BERBASIS PEREMPUAN DI KAMPUNG NYUNGCUNG
2. Feminisasi Kemiskinan dalam Konteks Perlawanan Rakyat
Sebagaimana diuraikan dalam sub bab di atas yang menggambarkan politik perlawanan rakyat Malasari, gerakan perjuangan mendapatkan hak-hak atas tanah di Kampung Nyungcung termasuk gerakan yang diinisiasi oleh kelompok perempuannya dipelopori oleh kelompok-kelompok petani miskin. Kemiskinan melahirkan militansi untuk berjuang dan menanggung resiko. Untuk konteks Kampung Nyungcung sebagaimana telah dijelaskan dalam bab empat tentang situasi kemiskinan perempuan Kampung Nyungcung, sebagian besar mereka yang miskin ini adalah perempuan. Kemiskinan secara ekonomi itu diperparah oleh
budaya patriarkhi yang meletakkan perempuan Kampung Nyungcung dalam posisi subordinat (lihat bab empat) yang pada gilirannya menjauhkan perempuan ini dari partisipasi politik baik di arena domestik maupun publik. Tarik menarik antara militansi tersebut dengan ketidakberdayaannya dalam arena domestik dan publik menjadi sebuah energi perjuangan yang dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan konservasi karena adanya intervensi pihak luar yang memperkenalkan ide-ide demokratisasi dan hak asasi manusia atas tanah dan kekayaan alam lainnya.
Kemiskinan yang semakin sistemik menyebabkan sebagian besar warga Malasari mulai menjalankan strategi yang disebut oleh Amri Marzali (2003)
sebagai occupational multiplicity (yang di dalamnya terdapat perilaku
pembangkangan/mengakses secara ‘illegal’), sebagaimana diungkapkan oleh petani dan buruh tani perempuan di bawah ini:
“Saya berumur sekitar 90 tahun dan telah tinggal di sini sepanjang hidup saya. Saya generasi kelima sesepuh desa. Kami adalah kaum perempuan. Apa yang menjadi masalah desa ini? Kurangnya pangan, kurangnya lahan (Pernyataan Ibu Un, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal...., bulan..., 2002; Dikutip dari RMI, KPA, dan ILC 2002)
“Saya punya satu petak sawah seukuran 5.5 kg benih padi yang hasilnya hanya mencukupi kebutuhan makan kami sekeluarga (empat orang) untuk waktu kurang dari dua bulan. Untuk bertahan hidup, saya menggarap lahan
PERHUTANI (maksudnya: tanpa seizin PERUM PERHUTANI) di Keramat
Banteng, sedangkan suami saya menjadi buruh tani upah harian untuk musim tanam” (Pernyataan Ibu Is, dari Kampung Malasari. Didokumentasikan pada tanggal…., bulan…, 2002)
“Saya tidak punya lahan, tapi ikut mengolah lahan orang tua saya. Saya juga ngepak, biasaya satu musim saya bisa dapat 10-15 gedeng…anak saya satu…setiap hari keluarga kami menghabiskan beras 1-1.5 liter. Beras ngepak bisa habis setelah 1.5 bulan.… Suami saya pergi ke gunung (maksudnya: nambang emas, menjadi gurandil) untuk nambah-nambah kebutuhan….” (Pernyataan Ibu An, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal...., bulan...., 2002)
“Untuk mencukupi kebutuhan kami, suami saya pergi ke gunung selama seminggu, kemudian pulang ke rumah selama seminggu untuk istirahat dan mengolah batu dari gunung. Minggu depannya lagi, kembali ke gunung. Sedangkan saya tetap menggarap sawah di tanah Kahutanan dan nguli di beberapa sawah saudara-saudara saya atau orang lain. Begitulah kehidupan
kami setiap harinya” (Pernyataan Ibu Ln, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal…, bulan…, 2004)
Sementara itu, generasi mudanya dan juga sebagian besar para orang tua mereka, petani dan buruh tani laki-laki, lebih memilih sumber pendapatan dari pekerjaan non-pertanian (untuk pemuda: menjadi tukang ojek, buruh kasar di kota, dll; sedangkan untuk pemudinya: menjadi pembantu rumahtangga, pelayan toko, atau buruh pabrik di kota). Situasi ini menyebabkan beban petani dan buruh tani perempuan di sektor pertanian menjadi semakin berat (lihat penjelasan pada bab empat).
“Sekarang mah kami nyangkul sendiri, gak perlu bantuan laki-laki...” (Anonim dari perempuan petani anggota kelompok Cepak Nangka, didokumentasikan pada tahun 2004; dikutip dari Galudra et al 2005)
Dalam konteks adaptasi membangkang, ketika tidak cukup sumberdaya untuk bermigrasi musiman ke kota atau migrasi tersebut tidak mampu menjawab harapan untuk hidup lebih baik, mereka, terutama oleh kaum laki-laki, kemudian terlibat dalam beberapa kegiatan ‘illegal’ yang cukup rentan secara lingkungan dan keselamatan diri, seperti menjadi gurandil, penebang dan pemikul kayu dalam kegiatan pembalakan liar (illegal logging). Bentuk pembangkangan lain dilakukan (oleh perempuan dan atau laki-laki) adalah dengan cara membuka lahan garapan di kawasan produksi PERUM PERHUTANI atau PT. Nirmala Agung, dan atau menolak membayar ‘pajak inkonvensional’ yang diberlakukan oleh aparat lapang PERUM PERHUTANI.
Tindakan yang terkesan ‘negatif’ di atas sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan rakyat yang bersifat terus menerus, gerilya, dan dilakukan oleh banyak orang. Tindakan-tindakan tersebut tidak saja sudah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun oleh para pendahulu mereka, juga dilakukan dalam rangka merespon perubahan-perubahan dari pembangunanisme yang menimpa segenap nilai dan struktur kehidupan mereka yang dulunya sangat kental dengan sistem berladang. Situasi seperti ini sesungguhnya menggambarkan militansi.
Hal-hal yang dikategorikan sebagai suatu tindakan ‘illegal/kriminal’ kehutanan sebelumnya dalam pandangan masyarakat merupakan hal-hal yang
dianggap biasa, wajar dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka pahami. Tindakan yang diberi label ‘illegal/kriminal’ kehutanan oleh pihak luar tersebut untuk sebagian rakyat adalah kegiatan-kegiatan menggarap tanah untuk bersawah, berkebun, mencari kayu, mencari uang (cash) untuk kebutuhan mendesak (berobat atau membayar uang sekolah) yang merupakan fakta lugas yang tidak dapat dipungkiri. Apa yang kemudian dilabelkan sebagai tindakan ‘illegal/kriminal’ adalah sesuatu yang datang dari luar, hasil kodifikasi kalangan suprastruktur. Kondisi seperti ini juga menunjukkan kesamaan dengan apa yang terjadi di Sedaka -- sebuah kampung penelitian Scott (1985) di Malaysia -- pada kondisi beberapa tahun setelah program revolusi hijau, pemerintah setempat menyentuh kampung tersebut. Cara produksi baru yang menitikberatkan pada mekanisasi dan ekonomi uang itu, ternyata membawa konsekuensi pada terjadinya penyempitan peluang dan hilangnya ‘kemewahan-kemewahan kecil’ yang semula bisa didapat oleh para petani miskin, sehingga mengkondisikan mereka untuk berbuat ‘kriminal’. Aksi-aksi yang oleh Scott (ibid) disebut sebagai ‘senjatanya orang-orang kalah’ sampai hari ini juga terus berlangsung di Malasari.
Dari aspek hegemoni, keberlangsungan tindakan ‘illegal/kriminal’ itu menunjukkan adanya kompromi politik antara klas sosial dan di dalam struktur pemerintahan desa. Diantara keberlangsungan hegemoni tentang tentang nilai- nilai kelestarian hutan, kesadaran lingkungan yang sebagian diterima oleh kalangan dari klas sosial menengah - atas dan pemerintah desa, faktanya cenderung dilanggar di tingkat praksis. Tidak seorangpun di Malasari yang menolak pendapat bahwa penambangan secara tradisional dan pencurian kayu akan mengakibatkan kerusakan hutan dan mengancam kelestarian lingkungan. Tetapi, hampir sebagian besar dari mereka -- baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok, secara diam-diam ataupun terbuka pada saat reformasi, dan secara konsisten -- terus melakukan tindakan-tindakan ‘illegal/kriminal’ kehutanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sementara itu sebagian besar kalangan masyarakat dari klas sosial menengah keatas dan juga aparat pemerintah desa membiarkan tindakan-tindakan itu, bahkan diantara mereka kemudian menjadi pemodal atau penerima lanjutan atas hasil tindakan-tindakan tersebut.
Berdasarkan pemaparan pada bab empat dan strategi bertahan hidup seperti di atas, dapat dikatakan bahwa masyarakat Malasari berada dalam kemiskinan yang keadaannya, secara struktural dan kultural saling menguatkan, dijelaskan sebagai berikut:
• Keadaan Ekonomi Politik: Dalam setiap konteks bangunan ekonomi politik -- apakah itu pada masa kapitalisme kolonial dan kapitalisme modern -- nasib masyarakat peasant ditentukan oleh kebijakan dan praktek-praktek ‘program’ agraria yang diberlakukan. Lebih lanjut, dalam cara berproduksi, mereka selalu berhubungan dengan golongan lain, yang memposisikan mereka untuk menggantungkan nasib kepada golongan lain dalam masyarakat.
Dalam bangunan kapitalisme kolonial, nasib para pendahulu/tetua mereka yang sebagian besar sebagai buruh perkebunan-perkebunan teh selalu bergantung pada ‘kemurahan hati’ dari para pengusaha Belanda Pada Orde Lama, nasib mereka ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi-politik yang dimainkan oleh partai-partai politik pada saat itu. Pada rezim Orde Baru dan transisi seperti saat ini, nasib mereka ditentukan oleh modal (sebagian besar berasal dari asing) dan kekuasaan Negara melalui agroindustri, revolusi hijau, ekploitasi hutan, pertambangan, dan konservasi.
• Keadaan Ekosistem: Penguasaan Negara seperti di atas dikarenakan kekayaan alamnya. Diketahui bahwa ekosistem Halimun merupakan salah satu ekosistem hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang relatif ‘tidak banyak terganggu’ dibandingkan dengan kawasan-kawasan hutan lainnya di Jawa. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah disinggung pada aspek ekonomi politik, karena kekayaan alamnya, selain konservasi, saat ini di kawasan Halimun diberlakukan juga usaha ekonomi eksploitatif skala masif seperti perkebunan besar swasta dengan komoditi teh PT Nirmala Agung, konsesi hutan PERUM PERHUTANI, dan pertambangan emas PT. Aneka Tambang. Penguasaan ini telah membatasi akses dan kontrol masyarakat petani (peasant) atas tanah dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Disamping itu, praktek eksploitatif kekayaan alam oleh para perusahaan tersebut telah menyebabkan degradasi ekosistem.
• Keadaan Tata Nilai dan Aturan: Penguasaan kekayaan alam yang diwakilkan oleh perusahaan-perusahaan dapat berjalan dengan aman dan lancar di tingkat basis dikarenakan adanya nilai, norma dan hukum modern yang diberlakukan. Salah satunya adalah UU Pemerintahan Desa No. 5 Tahun 1979. Undang- undang ini menimbulkan dis-organisasi pada kehidupan masyarakat yang dapat dilihat dari pemaparan tentang sejarah desa yang belum banyak mengungkapkan perlawanan dari kelompok marjinal, terutama perempuan sejak satu per satu pihak luar masuk dan menguasai tanah dan kekayaan hutan di desa mereka. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa melemahnya organisasi dan jaringan sosial di antara mereka sehingga terjadi alienasi berupa impersonalitas dan sebagian besar hubungan sosial yang bersifat instrumen. Sementara itu, aturan-aturan yang diberlakukan tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ketidak-adilan yang dialami oleh sebagian besar rakyat.
• Keadaan Fasilitas Pelayanan dan Kesempatan Usaha: Terdapat keterbatasan atau bahkan ketiadaan informasi, pembinaan, fasilitas permodalan, perlindungan dan penyediaan kesempatan usaha mengharuskan sebagian anggota keluarga peasant bermigrasi dan atau terlibat dalam kegiatan ekonomi destruktif.
Pertemuan empat keadaan di atas telah dan sedang menyebabkan proletarisasi peasant (proses pemisahan peasant dari alat produksinya, yaitu tanah, menuju menjadi buruh tani) terjadi pada skala yang semakin masif, terutama pada perempuan. Hal ini dapat dilihat dari situasi kehidupan sosial dan ekonomi perempuan di Malasari, termasuk di Nyungcung (lihat sub-bab 4 dan 5 pada bab empat.) Pada titik tertentu, kemiskinan secara perlahan dapat menyebabkan perempuan yang belum berumahtangga menjadi berani untuk bermigrasi ke kota mencari pekerjaan di sektor ekonomi informal dengan segala resikonya. Sementara itu, bagi perempuan yang menikah, sebagian dari mereka mulai berani keluar dari belenggu peran ibu rumahtangga di arena domestik dengan cara terlibat aktif dalam kegiatan politis publik yang bertujuan untuk memerangi kemiskinan tersebut, baik secara pembangkangan maupun konfrontatif konstruktif. Keberanian sikap dan perilaku ini, jika dipelihara secara konsisten
akan menggambarkan suatu deprivasi relatif atas belenggu patriarki yang selama ini membatasi perempuan melalui pencitraan diri untuk bersikap dan berperilaku, serta dikotomi pembagian peran (produktif dan reproduktif) dan arena kerja (domestik dan publik). Militansi dapat dimunculkan dari perubahan sikap dan perilaku ini jika diperkuat menjadi sikap dan perilaku dari kesadaran kritis masing-masing individu perempuan pelaku gerakan.