana laki-laki dan perempuan berkedudukan dalam skala Kinsey di atas. Laki-laki, baik homoseksual maupun heteroseksual, cenderung berada di ujung skala (lebih eksklusif). Sedangkan perempuan juga berada di ujung skala, tetapi kemungkinan untuk berada di antara kategori 2 sampai 5 lebih besar pada laki-laki.

Skala di atas dapat membantu orang untuk dapat memahami orientasi seksualnya dan tidak bingung atau panik jika sesekali bergeser dari orientasi yang dominan. Sebab, orientasi seksual memang tidak kaku terkotak-kotak. Jika Anda seorang heteroseks dan suatu kali terbayang fantasi homoseksual, misalnya, ini tidak secara otomatis menjadikan Anda seorang homoseks, melainkan menunjukkan bahwa Anda bukan heteroseksual murni seperti yang dikira sebelumnya.

Sebuah pertanyaan yang kerap muncul ketika kita membicarakan perihal orientasi seksual ini adalah, bagaimana kita bisa tahu orientasi seksual seseorang? Terutama tentang apakah seseorang itu gay ataupun lesbian. Karena banyak orang yang mengaku bahwa dia adalah heteroseksual, tetapi sering diketahui secara tidak sengaja atau tersembunyi bahwa dia adalah homoseks. Mungkin dia merasa malu, maka dia mengaku heteroseksual. Dari mana kita mengetahui bahwa dia adalah seorang gay ataupun lesbian? Cara yang pasti tidak ada, kecuali orang yang bersangkutan terang-terangan

141

menyatakan dirinya. Barangkali kalau orang itu berkonsultasi ke psikolog, dapat diperkirakan di titik mana keberadaannya dalam kontinum.

Homoseksualitas belakangan ini tampaknya sudah bukan merupakan isu yang tabu dibicarakan secara terbuka. Meskipun demikian, akhir-akhir ini banyak sekali terjadi homofobia, suatu fenomena yang akan langgeng selama belum ada toleransi akan perbedaan orientasi seksual di antara manusia. Homofobia berasal dari kata homos (sama) dan phobos (takut).

Istilah homofobia yang dicetuskan oleh psikolog klinis George Weinberg pertama kali digunakan di majalah Times tahun 1969. Homofobia itu sendiri pada dasarnya adalah ketakutan atau kebencian pada homoseks dan homoseksualitas. Dalam praktiknya, homofobia dimanifestasikan antara lain dalam perasaan lain seperti menghindar, ketidaksetujuan, diskriminasi, penghinaan, atau pencelaan kaum homoseks, gaya hidup mereka, perilaku seks mereka, atau kulturnya dan sering dipakai untuk menekankan fanatisme. Penentangan terhadap seks sesama jenis dalam bidang politik, agama, atau moral juga sering dilabeli sebagai homofobia. Homofobia bergerak dari sikap serta perilaku seperti menghindari menyebutkan keterlibatan teman dengan organisasi homoseksual dan merasa jijik pada pertunjukan afeksi antara laki-laki dan perempuan homoseks di depan umum sampai manifestasi terburuknya yang berupa pemukulan serta pembunuhan kaum homoseks.

Keterkaitan Risiko Penularan IMS dan HIV dengan Orientasi dan Perilaku Seksual

Sampai saat ini, masih banyak pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat tentang risiko penularan IMS atau HIV. Pandangan populer yang keliru yang masih dianut banyak orang dan terkesan tidak mau ditinggalkan antara lain adanya anggapan bahwa kelompok homosekslah pihak yang paling rentan tertular IMS atau HIV karena perilaku mereka yang ”menyimpang”.

Apakah benar demikian? Jelas tidak. Karena perilakulah (perilaku seksual dan nonseksual) yang memengaruhi apakah seseorang itu berisiko atau tidak berisiko. Risiko seseorang tidak ditentukan oleh orientasi seksualnya, tetapi oleh perilakunya.

Kita tidak bisa menentukan risiko seseorang berdasarkan orientasi seksualnya. Misalnya, contoh berikut ini. Andi adalah seorang gay yang memiliki dua pasangan seks. Andi selalu memakai kondom saat melakukan anal seks dengan kedua pasangannya tersebut. Hery adalah seorang heteroseksual, bujangan yang paling sedikit satu bulan sekali mengunjungi lokalisasi dan membeli seks di sana.

Apabila bertemu dengan penjaja seks yang muda dan cantik, Hery tidak pakai kondom saat berhubungan seksual. Nah, di antara Andi dan Hery, siapa yang lebih berisiko? Jawabannya adalah Hery. Dari contoh tersebut, kita bisa memahami dengan jelas bahwa risiko yang dihadapi seseorang bukanlah karena orientasi seksualnya, melainkan karena perilakunya, apakah dia melakukan perilaku aman atau perilaku berisiko.

Laki-laki Berhubungan Seksual dengan Laki-laki (LSL)

Apa maksudnya? Secara sederhana, LSL adalah laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan sesama laki-laki. Secara umum, yang dimaksud laki-laki di sini mengacu pada definisi jenis kelamin biologis secara fisik, yaitu sosok manusia berpenis.

Laki-laki manakah yang masuk dalam pengertian tersebut?

• Setiap atau semua laki-laki yang memiliki perilaku berhubungan seks dengan laki-laki.

• Tidak dibatasi pada orientasi seksual tertentu.

• Waria, selama dia belum berganti kelamin dan berhubungan seks dengan lelaki lain, pada hakikatnya dapat dikategorikan sebagai LSL (catatan: sampai saat ini, secara program waria masih dianggap sebagai kategori sendiri dan tidak dimasukkan ke dalam kelompok LSL).

142 3.5. Perilaku Seksual

Pengertian Perilaku Seksual

Secara sederhana, perilaku seksual bisa diartikan sebagai segala tindakan atau perbuatan yang dilakukan karena adanya dorongan seksual untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Macam-Macam Perilaku Seksual

Berikut contoh perilaku seksual yang menjadi alternatif untuk dilakukan sesuai dengan keinginan dan kesepakatan pasangan.

• Seks anal menggunakan kondom.

• Seks vaginal menggunakan kondom.

• Seks oral menggunakan kondom.

• Ciuman.

• Pelukan.

• Hubungan seks dengan pasangan yang saling setia.

• Petting, saling menempelkan/menggesekkan alat kelamin.

• Necking, mencium/menjilat leher.

• Rimming, mencium/menjilat anus.

• Onani/masturbasi.

• Mandi kucing, mencium seluruh bagian tubuh, seperti kucing menjilati tubuhnya.

• Jepit paha.

• Jepit susu.

Perilaku Berisiko dan Aman terhadap Penularan HIV

Perilaku berisiko adalah segala perilaku seksual dan nonseksual yang menimbulkan risiko dan memungkinkan terjadinya penularan/infeksi HIV. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

• Risiko adalah suatu situasi yang diambil seseorang.

• Risiko terkena atau tertular HIV adalah sebagai situasi yang diambil yang dapat membahayakan kesehatan seseorang tanpa diketahui.

• Seseorang dikatakan berisiko HIV jika orang tersebut berada pada suatu kesempatan untuk terkena virus karena perilakunya, baik seksual maupun nonseksual.

• Faktor-faktor yang membuat orang berisiko tertular HIV di antaranya faktor biologis, budaya, ekonomis, dan psikologis.

Perilaku aman adalah segala perilaku seksual dan nonseksual yang terhindar dari suatu potensi risiko tertular ataupun menularkan HIV. Perilaku aman dalam konteks penularan secara seksual adalah segala perilaku seksual yang tidak memungkinkan terjadinya penularan/infeksi HIV dan AIDS. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

• Perilaku aman adalah suatu situasi yang diambil sebagai tindakan untuk menghindar atau meminimalkan suatu risiko yang sedang dihadapi.

• Perilaku aman yang berhubungan dengan HIV adalah tindakan-tindakan, baik secara seksual maupun nonseksual, yang membuat situasi aman dan terhindar dari HIV.

143 Perilaku Berisiko yang Berhubungan dengan IMS dan HIV

• Berhubungan seks setelah menggunakan narkoba.

• Memiliki banyak pasangan seksual.

• Berhubungan seks tanpa menggunakan kondom.

• Melakukan seks oral.

• Melakukan seks anal.

• Menato tubuh (dengan alat tato yang tidak steril).

• Menerima donor darah yang belum dilakukan skrining HIV.

• Bergantian jarum pada kelompok pencandu napza suntik (penasun).

144

POKOK BAHASAN 2