• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI"

Copied!
284
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Darti Oktaviani

101134187

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Darti Oktaviani

101134187

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan untuk :

Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu memberikan kesehatan serta

kekuatan kepadaku.

Almamater Sanata Dharma.

Orang tuaku Bapak Sujito dan Ibu Paryati yang selalu mendukungku baik

moral maupun material.

Dosen Pembimbingku Ibu Catur dan Ibu Hana yang telah sabar

membimbingku dengan penuh cinta kasih.

Adikku Fendy Setiawan dan Oqi Arochman yang selalu membantuku.

Alm. Larah yang menyayangiku sampai pada detik terakhirnya.

Sahabat kecilku Astri, Vallen dan Alfy yang selalu membantuku ketika

dalam kesulitan.

Mas Prayet yang sering menasehatiku.

Sahabat-sahabat seperjuanganku, Koko, Afi, Meli, Tina, Bayu, Maya

dan Wina yang senantiasa membantu dan memberikan semangat dalam

mengerjakan skripsi ini.

Anggota MMC yang tercinta, Koko, Tina, Bayu, Resty, Dwi, Terry,

(6)

v

MOTTO

“Waktu tidak dapat bernegosiasi dengan siapapun, berusahalah

sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi sebelum kamu terlambat”

-Darti Oktaviani-

“Proses jauh lebih berharga daripada hasil, proses membuat kita

menghargai sebuah perjuangan dan nilai kehidupan”

-Darti Oktaviani-

“Terkadang kepandaian dapat membuat seseorang cacat sosial ketika

tidak mampu mempergunakannya dengan kerendahan hati.

-Darti Oktaviani-

Hidup ini indah, selalu ada jalan dan kemudahan ketika kita berusaha

(7)
(8)
(9)

viii

ABSTRAK

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI

Darti Oktaviani Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran yang terpaku pada buku teks. Guru tidak menggunakan alat peraga dalam menyempaikan konsep abstrak matematika yang abstrak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan metode sensus. Subjek penelitian ini adalah 50 siswa dan 1 guru matematika kelas V SD Negeri Sokowaten Baru. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner kinerja dan kepentingan. Teknik analisis data adalah Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I dan Importantce Performance Analysis (IPA).

Hasil analisis data PAP Tipe I menunjukkan tingkat kepuasan siswa adalah cukup (rata-rata skor 122,92) dan guru adalah tinggi (164). Hasil analisis data IPA menunjukkan bahwa atribut yang menimbulkan kepuasan menurut siswa adalah mudah mengerti matematika, mudah digunakan, mudah mengerjakan soal, memperbaiki kesalahan, menunjukkan jawaban benar, digunakan berulangkali, dan ada di lingkungan sekitar. Atribut yang menunjukkan kepuasan menurut guru adalah mudah memahami konsep, mudah mengerjakan soal, bentuk menarik, warna menarik, memahami konsep dari kelas 1 sampai kelas 6, bermacam warna, membantu memperbaiki kesalahan, menemukan jawaban benar, sesuai materi pembelajaran, bahan kuat, digunakan berulangkali, kuat ketika jarang digunakan, tidak mudah rusak, dipaku dengan kuat, tidak melukai, dicat rapi, membantu mengerjakan soal, ukuran proposional, mudah dibersihkan, direkatkan dengan kuat.

(10)

ix

ABSTRACT

THE LEVEL OF STUDENTS’ AND TEACHER SATISFACTION

TOWARD THE USE OF MATHEMATIC TEACHING AID BASED ON MONTESSORI METHOD

Darti Oktaviani Sanata Dharma University

2014

The background of this research was the learning process that sticks in the use of text book. The teacher does not use teaching aid in explaining mathematic concept in which it is an abstract concept. Therefore, the objective of this research is to find out about the level of students’ and teacher satisfaction towards the mathematic teaching aid. This is a descriptive quantitative research with census method. The research participants are fifty students and a teacher of fifth grade elementary school in “SD Negeri Sokowaten Baru”. The data collection technique was using the questionnaries of performances and importance. The data analysis uses Penilaian Acuan Patokan (PAP) type 1 and Importance Performance Analysis (IPA).

Based on the data analysis using PAP type 1, the students’ satisfaction level is

sufficient (average=122.92) and the teacher’s satisfaction level is high (average=164).

Data analysis using IPA shows the students stated the attribute that arise are easy to understand mathematic, easy to use, easy to answer the question, revising the mistake, showing the correct answer, being used repeatedly, and available to find in their place. In addition, the teacher stated the attribute that shows the importance are easy to understand the concept, easy to answer the question, interesting shape and color, understanding all of the concepts from first up to sixth grade, colorful, helping to revising the mistake, finding the correct answer, in proportion to the learning material, firm material, being used repeatedly, still firm even though rarely used, durable, being nailed strongly, safe, painted neatly, proportional size, easy to clean, and being affixed strongly. In conclusion, the teaching tool Plane Figure be based on

Montessori method is appropriate to the students’ and teacher’s expectation. It is

because it has good quality.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian sensus ini. Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai jika tanpa bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D, selaku dosen pembimbing I, yang telah memberikan arahan, dorongan, semangat, masukan serta sumbangan pemikiran yang peneliti butuhkan untuk menyelesaikan penelitian sensus ini.

4. Andri Anugrahana, S.Pd, M.Pd., selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan bantuan ide, saran, masukan, kritik, serta bimbingannya yang sangat berguna bagi penelitian ini.

5. Kastinah, S.Pd.SD., selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri Sokowaten Baru Banguntapan Bantul yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di kelas V SD Negeri Sokowaten Baru.

6. Mumpuni Bekti, S.Pd, Selaku guru kelas V SD Negeri Sokowaten Baru yang telah memberikan waktu, bantuan untuk melakukan penelitian.

(12)
(13)

xii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

4. Alat Peraga Bangun Datar Berbasis Metode Montessori ... 20

5. Tingkat Kepuasan ... 22

B.Hasil Penelitian yang Relevan ... 34

C.Kerangka Berpikir ... 40

(14)

xiii

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian ... 43

B.Waktu dan Tempat Penelitian ... 44

C.Populasi dan Sampel ... 44

D.Variabel Penelitian ... 45

E. Teknik Pengumpulan Data ... 45

F. Instrumen Pengumpulan Data ... 47

G.Uji Validitas dan Reliabilitas ... 50

H.Prosedur Analisis Data ... 92

I. Teknik Analisis Data ... 94

J. Jadwal Penelitian ... 99

BAB IV DESKRIPSI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Penelitian ... 101

B.Hasil Penelitian ... 102

C.Pembahasan ... 173

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 187

B.Keterbatasan Penelitian ... 190

C.Saran ... 191

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penggabungan Indikator Tingkat Kepuasan ... 31 Tabel 2.2 Indikator Tingkat Kepuasan terhadap Penggunaan Alat Peraga

Matematika Berbasis Metode Montessori ... 33 Tabel 3.1 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kinerja untuk

Siswa dan Guru ... 46 Tabel 3.2 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kepentingan untuk

Siswa dan Guru ... 47 Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Kinerja dan Kepentingan Siswa dan Guru untuk

Expert Judgement ... 48 Tabel 3.4 Penjabaran Indikator Kuesioner Kinerja dan Kepentingan Siswa dan

Guru untuk Expert Judgement... 49 Tabel 3.5 Rangkuman Skor Expert Judgement Kuesioner Kinerja dan

Kepentingan untuk Siswa dan Guru ... 52 Tabel 3.6 Rangkuman Komentar Expert Judgement Kuesioner Kinerja dan

Kepentingan untuk Siswa dan Guru ... 53 Tabel 3.7 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Siswa dan

Guru sebelum dan sesudah Expert Judgement ... 55 Tabel 3.8 Rangkuman Hasil Face Validity Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Siswa ... 59 Tabel 3.9 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Siswa

sebelum dan sesudah Face Validity Siswa ... 61 Tabel 3.10 Rangkuman Hasil Face Validity Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Guru... 64 Tabel 3.11 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Guru

sebelum dan sesudah Face Validity Guru ... 66 Tabel 3.12 Kuesioner Penelitian Kinerja dan Kepentingan Guru ... 69 Tabel 3.13 Perbandingan Validitas Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk

Siswa ... 80 Tabel 3.14 Klasifikasi Tingkat Reliabilitas Instrumen ... 82 Tabel 3.15 Perbandingan Reliabilitas Total Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Siswa ... 88 Tabel 3.16 Rangkuman Hasil Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Siswa ... 88 Tabel 3.17 Kuesioner Penelitian Kinerja dan Kepentingan Siswa ... 91 Tabel 3.18 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Siswa dan Guru berdasarkan PAP

Tipe I ... 94 Tabel 3.19 Jadwal Penelitian ... 99 Tabel 4.1 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Siswa berdasarkan PAP Tipe I ... 103 Tabel 4.2 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat

(16)

xv

Tabel 4.3 Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga

Matematika berbasis Metode Montessori ... 105

Tabel 4.4 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Auto-education ... 107

Tabel 4.5 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Auto-education ... 108

Tabel 4.6 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Menarik ... 109

Tabel 4.7 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Menarik ... 110

Tabel 4.8 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Bergradasi ... 110

Tabel 4.9 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Bergradasi ... 111

Tabel 4.10 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Auto-correction ... 112

Tabel 4.11 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Auto-correction ... 113

Tabel 4.12 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Kontekstual ... 114

Tabel 4.13 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Kontekstual ... 114

Tabel 4.14 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Life... 115

Tabel 4.15 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Life ... 116

Tabel 4.16 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Workmanship... 117

Tabel 4.17 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Workmanship ... 117

Tabel 4.18 Perhitungan Rata-rata Penilaian Pelaksanaan Kinerja dan Kepentingan pada Indikator Tingkat Kepuasan Siswa ... 118

Tabel 4.19 Persebaran Pernyataan Kuesioner Siswa pada Diagram Kartesius untuk Setiap Indikator Tingkat Kepuasan ... 129

Tabel 4.20 Persebaran Pernyataan Kuesioner Tingkat Kepuasan Siswa pada Diagram Kartesius untuk Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan ... 133

Tabel 4.21 Konsistensi Persebaran Pernyataan dalam Kuadran pada Kuesioner Tingkat Kepuasan Siswa ... 135

Tabel 4.22 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Guru berdasarkan PAP Tipe I... 140

Tabel 4.23 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 140

Tabel 4.24 Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika berbasis Metode Montessori ... 141

Tabel 4.25 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Auto-education ... 142

Tabel 4.26 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Auto-education ... 143

Tabel 4.27 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Menarik... 144

Tabel 4.28 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Menarik ... 144

Tabel 4.29 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Bergradasi ... 145

Tabel 4.30 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Bergradasi ... 146

Tabel 4.31 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Auto-correction... 146

Tabel 4.32 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Auto-correction ... 147

Tabel 4.33 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Kontekstual ... 148

Tabel 4.34 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Kontekstual ... 148

Tabel 4.35 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Life ... 149

Tabel 4.36 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Life ... 150

Tabel 4.37 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Workmanship ... 150

(17)

xvi

Tabel 4.39 Perhitungan Rata-rata Penilaian Pelaksanaan Kinerja dan

Kepentingan pada Indikator Tingkat Kepuasan Guru ... 152 Tabel 4.40 Persebaran Pernyataan Kuesioner Guru pada Diagram Kartesius

untuk Setiap Indikator Tingkat Kepuasan ... 163 Tabel 4.41 Persebaran Pernyataan Kuesioner Tingkat Kepuasan Guru pada

Diagram Kartesius untuk Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan ... 166 Tabel 4.42 Konsistensi Persebaran Pernyataan dalam Kuadran pada Kuesioner

(18)

xvii

Gambar 4.1 Diagram Kartesius Indikator Auto-education Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 122

Gambar 4.2 Diagram Kartesius Indikator Menarik Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 123

Gambar 4.3 Diagram Kartesius Indikator Bergradasi Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 124

Gambar 4.4 Diagram Kartesius Indikator Auto-correction Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 125

Gambar 4.5 Diagram Kartesius Indikator Kontekstual Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 126

Gambar 4.6 Diagram Kartesius Indikator Life Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 127

Gambar 4.7 Diagram Kartesius Indikator Workmanship Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 128

Gambar 4.8 Diagram Kartesius Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 131

Gambar 4.9 Diagram Kartesius Indikator Auto-education Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 156

Gambar 4.10 Diagram Kartesius Indikator Menarik Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 157

(19)

xviii

Gambar 4.12 Diagram Kartesius Indikator Auto-correction Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

Metode Montessori ... 159 Gambar 4.13 Diagram Kartesius Indikator Kontekstual Tingkat Kepuasan Guru

terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode

Montessori ... 160 Gambar 4.14 Diagram Kartesius Indikator Life Tingkat Kepuasan Guru

terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode

Montessori ... 161 Gambar 4.15 Diagram Kartesius Indikator Workmanship Tingkat Kepuasan

Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

Metode Montessori ... 162 Gambar 4.16 Diagram Kartesius Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan

Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Keterangan Melakukan Uji Validitas dan Reliabilitas ... 196

Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian ... 197

Lampiran 3 Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian ... 198

Lampiran 4 Hasil Expert Judgement ... 199

Lampiran 5 Hasil Face Validity Kuesioner untuk Siswa ... 205

Lampiran 6 Hasil Face Validity Kuesioner untuk Guru ... 209

Lampiran 7 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 212

Lampiran 8 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 216

Lampiran 9 Data Mentah Hasil Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 219

Lampiran 10 Data Mentah Hasil Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 221

Lampiran 11 Output Validitas Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 223

Lampiran 12 Output Validitas Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 230

Lampiran 13 Output Reliabilitas Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 238

Lampiran 14 Output Reliabilitas Total Kuesioner Kepentingan... 242

Lampiran 15 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Kuesioner Kinerja ... 246

Lampiran 16 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Kuesioner Kepentingan ... 249

Lampiran 17 Contoh Jawaban Responden (Guru) pada Kuesioner Kinerja ... 252

Lampiran 18 Contoh Jawaban Responden (Guru) pada Kuesioner Kepentingan ... 255

Lampiran 19 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kinerja untuk Siswa ... 258

Lampiran 20 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kepentingan untuk Siswa... 260

Lampiran 21 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kinerja untuk Guru ... 262

Lampiran 22 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kepentingan untuk Guru ... 263

(21)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Bab I akan menguraikan beberapa hal, yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai peranan penting bagi setiap manusia untuk membuka wawasan tentang bagaimana berbagai ilmu pengetahuan dapat memberikan ide dasar dan inspirasi yang lengkap (Tantang, 2012: 55). Pendidikan adalah sarana utama bagi suatu negara untuk meningkatkan sumber daya manusia dalam mengikuti perkembangan dunia (Hadiyanto, 2004: 26). Pendidikan yang baik menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula serta mampu bersaing dalam dunia secara global. Setiap Negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda, termasuk sistem pendidikan di Indonesia. Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur tentang pendidikan.

(22)

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan yang berfungsi sebagai peletakan dasar-dasar keilmuan dan membantu mengoptimalkan perkembangan anak melalui pembelajaran yang dibimbing oleh guru (Susanto, 2013: vii). Badan Standar Nasional pendidikan menjelaskan bahwa pendidikan Sekolah Dasar (SD) memiliki kurikulum yang memuat delapan mata pelajaran (BSNP, 2007: 8). Delapan mata pelajaran tersebut antara lain, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya, Ketrampilan dan Pendidikan Jasmani. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD). Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol (Hudojo, 2001: 45). Siswa sekolah dasar berusia sekitar 7-13 tahun berada pada tahap operasional konkret sehingga mengalami kesulitan dalam memahami matematika yang bersifat abstrak (Susanto, 2013: 183). Kemampuan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika masih rendah (Susanto, 2013: 191)

(23)

Economic Cooperation and Development, 2013). Rendahnya kemampuan matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor misalnya proses pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif, guru menggunakan metode konvensional seperti ceramah dan terpaku pada buku teks dalam proses pembelajaran sehingga siswa hanya menghafal (Susanto, 2013: 192).

Pembelajaran yang terpaku pada buku teks merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan matematika siswa. Hudojo (2001: 207) mengatakan guru sebaiknya tidak terikat ketat dengan pola buku teks dalam mengajar matematika. Hudojo juga mengatakan dalam mengajarkan matematika di lingkungan SD, harus didahului dengan benda-benda konkret (Hudojo, 2001: 208). Pembelajaran matematika yang abstrak diperlukan alat bantu berupa alat peraga yang dapat memperjelas apa yang disampaikan guru sehingga lebih cepat dipahami oleh siswa (Heruman, 2008: 1). Sudjana (2000: 10) mengatakan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. Arsyad (2011: 67) mengatakan pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik termasuk dalam memilih alat peraga. Guru perlu memilih alat peraga yang dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi (Arsyad, 2011: 67). Alat peraga yang menarik merupakan salah satu karakteristik dari alat peraga Montessori.

(24)

dalam belajar. Siswa akan belajar menggunakan dengan menyentuh, meraba, memegang, merasakan dan untuk belajar. Alat peraga dibuat lembut dan warna yang ditampilkan cerah. Alat peraga Montessori memiliki rangsangan dengan gradasi yang rasional. Auto-correction, alat peraga Montessori memiliki pengendali kesalahan. Karakteristik alat peraga Montessori yang terakhir adalah auto education. Alat peraga yang diciptakan memungkinkan anak belajar mandiri dan berkembang dalam kegiatan pembelajaran tanpa campur tangan orang dewasa.

Alat peraga Montessori merupakan salah satu alat bantu atau benda konkret yang dapat digunakan dalam mempelajari konsep abstrak matematika. Herman (2001: 200) mengatakan konsep yang tertanam baik dalam benak siswa, akan memudahkan konsep-konsep berikutnya menjadi hal yang mudah bagi siswa karena konsep yang dipelajari telah dikuasai. Proses penanaman konsep yang sesuai dengan kemampuan siswa diharapkan akan menimbulkan rasa gembira pada siswa serta dapat menyelasaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Hudojo, 2001: 200). Perasaan gembira merupakan luapan dari emosi yang positif. Emosi yang positif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan (Ratnasari,2011: 117). Siswa dan guru merasa puas ketika alat peraga yang dipakai dalam proses pembelajaran sesuai dengan harapan mereka.

(25)

pembelajaran. Manfaat dari kepuasan siswa dan guru terhadap alat peraga yaitu siswa dan guru akan menggunakan alat peraga kembali, bahkan akan mengajak orang lain untuk ikut menggunakan (Ratnasari & Aksa, 2011: 118). Siswa dan guru mempunyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar kembali mendapatkan hasil yang lebih memuaskan (Daryanto, 2007: 9). Peneliti tertarik untuk mengukur tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga Montessori karena dapat mengetahui kualitas alat peraga yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Peneliti mengambil judul yaitu “Tingkat Kepuasan Siswa dan Guru Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori”.

B. Identifikasi Masalah

(26)

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada tingkat kepuasan siswa dan guru kelas V terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Sokowaten Baru Banguntapan Bantul. Mata pelajaran matematika dengan standar kompetensi 6. memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun dan kompetensi dasar 6.1 mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar.

Pengukuran tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori menggunakan dua kuesioner yaitu kuesioner kinerja dan kuesioner kepentingan. Kedua kuesioner tersusun atas tujuh indikator yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, kontekstual, life dan workmanship.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah :

1. Bagaimana tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?

(27)

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

2. Mengetahui tingkat kepuasan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diharapkan dari hasil penelitian ini adalah : 1. Bagi siswa

Siswa dapat memberikan penilaian terhadap alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan apa yang dirasakan.

2. Bagi guru

Guru dapat memilih alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang sesuai dengan harapan siswa dalam proses pembelajaran. Guru dapat mengetahui kualitas alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 3. Bagi sekolah

Sekolah dapat menjadikan alat peraga matematika berbasis metode Montessori sebagai refrensi alat peraga yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

4. Bagi peneliti

(28)

dapat mengetahui atribut-atribut alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang mempengaruhi kepuasan siswa dan guru.

G. Definisi Operasional

Peneliti menggunakan beberapa definisi operasional untuk menghindari kesalahan penafsiran pada penelitian ini. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :

1. Tingkat kepuasan adalah tingkat perasaan siswa dan guru setelah membandingkan kinerja dan harapan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

2. Kepentingan adalah keinginan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

3. Kinerja adalah perasaan siswa dan guru terhadap hasil kerja alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

4. Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I adalah teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

5. Importance Performance Analysis (IPA) adalah teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui atribut-atribut yang menunjukkan kepuasan dan ketidakpuasan siswa dan guru terhadap penggunaaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

(29)

7. Matematika adalah ilmu yang mempelajari konsep abstrak yang berisi simbol-simbol.

8. Pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah serangkaian kegiatan belajar mengajar yang bertujuan melatih ketrampilan siswa dalam kehidupan sehari-hari menggunakan kosep matematika.

9. Alat peraga matematika adalah alat peraga yang digunakan untuk membantu mengembangkan konsep matematika yang abstrak melalui benda nyata. 10.Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan Montessori dengan

menggunakan alat peraga untuk memenuhi kebutuhan batiniah siswa sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin.

11.Alat peraga matematika berbasis metode Montessori adalah alat peraga matematika yang dikembangkan oleh Montessori dengan karakteristik alat peraga auto-education, menarik, bergradasi dan auto-correction.

12.Alat peraga Bangun Datar berbasis metode Montessori adalah alat peraga untuk menerangkan materi matematika bangun datar untuk mencapai tujuan tertentu.

13.Siswa adalah anak kelas V di SD Negeri Sokowaten Baru yang pernah menggunakan alat peraga Bangun Datar berbasis metode Montessori dalam proses pembelajaran.

(30)

10

BAB II

KAJIAN TEORI

Bab II akan menguraikan beberapa seperti, kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah Montessori, Matematika, Alat peraga, Alat peraga Bangu Datar, dan Kepuasan.

1. Montessori

Kajian teori Montessori membahas tentang riwayat Montessori, teori perkembangan Montessori, metode pembelajaran Montessori dan karakteristik alat peraga Montessori.

a. Riwayat Montessori

(31)

Tahun 1907, Montessori mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama “Casa Dei Bambini” berarti rumah anak. Montessori memiliki sekitar 50 peserta didik yang berasal dari lingkungan kumuh di Lorenzo, Belanda. Tahun 1913 ide-ide Montessori berkembangan dan mengubah arah pendidikan di seluruh dunia. Lima tahun berikutnya Montessori mulai dilupakan karena ide-idenya terlalu ekstrim bagi arus utama paham pendidikan. Tahun 1960-an, karya Montessori di bidang pendidikan menarik perhatian para psikolog, pendidik dan masyarakat umum (Lillard dalam Crain, 2007: 99). Montessori meninggal di Belanda tahun 1952 pada umur 81 tahun.

b. Teori Perkembangan Montessori

(32)

Siswa SD menurut teori perkembangan Montessori berapa pada tahap kedua dengan rentan usia 6-12 tahun. Siswa berapa pada periode sensitif dimana mereka sangat peka dengan apa yang ada dilingkungan sekitar. Rasa ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada disekitarnya sangat besar. Siswa mulai dapat berimajinasi dan mampu memanipulasi simbol-simbol dalam pembelajaran matematika dengan melihat alat peraga.

c. Metode Montessori

Metode pengajaran Montessori dibagi menjadi tiga bagian yaitu, pendidikan motorik, sensorik dan bahasa (Montessori, 1965: 50-51). 1) Pendidikan motorik dilatih dengan melakukan gerakan-gerakan seperti berjalan di atas garis, penggunaan kamar mandi, dan penggunaan alat makan (Magini, 2013: 31). 2) Pendidikan sensorial dilatih untuk mengoptimalkan indera penglihatan, penciuman dan perabaan. Indera penglihatan dilatih dengan memperlihatkan anak berbagai jenis bentuk, warna dan ukurannya seperti melihat berbagai warna bunga, jenis bunga dan bentuk bunga. Indera penciuman dilatih dengan berbagai macam pembauan seperti, membaui berbagai macam jenis bunga. Indera perabaan dilatih dengan mengenalkan berbagai objek dengan tekstur yang berbeda. Pendidikan Montessori mengoptimalkan perkembangan panca indera (Magini, 2013: 32). 3) Pendidikan bahasa sangat mungkin dilatihkan kepada anak sejak dini. Kemampuan anak untuk memahami bahasa begitu besar. Anak lebih cepat dalam menguasai bahasa asing.

(33)

berbagai macam bentuk bangun datar yang berada dalam rak-rak alat peraga. Siswa dapat mengamati berbagai macam sifat bangun datar yang ada dalam rak alat peraga. Indera perabaan dapat dioptimalkan ketika siswa merasakan perbedaan atau persamaan dari sisi-sisi yang dimiliki bangun datar. Siswa dapat menggabungkan antara bangun datar satu dengan yang lainnya sehingga dapat membentuk suatu bangun datar baru.

d. Karakteristik Alat Peraga Montessori

Montessori mengembangkan berbagai alat peraga dengan beberapa karakteristik. Karakteristik alat peraga Montessori yaitu, menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education (Montessori, 2002 : 170-176). Menarik, alat peraga Montessori dibuat dengan memperhatikan pemilihan warna. Alat peraga Montessori dicat dengan warna yang cerah sehingga anak-anak secara spontan anak-anak ingin menyentuh, meraba dan menggunakan alat perga tersebut dalam proses pembelajaran. Alat peraga Montessori juga didisain dengan tujuan mengembangkan potensi anak melalui panca indera (Montessori, 2002: 174).

(34)

mengangkat kursi dan terdengar suara berderit maka mereka akan segera mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan salah (Montessori, 2002: 170-171).

Auto-education, alat peraga Montessori dibuat dan dirancang untuk menumbuhkan kemandirian anak tanpa ada campur tangan dari orang dewasa. Direktris hanya sebagai pengamat dan memberikan pengarahan karena setiap alat sudah mempunyai pengendali kesalahan (Montessori, 2002: 172). Webster’s New World Distionary mengatakan kontekstual berasal dari kata kerja Latin “contexere

yang berarti jalin bersama. Kata “konteks” merujuk pada “keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan” yang berhubungan dengan diri sendiri yang terjalin

bersama (Johnson, Contextual Teaching & Learning, terjemahan Ibnu, 2010: 83). Alat peraga Montessori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan bahan-bahan yang berada di lingkungan sekitar sehingga peneliti menambahkan karakteristik kontekstual.

(35)

2. Matematika

Teori matematika dalam penelitian ini mengkaji tentang pengertian matematika dan pembelajaran matematika di sekolah dasar.

a. Pengertian Matematika

Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memberikan sumbangan nyata dalam permasalahan kehidupan (Susanto, 2013: 183). Departemen Pendidikan Nasional mengatakan kata matematika berasal dari bahas latin, manthanein atau mathema yang berarti “ belajar

atau hal yang dipelajari,” sedangkan dalam bahasa Belanda, matematika disebut

wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas dalam susanto, 2013: 184). Soedjadi (2000: 11) mengatakan matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol (Susanto, 2013: 183).

(36)

Datar berbasis metode Montessori dapat menolong pemahaman tentang bayangan abstrak bangun datar.

b. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Siswa Sekolah Dasar (SD) berumur antara 6 atau 7 tahun, sampai 13 tahun (Heruman, 2008: 1). Piaget (dalam Heruman, 2008: 1) mengatakan siswa SD masih berada pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan berpikir untuk mengoprasikan kaidah-kaidah logika, terkait objek yang bersifat konkret. Siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang ditangkap oleh panca indera. Proses pembelajaran matematika yang abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami oleh siswa.

Materi matematika dan cara penyampaian materi oleh guru merupakan hal yang penting selain sarana yang ada (Hudojo, 1988: 7). Susanto (2013: 190) menambahkan untuk menyampaikan tujuan pembelajaran matematika, seorang guru hendaknya dapat menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif membentuk, menemukan, dan mengembangkan pengetahuannya.

(37)

yang telah dipelajari. 3) Pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Proses pembelajaran yang dilakukan berdasarkan urutan konsep dapat membantu proses pemahaman siswa.

(38)

3. Alat Peraga

Teori alat peraga dalam penelitian ini akan dijabarkan dalam dua subbab yaitu, pengertian alat peraga dan manfaat alat peraga matematika.

a. Pengertian Alat Peraga

Sudjana (2010: 10) mengatakan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. Alat peraga adalah alat yang digunakan dalam pelajaran untuk memudahkan dalam penyampaian materi (Anitah, 2009). Ruseffendi (1979: 2-3) menjelaskan alat peraga merupakan benda riil yang dapat dipindah-pindahkan (dimanipulasikan).

Arsyad (dalam Widiyatmoko, 2012 : 53) mengatakan alat peraga pembelajaran menjadi saran komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan alat yang dapat diperagakan. Alat peraga berfungsi sebagai alat untuk mempermudah penyampaian materi kepada seseorang. Alat peraga membantu pemahaman abstrak menjadi pemahaman yang nyata. Alat peraga dalam penelitian ini adalah alat peraga matematika Bangun Datar berbasis metode Montessori.

b. Manfaat Alat Peraga Matematika

(39)

keseluruhan proses pembelajaran. Alat peraga dapat membantu peserta didik dalam menangkap pengertian yang diberikan guru, sehingga tujuan dan isi pembelajaran dapat tersampaikan.

Suharjana (2009: 3) menjelaskan tujuh manfaat dari penggunaan alat peraga matematika yaitu, a) mempermudah dalam memahami konsep matematika. b) Memberikan pengalaman yang efektif bagi siswa dengan berbagai macam kecerdasan. c) Memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran matematika. d) Memberikan kesempatan kepada siswa yeng lebih lamban berpikir untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil. Siswa yang memiliki kemampuan jauh lebih lamban dari teman yang lain akan terbantu dalam proses pemahaman materi ketika menggunakan alat peraga. e) Memperkaya program pembelajaran bagi siswa yang lebih pandai. Siswa pandai akan memiliki lebih banyak cara dalam menyelesaikan soal matematika. f) Mempermudah abstraksi. Siswa akan lebih mudah memahami konsep abstrak matematika. g) Efisiensi waktu. Waktu yang dibutuhkan untuk menerangkan konsep abstrak menjadi lebih sedikit dengan adanya benda konkret berupa alat peraga. h) Menunjang kegiatan matematika di luar sekolah. Kegiatan belajar yang seharusnya dilakukan di luar sekolah dapat dilakukan dalam sekolah dengan adanya alat peraga.

(40)

terbantu dengan melihat benda yang nyata. Waktu yang dibutuhkan dalam menjelaskan konsep abstrak lebih sedikit dengan adanya alat peraga yang digunakan. Garis besar manfaat pengguanan alat peraga yaitu membantu mempermudah memahami konsep matematika oleh setiap orang yang menggunakan.

4. Alat Peraga Bangun Datar Berbasis Metode Montessori

Alat peraga Bangun Datar berbasis Montessori merupakan modifikasi dan pengembangan dari alat peraga matematika Montessori yang bernama Fraction Cabinet (Nienhuis, 2012: 197). Alat peraga bangun datar digunakan untuk mempelajari materi sifat-sifat bangun datar di kelas V semester 2. Materi sifat-sifat bangun datar terdapat pada standar kompetensi 6 yaitu, memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun dan kompentensi dasar 6.1 yaitu, mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. Alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini merupakan modifikasi dan pengembangan dari alat peraga Montessori. Alat peraga bangun datar tampak pada gambar 2.1.

(41)

Gambar 2.1 merupakan alat peraga bangun datar yang terbuat dari kayu dan triplek. Alat peraga bangun datar berbentuk balok dengan ukuran 45cm x 30cm x 20cm. Alat peraga bangun datar dicat berwarna coklat tua. Alat peraga bangun datar memiliki tujuh laci yang terdiri dari papan berisi macam-macam bangun datar. Papan pertama berisi bangun datar persegi dan segi tiga. Papan kedua berisi bangun datar jajar genjang dan trapesium. Papan ketiga berisi bangun datar belah ketupat. Papan keempat berisi bangun datar layang-layang. Papan kelimat berisi bangun datar segilima dan segi enam. Papan keenam berisi bangun datar segi delapan. Papan ketujuh berisi bangun datar segi sepuluh. Papan keenam berisi bangun datar lingkaran. Papan bangun datar dapat dilihat dalam gambar 2.2.

Gambar 2.2 Papan Bangun Datar Persegi dan Segitiga

(42)

menjadi dua bangun datar segitiga sama kaki. Bangun datar segitiga berwarna biru sebagai bangun datar segitiga utuh tidak dibelah. Bangun datar segi tiga berwarna merah dibelah menjadi dua bagian bangun datar segitiga siku-siku. Bangun datar segitiga berwarna kuning dibelah menjadi tiga bangun datar sama kali. Alat peraga bangun datar dilengkapi dengan kartu soal. Kartu soal merupakan soal bangun datar beserta jawaban dari soal tersebut. Soal beserta kunci jawaban berada dalam satu kertas yang dibuat bolak-balik. Kartu pengendali alat peraga bangun datar ditempatkan pada tempat yang terbuat dari kayu.

5. Tingkat Kepuasan

Tingkat kepuasan dalam penelitian ini membahas tentang pengertian kepuasan, faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan kepuasan, manfaat kepuasan, pengukuran tingkat kepuasan, Importance and Performance Analysis(IPA), manfaat pengukuran tingkat kepuasan, karakteristik produk yang mempengaruhi tingkat kepuasan dan indikator tingkat kepuasan terhadap penggunaan alat peraga berbasis

metode Montessori “Alat Peraga Bangun Datar”

a. Pengertian Kepuasan

(43)

dibandingkan dengan harapan. Garpesz menambahkan (dalam Laksana 2008: 96) kepuasan merupakan keadaan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan dapat terpenuhi melalui pelayanan yang diterima. Pengaruh harapan terhadap kepuasan digambarkan oleh Midie (dalam Sopiatin, 2010: 36).

Gambar 2.3 Pengaruh Harapan terhadap Kepuasan

Gambar 2.3 menjelaskan ideal yang diharapkan terhadap keadaan minimal yang diterima. Semakin dekat harapan terhadap kondisi ideal maka semakin besar kemungkinan tercapainya kepuasan (Sopiatin, 2010: 37). Pengertian beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang ketika apa yang diharapkan dapat terpenuhi. Kepuasan dalam penelitian ini adalah tingkat perasaan siswa dan guru setelah membandingkan kinerja dan harapan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Guru dan siswa akan merasa puasa apabila alat peraga yang digunakan sesuai dengan harapan yang mereka inginkan.

b. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan

Beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan yaitu kualitas produk, kualitas pelayanan, emosional dan biaya (Ratnasari & Aksa, 2011: 117). Kualitas produk

Minimal yang didapat Yang selayaknya

Ideal

(44)

sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan. Produk dalam penelitian ini adalah alat peraga Bangun Datar Montessori. Siswa dan guru merasa puas ketika produk yang mereka gunakan berkualitas dan dapat memberikan hasil yang maksimal. Kualitas pelayanan alat peraga yang baik akan memberikan kepuasan kepada siswa dan guru. Emosional yang positif dapat dialami siswa dan guru ketika merasa puas dengan alat peraga yang dipakai dalam proses pembelajaran. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat alat peraga juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan. Biaya yang dikeluarkan sebanding dengan apa yang didapat, siswa dan guru akan merasa puas.

Keempat faktor yang mempengaruhi kepuasan menjadi pertimbangan ketika siswa dan guru merasa tidak puas terhadap alat peraga bangun datar Montessori. Rasa tidak puas muncul ketika alat peraga memiliki kualitas produk dan kualitas pelayanan yang rendah. Siswa dan guru merasa tidak puas ketika alat peraga yang digunakan memerlukan biaya banyak untuk perawatan.

c. Manfaat Tingkat Kepuasan

(45)

Manfaat kepuasan adalah dapat meningkatkan dan menjaga jumlah guru dan siswa dalam menggunakan alat peraga (Adisaputro, 2010: 71). Wood (2009: 12) mengatakan upaya menciptakan kepuasan bukanlah proses yang mudah, perlu memperhatikan kebutuhan siswa dan guru terhadap alat peraga. Siswa dan guru membutuhkan alat peraga yang memiliki kualitas tinggi. Alat peraga yang memiliki kualitas tinggi akan menimbulkan rasa percaya yang tinggi oleh penggunanya.

Pendapat beberapan ahli dapat disimpulkan bahwa manfaat kepuasan sangat penting. Keberlangsungan penggunaan alat peraga sangat dipengaruhi oleh manfaat yang didapat oleh siswa dan guru. Alat peraga akan terus digunakan apabila siswa dan guru puas terhadap kinerja alat peraga.

d. Pengukuran Tingkat Kepuasan

Kotler mengemukakan metode untuk mengukur tingkat kepuasan diantaranya sistem keluhan dan saran, ghost shopping, lost customer analysis, dan survei kepuasan pengguna (dalam Tjiptono 2004: 148-150). Sistem keluhan dan saran berorientasi pada seseorang memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan. Pendapat, keluhan dan saran pengguna barang atau jasa dapat disampaikan melalui kotak saran.

(46)

mengatasi keluhan pengguna barang dan jasa suatu produsen dan pesaingnya berdasarkan pengalamannya saat menggunakan barang dan jasa tersebut.

Lost customer analysis dilakukan dengan cara menganalisa penyebab pelanggan berhenti menggunakan produk atau jasa. Cara tersebut akan membuat penyedia produk atau jasa mengetahui alasan dari ketidakpuasan pelanggan. Penyedia produk akan memperbaiki produk tersebut setelah mengetahui penyebab pelanggan berhenti menggunakannya.

Metode survey dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu directly reported satisfaction, derived satisfaction, problem analysis dan importance-performance analysis. a) Directly reported satisfaction merupakan pengukuran yang dilakukan dengan item-item spesifik yang menyatakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan siswa dan guru. b) Derived satisfaction dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai seberapa besar harapan siswa dan guru terhadap layanan alat peraga. c) Problem analysis dilakukan dengan menyuruh siswa dan guru menuliskan masalah yang dihadapi ketika menggunakan alat peraga. d) Importance-performance analysis, dengan teknik siswa dan guru diminta untuk menilai alat peraga. Nilai rata-rata tingkat kinerja akan dianalisis di importance-performance matrix/diagram. Matrix/diagram sangat bermanfaat sebagai pedoman perbaikan kerja alat peraga yang berdampak besar pada kepuasan siswa dan guru.

(47)

menjadi pertimbangan penelitian ini menggunakan metode sensus. Guru yang diteliti sebanyak 1 orang.

e. Importance and Performance Analysis (IPA)

Chan (2005: 21) menjelaskan bahwa dokumen asli dalam literatur Importance-Performance Analysis (IPA) diprakarsai oleh Martilla & James pada tahun 1977 dan pertama kali diterapkan pada kepuasan pelanggan dalam industri otomotif. Importance- Performance Analysis (IPA) kemudian semakin berkembang. Dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hawes & Prough pada tahun 1998, Dolinsky & Cuputo pada 1990 pada bidang kesehatan. Pada bidang pariwisata oleh Bush & Ortinau pada tahun 1986, Duke & Persia pada tahun 1996, Uysal dan Howard & Jamrozy pada tahun 1991. Tahun 1998 berkembang pada bidang pendidikan dengan peneltian yang dilakukan Alberty & Mihalik pada tahun 1989 mengenai adult evaluation dan Ross pada tahun 1998 mengenai evaluasi pada fakultas (Chan, 2005: 25).

(48)

terhadap produk atau jasa. Analisis menggunakan IPA penting dilakukan karena dapat membantu mengidentifikasi atribut yang paling penting bagi pengguna dan memiliki pengaruh paling tinggi terhadap kepuasan mereka, serta mereka yang memiliki kinerja rendah dan perlu perbaikan (Matzler dalam Simpeh, 2013: 5).

Chan (2005: 22-23) menjelaskan bahwa IPA adalah metode evaluasi yang biasanya dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama melakukan pengumpulan atribut untuk item yang sedang dievaluasi. Tahap kedua melakukan pengembangan untuk mengukur atribut. Instumen yang digunakan merupakan gabungan dari setiap item pada daftar atribut dengan dua skala Likert yang berbeda. Skala Likert pertama digunakan untuk memperoleh respon mengenai pentingnya suatu produk atau jasa. Skala Likert kedua digunakan untuk memperoleh respon mengenai kinerja suatu produk. Tahap ketiga adalah perhitungan data yang diperoleh. Data yang diperoleh berupa nilai rata-rata. Nilai rata-rata tersebut dipasangkan untuk setiap atribut, yang diukur pada skala kepentingan dan skala kinerja. Tahap akhir adalah plotting hasil pada diagram kartesius untuk membantu dalam pengambilan keputusan.

f. Manfaat Pengukuran Tingkat Kepuasan

(49)

Supranto (2006) menjelaskan bahwa terdapat tiga manfaat pengukuran kepuasan. Manfaat pertama adalah untuk mengetahui bekerjanya suatu produk yang berguna untuk menentukan perubahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja produk tersebut. Manfaat kedua adalah untuk mengetahui perubahan yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki kekurangan. Manfaat ketiga adalah untuk memastikan bahwa perubahan yang dilakukan mengarah kepada perbaikan.

Pengukuran tingkat kepuasan siswa penting untuk dilakukan di sekolah karena kepuasan siswa memberikan gambaran mengenai kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Kualitas proses belajar mengajar di sekolah ditentukan oleh kualitas guru, ketersediaan sarana dan prasarana sekolah, suasana belajar, kurikulum yang dilaksanakan dan pengelolaan sekolah (Sopiatin, 2010: 5). Salah satu contoh ketersediaan sarana dan prasarana sekolah adalah penggunaan alat peraga pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Kepuasan siswa terhadap proses belajar mengajar di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas belajar siswa. Kesimpulan yang dapat diperoleh bahwa manfaat pengukuran kepuasan adalah untuk mengetahui kinerja produk, melakukan perbaikan produk, memastikan perubahan mengarah pada perbaikan kinerja produk.

g. Karakteristik Produk yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan

(50)

quality). a) Performansi (performance) berkaitan dengan aspek fungsional dari produk itu dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan ketika ingin membeli sebuah produk. b) Keistimewaan (feature) merupakan aspek kedua dari performansi yang berkaitan dengan pengembangan. c) Kehandalan (realibility) berkaitan dengan tingkat probabilitas atau kemungkinan suatu produk melaksanakan fungsinya secara berhasil dalam periode waktu tertentu. d) Konformansi (conformance) berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. e) Daya tahan (durability) merupakan ukuran masa pakai suatu produk, karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan produk. f) Kemampuan pelayanan (servis ability) merupakan karakteristik yang berkaitan dengan dengan kecepatan dan kemudahan serta akurasi perbaikan. g) Estetika (aesthetics) merupakan daya tarik produk terhadap panca indera, estetika berkaitan dengan perasaan seseorang seperti selera dan keelokan. h) Kualitas yang dirasakan(perceived quality) bersifat subjektif yang berkaitan reputasi seseorang menggunakan produk tersebut.

(51)

h. Indikator Tingkat Kepuasan Alat Peraga Bangun Datar berbasis Metode

Montessori

Indikator tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap alat peraga matematika berbasis metode Montessori berdasarkan teori yang dikemukakan oleh beberapa para ahli sesuai dengan kajian literatur. Penyusunan indikator ini melalui penggabungan karakteristik produk lama-baru dan karateristik alat peraga Montessori. Peneliti menyusun indikator tingkat kepuasan bersama kelompok studi dengan bimbingan dosen.

Tabel 2.1

Penggabungan Indikator Tingkat Kepuasan Karakteristik Alat

Peraga Montessori Karakteristik Produk Lama Karakteristik Produk Baru Auto education 1 Performansi (performance) 1 Estetika (aesthetics) 2

Menarik 2 Keistimewaan tambahan(feature) 3 Performansi (performance) 1

Bergradasi 3 Kehandalan (realibility)1 Keawetan (life) 6

Auto corretion 4 Daya tahan (durability) 6 Kualitas pengerjaan (workmanship) 7

Kontekstual 5 Konformasi (conformance)* Kemanan (safety) 7

Estetika (aesthetics) 2

Kemampuan pelayanan (service ability)7

Kualitas yang dirasakan (perceiced quality) 7

(52)

peraga Montessori berdiri sebagai indikator baru. Indikator yang memiliki arti sama diberi kode berupa angka yang sama.

Peneliti bersama kelompok studi mendapatkan tujuh indikator tingkat kepuasan siswa dan guru. Tujuh indikator tersebut yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, kontekstual, life dan workmanship. Kode nomor 1 adalah indikator auto-education, performance dan reliability. Indikator performance memiliki arti sama dengan indikator auto-education dan reliability yaitu membantu proses pemahaman materi oleh siswa. Kode nomor 2 adalah indikator menarik dan estetika (aesthetics). Persamaan indikator estetika dengan indikator menarik yaitu, berkaitan dengan daya tarik alat peraga terhadap panca indra. Kode nomor 3 adalah indikator bergradasi dan keistimewaan tambahan. Gradasi dalam alat peraga Montessori menjadi keistimewaan dari alat peraga tersebut. Kode nomor 4 adalah indikator auto-correction. Indikator auto-correction berdiri sebagai indikator yang tidak memiliki gabungan dari karakteristik produk lama dan karakteristik produk baru. Indikator auto-correction memiliki arti setiap alat peraga Montessori mempunyai pengendali kesalahan.

(53)

Montessori, sehingga ditambahkan sebagai indikator baru dalam indikator tingkat kepuasan. Kode nomor 7 adalah indikator kemampuan pelayanan (servisce ability), kualitas yang dirasakan (perceiced quality), kualitas pengerjaan (workmanship) dan kemanan (safety). Kode nomor 7 memiliki kesamaan arti alat peraga dapat digunakan dengan mudah dan aman. Indikator nomor 7 tidak dimiliki oleh karakteristik alat peraga Montessori, sehingga ditambahkan sebagai indikator baru dalam kuesioner tingkat kepuasan. Tabel 2.2 merupakan tujuh indikator tingkat kepuasan guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

Tabel 2.2

Indikator Tingkat Kepuasan terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori.

No Indikator Tingkat Kepuasan Alat Peraga Montessori 1 Auto-education

2 Menarik 3 Bergradasi 4 Auto-corretion 5 Kontekstual 6 Life

7 Workmanship

(54)

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Contoh penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah :

Penelitian yang dilakukan Wahyuningsih (2011) bertujuan untuk mengetahui

pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar matematika siswa.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan

rancangan penelitian Two Group Randomized Subject Posttest Only. Teknik

pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling.

Intrumen penelitian yang diberikan berupa tes bentuk uraian. Teknik analisa data

dalam penelitian ini menggunakan uji-t untuk menguji hipotesis. Hasil perhitungan

uji hipotesis diperoleh nilai thitung = 7,35 kemudian dikonsultasikan pada ttabel pada

taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai ttabel = 1,667 Karena thitung > ttabel maka Ha

diterima, sehingga terdapat perbedaan signifikan rata-rata hasil belajar matematika

siswa yang menggunakan pembelajaran model pendidikan Montessori dengan yang

menggunakan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran dengan model

pendidikanMontessori berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa.

(55)

28 siswa yang berusia 9-11 tahun. Hasil penelitian terdiri atas dua hal, yaitu (1) guru dan asisten memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa dan (2) siswa di sekolah Montessori memiliki motivasi intrinsik yang tinggi dalam mengerjakan tugasnya.

(56)

hubungan positif signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar akuntansi, koefisiensi korelasi (r) 0,695 dan tingkat signifikan 0,00; (4) ada hubungan positif signifikan antara persepsi gaya mengajar guru, penggunaan media pembelajaran dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar akuntansi, koefisien korelasi berganda (r) 0,879; nilai F 147,751 signifikan 0,00.

Penelitian yang dilakukan Asmirandha (2011) bersifat deskriptif. Populasi semua siswa kelas IV dan V SDN No. 190/V Kuala Tungkal. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V SDN No. 190/V kuala Tungal yang berjumlah 66 siswa. Data diperoleh melalui angket yang kemudian diolah menjadi data presentase. Hasil penelitian menunjukkan penerapan media di SDN No. 190/V Kuala Tungkal perlu di pertahankan dan ditingkatkan.

(57)
(58)

merek dan harga. Keberhasilan sekolah dalam mencapai kepuasan yang tinggi ditentukan oleh kemampuan sekolah untuk membangun hubungan yang baik antara staf dengan orang tua siswa. Salah satu caranya adalah dengan mendidik siswa dengan baik sehingga orang tua siswa setia atau loyal kepada sekola

(59)

Gambar 2.4 merupakan literature map yang menunjukkan penelitian relevan yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu tentang Montessori, alat peraga dan tingkat kepuasan. Penelitian tentang Montessori dilakukan oleh Wahyuningsih (2011) dan Koh & Frick (2010). Penelitian yang dilakukan Wahyuningsih (2011) menunjukkan bahwa model pendidikan Montessori berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Koh & Frick (2010) menunjukkan bahwa guru yang menerapkan filosofi Montessori dapat menumbuhkan motivasi intrinsik siswa yang lebih tinggi dalam mengerjakan tugas.

Penelitian tentang alat peraga dilakukan oleh Haryoko (2008) dan Asmirandha (2011). Penelitian yang dilakukan oleh Haryoko (2008) menunjukkan ada hubungan yang positif signifikan antara persepsi siswa tentang penggunaan media dengan prestasi belajar. Penelitian yang dilakukan Asmirandha (2011) menunjukkan bahwa penerapan media perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Penelitian tentang tingkat kepuasan dilakukan oleh udiutomo (2011) dan Miyono (2011). Penelitian yang dilakukan oleh uditomo (2011) menunjukkan ada peningkatan kepuasan terhadap layanan program 2011. Penelitian yang dilakukan oleh Miyono (2011) menunjukkan bahwa kualitas layanan sangat berpengaruh pada loyalitas dan kepuasan pelanggan.

(60)

membahas tentang tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

C. Kerangka Berpikir

Mata pelajaran matematika diberikan dalam setiap jenjang pendidikan termasuk jenjang pendidikan sekolah dasar (SD). Siswa SD berumur sekitar 7-13 tahun berada pada tahap operasional konkret. Pelajaran matematika sering dianggap sulit oleh siswa sekolah dasar (SD) karena berhubungan dengan angka dan konsep-konsep abstrak. Tidak semua siswa menyukai matematika karena kemampuan siswa yang berbeda-beda. Banyak siswa yang menganggap matematika sebagai hantu yang sangat menakutkan karena ketika siswa mendapat nilai jelek akan dicap sebagai siswa yang bodoh. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran belum mampu mengubah pandangan siswa tentang pelajaran matematika yang menakutkan. Guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional sehingga siswa hanya menjadi penerima pasif.

(61)

alat peraga matematika yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu memilih alat peraga yang menarik dan mengandung konsep yang akan diajarkan. Alat peraga yang menarik merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik alat peraga Montessori. Guru dapat menggunakan alat peraga Montessori dalam proses pembelajaran. Alat peraga Montessori selain memiliki karakteristik menarik juga memiliki karakteristik bergradasi, auto-correction dan auto-education. Alat peraga Montessori dibuat dengan karakteristik yang dapat membuat siswa aktif dalam belajar matematika.

Penggunaan alat peraga Montessori diharapkan dapat mengubah pandangan buruk siswa terhadap mata pelajaran matematika. Alat peraga sebagai benda konkret diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep abstrak matematika sehingga siswa tidak takut lagi dengan pembelajaran matematika. Siswa yang merasa senang dengan pembelajaran yang dikemas oleh guru dapat menunjukkan hasil yang jauh lebih baik. Guru sebagai pembelajaran sekaligus pengajar merasa senang dengan hasil yang ditunjukkan siswa. Rasa senang siswa dan guru merupakan bentuk kepuasan terhadap alat peraga yang dapat membantu dalam proses pembelajaran

(62)

dianalisis menggunakan beberapa teknik analisis data. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan siswa dan guru menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I. Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I melakukan penilaian berdasarkan skor rata-rata kinerja. Atribut-atribut yang mempengaruhi kepuasan dapat diketahui melalui Importance-Performance Analysis (IPA).

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah :

1. Tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori adalah tinggi.

(63)

43

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini akan diuraikan dalam beberapa sub bab yang akan membahas tentang jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas, prosedur analisis data, teknik analisis data, dan jadwal penelitian.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode sensus. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang melakukan pengumpulan data dengan menggunakan alat ukur agar dapat diperoleh data secara objektif (Purwanto, 2010: 205). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan dan menginterprestasi objek sesuai dengan apa adanya (Best dalam Sukardi 2003: 157).

(64)

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2013 s/d Juli 2014. Pengambilan data pada siswa dilaksanakan tanggal 4 April 2014 dan 10 April 2015 dengan memberikan kuesioner tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga Bangun Datar berbasis metode Montessori. Pengambilan data guru dilaksanakan tanggal 1 Mei 2014 dengan memberikan kuesioner tingkat kepuasan guru terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sokowaten Baru Banguntapan. SD Negeri Sokowaten Baru beralamat di Jalan Arimbi No 27 Sokowaten Banguntapan Bantul telepon (0274) 562120 Kode Pos 55198. SD Negeri Sokowaten Baru memiliki gedung bertingkat dengan dua lantai. Jumlah kelas di SD Sokowaten baru sebanyak 18 kelas yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas VI masing-masing memiliki tiga kelas A, B dan C.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Arikunto (2006: 130) menjelaskan “populasi adalah keseluruhan subyek

populasi”. Populasi dalam penelitian ini adalah 50 siswa dari kelas V A dan B serta 1

guru matematika SD Negeri Sokowaten Baru. Arikunto (2006: 130) menerangkan

(65)

100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Penelitian ini merupakan penelitian populasi.

D. Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu objek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2011: 63). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2011: 63). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011: 64). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kepuasan siswa dan guru.

E. Teknik Pengumpulan Data

(66)

Skala pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136). Setiap pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban, dimana siswa dan guru harus memilih satu alternatif jawaban yang dianggap sesuai dengan kondisi sebenarnya. Sugiyono (2011: 136) mengungkapkan skala Likert yang mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif berupa kata-kata “sangat setuju”, “setuju”, “kurang setuju”, “tidak setuju” dan “sangat tidak setuju”. Kata-kata dalam skala Likert dapat disesuaikan berdasarkan tujuan kuesioner penelitian. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini memiliki dua bagian yaitu kuesioner kinerja dan kepentingan. Alternatif jawaban yang digunakan dalam kuesioner kinerja dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1

Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kinerja untuk Siswa dan Guru

Alternatif Jawaban Skor

Sangat Setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Kurang Setuju (KS) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

(67)

setuju” (STS) memiliki bobot skor 1. Alternatif jawaban dalam kuesioner kepentingan dapat dilihat dalam tabel 3.2.

Tabel 3.2

Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kepentingan untuk Siswa dan Guru

Alternatif Jawaban Skor

Sangat Penting (SP) 5

Penting (P) 4

Kurang Penting (KP) 3

Tidak penting 2

Sangat Tidak Penting (STP) 1

Tabel 3.2 merupakan alternatif jawaban untuk kuesioner kepentingan siswa dan guru. Kuesioner kepentingan memiliki 5 alternatif jawaban dalam setiap pernyataan. Alternatif jawaban yang dapat dipilih adalah “sangat penting” (SP) memiliki bobot skor 5, “penting” (P) memiliki bobot skor 4, “kurang penting” memiliki bobot skor 3,

“tidak penting” (TP) memiliki bobot skor 2, dan “sangat tidak penting” (STP)

memiliki bobot skor 1.

F. Instrumen Pengumpulan Data

Gambar

Tabel 4.39  Perhitungan Rata-rata Penilaian Pelaksanaan Kinerja dan Kepentingan pada Indikator Tingkat Kepuasan Guru .........................
Gambar 4.12   Diagram Kartesius Indikator Auto-correction Tingkat Kepuasan
Gambar 2.1 Alat Peraga Bangun Datar Berbasis Metode Montessori
Gambar 2.2 Papan Bangun Datar Persegi dan Segitiga
+7

Referensi

Dokumen terkait

Batasan masalah penelitian ini adalah penelitian ini meneliti adanya perbedaan prestasi atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori siswa sekolah

Kajian pustaka membahas beberapa topik yang berkaitan dengan penelitian yang akan dipakai, yaitu tahap perkembangan anak sekolah dasar, alat peraga matematika

berkatnya peneliti dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “ PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI ”..

1.6.7 Papan bilangan bulat adalah seperangkat alat peraga yang dirancang sebagai pengembangan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori untuk materi operasi

pelajaran Matematika dan tiga siswa kelas IIIA yang dipilih berdasarkan kategori tertentu. Standar Kompetensi yang digunakan adalah “4. Memahami unsur dan sifat bangun datar

Pada jenjang sekolah dasar anak mempelajari banyak hal, salah satunya adalah matematika.Matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah bagi kebanyakan anak, untuk memudahkan

Skripsi yang berjudul “ Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori Papan Pin Perkalian untuk Operasi Perkalian Terhadap Prestasi Belajar

Penelitian ini memberikan pemikiran baru bagi mahasiswa bahwa alat peraga pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar berbasis metode Montessori dapat dibuat dan dikembangkan