1. Latar Belakang
1.6. Batasan Terma yang Digunakan
Seperti yang telah disampaikan pada sub bab Latar Belakang, krisis ekonomi, sosial, dan lingkungan pada kondisi tertentu dapat memunculkan beragam respon/perlawanan dari rakyat, perempuan dan laki-laki. Dalam penelitian ini, respon rakyat dari Kampung Nyungcung, Desa Malasari, merupakan hasil interaksi beberapa faktor, menggambarkan salah satu contoh aksi kolektif yang bergulir menjadi suatu bentuk gerakan konservasi lokal. Dalam perjalanannya, gerakan ini mengalami dinamika di mana pada suatu keadaan, partisipasi petani perempuan tidak ada lagi.
Sebagai acuan dalam penelitian ini, berikut beberapa terma yang digunakan untuk menerangkan realita di lapang dan yang diinginkan (yang bersifat ideal/seharusnya):
• Konflik Tenurial
Menurut Walker dan Daniels (1997) yang dikutip oleh Wulan et al (2004), konflik merupakan suatu wacana yang dikonstruksikan secara sosial dan bisa dipandang dari berbagai sudut. Dalam persoalan tenurial di kawasan Halimun, konflik yang terjadi adalah bersifat struktural di mana posisi pemerintah sangat sering sebagai lawan sengketa dan konflik dari rakyat, yaitu langsung bersengketa/berkonflik dengan rakyat setempat (penetapan kawasan taman nasional), atau sebagai pihak yang memberi izin atau hak kepada pihak ketiga (pelaku bisnis, BUMN dan Swasta) sehingga secara tidak langsung juga menjadi pihak yang bersengketa/berkonflik dengan rakyat. Fauzi (1999) mengelompokkan jenis konflik seperti ini kedalam konflik pengambil- alihan/penggusuran tanah.
• Gerakan Konservasi Lokal
Berdasarkan pendapat beberapa ahli sosiologi lingkungan Amerika Serikat yang dikutip oleh Aditjondro (2003), bahwa hampir setiap negara memiliki gerakan lingkungan yang saling berinteraksi antara tiga komponen berikut:
− Public environmentalists: para warga masyarakat yang berusaha memperbaiki langsung kondisi lingkungan sekitar melalui tindakan dan sikap mereka masing-masing.
− Organized environmentalists atau voluntary environmentalists: pihak- pihak yang bergerak melalui oraganisasi-organisasi yang khusus didirikan untuk berusaha memperbaiki lingkungan hidup mereka, yang kadang sampai melintasi batas negara. Umumnya organisasi yang didirikan tersebut berupa ORNOP dan jaringan kerjanya.
− Institutional environmental movement organization: pihak-pihak yang bergerak melalui birokrasi-birokrasi resmi yang mengklaim diri memiliki kewenangan terhadap masalah-masalah lingkungan.
Mengacu pada makna ini, gerakan konservasi lokal yang akan dibahas adalah termasuk ke dalam gerakan lingkungan publik/rakyat. Dikaitkan dengan inisiatif perempuan dalam gerakan lingkungan publik/rakyat, ditemukan adanya fenomena feminisasi konservasi pada tahap awal dimana kerja-kerja penghijauan diinisiasi oleh petani dan buruh tani perempuan. Selanjutnya,
pada tahap penggalangan dukungan dan negosiasi atas tanah-tanah yang telah dihijaukan tersebut terjadi perubahan fenomena, yaitu maskulinisasi konservasi karena didominasi oleh petani dan buruh tani laki-laki. Untuk menghilangkan fenomena ini, saya menggunakan pemikiran hook (2000) untuk memaknai gerakan lingkungan sebagai salah satu bentuk gerakan feminis yang bertujuan menghapuskan seksisme terhadap alam dan sesama manusia, tanpa harus dibatasi oleh sekat/aliran masing-masing (lihat juga temuan dari Petras 1997, Petras dan Veltmeyer 2000, serta Moyo dan Yeros 2005 yang dikutip oleh Fauzi 2005, tentang ideologi gerakan sosial kontemporer dari beberapa negara Dunia Ketiga). Menjadi penting untuk memaknai secara kritis-kontemplatif tentang solidaritas di antara perempuan, kekuasaan, bekerja dan sifatnya, bekerja bersama laki-laki, membangun gerakan yang berbasis massa, dan melakukan serangkaian pendidikan kritis bagi perempuan.
• Intervensi Pihak Luar
Berdasarkan pada beberapa gerakan rakyat (gerakan petani) dari beberapa negara Dunia Ketiga, ditemukan bahwa unsur kerjasama dengan pihak luar yang sama ideologinya merupakan hal yang menentukan keberhasilan gerakan rakyat tersebut (lihat Petras 1997, Petras dan Veltmeyer 2000, serta Moyo dan Yeros 2005, yang dikutip oleh Fauzi 2005). Dalam konteks keberhasilan ini, intervensi dimaknai sebagai suatu hubungan kerjasama dalam beragam kegiatan yang disepakati antara ORNOP dan jaringan kerjanya dengan organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok rakyat yang bersifat menguatkan.
• Relasi Gender (Relasi Kekuasaan antara Perempuan dan Laki-laki)
Menurut Davis (1991) yang dikutip oleh Hidayat (2004), terdapat dua jalur utama untuk memahami relasi antara gender dan kekuasaan. Pertama, dengan menempatkan gender sebagai konsep sentral dan menggunakannya sebagai analisis atas relasi kuasa. Cara pertama mengasumsikan bahwa kehidupan sosial, termasuk relasi kekuasaan, senantiasa melibatkan relasi antar jenis kelamin sehingga gender adalah kategori yang paling memadai untuk memahaminya. Kedua, kekuasaan ditempatkan sebagai konsep utama dan
dijadikan sebagai titik tolak kritik atas konsep-konsep dalam teori sosial tradisional dengan memahami relasi antar jenis kelamin. Cara kedua mengasumsikan bahwa kekuasaan sebagai kerangka analisis yang memadai untuk menjelaskan relasi sosial termasuk relasi antar jenis kelamin.
Penelitian ini akan menggunakan jalur pertama mengingat isu kekuasaan secara langsung berkaitan dengan isu kesetaraan. Pada sebagian besar realita sosial, relasi kekuasaan antar jenis kelamin dalam perspektif feminisme berlangsung dalam ketidaksetaraan.
Komter (1991) yang dikutip oleh Hidayat (2004) menjelaskan tujuh bentuk ketidaksetaraan dalam relasi antar jenis kelamin, yaitu:
− Ketidaksetaraan dalam sumberdaya-sumberdaya sosial, posisi sosial, politik, dan penerimaan budaya;
− Ketidaksetaraan dalam kesempatan memanfaatkan sumberdaya-
sumberdaya yang tersedia;
− Ketidaksetaraan dalam pembagian hak dan kewajiban;
− Ketidaksetaraan, baik eksplisit maupun implisit, dalam pengambilan keputusan yang menentukan perbedaan pelaksanaan (dalam hukum, pasar kerja, praktek pendidikan, dan lain-lain);
− Ketidaksetaraan dalam representasi budaya seperti pendevaluasian sebagai kelompok bawah, stereotipe, pelekatan dengan kodrat, anggapan lemah, dan keterikatan biologis;
− Ketidaksetaraan dalam implikasi psikologis seperti inferioritas dan superioritas;
− Tendensi sosio-kultural untuk meminimalisasikan atau menolak
ketidaksetaraan kekuasaan dalam hal bahwa konflik dianggap sebagai konsensus dan ketimpangan kekuasaan dianggap normal.
Relasi kekuasaan yang terjadi dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial adalah faktor yang sangat menentukan dalam menciptakan subordinasi perempuan pada semua tingkat kehidupan. Menurut Komter, bentuk-bentuk ketidaksetaraan tersebut tidak hanya berlaku bagi relasi antar jenis kelamin, tetapi juga dalam relasi kelas, ras, dan etnis.
Meskipun terdapat konsensus tentang peranan budaya untuk menentukan bagaimana ‘seharusnya’ perempuan dan laki-laki (lihat Deaux dan Kite 1987 yang dikutip oleh Susilastuti dalam Ridjal et al 1993) yang sebagian besar menunjukkan bahwa perempuan selalu berada dalam posisi yang tersubordinasi (lihat Moore 1988 yang dikutip oleh Susilastuti dalam Ridjal et al 1993, dan Bemmelen dalam Ihromi 1995), tetapi subordinasi itu memiliki keunikan dan kondisi yang berbeda yang dialami oleh perempuan dari masing- masing komunitas dengan budaya lokalnya. Selain budaya partriarkhi (yang bersifat universal), sistem kasta, matrilinial, budaya egaliter, dan karakter fisik ekosistem sebagai ruang hidup yang berkontribusi membentuk pengetahuan dan perilaku para anggota suatu komunitas juga mempengaruhi bagaimana komunitas merespon bentuk-bentuk ketidak-adilan secara kolektif (dalam bentuk gerakan perlawanan). Budaya lokal ini pada akhirnya turun mempengaruhi kualitas keterbukaan, militansi, dan jangkauan gerakan rakyat.
• Perspektif Feminisme
Menurut Tong (1998), dalam tulisannya, Feminist Thought: A More
Comprehensive Introduction, feminisme merupakan suatu ideologi yang tidak bersifat monolitik. Feminisme terdiri dari beragam aliran pemikiran, yaitu: liberal, radikal (libertarian atau kultural), marxis-sosialis, psikoanalisis, eksistensialis, posmodern, multikutural dan global, serta ekologis. Masing- masing aliran tersebut memberikan kontribusi yang kaya dan bertahan lama terhadap feminisme secara keseluruhan. Kekayaan pemikiran ini menyiratkan suatu sejarah lengkap tentang serangkaian pemikiran feminisme yang dapat membantu kita belajar dari pengalaman perempuan masa lalu untuk berada dalam kekinian dan dapat merancang masa depan yang berkeadilan bagi semua. Perspektif feminisme memberikan kita alat pengajaran yang berguna untuk melihat dan memahami bagaimana proses dan bentuk opresi terjadi, terutama terhadap perempuan, menentukan pemecahan untuk menghapus opresi-opresi tersebut. Tong meyakini bahwa selalu terdapat ruang untuk pertumbuhan, perbaikan, pertimbangan ulang, dan peluasan pemikiran feminisme dalam semua proses menuju keadilan dan pembebasan.
Terkait dengan pendapat Tong (1998) tersebut, mempelajari persoalan kekinian yang dihadapi oleh perempuan (dan juga laki-laki), melalui
tulisannya, Feminist Theory: From Margin to Center, hooks (2000)
menekankan pentingnya perspektif feminis yang memiliki tujuan sama, yaitu menghapuskan seksisme, tanpa harus dibatasi oleh sekat/aliran masing- masing. Menurut hooks (ibid), seksisme, selain merupakan dasar dari semua penindasan yang lain, terwujud dalam praktek keseharian kita -- sebagai perempuan dan laki-laki, kulit putih dan kulit berwarna, tua – muda, kaya - miskin -- yang sarat dengan karakter dominasi. Praktek ini, secara sadar atau tidak (karena melalui proses sosialisasi yang panjang dalam keluarga, masyarakat, dan negara), dijalankan oleh kita dalam peran apapun yang melekat dan atau dilekatkan pada diri kita, yaitu apakah sebagai pihak yang melakukan diskriminasi atau yang melawan diskriminasi, sebagai pihak yang melakukan eksploitasi atau yang diekploitasi, sebagai penindas atau yang ditindas. Dimulai dari tingkat keluarga, masyarakat, dan negara, seksisme menampilkan dualisme atas hirarki dan kontrol yang otoriter dan memuat kekerasan, yang kesemuanya berlangsung dalam proses siklus. Dalam keluarga, terutama di negara-negara maju misalnya, seksisme dinilai telah menyesatkan dan menyimpangkan fungsi positif keluarga. Keluarga dipandang sebagai suatu media sosialisasi yang baik karena dapat mengkondisikan kita untuk menerima dan mendukung bentuk penindasan dari seksisme (Hodge 1975, dikutip oleh hooks 2000). Pada tingkat keluarga dan masyarakat di negara-negara berkembang, terutama Asia Tenggara (termasuk Indonesia), Atkinson dan Errington (1990) mempelajari bahwa dibalik sistem sosial masyarakat -- yang dalam pandangan para scholar dari Barat merupakan sistem yang ‘sulit’ ditemukan bentuk-bentuk penindasan seksisme -- seperti kekerabatan keluarga yang bersifat bilateral (bilateral or cognatic kinship), saling melengkapi antara perempuan dan laki-laki (complementarity of the sexes), dan kesetaraan ekonomi ternyata terdapat juga hirarki dan kontrol yang otoriter serta memuat kekerasan yang terselubung. Pada tingkat gerakan feminis, hooks juga melihat praktek seksisme, salah satunya adalah
sikap dan perilaku yang tidak memberikan perhatian terhadap minat perempuan-perempuan lain yang belum bergabung dalam gerakan feminis. Pandangan dan analisis kritis tentang perspektif feminisme dari Tong dan hooks di atas akan dipakai untuk menjelaskan gerakan konservasi lokal yang diinisiasi oleh sebagian petani dan buruh tani perempuan di Kampung Nyungcung dan gerakan lingkungan secara umum.