• Tidak ada hasil yang ditemukan

GERAKAN KONSERVASI LOKAL BERBASIS PEREMPUAN DI KAMPUNG NYUNGCUNG

2. Strategi Gerakan Konservasi Lokal berbasis Perempuan

Agenda reklaim dan agenda khusus perempuan tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk mempertahankan sumber-sumber dan wilayah hidup mereka selama ini serta mendapatkan pengakuan dan perlindungan dari pemerintah atas inisiatif konservasi lokal di sebagian bekas kawasan produksi PERUM PERHUTANI sehingga mereka sebagai salah satu komunitasi yang bermukim di ‘dalam’ kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak dapat merasa hidup secara aman (tanpa ada kekhawatiran tentang adanya realokasi). Menjalankan kedua agenda di atas, Kelompok Cepak Nangka dan Andam memilih strategi1 yang bersifat semi kooperatif.2 Dalam hal okupasi, kedua kelompok ini (demikian juga halnya dengan kelompok-kelompok petani laki-laki dan warga lain di Nyungcung) dapat dikatakan menentang/tidak kooperatif terhadap kebijakan perluasan taman nasional. Selain bertujuan memperjuangkan

keberlangsungan akses ke tanah untuk pemenuhan pangan sehari-hari, okupasi ini juga dilakukan dalam rangka mengubah kebijakan konservasi pemerintah yang selama ini hanya menekankan aspek pelestarian dan perlindungan.

Menurut Kelompok Cepak Nangka dan Andam, serta kelompok petani lain dan warga Malasari pada umumnya, narasi konservasi seharusnya berkaitan erat dengan aspek pemanfaatan yang berkelanjutan bagi kehidupan sehari-hari komunitas yang lebih dahulu bermukim di dalam kawasan yang kemudian ditetapkan sebagai kawasan taman nasional. Keberlanjutan aspek pemanfaatan inilah yang diperjuangkan melalui okupasi untuk kemudian melahirkan suatu model konservasi lokal yang diperjuangkan sebagai salah satu model konservasi yang diakui dan dilindungi di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun- Salak. Selanjutnya, dalam hal memobilisir beberapa sumberdaya dan menggalang dukungan terhadap okupasi mereka, kedua kelompok ini melakukan kerjasama dengan beberapa pihak luar.

Strategi seperti ini dapat dipelajari dalam konteks pengalaman-pengalaman beberapa gerakan petani dari beberapa negara Dunia Ketiga yang berhasil. Fauzi (2005) menyampaikan kembali temuan-temuan dari Petras (1997), Petras dan Veltmeyer (2000), serta Moyo dan Yeros (2005) tentang posisi strategi yang dipilih oleh gerakan-gerakan petani yang berhasil. Terlepas dari seberapa jauh semi kooperatif itu dijalankan, menurut mereka (ibid), strategi gerakan sebaiknya otonom dari partai politik dan negara, tetapi memiliki kombinasi hubungan yang khas dengan ragam kekuatan dari gerakan-gerakan sosial di sektor lain, masyarakat sipil, dan masyarakat politik. Dan taktik-taktik utamanya sangat beragam karena merespon banyak arena pertarungan, yaitu mulai aksi-aksi langsung, kampanye, litigasi, dan advokasi perubahan kebijakan nasional-global. Menurut Holloway (1999) yang dikutip oleh Muchtar (2006), strategi akan berjalan dengan baik jika merefleksikan kesesuaian antara masalah, konteks eksternal, serta kelebihan dan kekurangan kelompok/organisasi/gerakan tersebut.

Strategi untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan dalam agenda reklaim yang telah dilakukan oleh Kelompok Cepak Nangka dan Andam adalah: pertama, melalui okupasi tanah-tanah tandus bekas kebun pinus PERUM PERHUTANI. Okupasi ini dilakukan secara bersama-sama (kooperatif) dan bertahap. Cara

bersama-sama, secara internal, dilakukan dalam bentuk liliuran, atau gotong royong di dalam kelompok, antar kelompok petani perempuan, dan antara kelompok petani perempuan dan kelompok petani laki-laki. Cara ini merupakan salah satu langkah yang signifikan untuk mulai membangun solidaritas sesungguhnya antara perempuan dan laki-laki sebagai komunitas Nyungcung. Secara eksternal, okupasi juga dilakukan secara kooperatif dengan beberapa pihak luar (lihat sub-bab Menjadi Perintis Konservasi: Menggerakkan yang Lain, bab lima). Pada cara bertahap, dilakukan terasering untuk mengolah tanah-tanah tandus bekas kebun pinus mengingat kawasan tersebut berlereng (yang selama diusahakan oleh PERUM PERHUTANI, tanah-tanah yang terletak pada lokasi yang berlereng tidak diterasering) sehingga ketika terpaparkan pada musim hujan akan menimbulkan erosi permukaan yang cukup signifikan. Cara bertahap ini juga dilakukan karena disesuaikan dengan kemampuan kelompok menyediakan bibit yang siap tanam ke tanah-tanah tandus yang cukup luas tersebut.

Terkait dengan pengadaan bibit, seperti yang dipaparkan dalam sub-bab Menjadi Perintis Konservasi: Menggerakkan yang Lain, para petani perempuan tersebut melakukannya secara swadaya, yaitu melalui pengumpulan biji-biji dari buah yang mereka konsumsi. Pengadaan seperti ini juga diperkuat dengan salah satu aturan pada kelompok Andam. Selain itu, mengetahui luasan tanah-tanah tandus yang harus dihijaukan, semua kelompok petani menghimbau agar setiap KK di Nyungcung bersedia menyumbangkan lima bibit pohon, dan juga bekerjasama dengan beberapa pihak luar (perusahaan dan pemerintah)..

Kedua, menindak-lanjuti hasil pendataan tentang penguasaan tanah di Kampung Nyungcung, Kelompok Cepak Nangka dan Andam bekerjasama dengan kelompok petani laki-laki untuk melakukan pemetaan kampung dan lokasi-lokasi yang telah ditanami, dan untuk mendapatkan dukungan reklaim, baik dari internal maupun eksternal. Pada kerjasama pemetaan ini, terutama ketika mengembangkan informasi peta dasar menjadi beberapa peta tematik dan kemudian mengesahkan hasil-hasilnya, serta melakukan kegiatan penggalangan dukungan publik, tidak semua anggota kelompok Cepak Nangka dan Andam terlibat. Hanya beberapa orang saja, yaitu pengurus dan anggota yang telah terbiasa berbicara di forum-forum pertemuan.

Pada waktu itu, walaupun hanya beberapa orang yang berpartisipasi dalam menggalang dukungan warga lain di Nyungcung, para penggiat perempuan tersebut berhasil mendorong petani dan buruh tani perempuan lain untuk bergabung dalam gerakan. Hal ini telah dibuktikan dengan bertambah kembali satu kelompok petani perempuan baru, yaitu Kelompok Anggrek. Saat ini, keadaan penggiat perempuan tersebut tidak memungkinkan mereka untuk berpartisipasi secara politis karena masih kuatnya budaya patriarkhi yang masih mengkondisikan mereka berpartisipasi secara berbeda (differential participation), itupun jika diperlukan.

Mempelajari strategi semi kooperatif di atas, sesungguhnya dapat dikatakan masih menggambarkan posisi ketergantungan atau dominasi antara satu pihak terhadap pihak lainnya. Kemampuan kekuatan dari kelompok-kelompok petani perempuan itu belum dapat mendorong secara maksimal atas realisasi pelaksanaan dan dukungan terhadap agenda khusus serta partisipasi politis mereka sebagai perempuan. Pengejawantahan agenda melalui strategi tersebut berakhir pada kegagalan yang kemudian mematikan militansi perempuan untuk terus berjuang dalam gerakan konservasi lokal.

Diketahui dari penjelasan bab lima bahwa penghijauan adalah langkah awal kelompok petani untuk mengokupasi tanah-tanah tandus bekas kebun pinus PERUM PERHUTANI. Oleh karena itu, sangat mempengaruhi semua petani, baik perempuan maupun laki-laki, untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan selanjutnya yang telah disepakati di dalam kelompok. Selain untuk memulihkan ekosistem di kampung mereka yang mulai terdegradasi, bagi mereka penghijauan ini merupakan sumber pendapatan keluarga, kelompok, dan komunitas di masa depan.

Dari aspek pengalaman, penghijauan di tanah tandus bekas kebun pinus merupakan pengalaman pertama bagi semua petani di Nyungcung. Sebelumnya, dari para orang tua, mereka hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman membuka hutan (yang mana kualitas tanahnya masih subur) untuk dijadikan pemukiman, huma, sawah, dan kebun. Tanpa pengetahuan yang lengkap tentang kualitas tanah dan jenis pohon/tanaman lain yang dapat tumbuh setelah diusahakan selama ± 25 tahun dengan pohon pinus, Kelompok Cepak Nangka dan

Kelompok Rimba Lestari serta diikuti dengan kelompok-kelompok petani dan warga lainnya di Nyungcung secara bertahap dan bersama-sama melakukan penghijauan di tanah-tanah tersebut dengan beberapa jenis bibit pohon buah dan kayu.

Selanjutnya, penghijauan tersebut yang diikuti dengan kegiatan lainnya dinilai oleh para warga dan sebagian besar dari anggora kelompok petani perempuan sendiri sebagai suatu upaya yang gagal. Untuk penghijauan, sekitar 90% bibit pohon (buah dan kayu) yang ditanam di beberapa lokasi tanah tandus tersebut tidak mampu bertahan dengan kondisi tanah bekas pinus dan diperparah dengan musim kemarau. Merespon kegagalan penghijauan, sebagian penggiat perempuan melakukan penyulaman ulang dengan anakan-anakan dari jenis pohon pioner (kayu afrika) yang tumbuh liar di antara bibit-bibit pohon yang ditanam.

Kegagalan tersebut menutup mata mereka tentang adanya temuan pengetahuan baru. Sebagian besar dari para penggiat perempuan tersebut kini mengetahui tentang pentingnya perlakuan masa bera di tanah-tanah yang dinilai ‘panas’ (baca: tidak subur lagi) karena ditanami pinus. Selama proses menghijaukan dengan cara ‘eksplorasi’ (tanam - gagal – tanam), mereka juga mengetahui beberapa jenis tumbuhan-tanaman yang dapat beradaptasi dengan kondisi tanah seperti itu, diantaranya adalah kucai, kayu afrika, sengon, dan

manggu (manggis). Dan pada saat ini, setelah dua tahun lebih dari awal penghijauan yang dinilai gagal, disampaikan oleh Ibu El dan Km bahwa sebenarnya mereka mulai melihat hasil nyata, yaitu tersedianya sumber tambahan untuk kayu bakar dan makanan ternak dari kayu afrika yang tumbuh mendominasi di bekas hutan pinus tersebut.

‘Pengabaian’ pengetahuan baru tersebut berimplikasi pada ‘penutupan’ keberadaan beberapa hak dan objek hak mereka atas kekayaan alam dan lingkungan yang sebenarnya sedang diperjuangkan dalam gerakan konservasi lokal berbasis perempuan. Oleh karena itu, perasaan gagal tersebut dapat dikatakan mematikan militansi para perempuan yang tergabung dalam tiga kelompok petani untuk terus aktif berjuang mempertahankan hak dan objek hak yang ada serta mendapatkan kembali hak dan objek hak yang selama ini dialihkan ke pihak luar.

“Kami menjadi tidak bersemangat, karena sebagian besar bibit pohon yang kami tanam mati” (pernyataan Ibu Ww, An, dan Tt. Didokumentasikan pada bulan Agustus 2006)

Perasaan gagal dan ‘kematian’ militansi tersebut menunjukkan bahwa sampai saat ini fenomena inersia3 masih ditemukan dalam masyarakat miskin di Indonesia (lihat Kartodirdjo 1979 yang dikutip oleh Poerwanto 2000), atau menurut Valentine (1968) terdapat ciri patogen dari masyarakat miskin, sehingga sulit bagi mereka untuk kembali berjuang bersama dalam gerakan konservasi lokal. Selain faktor psiko-sosial seperti ini, merujuk pada temuan Fox (1990) dikutip oleh Fauzi (2005), konteks ekologis kampung yang terdegradasi di Nyungcung juga memberatkan mereka untuk kembali dalam gerakan tersebut. Dalam kemiskinan tersebut, mereka akhirnya memprioritaskan berjuang untuk keberlangsungan hidup sehari-hari hanya melalui kerja tani (termasuk kerja bagi hasil dan buruh tani).

3. Kepemimpinan Perempuan dalam Gerakan Konservasi Lokal berbasis