Saling memahami, menghargai, dan toleransi adalah nilai utama dan prinsip penuntun
yang mengikat kebersamaan mereka
Adjie Massadjie
Wilayah Kalimantan Barat dikenal karena kekayaan alamnya. Tanahnya yang sangat subur dapat ditumbuhi bermacam sayur-mayur, padi, jagung, lidah buaya dan sebagainya. Keluasan dan kelebatan hutan Kalimatan menjadikannya salah satu hutan tropis penting yang dianggap sebagai paru-paru bumi. Sayangnya citra tersebut mulai berubah. Tanah yang dulunya subur sekarang menjadi gersang karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Kini begitu banyak wilayah hutan perawan berubah gundul karena ulah para penebang liar. Di samping itu, terjadi perubahan status dari hutan lindung menjadi lahan kelapa sawit, terutama di wilayah pedalaman, telah menyebabkan penyempitan areal hutan.
Selain karena kekayaan alamnya, Kalimantan juga dikenal karena keragaman etnis serta kekayaan simbolik dan praktik budaya yang ada di dalamnya. Dayak, Melayu, Madura, Cina, Jawa, Bugis, Arab, Batak dan etnis lainnya sudah sejak dahulu hidup berdampingan dengan damai. Keanekaragaman etnis
dan budaya tentu menjadi modal sosial dan modal budaya yang penting bagi pemahaman bersama akan kekayaan nilai dan cara hidup serta potensial untuk menggalang solidaritas di antara komunitas lokal di Kalimantan.
Tidak jauh beda dengan kian rusaknya alam Kalimantan, kedamaian dan toleransi antar etnis juga dicederai oleh insiden berdarah antar etnis Dayak dan Madura yang terjadi di Sanggau Ledo dan Anjungan pada tahun 1997 maupun konflik komunal antara etnis Melayu dan Madura di Sambas tahun 1999.
Bagaimanapun juga, insiden beberapa tahun silam itu tetap meninggalkan luka dan kenangan yang pahit. Mereka yang dipaksa atau terpaksa menjadi pengungsi sangat terpukul dan mengalami trauma yang mendalam. Mungkin trauma itu akan terobati - selain dengan saling memaafkan-jika para pengungsi diperbolehkan atau diijinkan kembali ke tempat tinggal asal masing-masing. Apakah keliru kalau mereka ingin melihat tempat yang sudah sekian lama ditinggalkan, apalagi kalau tempat dimaksud adalah tanah kelahiran dan tempat mereka dibesarkan? Apakah seorang pengungsi tidak berhak kembali ke tempat asalnya?
Di desa Pasak Piang, kecamatan Sungai Ambawang, kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, tidak terlihat situasi konflik yang mencekam itu. Sebagaimana air sungai yang selalu mengalir, bahkan
Pasak Piang: Sebuah Desa Damai 177
di saat kemarau panjang, daerah ini tidak pernah mengalami konflik antar etnis sebagai dampak eskalasi konflik Dayak dan Madura di Anjungan dan Sanggau Ledo pada tahun 1997 sebagaimana sudah dialami desa terdekat, yakni Pancaroba dan Tanjung Pasir. Pasak Piang adalah sebuah desa kecil. Desa ini berbatasan dengan desa Bengkarek di sebelah barat, sisi utara terdapat desa Pasak, sedangkan timur dan selatan membentang hutan belantara. Pasak Piang memiliki empat dusun, antara lain Piang, Bayu Ates, Kalimantan dan Blidak. Keempat dusun ini terdiri dari 13 Rukun Tetangga (RT).
Pasak Piang awalnya adalah bagian dari desa Bengkarek. Pada tahun 1962 penduduk desa mengusulkan agar Pasak Piang dijadikan desa tersendiri dengan mempertimbangkan wilayah dan jumlah penduduknya yang dianggap memadai dan mampu untuk mandiri. Demikianlah pada tahun 1964 Pasak Piang resmi menjadi desa tersendiri.
Dalam rangka mengembangkan dan memajukan desa tersebut, Bapak Anden kepala desa waktu itu, berkeinginan mencari orang Madura untuk membantu membangun parit dan menambah jumlah penduduk. Anden dan kepala desa Bengkarek lantas pergi ke Pontianak untuk mencari orang Madura. Saat menyeberangi sungai Kapuas dengan menggunakan sampan dari Siantan menuju Pasar Kapuas, secara tidak sengaja mereka berkenalan dengan seorang Madura bernama bapak Keddeng. Keddeng dan
Anden terlibat pembicaraan yang serius tapi akrab dan penuh canda. Anden mengutarakan niatnya mencari orang Madura untuk tinggal di desanya. Keddeng, seorang petualang tanpa tempat tinggal yang pasti itu, dengan spontannya menerima ajakan tersebut.
Sebagai orang baru di Pasak Piang, Keddeng tidak memiliki apapun. Tanpa diminta, Anden me- nyediakan semua kebutuhan hidup Keddeng untuk sementara waktu. Momen ini menjadi tonggak seja- rah kedatangan orang Madura dan diterima sebagai penduduk resmi Pasak Piang. Penduduk Pasak Piang pada tahun 2005 berjumlah sekitar 548 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut kurang lebih 40 KK berasal dari etnis Dayak dan sisanya orang Madura. Secara statsistik, jumlah ini amat memung- kinkan salah seorang Madura terpilih menjadi kepala desa. Akan tetapi, fakta berbicara lain. Komunitas madura lebih menginginkan kedamaian dan ketentraman hidup dibanding jabatan kepala desa. Apa yang dilakukan orang Madura adalah bentuk balas budi kepada orang Dayak khususnya pada Anden dan anaknya Markus yang sekarang meneruskan jabatan ayahnya sebagai kepala desa Pasak Piang. Orang Madura tidak pernah lupa bahwa mereka bisa menetap di desa tersebut karena pertolongan komunitas Dayak. Sebagaimana ayahnya, Markus juga sangat dihormati di Pasak Piang.
Pasak Piang: Sebuah Desa Damai 179
dan lima madrasah, serta dua madrasah yang masih dalam tahap persiapan. Anak-anak dari kedua etnis bersama-sama bersekolah pada pagi hari di sekolah dasar. Pendidikan madrasah hanya diikuti anak Madura di sore hari. Pelajaran yang bernuansa Islam tentu tidak diwajibkan kepada anak-anak etnis Dayak yang beragama Kristen dan katolik. Walaupun ber- agama Kristen Katolik, sebagai kepala desa, Markus ditunjuk menjadi pembina madrasah-madrasah tersebut.
Interaksi sosial di desa ini berjalan damai dan tenteram. Kedua etnis saling mengunjungi dan membantu dalam berbagai hal. Jika hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi SAW dan Isra’ Mi’raj diperingati, Markus membentuk panitia bersama untuk kerukunan warga. Orang Dayak akan datang ke rumah-rumah orang Madura mengucapkan selamat. Sebaliknya ketika orang Dayak mengadakan pesta panen, orang Madura akan datang, baik karena diundang atau tidak. Sebagai penghormatan orang Dayak akan lebih dahulu merayakan pesta panen bersama orang Madura dan menunda perayaan pesta tersebut untuk kalangan mereka sendiri sehari kemudian. Hal ini dilakukan dengan tujuan mencegah kemungkinan tercampurnya daging babi ke dalam makanan khusus buat orang Madura.
Saling menghormati dan menghargai serta toleransi adalah hal yang sangat dijunjung tinggi. Salah satu contoh ialah diijinkannya warga Dayak
untuk memelihara babi oleh kepala desa Markus dengan syarat bahwa ternak tersebut harus dikan- dangkan agar tidak mengganggu tanaman dan pe- karangan orang lain, terutama milik orang Madura. Untuk menjaga keamanan desa, Markus men- jadwalkan ronda malam bersama. Pengiliran dalam bertugas diatur secara berimbang antara etnis Madura dan Dayak untuk menghindari anggapan adanya diskriminasi. Lebih jauh, Markus melarang warga main hakim sendiri dan ditekankan pentingya musyawarah ketika timbul masalah yang harus diselesaikan bersama.
Demikian pula komunikasi di antara dua komunitas etnis ini tidak menemui kendala yang serius. Baik etnis Dayak maupun Madura saling mengerti tentang tutur dan gaya bahasa masing- masing. Pengenalan dan penghargaan antar budaya sangat kuat dipelihara. Hal ini dapat dibuktikan de- ngan tidak terbitnya rasa takut di kalangan orang Dayak ketika berpapasan dengan orang Madura yang membawa celurit dan sebaliknya orang Madura tidak menaruh prasangka buruk ketika bertemu dengan orang Dayak yang membawa mandau. Hal ini kontras dengan anggapan umum bahwa mandau adalah senjata pembunuh milik orang Dayak atau celurit adalah senjata pembunuh milik orang Madura. Mereka juga tidak memaknai tariu sebagai prosesi ritual orang Kutai sebagai persiapan sebelum menyerang musuh.
Pasak Piang: Sebuah Desa Damai 181
Anggapan sebagian pihak bahwa orang Dayak sebagai suku kanibal tidak diterima di daerah ini. Undangan perang tak pernah mereka hiraukan, baik undangan untuk kepentingan kelompok atau sekedar membantu kelompok lain seperti yang terjadi pada kasus Sambas antara Madura dan Melayu. Ajakan perang semacam itu pernah ditawarkan beberapa pihak dari kalangan etnis Dayak dari desa lain yang datang membantu etnis Melayu pada tahun 1999.
Untuk menjaga kekompakan dan persaudaraan di antara mereka, kaum muda desa Pasak Piang mengikuti kegiatan tahunan yang diadakan oleh Badan Koordinasi Pengurus Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) kecamatan Sungai Ambawang. Dalam kegiatan ini dilombakan berbagai jenis olah raga seperti bola voli, bulu tangkis, sepak takrau dan lainnya. Kegiatan yang bersifat Islam juga dilombakan, seperti Azan, Tartilul Qur’an, Sholawat Badar dan sebagainya. Pelaksanaan bergantian di antara desa. Untuk kegiatan tahunan BKPRMI tersebut Mar- kus membentuk Aremamuda (Anak Remaja Masjid Pemuda) sebagai badan yang mengkoordinasi pemuda Pasak Piang tanpa melihat perbedaan agama dan suku. Sebelumnya para pemuda mengikuti kegiatan tingkat kecamatan itu dengan bergabung ke desa lain, seperti Bengkarek, Puguk, dan Meranti. Pada kegiatan tersebut pemuda Dayak dan Madura berpartisipasi dalam pertandingan olah raga, sebaliknya lomba yang bersifat Islami hanya diikuti pemuda Madura.
Markus dan Usman (tokoh Madura yang meru- pakan anak bapak Keddeng) mengomandani musya- warah antar warga yang diadakan setiap bulan. Dalam musyawarah dibicarakan kemajuan dan keber- sihan desa seperti gotong royong yang merupakan ak- tivitas rutin bersama. Pertemuan ini menghindarkan mereka dari topik tentang konflik antar Madura dan Dayak yang dianggap dapat memicu konflik.
Warga Pasak Piang mencukupi kehidupan sehari- hari dengan bekerja sebagai petani kebun karet dan mencari rotan di hutan. Markus membeli hasil torehan karet dari para tetangganya baik warga Dayak dan Madura. Ketokohan Markus sangat mengakar tidak hanya pada kaum Dayak yang seetnis dengannya tetapi juga pada warga Madura yang merupakan penduduk mayoritas. Markus mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kegiatan yang bersifat positif dan bermanfaat bagi perkembangan desanya. Potensi konflik kekerasan dan tindak kriminal yang bisa menjadi pemicu konflik antar warga bisa dengan mudah diredamnya. Ia berhasil menanamkan sikap saling percaya di antara dua etnis yang berbeda tersebut.
PEMUDA: Organisasi Perdamaian 183