• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan Monografi Tahun 2005, dengan populasi penduduk yang disajikan dalam Tabel 1 -- yang diantara total populasi, terdapat 760 jiwa perempuan dan 735 jiwa laki-laki bermukim di Kampung Nyungcung -- harus mampu bertahan hidup dalam satu wilayah administrasi dengan beberapa pihak lain yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemampuan penduduk untuk bertahan hidup atau meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka sangat ditentukan dari penguasaan sumber penghidupan (berupa tanah) yang terkait erat dengan mata pencaharian dan tingkat pendidikan.

Tabel 1. Populasi Penduduk Desa Malasari Tahun 2005 Kelompok Umur (tahun) Jumlah Perempuan Jumlah Laki-laki Total 0 – 9 973 862 1,835 10 – 19 585 646 1,231 20 – 29 702 698 1,400 30 – 39 537 612 1,149 40 – 49 304 363 667 50 – 59 300 395 695 60 – 69 221 272 493 ≥ 70 65 66 131 Total 3,687 3,914 7,601

Sumber: Monografi Desa Malasari Tahun 2005, diolah kembali

Jika dilihat dari struktur penguasaan tanah antara rakyat Malasari dengan para pihak tersebut (Tabel 2) dan dikaitkan dengan tingkat pendidikan (Tabel 3) dan mata pencaharian (Tabel 4), maka tidaklah mengherankan jika muncul konflik-konflik tenurial yang bersifat laten dan atau mewujud atas tanah dan kekayaan alam lainnya antara masyarakat versus Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH), PERUM PERHUTANI Unit III, PT. Nirmala Agung, dan PT. Aneka Tambang.

Tabel 2. Tata Guna Lahan di Desa Malasari

Sebelum SK MenHut No. 175/Kpts-II/2003

No. Jenis Tata Guna Lahan Pihak yang Menguasai Luas

(ha) 1. Lahan garapan & milik

(termasuk pemukiman dan sarana umum)

Masyarakat ± 283

2. Kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun

(TNGH)

± 1,040

3. Hutan produksi RPH Cisangku, BKPH Leuwiliang,

PERUM PERHUTANI Unit III

± 1,500

4. Perkebunan teh PT. Nirmala Agung ± 971

5. Tambang emas PT. Aneka Tambang ± 962

Luas total wilayah administrasi Desa Malasari ± 4,756

Sumber: Hanavi, et al. (2004)

Dari aspek kehidupan penduduknya, perubahan fungsi dan status penguasaan kekayaan alam ini berakibat jauh berupa berubahnya struktur akses, pemanfaatan dan kontrol rakyat atas kekayaan alam tersebut, yang kemudian berdampak lanjut pada taraf kehidupan mereka. Sebagai contoh, potret pendidikan yang disajikan dalam Tabel 3 cukup memprihatinkan.

Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk Malasari

Tahun 2005

No. Tingkat Pendidikan Formal Jumlah Orang

1. Buta Huruf 130 2. Belum Bersekolah 1,006 3. Tidak Tamat SD 430 4. Tamat SD/Sederajat 4,403 5. Tamat SMP/Sederajat 420 6. Tamat SMU/Sederajat 66 7. Tamat D2 5

Sumber: Monografi Desa Malasari Tahun 2005

Digabungkan dengan ketersediaan guru tetap (yang berstatus PNS, lihat Tabel 4), memaksa satu orang guru harus mengajar banyak kelas, terkadang semua kelas (kelas 1 – kelas 6). Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi proses dan hasil dari pengajaran. Selain itu, ketersediaan bangunan sekolah (SD) yang saat ini berjumlah enam gedung dan jaraknya menjadi masalah, menyebabkan banyak anak-anak Malasari putus sekolah karena faktor biaya dan jarak. Untuk

melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya, SMP, sejauh ini hanya difasilitasi dengan SMP terbuka yang berada di Kampung Malasari dan Nyungcung yang juga memiliki keterbatasan dalam daya tampung, guru dan sarana pendukung lainnya. Selebihnya, jika ingin meneruskan ke SMP, anak-anak Desa Malasari harus menempuh jarak yang lebih jauh lagi, yaitu harus ke pusat kecamatan, sementara itu tidak semua warga memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk itu.

Disampaikan oleh Ibu Km bahwa keadaan putus sekolah atau hanya sampai tamat SD lebih banyak dialami oleh anak perempuan karena pandangan dari para orang tua bahwa pada akhirnya anak perempuan akan kembali ke dapur yang tentunya tidak memerlukan pendidikan tinggi. Dan biasanya, terutama di Kampung Nyungcung, untuk membantu orang tua, para anak perempuan tersebut memberanikan diri bekerja di kota sebagai pekerja rumah tangga.

Tabel 4. Jenis Matapencaharian Penduduk Malasari Tahun 2005

No. Jenis Matapencaharian* Jumlah Orang

1. Petani yang memiliki tanah 520

2. Petani penggarap di ex-lahan PERUM PERHUTANI dan atau di kawasan TNGHS

782

3. Buruh tani 3,448

4. Wirausahawan (pengusaha kecil, pengrajin, dan pedagang)

248 5. Buruh industri (termasuk mereka yang bekerja di

industri perkotaan)

800

6. Buruh bangunan 40

7. Buruh pertambangan 30

8. Buruh perkebunan teh 900

9. Pengemudi (termasuk tukang ojek) 10

10. Pegawai Negeri Sipil (guru) 3

Sumber: Monografi Desa Malasari Tahun 2005

Keterangan*: Umumnya, setiap rumahtangga atau warga di Malasari sangat jarang hanya memiliki satu jenis matapencaharian saja

Gambaran suram pendidikan di Malasari hanyalah satu potong kecil dari gambaran besar tentang pendidikan formal di Indonesia saat ini yang sedang diprivatisasikan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh suatu jaringan kerja ORNOP dan individu, E-net Justice, yang disampaikan kembali oleh Sasmita6 menunjukkan bahwa untuk Kabupaten Bogor pada tahun 2004, biaya penyelenggaraan pendidikan ke publik hanya sebesar 12.80% dari anggaran

pendidikan yang telah dialokasikan dalam APBD 2004 sebesar 27.03%. Sisanya (87.2%) ternyata dihabiskan untuk belanja pegawai. Realisasi dana pendidikan seperti ini sangat tidak mencukupi biaya pendidikan anak. Dana sebesar Rp 33,858,122 (12.80% dari 27.03% APBD 2004) dibagi dengan jumlah anak usia sekolah 7 – 15 tahun yang saat itu mencapai 834,079 anak, maka setiap anak hanya mendapat Rp 4,059 setiap tahunnya. Jumlah ini sangat kecil dan tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belajar anak. Menjadi wajar hal ini kemudian berdampak pada penurunan angka partisipasi sekolah.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan (padi), dari Tabel 2 kita dapat mengetahui bahwa sumber pangan penduduk di Malasari (berdasarkan Monografi Desa Tahun 2005: tercatat 1,766 KK) berasal dari tanah yang dapat ‛dikontrol’ seluas ± 283 ha (termasuk pemukiman) atau 6.24% dari total wilayah administrasi Desa Malasari. Dalam potret keterbatasan seperti itu, untuk Kampung Nyungcung yang pada tahun 2005 didiami oleh 307 KK, berdasarkan pemetaan partisipatif yang dilakukan oleh sebagian anggota KSM Nyungcung (perempuan dan laki-laki) pada tahun 2005, diketahui bahwa sumber pangan mereka berasal dari tanah “milik”7 yang luasnya 14.73% dari luas total Kampung Nyungcung, dan tanah-tanah garapan di ex-kawasan hutan produksi PERUM PERHUTANI (Tabel 5).

Tabel 5. Tata Guna Lahan di Kampung Nyungcung

No. Jenis Tata Guna Lahan Pihak yang Menguasai Luas (ha)

1. Lahan milik (termasuk beberapa pemukiman)

Masyarakat ± 55.16

2. Lahan Desa (semacam tanah

titisara)

Pemerintah Desa ± 6.71

3. Ex-kawasan hutan poduksi

PERUM PERHUTANI

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

± 312.61

Luas Total Kampung Nyungcung ± 374.48

Sumber: Peta Dasar Kampung yang dibuat oleh sebagian anggota (perempuan dan laki- laki) KSM Nyungcung

Jika luasan tersebut dibagi rata dengan jumlah KK yang ada, maka secara umum setiap KK dapat mengontrol tanah hanya seluas ± 0.16 ha, atau untuk Kampung Nyungcung ± 0.18 ha. Kenyataannya, tidak semua KK di Malasari, termasuk Kampung Nyungcung, memiliki lahan. Tercatat ± 50% dari mereka

merupakan buruh tani dan atau petani penggarap, untuk Kampung Nyungcung, silahkan lihat Tabel 6.

Tabel 6. Struktur Warga Kampung Nyungcung Berdasarkan Penguasaan

Lahan

No. Keterangan Rumahtangga yang

Dikepalai oleh Penjelasan Lain Perem- puan Laki- laki

1. Memiliki lahan (dalam

bentuk sawah dan atau kebun), tetapi tidak menggarap di kawasan produksi PERUM PERHUTANI: ƒ < 1,000 m2; ƒ 1,001 – 5,000 m2; ƒ 5,001 – 10,000 m2; ƒ > 10,000 m2. 9 1 - - 26 41 4 7

Nama yang tertulis dalam SPPT tersebut sebagian besar atas nama kepala keluarga laki-laki atau orang tua laki-laki.

2. Memiliki lahan dan

menggarap sebagian kawasan produksi PERUM PERHUTANI: ƒ < 1,000 m2; ƒ 1,001 – 5,000 m2; ƒ 5,001 – 10,000 m2; ƒ > 10,000 m2. 1 - 1 - 23 34 3 2 3. Menggarap sebagian

Kawasan Produksi PERUM PERHUTANI

7 108

4. Tidak memiliki dan tidak

menggarap tanah

5 34 Hidup sebagai

buruh tani

Total rumahtangga 24 281

Sumber: Data KSM Nyungcung yang dikumpulkan oleh 10 orang perempuan, anggota dari Kelompok Cepak Nangka dan Andam pada pertengahan 2005

Kehadiran pihak-pihak luar tersebut -- selain menimbulkan gangguan lingkungan dalam skala kecil (tidak menyeluruh) seperti kekeringan-tanah tandus (secara tidak langsung menyebabkan proses erosi genetika padi lokal), tanah longsor, ledakan hama tikus, dan serangan hama baru: babi hutan dan monyet -- di sebagian besar kampung-kampung di Desa Malasari, seperti Nyungcung, Pabangbon, Pabuaran, Malasari, Cisangku, telah memutuskan satu mata rantai

dari kegiatan pengelolaan kekayaan ekosistem hutan, berhuma. Kini semua upaya untuk memenuhi pangan beras berpusat pada kegiatan bersawah.

“Kalau mendekati musim panen pisang, saya dan suami harus bergantian menjaga kebun pisang kami dari hama monyet” (Pernyataan Ibu Sh dari Kampung Nyungcung, Didokumentasikan pada tanggal…, bulan…, 2003).

“Dulu, waktu saya masih kecil, saya sangat senang membantu orang tua bekerja di huma. Tetapi sejak PERUM PERHUTANI masuk ke kampung ini, kegiatan berhuma tidak lagi kami lakukan” (Pernyataan Nenek Um, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2004)

Berdasarkan hasil penelitian RMI pada tahun 2002, rata-rata hasil panen yang diperoleh di Kampung Malasari dari petakan sawah milik, tanah garapan di PERUM PERHUTANI, dan hasil ngepak, yaitu hasilnya sangat kecil, sebesar 30

pocong (setara dengan ± 150 kg gabah padi; 1 pocong ≈ 5 kg gabah padi). Sedangkan hasil yang diperoleh di Kampung Nyungcung rata-rata 10 kait (setara dengan ± 75 kg gabah padi; 1 kait ≈ 7.5 kg gabah padi). Hasil ini jika dikonsumsi oleh satu keluarga petani dengan perhitungan bahwa kebutuhan padi dalam satu hari rata-rata 1 liter untuk 4 orang (ayah, ibu, dan 2 anak), maka untuk 150 kg gabah padi cukup untuk tiga bulan, dan 75 kg gabah padi untuk pemenuhan 50 hari saja.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat memprihatikan. Dari tahun ke tahun mereka mengalami pemiskinan dalam segala bidang yang semakin akut, khususnya feminisasi kemiskinan, yang pemaparannya dapat dibaca pada bagian selanjutnya.

4. Kondisi dan Situasi Perempuan Malasari – Nyungcung