• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Disfemia Berupa Kata 1 Kata V erba

Dalam dokumen Prosiding Hasil Penelitian Bahasa dan Sa (1) (Halaman 100-103)

DISPHEM IA IN METAPHORE ON NEW S TITLE OF PONTIANAK POST

3. Hasil Dan Pembahasan 1 Hasil Penelitian

3.2.1 Bentuk Disfemia Berupa Kata 1 Kata V erba

1. Verba dasar adalah verba yang berupa morfem dasar bebas(Kridalaksana, 2007: 51).

(1) Genjot Homestay, A kses Pulau Seribu Semakin Terbuka (PP, 3/ 1/ 2017).

Kata genjot pada data (1) memiliki bentuk pengasaran pada judul berita. Makna kata genjot dalam konteks tersebut yaitu men- doro ng pengembang (developer) untuk memp erbanyak p embangunan rumah singgah agar akses Pulau Seribu semakin terbuka dan banyak dikunjungi wisata- wan. Sementara itu, arti yang sebenarnya kata genjot menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2014: 441) yaitu v kayuh. Jika sesuai konteks dengan pengertian kayuh tidak akan tepat. Secara metafora kata genjot ini diibaratkan mengayuh yang diidentikkan d engan mendorong atau mendukung pengembang berdasarkan makna konteks tersebut.

(2) Dikna Sambar Empat Gelar Miss Tourism Internasional 2016 di Putrajaya (PP, 1/ 1/ 2017).

Kata sambar pada kalimat (2) memiliki makna kasar dalam konteks judul berita. Pengertian sambar menurut KBBI ialah tangkap (2014: 1213). Sementara itu, kata sambar biasanya identik dengan pemaham- an sebuah tindakan yang tidak layak atau negatif. Penggunaan kata sambar pada judul berita tersebut untuk menarik pem- baca agar membaca berita tersebut. Kata sambar menggantikan kata meraih yang memiliki rasa lebih halus. Secara metafora kata sambar berarti menyabet yang diiden- tikkan dengan bentuk konkret ke abstrak. Kata sambar justru sering dipakai untuk p erilaku binatang d alam menyambar mangsanya.

(3) Freeport Yakini Novanto Catut Jokowi (PP, 2/ 1/ 2017).

Kata catut pada data (3) merupakan pe- makaian disfemia berupa kata kerja dasar. Maksud dari judul berita tersebut adalah mendompleng nama Presiden Jokowi. Kata catut bermakna negatif karena suatu tin- dakan yang menggunakan nama presiden

guna memuluskan suatu proyek. Hal ini berarti mengatasnamakan Presiden Jokowi dan disetujui oleh presiden. Pengertian catut menurut KBBI (2014: 248) ialah angkup atau penjepit. Untuk konteks metafora dalam judul berita tersebut catut merupa- kan alat yang menyakitkan, tetapi hal ini digunakan untuk meminjam nama seorang presiden dalam kepengurusan dengan Freeport.

2. Verba Turunan, yaitu verba yang meng- alami afiksasi, reduplikasi, gabungan p ro ses atau berup a p ad uan leksem (Kridalaksana, 2007: 51).

Dalam judul berita Pontianak Post ditemu- kan adanya verba berafiks. Perhatikan contoh sebagai berikut.

(4) ‘Menampar’ Jokowi Ala PTPN XIII (PP, 3/ 2/ 2017).

Kata menampar merupakan verba turunan yaitu verba yang memperoleh imbuhan (afiksasi). Menampar terbentuk dari kata dasar tampar dan mendapat afiks yakni pre- fiks meN- dan prefiks tersebut sebagai pem- bentuk kata verba. Kata menampar merupa- kan verba aktif karena verba yang subjek- nya berperan sebagai pelaku atau penang- gap. Makna dari kata menampar ialah suatu perbuatan atau tindakan menyakiti badan orang lain yang berakibat negatif. Dalam judul berita kata menampar mengacu pada keadaan yang dialami oleh pemerintahan Jokowi. Kata menampar dalam KBBI (2014: 1389) berarti memukul dengan telapak tangan; menepuk. Secara metafora dalam kontek merupakan metafora antropomorfis yaitu eksp resi yang mengacu kep ad a benda-benda tak bernyawa dibandingkan dengan cara pengalihan (transfer) dari tubuh dan anggota badan manusia, dari indera dan perasaan manusia. (Ullmann, 2014: 267).

(5) Dua Kader Terancam Diberhentikan (PP, 11/ 2/ 2017).

Terancam merupakan kata yang menyata- kan perbuatan atau tindakan dan subjek- nya berperan sebagai pelaku atau penang- gap, kata terancam mendapat afiks yakni prefiks ter- menjadi penanda sebuah kata kerja. Menyatakan makna kausatif yakni menyebabkan terjadinya sesuatu keadaaan berupa ancaman. Dalam KBBI (2014: 60) kata terancam berarti berarti diancam oleh, dalam keadaan bahaya. Secara metafora konteks kata terancam merupakan bentuk metafora yang membahayakan anggota tubuh untuk tersakiti. Hal ini menyangkut dengan karier seseorang karena diberhenti- kan dari profesinya.

(6) Menyadap Karet Nyaris Digagahi (PP, 10/ 2/ 2017).

Kata digagahi mendapat afiks yakni konfiks di-i menjadi penanda sebuah kata. Kata digagahi merupakan verba pasif karena verba yang subjeknya berperan sebagai objek, dalam hal ini si penyadap karet yang menjadi korban. D igagahi merup akan bentuk disfemia, kata tersebut memiliki makna dipaksa untuk berhubungan suami istri. Dalam KBBI kata digagahi tidak ter- cantum, tetapi yang tercantum kata meng- gagahi yang memiliki arti menguasai dengan kekerasan; memaksa; memerkosa. (2014: 404). Secara metafora kata digagahi ialah hal yang berkaitan dengan sebuah aksi agar terlihat laki-laki sehingga me- lakukan perbuatan yang tidak senonoh yang melukai lawan jenisnya.

3.2.1.2 Kata Adjektiva

Menurut Ro hmad i d kk. (2012: 187) batasan kata ad jektiva ad alah kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda atau sesuatu yang dibendakan.

(7) Tanpa Ampun untuk Pemain Bengal (PP, 18/ 2/ 2017).

Adjektiva bengal menyebutkan suatu sifat seseorang atau adjektiva sikap batin ber- talian dengan pengacuan suasana hati atau

perasaan karena kata bengal menunjukkan suasana hati sehingga menimbulkan atau mencerminkan sebuah sifat dari subyek. Dalam KBBI (2014: 170) arti bengal ialah tidak mau mengindahkan nasihat dan se- bagainya; keras kepala; nakal; suka meng- ganggu. Kalimat pada judul Pontianak Post mengacu pada para pemain sepak bola yang akan diseleksi jika tidak mengindah- kan aturan tidak akan diberi ampun untuk bergabung dengan tim sepak bola profe- sional. Meatafora dalam konteks kalimat tersebut ialah sifat yang dimiliki seorang pemain yang sangat tidak baik. Hal itu berarti berkaitan dengan perilaku manusia. (8) Menyikapi Obrolan Cabul di Kantor (PP,

13/ 2/ 2017).

Bentuk pemakaian disfemia kata cabul me- rupakan bentuk adjektiva dasar yang ber- fungsi sebagai predikat. Hal tersebut karena kata cabul menunjukkan sifat atau perbuat- an yang tidak senonoh. Dalam konteks kalimat di atas berperan sebagai predikat yang menandai subjek. Kata cabul dalam KBBI (2014: 232) arti keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusila- an). Pada kata obrolan cabul ini konteks tersebut secara metafora merupakan obrol- an yang tidak sepantasnya diungkapkan, karena konteks dalam pembicaraan di- lakukan di tempat kerja.

(9) Media Cetak Lepas Jerat Hoax (PP, 4/ 2/ 2017).

Kata hoax sebagai kata adjektiva memiliki arti bahwa berita tersebut belum tentu ke- benarannya atau berita yang tidak valid. Bentuk disfemia berupa kata adjektiva yakni hoax menimbulkan makna yang me- nguatkan pada sebuah judul berita. Hoax padanan dalam bahasa Indonesia yakni bohong. Dalam KBBI (2014: 203) artinya tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta; bukan yang sebenarnya; palsu. Metafora dalam konteks ini menunjukkan dari abstrak ke

konkret jika dilihat dari kata hoax secara kata merup akan bentuk kebo ho ngan dalam sebuah berita.

3.2.1.3 Kata Nomina

Menurut Rohmadi dkk. (2012: 173) batas- an kata no mina adalah nama bend a atau segala sesuatu yang dibendakan.

(10)Gabriel Jesus Jadi Tumbal (PP, 15/ 2/ 2017). Kata tumbal merupakan nomina. Kata tersebut mengacu kepada suatu benda yang tergolong kepada bend a yang abstrak karena jenis benda ini tidak dapat dilihat ataupun disentuh. “ Gabriel Jesus sebagai pemain yang selalu mencetak gol, namun saat pertandingan mengalami cedera yang sangat fatal. Sehingga kemenangan tim City ada salah satu pemain yang menjadi tumbal.” Dalam KBBI (2014: 1498) kata tumbal berarti sesuatu yang dipakai untuk menolak (penyakit dan sebagainya); tolak bala; kurban (persembahan dan sebagai- nya) untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Secara metafora kata tumbal merujuk pada sesuatu yang dikorbankan untuk dapat memperoleh kemenangan.

(11)Penguras Isi Masjid Dibekuk Polisi (PP, 6/ 2/ 2017).

Kata penguras merupakan bentuk disfemia yang berupa nomina dasar yang nyata karena penguras merupakan kata benda yang dapat dilihat. Kata penguras disebut sebagai bentuk disfemia karena memiliki konotasi kasar atau tidak sopan yang biasa dipakai untuk menyatakan tingkah laku seseorang. Kata penguras untuk mengganti- kan kata pencuri. Arti dari penguras ialah pelaku kejahatan yang menguras isi masjid. Konteks metafora pada kata penguras me- rupakan orang yang dengan segala tenaga habis-habisan untuk mengambil dengan cara paksa.

(12)Siapkan Neraka di San Paolo (PP, 17/ 2/ 2017).

Kata neraka merupakan bentuk disfemia dalam judul berita Pontianak Post. Neraka salah bentuk nomina dasar yang abstrak karena jenis benda ini tidak dapat dilihat ataupun disentuh. Dalam KBBI (2014: 960) kata neraka berarti alam akhirat tempat orang kafir dan orang durhaka mengalami siksaan dan kesengsaraan. Pada judul di- maknai bahwa pertandingan sepak bola akan seru sehingga harus menyiapkan diri bagai neraka. Neraka merupakan metafora dari konkret ke abstrak atau sebaliknya yaitu menjabarkan pengalaman-pengalam- an abstrak ke dalam hal yang konkret. Kata neraka itu sendiri merujuk pada pertan- dingan yang sangat ganas dan menyakit- kan.

Dalam dokumen Prosiding Hasil Penelitian Bahasa dan Sa (1) (Halaman 100-103)