• Tidak ada hasil yang ditemukan

Input pertanian, transportasi dan bahan bakar

Dalam dokumen status dunia trkini Sumber Daya Genetik (Halaman 117-120)

Manfaat dan Nilai Sumberdaya Genetik Ternak

GAMBAR 35 Ekspor neto – telur

6 Input pertanian, transportasi dan bahan bakar

Tenaga kerja yang diberikan oleh ternak berkontribusi besar pada produksi tanaman pangan di negara berkembang. Tenaga ternak secara tradisional khususnya berperan penting di Asia (Tabel 29), akan tetapi tidak begitu penting di sub-Sahara Afrika dimana pemakaiannya dibatasi oleh tanah yang berat tenaga adanya lalat tsetse. Namun, tenaga ternak sangat penting besar di sebagian Afrika. Di Gambia, contohnya, 73,4% lahan pertanian yang ditanami

menggunakan tenaga ternak (laporan Gambia, 2003). Di Amerika Latin dan Karibia, serta Timur Tengah dan sekitarnya, tenaga kerja ternak juga vital bagi kehidupan banyak petani skala kecil.

Di beberapa bagian dunia, penggunaan tenaga ternak menurun akibat berkembangnya mekanisasi. Kecenderungannya paling nyata di Asia (Tabel 29). Laporan dari Malaysia (2003), contohnya, menyatakan bahwa sangat tinggi mekanisasi pertaniannya sekarang dan tenaga kerja ternak sangat kecil artinya. Namun demikian trennya tidak berlaku umum. Banyak faktor berpengaruh untuk lebih menyukai ternak sebagai sumber tenaga. Dimana petani mendapatkan harga bahan bakar mahal, pemakaian ternak sebagai tenaga kerja masih tetap populer dan bahkan mungkin meningkat. Tabel 29 menunjukkan bahwa peran tenaga ternak meningkat di sub-Saharan Afrika.

Tenaga ternak digunakan untuk banyak tujuan pada pertanian. Laporan dari Ethiopia (2004), contohnya, mencatat bahwa penggunaan tenaga sapi, kuda atau keledai adalah untuk penyiangan, membajak, perontokan biji, dan meratakan lahan sebelum dan sesudah menabur benih. Rumah tangga yang memiliki ternak kerja, seringkali menyewakan ternaknya menjadi sumber pendapatan. Berlawanan dengan keluarga yang kekurangan tenaga kerja ternak (atau tenaga mekanisasi) cenderung untuk menjadi kurang beruntung bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan yang efisien.

Selain bekerja di lahan pertanian, seringkali ternak digunakan untuk tujuan transportasi – yaitu menarik kereta atau gerobak atau melayani sebagai ternak penarik beban. Beberapa laporan negara mencatat bahwa kendaraan yang memakai motor telah menggantikan ternak sebagai alat transportasi manusia dan barang. Namun demikian, di bagian dunia dimana infrastruktur pedesaan masih jelek dan daerahnya keras, peran ternak untuk transpor akan terus penting. Ethiopia, contohnya, negara dengan populasi kuda yang besar. Diperkirakan 75% dari pertaniannya terletak pada lokasi yang berjarak lebih dari satu setengah hari berjalan

dari segala bentuk jalan dan cuaca (ibid.), oleh karena itu ternak sangat penting sebagai transportasi produksi pertanian ke pasar.

Berbagai spesies ternak digunakan untuk tujuan tenaga kerja. Seperti disebutkan di atas pada kasus Gambia, kuda merupakan spesies yang paling berarti – digunakan untuk menanam 36% dari lahan pertanian (laporan Gambia, 2003). Sapi (33%), keledai (30%) dan bagal (1%) adalah spesies ternak lain yang digunakan (ibid.). Sebaliknya, laporan dari Tansania (2004) mengindikasikan bahwa 70% tenaga kerja ternaknya berasal dari sapi, dan 30% dari keledai. Beberapa breed ternak khususnya

tercatat dengan kesesuiannya sebagai tenaga kerja ternak. Laporan dari Chad (2003), sebagai contoh, mendeskripsikan keterangan Zébu Arabe, yang membuatnya mudah untuk dilatih untuk tujuan ternak kerja. Hasil dari sebuah survey yang dipresentasikan di laporan Gambia (2003) mengindikasi bahwa 97% petani yang diwawancarai menyatakan mereka lebih memilih sapi N’Dama dibanding breed exotic (asing)

untuk tujuan tenaga kerja. Dilaporkan terjadi peningkatan fungsi keledai sebagai ternak kerja di beberapa negara Afrika. Laporan dari Zimbabwe (2004), contohnya, mencatat bahwa penggunaan spesies untuk tujuan tenaga kerja meningkat di sektor peternak kecil, khususnya di bagian negara yang lebih kering.

Kerbau juga penting sebagai ternak kerja, terutama di Asia, dan khususnya cocok untuk kerja pada kondisi lahan yang berlumpur. Di area semi-arid dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah dan sekitarnya, unta digunakan untuk membajak tanah, menyiram dan transpor. Yak penting untuk hewan penarik beban pegunungan di wilayah Asia, dimana domba dan kambing juga kadang-kadang digunakan untuk tujuan ini. Laporan dari Nepal (2004), contohnya, menyebutkan breed kambing Chyangra dan

Sinhal mempunyai fungsi untuk transport, juga domba Baruwal, yang dapat membawa beban sampai 13 kg di punggungnya. Di Cina, breed

kuda lokal seperti Yuta, Merak Saktenta dan Boeta dicatat kemampuannya untuk melewati

jalan pegunungan yang kasar. Akan tetapi, dilaporkan bahwa popularitas bagal (peranakan kuda dan keledai) meningkat mengakibatkan menurunnya beberapa breed kuda asli China, yang juga terancam dengan perkawinan silang yang berlebihan dengan breed exotic Haflinger (laporan China, 2003).

Di Amerika Latin dan Karibia, kuda, keledai, dan sapi dipakai sebagai tenaga kerja untuk bertani, dan digunakan untuk transportasi produk pertanian. Kerbau juga berkontribusi pada tenaga kerja di beberapa negara (laporan Brazil, 2003; laporan Costa Rica, 2004; laporan Cuba, 2003). Laporan dari Equador (2003) dan Peru (2004) menyampaikan penggunaan Ilama untuk tujuan transportasi pada dataran tinggi. Penghargaan untuk fungsi kuda Criollo untuk transportasi dan tenaga kerja pada dataran tinggi dicatat di dalam laporan Venezuela (2004). Laporan dari Peru (2004) melaporkan diantara sapi Criollo ada bermacam “ecotype” yang dispesialisasikan untuk peran yang berbeda. Ancash dicatat sebagai tipe ternak kerja. Peran penting dari kuda di daerah produksi sapi secara ekstensif di laporan Venezuela (2004) dan seperti yang terlihat dalam laporan Brazil (2003).

Di bagian timur wilayah Eropa dan Kaukasus, kuda masih digunakan untuk tenaga kerja oleh beberapa petani skala kecil, Bahkan di beberapa tempat jumlah kuda kerja meningkat akhir-akhir ini sebagai hasil dari fragmentasi kepemilikan lahan (laporan Romania, 2003). Akan tetapi laporan dari Latvia (2003) mencatat bahwa terjadi peningkatan penggantian breeding

kuda untuk tenaga kerja dengan breeding untuk

daging. Dalam hal ini, sedikit motivasi untuk melestarikan genetik yang berhubungan dengan trait tenaga kerja. Laporan dari Albania (2002) melaporkan ancaman kepunahan yang dihadapi oleh breed kerbau lokal, yang sebelumnya

dipakai sebagai tenaga kerja di area lahan berlumpur, yang sudah kehilangan perannya sebagai hasil dari pelaksanaan reklamasi lahan. Kuda dan keledai terus berfungsi sebagai ternak penarik beban di bagian Eropa dan Kaukasus. Kuda pegunungan Bosnia contohnya masih

digunakan untuk transportasi kayu api/bahan bakar kayu di pegunungan (Laporan Bosnia dan Herzegovina, 2003).

Pemberian pupuk kandang pada pertanian juga fungsi lain pentingnya ternak. Dengan penggunaan pupuk anorganik lebih banyak, pentingnya kotoran ternak cenderung menurun di beberapa bagian dunia. Akan tetapi, laporan dari Sri Lanka (2003) melaporkan tren ke arah

penggunaan kotoran ternak utnuk pupuk, dan mencatat bahwa produk kotoran ini diperdagangkan untuk mensuplai petani sayuran yang kurang memiliki ternak. Di bagian Afrika, tekanan demografi dan pengaruhnya pada kesuburan lahan memerlukan integrasi yang lebih besar antara produksi tanaman pertanian dan ternak, termasuk di dalamnya peningkatan penggunakan kotoran ternak, khususnya dimana pupuk anorganik sukar didapat (laporan Burundi 2003; laporan Rwanda 2004). Di tempat lain, produksi tanaman pertanian dan ternak diintegrasikan melalui penggembalaan ternak di lahan tanaman pertanian setelah pemanenan – penanaman diuntungkan dari kotoran ternak dan ternak memperoleh makanan dari residu/sisa hasil pertanian (laporan Cameroon, 2003). Di beberapa area peri-urban, kotoran ternak dari perusahaan peternakan babi dan ayam memfasilitasi pengembangan pasar pertamanan (laporan Côte d’Ivoire, 2003; laporan Democratic Republic of the Congo, 2005). laporan Malaysia (2003) menyebutkan sistem integrasi perikanan dengan memelihara ternak seperti sapi, kerbau dan itik. Arti dari kotoran ternak sebagai sumber pupuk tidak terbatas pada wilayah berkembang – dia berlanjut menjadi input penting di Eropa dan Kaukasus (laporan Belarus, 2003; laporan Hungary, 2003; laporan Romania, 2003; laporan Serbia dan Montenegro, 2003; laporan Slovenia, 2003). Kunci elemen dari sistem produksi organik yang meningkat popular popularitasnya di negara-negara maju.

Lempengan kotoran sapi digunakan luas untuk bahan bakar di wilayah dunia berkembang, khususnya dimana kayu bakar sangat sedikit suplainya (laporan Ethiopia,2004). Alternatifnya,

kotoran juga digunakan untuk produksi biogas (laporan Barbados, 2005; laporan Jamaica, 2005). Kegunaan lain dari kotoran ternak termasuk di dalamnya pembakaran untuk mengusir serangga (laporan Sudan, 2005) dan sebagai material bangunan (laporan Ethiopia, 2004).

Dalam dokumen status dunia trkini Sumber Daya Genetik (Halaman 117-120)