• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk mendapatkan pemahaman tentang pertemuan-pertemuan beragam emosi dan sikap yang bersifat sinergis dan terkadang kontradiktif pada diri para subjek penelitian, saya dan RMI, saya menggunakan pendekatan kualitatif.

Beberapa pertimbangan yang menyebabkan saya memilih pendekatan kualitatif didasarkan pada Saptari dan Holzner (1997), yaitu pertama, pendekatan ini memungkinkan adanya kedekatan emosional karena kepribadian saya selaku peneliti tidak dituntut netral untuk mencapai kebenaran “objektif”6, tetapi sebaliknya, kepribadian saya (faktor subjektif) dijadikan sebagai cara untuk memperoleh informasi tentang suatu realita sosial yang ingin saya teliti.

Kedua, pendekatan kualitatif ini menyediakan ruang bagi saya untuk mempelajari, membuka, dan memahami apa yang terjadi di balik suatu realita sosial secara lebih dalam yang baru sedikit diketahui (Strauss dan Corbin 1990, yang dikutip oleh Saptari dan Holzner 1997), dalam hal ini adalah gerakan konservasi yang dilakukan oleh komunitas lokal (bukan komunitas adat). Terkait dengan pengalaman perempuan dalam kejadian, peristiwa atau fenomena itu, pendekatan seperti ini sangat penting dalam studi feminis karena perasaan dan pikiran perempuan dalam kehidupan sejak lama diabaikan oleh ilmu-ilmu sosial, atau pengalaman mereka dianggap sama seperti pengalaman laki-laki.

Ketiga, data dan informasi yang telah diperoleh tersebut dalam pendekatan kualitatif masih dimungkinkan untuk didiskusikan, diragukan, atau dikonsepkan kembali secara bersama dengan para subjek penelitian, terutama tentang hal-hal yang selama ini tersembunyi dibalik realita yang ditampilkan ke publik.

2.2. Metode Penelitian

Data dan informasi penelitian ini diambil dan dikumpulkan menggunakan metode-metode penelitian yaitu: pertama, Studi Literatur. Pada studi literatur ini, pengumpulan dan analisa informasi dilakukan selama 5 bulan melalui studi pustaka tentang konflik tenurial, gerakan lingkungan, gerakan feminis, catatan proses kegiatan pengorganisasian RMI dan serangkaian pertemuan rapat beberapa kelompok tani anggota KSM Nyungcung selama 2004 – Agustus 2006.

Kedua adalah metode Wawancara Mendalam. Subjek penelitian yang saya wawancarai terdiri dari:

• Sembilan orang petani dan buruh tani perempuan yang berasal dari 2

kelompok petani perempuan (5 orang dari Kel. Cepak Nangka, dan 4 orang dari Kel. Andam). Para petani dan buruh tani perempuan ini merupakan

subjek utama dalam penelitian saya. Pemilihan subjek penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan saya, yaitu: hubungan kedekatan7 saya dengan mereka yang telah terbangun sejak tahun 2001, keterwakilan posisi mereka di dalam kelompok petani (sebagai ketua, wakil ketua, sekretaris, dan anggota), peran kerja mereka di arena domestik dan publik (sebagai istri, ibu rumahtangga, petani, penggarap, buruh tani, dan pekerja rumahtangga di kota), kepemilikan tanah yang luasnya < dari 0.5 ha, tingkat pendidikan mereka (tidak bersekolah, tidak tamat SD, dan tamat SD), dan pengalaman mengalami kekerasan dalam rumahtangga.

• Dua orang dinamisator laki-laki dari Kel. Rimba Lestari. Selain aktif dalam kegiatan kelompok petani Rimba Lestari, kedua dinamisator ini merupakan anggota BPD Desa Malasari.

• Dua orang laki-laki aparat pemerintah desa (Sekretaris Desa dan Kaur

Pembangunan yang sekaligus merangkap sebagai guru SD di Kampung Malasari),

• Dua orang perempuan (fasilitator lapang untuk bidang penguatan ekonomi lokal dan staf untuk kegiatan pendidikan hukum kritis bagi rakyat) dan empat orang laki-laki (ketua, wakil ketua, fasilitator lapang untuk bidang organisasi kelompok tani, dan fasilitator lapang untuk bidang pengelolaan kekayaan alam) dari Pengurus Harian RMI yang memfokuskan kerja pada fasilitasi penyelesaian konflik tenurial di Kawasan Ekosistem Halimun.

Khusus pada saat wawancara dengan 9 orang perempuan subjek penelitian di atas, saya berupaya menerapkan seperti metode wawancara feminis yang dibahas oleh Reinharz (1992) dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka, tidak terstruktur, serta membuka diri untuk menceritakan pengalaman sendiri -- sebagai penguat pernyataan dari atau bagian pertanyaan yang diajukan ke para narasumber -- dan sekaligus untuk ditanyakan/dikritik oleh narasumber. Wawancara saya mulai dengan menyampaikan maksud penelitian -- yang saya bahasakan sebagai tugas akhir sekolah yang ingin saya kerjakan melalui cara menuliskan pengalaman, suka-duka, keberhasilan dan kegagalan, serta harapan sebagian kawan-kawan, anggota KSM perempuan, dalam memperjuangkan konservasi lokal -- dan meminta izin kesediaan kawan-

kawan itu sebagai narasumber/subjek dalam penelitian saya. Ketika bersedia, saya melanjutkan wawancara/diskusi itu dengan pertanyaan sebagai berikut: “Mengingat kembali pengalaman Ibu/Teteh dalam kegiatan penghijauan kemarin di tanah-tanah tandus bekas kebun pinus, apa yang membuat Ibu/Teteh merasa bahagia dan sedih?” dan secara bertahap menuju pada pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan, seperti pertanyaan tentang penyebab dari rasa bahagia dan sedih itu, serta harapan Ibu/Teteh untuk perjuangan konservasi lokal yang kini diteruskan oleh kawan-kawan petani dan buruh tani laki-laki. Selama wawancara berlangsung, mempertimbangkan tentang kevakuman interaksi sebelumnya, saya putuskan untuk tidak menggunakan alat rekaman karena ingin menciptakan suasana akrab dan terbuka. Wawancara saya lakukan dalam dua cara yaitu diskusi bersama-sama (tiga orang atau lebih) dan wawancara terbatas (antara saya dan satu orang narasumber saja). Cara kedua ini ditujukan untuk mengakomodir kemungkinan tentang adanya perbincangan tentang hal-hal yang masih dinilai sensitif tanpa menimbulkan rasa terancam bagi narasumber tersebut.

Ketiga adalah metode Pengamatan Partisipatoris. Tidak seperti observasi partisipatif yang dimaksudkan oleh Schwartz dan Jacobs (1979) dikutip oleh Saptari dan Holzner (1997)8, observasi saya dalam beberapa pertemuan KSM Nyungcung (baik internal maupun dengan pihak lain) lebih ditujukan untuk mengetahui sejauh mana para peserta pertemuan (yang sebagian besar merupakan laki-laki) mengatakan apa yang mereka maksud dan melakukan juga merupakan suara-suara dan aksi/tindakan/kontribusi dari perempuan (anggota KSM, istri, dan atau warga kampung yang mereka kenal dengan baik). Dari empat pertemuan yang saya hadiri, tidak satupun dari peserta yang secara lugas menyampaikan kembali ‘titipan’ suara dan harapan, persoalan, aksi menjawab persoalan itu, dan atau kontribusi perempuan. Pernyataan-pernyataan dan pendapat-pendapat yang dilontarkan selama pertemuan cenderung bersumber pada diri sendiri (laki-laki). Ketika saya berpartisipasi sebagai salah satu peserta yang dibolehkan untuk bertanya atau berpendapat, saya sampaikan kembali beberapa keinginan anggota KSM perempuan untuk dilibatkan kembali dalam rapat-rapat/pertemuan- pertemuan KSM, dan juga mempertanyakan tentang bagaimana suara, harapan,

dan persoalan perempuan dalam pokok bahasan rapat/pertemuan. Selanjutnya, dalam wawancara dengan dua anggota KSM laki-laki, secara terpisah, saya fokuskan pertanyaan yang berkaitan dengan pandangan keduanya tentang anggota perempuan yang aktif dalam segala kegiatan KSM.

Keempat adalah metode Studi Kasus. Berdasarkan definisi sosiologis tentang studi kasus dari Theordorson dan Theordorson (1969) yang dikutip oleh Reinharz (1992), yaitu:

Suatu metode penelitian fenomena sosial melalui analisis menyeluruh tentang satu kasus individual. Kasus tersebut mungkin berupa seorang pribadi, kelompok, satu episode, suatu proses, satu komunitas, satu masyarakat, atau unit kehidupan sosiallainnya. Semua data yang relevan untuk kasus itu dikumpulkan, dan semua data yang tersedia disusun berdasarkan kasus itu. Metode studi kasus memberi sifat kesatuan pada data yang diteliti dengan saling menghubungkan bermacam fakta ke kasus tunggal. Itu juga menyajikan kesempatan untuk analisis mendalam terhadap banyak rincian spesifik yang sering terlewatkan dengan metode lain. Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa kasus yang diteliti bersifat khas untuk kasus-kasus sejenis tertentu sehingga melalui analisis mendalam dapat dibuat generalisasi yang akan mungkin diterapkan pada kasus-kasus lain dari jenis yang sama.

Menurut Reinharz (ibid), melalui kutipan di atas tentang studi kasus, teori feminis akan termiskinkan tanpa studi kasus, karena terdapat tiga tujuan utama mengapa feminis memerlukan metode tersebut, yaitu: menganalisis perubahan dalam fenomena sepanjang waktu, menganalisis signifikasi suatu fenomena bagi peristiwa-peristiwa di masa depan, dan menganalisis hubungan antar bagian dari satu fenomena.

Dalam penelitian ini, pilihan metode studi kasus tentang gerakan konservasi lokal yang dilakukan oleh komunitas bukan adat, dimana penggiat perempuannya pada proses perkembangan gerakan itu tidak berpartisipasi lagi didasarkan pada pertimbangan saya untuk mencoba menganalisis bersama-sama dengan para subjek penelitian tentang inisiatif yang telah dilakukan mereka bagi peristiwa- peristiwa di masa depan yang diharapkan (dalam lingkup diri pribadi, rumahtangga, dan komunitas kampung - Desa Malasari, dan lain-lain), yaitu:

“Kami ingin kampung kami hijau kembali seperti dulu sebelum PERUM PERHUTANI masuk” (Pernyataan Ibu Um dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2004)

“Kami ingin memanen buah, mendapat kayu bakar dan mata air yang subur seperti dulu” (Pernyataan para ibu, anonim, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2004)

“Kami tidak ingin ada bencana longsor di kampung kami” (Pernyataan Ibu Ln, dari Kampung Nyungcung, Desa Malasari. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2004)