Dalam pengertian sempit, menurut Mosse (1993), partriarki menerangkan sistem sosial yang secara historis berasal dari hukum Yunani dan Romawi, dimana kepala rumahtangga, laki-laki, memiliki kekuasaan hukum dan ekonomi yang mutlak atas anggota keluarga, termasuk juga para budak, laki-laki dan perempuan yang menjadi tanggungannya. Kemudian, saat ini patriarki mulai digunakan di seluruh dunia untuk menggambarkan dominasi laki-laki atas perempuan dan anak-anak di dalam keluarga dan berlanjut pada semua lingkup kemasyarakatan lainnya.
Patriarki merasuk ke semua aspek masyarakat dan sistem sosial sehingga berpengaruh penting ketika kita membicarakan mengapa peran gender tradisional (yang timpang) sukar berubah. Penjelasan seperti ini dapat kita temukan juga
pada pemikiran Millett (1970) yang dikutip oleh Saptari dan Holzner (1997) dalam bukunya tentang Sexual Politics, bahwa hubungan dominasi laki-laki tidak hanya terjadi di arena kekerabatan saja, tetapi juga pada semua arena kehidupan seperti ekonomi, politik, keagamaan, dan seksualitas, yang kesemuanya ini mengakibatkan sebagian besar perempuan menginternalisasikan rasa inferioritas diri terhadap laki-laki.
Dalam pembagian kerja, budaya patriarki memilah dunia menjadi dua ‘wilayah’, yaitu wilayah domestik untuk perempuan, dan wilayah publik untuk laki-laki (lihat Eviota 1992; Mosse 1993; Ollenburger dan Moore 1996; Saptari dan Holzner 1997; Peterson dan Runyan 1999). Berdasarkan pemilahan ini, posisi struktural perempuan menjadi lebih buruk karena akses perempuan lebih terbatas terhadap sumberdaya ekonomi, sosial, politik dan tidak memiliki peluang banyak untuk memilih dan mengambil keputusan. Pandangan ini pada gilirannya mensubordinasikan perempuan. Saptari dan Holzner (1997) menjelaskan bahwa subordinasi pada perempuan ditemukan lebih lanjut dalam bentuk-bentuk antara lain: partisipasi semu, eksploitasi, marginalisasi, feminisasi dan pengibu- rumahtanggaan (housewifization).
Inti dari bentuk subordinasi perempuan, seperti partisipasi (semu) di atas, adalah kewajiban yang diterima begitu saja oleh perempuan sebagai kodrat. Di arena domestik, perempuan dikodratkan sebagai ibu rumahtangga (housewife) yang berperan sebagai istri dan ibu yang harus selalu siap melayani dan mengurus keluarganya. Hasil penelitian Putranti dalam Faturochman et al (2004) memperjelas definisi ibu rumahtangga ini, yaitu istri yang bertugas untuk mengasuh anak, mengatur ekonomi rumah tangga, mencari nafkah tambahan, dan menjadi pengikut agama yang taat dan saleh. Sementara, di arena publik, kodrat perempuan, terutama pada masa rezim Orde Baru, adalah pendukung dan penjaga nilai-nilai yang didoktrin oleh penguasa, sebagaimana tercermin dalam Panca Darma Wanita dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Internalisasi bahwa perempuan sebagai istri dan ibu rumahtangga semata telah menghasilkan kesadaran magis, dan pada tingkat tertentu dapat menjadi kesadaran naif atau kesadaran terbelah. Menurut Freire5 (1978) yang dikutip oleh Smith (1987) dan Misiyah (2006), kesadaran magis (magical consciousness)
menunjukkan tentang cara individu/masyarakat beradaptasi secara fatalistik dengan sistem yang ada. Dengan kata lain, kesadaran magis bercirikan adanya ketidakmampuan masyarakat untuk menemukan kaitan antara kemiskinan, ketidakadilan dengan struktur sosial-ekonomi-politik. Kesadaran ini bersifat fatalistik karena menempatkan faktor di luar manusia sebagai penyebab ketidakmampuan, ketidakadilan dan ketidakberdayaan diterima sebagai takdir dari Tuhan, sehingga tidak perlu mengupayakan perjuangan/perlawanan untuk mengubah kondisi-kondisi tersebut. Perubahan itu hanya bisa terjadi jika Tuhan berkehendak untuk mengubahnya. Kemudian, pada tingkat tertentu, kesadaran magis ini dapat berubah menjadi kesadaran naif (naival consciousness) ketika individu/masyarakat berusaha mereformasi individu-individu yang tidak adil dengan asumsi bahwa sistem yang mewadahinya dapat bekerja secara tepat. Sebagai contoh, kemiskinan dapat diatasi hanya dengan memacu kecerdasan dan kemajuan seseorang agar mampu memenangkan persaingan. Tatanan masyarakat adalah pasar bebas, siapa yang memiliki kemampuan lebih maka dialah yang akan mendapatkan kesejahteraan. Sikap dan perilaku dari kesadaran seperti ini menurut Freire merupakan sikap dan perilaku yang terlalu menyederhanakan dan meromantisasikan realitas yang sebenarnya banyak terjadi penindasan.
Secara khusus pada perempuan, Smith (1979 dan 1987) dikutip oleh Ritzer dan Goodman (2003) menekankan pentingnya kita, para perempuan, mengetahui suatu kondisi pertempuran dalam diri, yang disebut sebagai kesadaran yang terbelah. Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya ketika perempuan berada dalam proses pengambilan keputusan tentang sesuatu untuk dirinya, kondisi ini diperumit oleh suatu ‘kesadaran’ untuk menghubungkan keputusan tersebut dalam kehidupan banyak orang, banyak subkultur, baik subkultur pihak yang kuat maupun berbagai subkultur pihak yang lemah.
Pada kondisi tersebut, terdapat beberapa kemungkinan yang bisa terjadi pada diri perempuan, yaitu:
• Memilih hidup menjauhi tindakan yang mencerminkan pembenaran; memilih memperkokoh kepribadian diri untuk dapat memahami pengalaman diri sendiri;
• Memilih berupaya hidup berkomunitas dengan orang lain yang sama-sama mengalami realitas kehidupan yang terbelah ini; atau
• Menyangkal validitas pengalamannya.
Mentransformasikan kesadaran naif atau kesadaran terbelah perempuan menjadi kesadaran kritis bukanlah upaya mudah. Menurut Ritzer dan Goodman (ibid), sebagian besar perempuan hidup dalam situasi dimana terjadi pertemuan antara faktor internal (seperti nilai-nilai dan aturan-aturan dalam komunitas dihubungkan dengan klas, ras, suku bangsa, umur, dan atau agama), faktor eksternal (keberadaan pihak luar), dan faktor budaya lokal. Sayangnya ketiga faktor ini sebagian besar bersifat menindas dengan derajat intensitas yang berbeda-beda. Keterwujudan patriarki melalui faktor-faktor tersebut menyebabkan perempuan sulit untuk melepaskan dirinya dari penindasan. Lebih lanjut lagi, Alison Jaggar dalam Pearsall (1986) yang dikutip oleh Tong (1998), dan Arivia (2003), melihat kesulitan perempuan untuk keluar dari ketertindasan ini karena alienasi yang saling mengunci (interlocking). Jaggar menjelaskan alienasi ini dapat ditelusuri dari bagaimana perempuan disosialisasikan untuk memaknai seksualitas, pengibuan (motherhood), dan intelektualitasnya.
Menguatkan pendapat Jaggar tersebut, Forman (1997), dikutip oleh Arivia (ibid), mengatakan bahwa secara psikologis, dibandingkan dengan laki-laki, alienasi yang terjadi pada perempuan lebih mengkhawatirkan karena pengalaman hidup perempuan lebih dirasakan sebagai kelengkapan bagi orang lain. Dalam konteks psikologis seperti ini, Giligan (1993), dikutip oleh Arivia (ibid), menjelaskannya dari aspek perkembangan mental perempuan, terutama tentang konsep diri dan moralitas, yang paling tidak terdapat tiga tahap. Pada tahap pertama, Giligan menyebutkan bahwa keputusan moral perempuan berada pada fokus diri yang orientasinya cenderung untuk mempertahankan diri (survival). Pada tahap kedua, keputusan moral yang dibuat oleh perempuan difokuskan pada kebaikan sebagai pengorbanan. Pada tahap ketiga, perempuan masuk pada moralitas yang tanpa kekerasan. Menurut Giligan, pada tahap ini terjadi perkembangan yang menarik, yaitu ketika perempuan memiliki anak, dia memiliki tingkat kepedulian yang semakin terasah. Kepedulian kemudian menjadi semacam kewajiban universal bagi perempuan.
Dari uraian di atas sangat jelas patriarkhi dapat dimaknai sebagai sebagai suatu ideologi, yang menurut Millet (1970) dikutip oleh Arivia (2003), sangat kuat dan sulit untuk dilawan, apalagi dibongkar. Hal ini menurut Komter (1991) yang dikutip oleh Hidayat (2004) yang menggunakan pandangan Gramsci, dikarenakan adanya hegemoni ideologi, yang penjelasannya sebagai berikut:
• Ideologi selalu berlaku karena menjadi bagian dari pemikiran sehari-hari;
• Ideologi selalu mengorganisasikan melalui promosi kohesi sosial dimana kontradiksi dipresentasikan sebagai kesatuan, paksaan ditampilkan sebagai kebebasan;
• Ideologi kepentingan tertentu dalam kelompok dominan dijalankan sebagai kepentingan pada umumnya sehingga dapat diterima secara baik oleh kelompok subordinat.
Kesadaran magis, kesadaran naif atau kesadaran terbelah perempuan inilah yang mempermudah proses pewarisan dan penerimaan ideologi patriarkhi dalam masyarakat. Dalam proses pewarisan dan penerimaan ini, pola-pola yang tidak pantas dan hasrat-hasrat yang membahayakan kehormatan kultur ditekan, yang kemudian menjadi bagian dari isi ketidaksadaran. Melalui cara ini, ketidaksadaran dimengerti sebagai resiprositas dari semua hal yang dijauhkan oleh budaya, untuk dilarang atau disensor.
Kesadaran magis, kesadaran naif atau kesadaran terbelah perempuan menurut kaum feminis sangat mempengaruhi tingkat partisipasi perempuan. Longwe yang dikutip oleh Handayani dan Sugiarti (2002) memaknai partisipasi sebagai suatu kondisi di mana terdapat kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam proses pembuatan keputusan, termasuk proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi berbagai kegiatan di rana domestik dan publik yang mereka geluti sehari-hari serta program yang ditawarkan oleh pihak luar (termasuk pemerintah). Selain ini, Arnstein yang dikutip oleh Gaventa et al
(2001) secara khusus merinci kembali tingkatan partisipasi untuk melihat sejauh mana pihak-pihak yang terlibat termasuk kelompok perempuan dalam memahami konsep partisipasi dalam kegiatannya. Rincian partisipasi ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Penjelasan tentang tangga partisipasi tersebut -- dari yang terendah sampai tertinggi -- sebagai berikut:
• Manipulasi, pemerintah, pihak lain atau pemimpin kelompok memberikan informasi, dalam banyak hal berupa informasi dan kepercayaan yang keliru (false assumsion), kepada warga atau anggota kelompok. Dalam beberapa hal pemerintah melakukan mobilisasi warga yang mendukung/dibuat mendukung keputusannya untuk menunjukkan bahwa kebijakannya populer (memperoleh dukungan).
• Penentraman, pemerintah, pihak lain atau pemimpin kelompok memberikan informasi dengan tujuan agar warga atau anggota kelompok tidak memberikan perlawanan atas keputusan yang telah ditetapkan. Pemberian informasi seringkali didukung oleh pengerahan kekuatan (baik hukum maupun psikologis).
Gambar 1. Tangga Partisipasi Arnstein
Tidak ada partisipasi Kekuasaan rakyat Tokenisme (upaya superfisial, simbolik)
Pengawasan oleh rakyat
Menginformasikan Pendelegasian kekuasaan
Kemitraan yang setara
Konsultasi
Penentraman
Manipulasi
Partisipasi yang sesungguhnya
• Sosialisasi, pemerintah, pihak lain atau pemimpin kelompok memberikan informasi mengenai keputusan yang telah dibuat dan mengajak warga atau anggota kelompok untuk melaksanakan keputusan tersebut.
• Konsultasi, pemerintah, pihak lain atau pemimpin kelompok meminta saran dan kritik dari masyarakat atau anggota kelompok sebelum suatu keputusan ditetapkan.
• Kemitraan, masyarakat atau anggota kelompok dilibatkan untuk merancang dan mengambil keputusan bersama dengan pemerintah.
• Pendelegasian kekuasaan, pemerintah, pihak lain atau pemimpin kelompok mendelegasikan keputusan untuk ditetapkan oleh warga atau anggota kelompok.
• Pengawasan oleh rakyat, warga atau anggota kelompok memiliki kekuasaan mengawasi secara langsung keputusan yang telah diambil dan menolak pelaksanaan keputusan yang bertentangan dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Menggunakan kedua konsep partisipasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa partisipasi politis kaum perempuan umumnya menghadapi banyak kendala. Kebenaran pendapat ini dapat dilihat pada Mosse (1993), Kaufman dalam Kaufman dan Alfonso (1997), dan Perelli dalam Jaquette (1989). Sebuah studi di Kosta Rika yang disampaikan kembali oleh Mosse (1993) memperlihatkan tiga kendala utama bagi perempuan untuk berpartisipasi secara politis, yaitu pola kultural seksis, perspektif negatif perempuan terhadap dirinya sendiri, dan pekerjaan rumah tangga. Pola kultural seksis di Kosta Rika dikenal sebagai
machismo, yang merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang melampaui seluruh struktur masyarakat. Paham ini mempengaruhi kehidupan seksual, prokreatif, kerja dan kehidupan emosional perempuan serta menentukan hubungan mereka dengan suami, keluarga, dan orang lain. Hidup dalam paham seperti ini menyebabkan sebagian besar perempuan di Kosta Rika memiliki perspektif negatif terhadap dirinya sendiri. Kecemasan perempuan untuk memenuhi perannya sebagai ibu dan pengasuh, serta kepeduliannya terhadap kesejahteraan anak-anaknya, menembus setiap aspek kehidupannya. Dalam konteks krisis ekonomi, ketika perempuan harus menghasilkan pendapatan untuk
menghidupi keluarga, mereka mungkin memperpanjang jam kerjanya sampai 17 jam, atau lebih. Oleh karena itu, waktu yang sedikit tersisa tidak dapat dipakai untuk melakukan hal lain, seperti terlibat dalam gerakan perlawanan, selain tidur. Kesimpulan terpenting dari studi ini adalah memahami partisipasi perempuan dalam organisasi atau kegiatan publik akan mungkin jika kendala terhadap partisipasi itu diakui dan diatasi bersama.
Hasil studi di atas dapat dipelajari lebih lanjut dengan menggunakan pemikiran Kaufman dalam Kaufman dan Alfonso (1997). Menurut Kaufman, sifat dan bentuk partisipasi ditentukan oleh institusi, proses, dan faktor budaya serta ideologi, yang disebutnya sebagai ‘partisipasi yang berbeda’ (differential participation). ‘Partisipasi yang berbeda’ ini dihasilkan dari dua aspek penting, yaitu struktur ketidaksetaraan dan hegemoni kekuasaan dalam masyarakat yang patriarkhis. Kesemuanya ini menyebabkan perempuan dan laki-laki memiliki kekuasaan dan keistimewaan yang berbeda untuk berpartisipasi. Penelitian di Republik Dominika menunjukkan bahwa penilaian sosial tentang kemampuan laki-laki sebagai pemimpin lebih besar dibandingkan perempuan mempengaruhi (baca: mengurangi) partisipasi laki-laki dalam kegiatan atau organisasi dimana perempuan berperan penting. Dalam kegiatan dan atau organisasi yang fokus pada aspek kesehatan, pangan, pelayanan masyarakat, dan pendidikan, partisipasi laki-laki sangat kecil, karena dinilai tidak bergengsi dan sebagai tanggung jawab perempuan yang dimandatkan oleh laki-laki.
Penelitian di Uruguay oleh Perelli dalam Jaquette (1989) menunjukkan juga kebenaran tentang pendapat di atas (‘partisipasi yang berbeda’). Meskipun hidup dalam otoriterianisme birokratis, Perelli menilai bahwa partisipasi dan perlawanan perempuan dalam gerakan sosial di sana secara fundamental masih bersifat konservatif, terikat pada sebuah citra ideal masa lampau, tidak radikal, dan kurang feminis, yaitu menggunakan peran paling tradisional dan melakukannya dengan cara paling tradisional juga, yaitu sebagai ibu rumahtangga yang teladan dan istri yang setia.
Kesadaran magis, kesadaran naif atau kesadaran terbelah perempuan juga mempengaruhi tingkat ketahanan perempuan untuk berkomitmen dalam membangun gerakan, karena kesadaran tersebut selalu berada dalam dua proses
yang saling berkaitan erat, yaitu dinamika internal dan eksternal gerakan sosial (lihat Sztompka 1993). Pada sisi dinamika internal gerakan, Fox (1990) dikutip oleh Fauzi (2005) mengidentifikasi beberapa faktor internal dapat menghentikan perempuan dalam gerakan, yaitu kesulitan mengadakan pertemuan massa, komunitas-komunitas yang relatif tersebar, keragaman kegiatan ekonomi, konteks ekologis dan kepentingan keberlanjutan kehidupan sehari-hari, dan semua hal lain yang memberatkan atau beresiko yang harus mereka tanggung jika mereka memutuskan untuk terus berpartisipasi dalam gerakan. Hasil penelitian di Kosta Rika yang disampaikan oleh Mosse (1993) merupakan salah satu contoh yang sangat baik untuk menjelaskan bagaimana faktor internal mempengaruhi partisipasi perempuan dan keberlangsungannya dalam gerakan sosial.
Sementara itu, pada sisi eksternal, beberapa faktor eksternal gerakan di wilayah pedesaan yang dapat menghambat, diantaranya adalah kekuatan yang digunakan pemerintah maupun pelaku bisnis untuk intervensi dalam gerakan rakyat lebih sering, dan didukung juga dengan keterbatasan jangkauan media massa dan lembaga-lembaga demokrasi formal terhadap kegiatan-kegiatan politik pedesaan (ibid). Pada konteks ini, penelitian Chuchryk di Cile (dalam Jaquette 1989) menjelaskan bahwa dalam merespon perlawanan rakyat, penguasa (baca: pemerintah) tidak tinggal diam. Banyak cara dilakukannya, yaitu mengkooptasi perlawanan kaum perempuan melalui pengorganisasian kelompok/organisasi ibu- ibu rukun warga, membangun perumahan bagi rakyat yang berpenghasilan kecil, dan memberikan perawatan bersalin dan kesehatan bagi anak. Ketika perlawanan perempuan telah masuk dalam ‘wilayah’ yang telah dirancang kooptasinya secara politis oleh penguasa/pihak lawan, maka upaya-upaya perlawanan perempuan tidak menandakan suatu peningkatan sikap dan komitmen untuk terus berjuang.
Untuk Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Muchtar (1999) menunjukkan hal yang lebih dari upaya kooptasi oleh penguasa. Dalam rangka melanggengkan kekuasaannya, pemerintah Orde Baru menerapkan politik gender (yang didasarkan pada kombinasi antara ideologi ibuisme, kampanye anti GERWANI, dan dominasi militer) untuk mengatur sebagian besar perempuan Indonesia sebagai suatu kelompok homogen yang a-politis dan mendukung semua kebijakan pemerintah pada waktu itu. Salah satu upaya untuk memperkuat politik
gender seperti itu, dapat dilihat dari ‛revitalisasi’ dan pengelompokkan organisasi- organisasi perempuan yang berafiliasi dengan departemen pemerintah pada tahun 1974. Pengelompokkan pertama, para istri pegawai negeri dimediasi dalam organisasi Dharma Wanita. Pada pengelompokkan kedua, para istri dari aparat yang bekerja di militer dan kepolisian dimediasi dalam organisasi Dharma Pertiwi. Pengelompokkan terakhir, untuk para perempuan yang tidak termasuk kedalam kelompok pertama dan kedua di atas, terutama di pedesaan, dimediasi dalam organisasi PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Hal ini dilakukan agar para istri dapat mendukung perjuangan dan mensukseskan suami mereka, yang berperan sebagai aparatus negara dan abdi masyarakat dalam mengemban tugasnya untuk menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan. Oleh karena itu, sebagai contoh, Dharma Wanita dan Dharma Pertiwi akan dibimbing dan difasilitasi oleh institusi masing-masing. Jika dilihat dari perspektif gerakan, Dharma Wanita dan Dharma Pertiwi dinilai sebagai tanda kemunduran gerakan perempuan karena pertama, berkurangnya kemandirian perempuan dengan cara mendapatkan bimbingan dari atasan (yang umumnya laki- laki) sehingga tidak dimungkinkan sebagai salah satu forum yang membicarakan kepentingan-kepentingan khusus perempuan. Kedua, dinilai dari pengaturan keanggotaan pengurusnya, harus disesuaikan dengan jabatan suami. Dalam PKK, para perempuan ‘dididik’ untuk menjalankan Panca Dharma Wanita seperti menjadi pendamping setia suami, berguna bagi bangsa, pendidik anak, pengelola rumah tangga, dan anggota masyarakat yang berguna.
3. Intervensi Gerakan Lingkungan dan Tumbuhnya Gerakan Konservasi