Genetik Ternak 1 Pendahuluan
Kotak 8 Sapi Nelore
4 Pengaruh aliran gen terhadap keragaman
Aliran gen dapat berpengaruh dalam dua hal yaitu meningkatkan atau bahkan dapat mengurangi keragaman genetik. Pengaruh aliran gen bergantung pada beberapa faktor, termasuk kesenian lingkungan di tempat negeri tujuannya, disamping struktur organisasi di negeri penerima dan pengirim (Mathias and Mundy,2005). Lebih penting lagi, besarnya material yang ditransfer bukan merupakan indikasi dari pengaruh aliran gen. Ada kasus dimana impor segelintir ternak
mempunyai pengaruh besar pada pengembangan breed ternak. Di lain kasus, sejumlah besar ternak yang diimpor tidak mempunyai banyak pengaruh terhadap pengembangan ternak.
Selama fase pertama dari dua fase aliran gen yang disebutkan di atas, yang membentang dari awal budidaya ternak pada zaman prasejarah sampai pertengahan abad ke-20, aliran gen umumnya meningkatkan kearagaman. Akan tetapi, selama 4 – 5 dekade yang lalu perkembangan dan ekspansi dari produksi peternakan secara intensif dan dari seluruh sistem produksi, justru berakibat pada penurunan keragaman melalui penggantian skala besar breed lokal dengan sejumlah kecil breed global yang sukses.
Proses ini sudah terjadi di Amerika Utara dan Eropa, dimana 50% dari breed yang didokumentasikan sekarang telah diklasifikasikan punah, kritis atau terancam punah. Sekarang diperbanyak lagi di negara berkembang, seperti China memberikan prioritas pada sistim produksi intensif dan dan mempunyai sumberdaya untuk membangunnya kembali.
4.1 Keragaman meningkatkan aliran gen Sepanjang sejarah aliran gen menjadi penting dalam mengembangkan keaneka-ragaman ternak, yang pada gilirannya membuat pemeliharanya mampu beradaptasi ke situasi dan persyaratan baru.
Aliran gen meningkatkan keragaman dalam situasi sebagai berikut:
•Hewan atau breed yang diimpor beradaptasi dengan lingkungan, dan varietas lokal yang diimpor turut berkembang. Salah satu contoh adalah breed Spanyol dan Portugis yang diekspor ke Amerika Selatan, pada akhirnya menghasilkan ternak yang dapat bertahan terhadap kerasnya alam seperti breed Crilo. Contoh lainnya adalah penyebaran domba Merino melalui Eropa dan ke banyak negara lainnya di dunia.
•Hewan atau breed yang diimpor dikawin silangkan dengan ternak lokal, dan dikembangkan breed sintetik yang mempunyai karakteristik dari kedua orang tuanya. Contohnya perkawinan silang dari babi China dan Asia Tenggara dengan ternak babi dari Eropa menyebabkan berkembangnya ternak yang bertumbuh cepat, breed babi yang sangat berharga pada tahun 1880. Di Amerika Selatan industri sapi potong berkembang setelah breed seperti Ongole dan Gir diimpor dan dikawin silangkan dengan breed lokal sapi Criollo. Struktur program kawin silang juga dapat berfungsi untuk mengurangi hilangnya keragaman jika mereka diciptakan dengan tujuan untuk mempertahankan populasi breed murni dari breed lokal yang mungkin akan kurang populasinya.
•Penggunaan “darah segar” secara selektif dalam buku organisasi breed. Infusi (penyerapan) secara terpilih dari “darah segar” dengan membedakan penggunaan orang tua jantan (sire) dari breed yang berbeda seringkali dipakai oleh pemulia untuk mempertahankan vitalitas gen pool tertutup. Contohnya adalah introduksi berkala dari kuda jantan thoroughbred sires Inggris atau Arab ke breed lokal kuda Jerman.
•Transfer gen yang ditargetkan untuk karakteristik yang spesifik. Hal ini menjadi mungkin dengan statistik dan bioteknologi yang maju. Contohnya adalah introduksi gen boorola yang mengkoding liter size pada domba Awassi yang sudah dikembangkan di Israel untuk menciptakan Afec Awassi. Gen tersebut dapat dilacak pada flok dari domba Indian Bengal yang diimpor ke Australia pada akhir abad ke-18. Pada tahun 1993, penemuan penanda genetika
memungkinkan untuk mengidentifikasi pembawanya. Gen dan penanda tersebut sudah dipatenkan (Mathias and Mundy, 2005; Rummel et al., 2006).
Berikut ini saduran/sitasi diambil dari Cemal and Karaca (2005) memberikan beberapa contoh lain seperti “major genes” (bersama dengan pustaka yang relefan untuk bahan bacaan lebih lanjut):
”(pada domba) gen inverdale mempengaruhi tingkat ovulasi (Piper and Bindon, 1982;Davis et al., 1988) dan gen Callipyge mempengaruhi produksi daging (Cockett et al.,1993); pada sapi gen perototan ganda mempengaruhi produksi daging (Hanset and Michaux, 1985a,b);pada babi sensitivitas halothane dan gen RN mempengaruhi kualitas daging (Archibald and Imlah, 1985) dan lokus penerima estrogen mempengaruhi liter size (Rothschild et al., 1996); dan pada unggas gen leher tidak berbulu mempengaruhi
kemampuan terhadap toleransi panas dan gen kerdil mempengaruhi ukuran badan (Merat, 1990).”
Marker untuk gen yang bertanggung jawab pada sifat yang diinginkan memungkinkan untuk menseleksi pembawa sifat yang dicari dan menggunakan ternak ini untuk program breeding menggunakan marker assisted introgression (introgresi dibantu marker). Pengalaman dari sedikit program yang sudah ada menunjukkan bahwa metode tersebut dapat memberikan keuntungan ekonomi di negara berkembang. Akan tetapi penggunaan teknologi ini sebaiknya diputuskan dengan dasar kasus - per-kasus, dan hanya akan bermanfaat sejalan dengan breeding program yang sekarang ada dan pencatatan data intensif (FAO, 2007).
4.2 Keragaman-mengurangi aliran gen
Penggantian breed lokal. Aliran gen mengurangi keragaman pada waktu breed dengan penampilan tinggi dan sistem produksi intensif menggantikan breed lokal dan sistim produksi. Sejak pertengahan abad ke-20, sedikit breed dengan performan tinggi, biasanya keturunan ternak Eropa, termasuk Friesien Holstein dan sapi Jersey, Large White, babi Duroc dan Landrace, kambing Saanen, dan ayam Rhode Island Red dan Leghorn, sudah
menyebar ke seluruh dunia, dan sering kali mengurangi peran breed tradisional. Proses ini terpenuhi di Eropa dan Amerika Utara, tetapi sekarang terulang di banyak negara berkembang yang sejauh ini mempertahankan sejumlah besar breed aslinya. Sukar untuk mengkuantifikasi pengaruhnya, karena data yang penting tidak pernah dikompilasi, dan karena ada faktor lain yang mempengaruhi erosi dari keragaman. Akan tetapi tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa negara-negara Selatan akan menjadi titik awal dari hilangnya keragaman breed pada abad ke-21 (Mathias and Mundy, 2005).
•Di Vietnam, persentase dari babi asli menurun dari 72% pada tahun 1994 menjadi hanya 26% pada tahun 2002. Sebanyak 14 breed lokal, lima breed dalam status rawan, dua kritis, dan tiga menghadapi kepunahan ((Huyen et al., 2006).
•Di Kenya, pengenalan breed domba Dorper menyebabkan hampir semua breed domba murni Red Maasai menghilang (lihat Kotak 95 pada Bagian 4-BabF).
Penurunan dan disintegrasi dari breed lokal. Penurunan peran breed lokal sering disebabkan oleh perkawinan silang yang membabi buta dengan ternak impor, sering tanpa peningkatan produksi yang nyata atau karakteristik lain yang diinginkan. Contohnya di India, pemerintah mendukung persilangan dengan Friesien Holstein, Danish Red, Jersey dan Brown Swiss untuk beberapa dekade. Hal ini membawa pada pengenceran breed lokal, tetapi sering tidak ada berpengaruh banyak pada tingkat produksi. Peningkatan produksi susu di India sebagian besar disebabkan oleh penggunaan kerbau dan perubahan sturktur pada sektor persusuan (Mathias and Mundy, 2005). Promosi yang tidak membedakan atau perkawinan silang dengan breed exotic (luar) dapat menghasilkan disintegrasi total pada breed lokal. Upgrading sapi Bos indicus sering mempunyai pengaruh negatif pada kesuburan sapi.
4.3 Keragaman menetralkan aliran gen Aliran dari breed dan gen sering berpengaruh dalam mempertahankan keragaman hayati lokal di dalam negara yang menerimanya. Banyak usaha untuk mengintroduksi breed ke negara baru ternyata gagal. Yang paling kelihatan adalah kasus impor breed Eropa ke negara tropis lembab - Banyak dana sudah dihabiskan pada pengiriman ternak ke seluruh dunia, tetapi umumnya gagal menjadi berkembang di tempat baru.
4.4 Harapan ke depan
Bagaimana aliran gen akan mempengaruhi keragaman di masa depan akan bergantung terutama pada kebijakan dan kerangka kerja legislatif yang sekarang berada dalam proses pengembangan. Dalam kontek “revolusi ternak” yang sedang terjadi, kelihatannya transfer dari sistem breeding babi dan sapi akan berlanjut dan bahkan meningkat dalam menghadapi kemajuan cepat negara-negara Selatan. Penjarangan (crowding out) breed lokal, sehingga dipercepat di beberapa negara sedang berkembang, jika tidak ada pemberian khusus dibuat untuk pelestariannya in situ dengan memberikan peternak dukungan yang sesuai.
Akan tetapi, negara-negara semakin meningkat keprihatinanya tentang pengaruh ternak impor yang tidak membedakan dengan breed aslinya. Sebagai contoh, Jepang akhir- akhir ini mengumumkan niatnya untuk melindungi breed sapi Wagyu melalui “indikasi geografis” (sama dengan merk) untuk produk perkawinan murni ternak Wagyu. Sementara beberapa dekade, pemerintah di negara berkembang lebih menyukai breed exotic,
pergerakan yang melawan arus sekarang dapat terlihat, dengan himbauan untuk melarang peternak menggunakan exotic (potensi memberi efek negatif pada kehidupan keluarga yang akan diuntungkan apabila menggunakan breed exotic ini).
Kemungkinan bahaya pada pertukaran bebas dari sumberdaya genetik terletak pada adopsi secara luas dari konsep berbagi akses dan
keuntungan (Acces and Benefit Sharing /ABS), seperti perlunya negosiasi bilateral pada level pemerintahan agar dapat dibuat rencana kerja yang detailnya untuk memungkinkan pembagian keuntungan setiap kali breeding stok berpindah melewati perbatasan nasional. Diharapkan hal ini akan meningkatkan red tape (penyuapan) birokrasi, membuat makin sukar, atau dalam beberapa kasus bahkan tidak mungkin (impossible), untuk penukaran material genetik. Pengalaman terbatas sumberdaya genetik tanaman menunjukkan bahwa pemerintah lebih diuntungkan dari pada peternak dengan adanya rejim ABS.
Implementasi konsep tersebut berarti bahwa pemerintah memberikan izin semua transfer material genetik ke luar perbatasan negara dan turut mengatur kondisi tersebut. Hal ini akan mengurangi kemampuan untuk membentuk breed baru dan dapat merusak bisnis dalam pemulia ternak, dan juga membahayakan ekonomi pertanian. Karena kekuatiran akan perampokan hayati, negara-negara mungkin ragu untuk memberikan asses resmi secara resmi pada sumberdaya genetikanya.
Semakin besar penggunaan peraturan hak kekayaan intelektual/intellectual property rights (IPR) juga berpotensi untuk membatasi pertukaran SDGt Rahasia perdagangan dan perjanjian izin sudah merupakan aturan dalam komersialisasi breeding ayam dan babi, sehingga mengontrol gen dalam sektor usaha pribadi yang terkonsentrasi. Penggunaan sistem paten untuk mendapatkan kontrol terhadap proses breeding dapat lebih jauh mengkonsentrasikan breeding ternak pada sejumlah orang terbatas.
Daftar Pustaka
Alandia Robles, E., Gall, C. & Valle Zárate, A. 2006. Global gene flow in goats. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 229–240. GTZ, BMZ.
Archibald, A.L. & Imlah, P. 1985. The halothane sensitivity locus and its linkage relationships. Animal Blood Groups and Biochemical Genetics, 16: 253– 263.
Benecke, N. 1994. Der Mensch und seine Haustiere. Stuttgart. Theiss Verlag.
Campbell, J.R. & Lasley, J.F. 1985. The science of animals that serve humanity. New York, USA. McGraw-Hill.
Cemal, I•. & Karaca, O. 2005. Power of some statistical tests for the detection of major genes in quantitative traits: I. Tests of variance homogeneity. Hayvansal Üretim, 46(2): 4046. (available from http://web.adu edu.tr/akademik/icemal/Papers/34_HayvansalUretim- MajorGen-I.pdf (accessed 22 May 2006)).
Chupin, D. & Thibier, M. 1995. Survey of the present status of the use of artificial insemination in developed countries. World Animal Review, 82: 58– 68. Clutton-Brock, J. 1999. A natural history of domesticated mammals. 2nd edition. Cambridge, UK. Cambridge University Press.
Cockett, N.E., Jackson, S.P., Green, R.D., Shay, T.L. & George, M. 1993. Identification of genetic markers for and the location of a gene (callipyge) causing muscle hypertrophy in sheep. Proc. Texas Tech. Univ. Agric. Rep., No. T-5-327: 4–6.
Crosby, A. 1986. Ecological imperialism. Cambridge, UK. Cambridge University Press.
DAD-IS. 2006. Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS). FAO (available at www.fao org/dad-is/).
DAGRIS. 2006. Domestic Animal Genetic Resources Information System. International Livestock Research Institute. (available at
www.dagris.ilri.cgiar.org).
Davis, G.H., Shackell, G.H., Kyle, S.E., Farquhar, P.A., McEwan, J.C. & Fennessy, P.F. 1988. High prolificacy in screened Romney family line. Proceedings of the Australian Association for Anmal
Breeding and Genetics, 7: 406–409.
FAO. 1999. Asian livestock to the year 2000 and beyond, by D. Hoffman. Bangkok.
FAO. 2006. Poultry gene flow study: the relative contribution of indigenous chicken breeds to poultry meat and egg production and consumption in the developing countries of Africa and Asia, by R.A.E. Pym. Draft report for FAO. Rome.
FAO. 2007. Marker assisted selection in sheep and goats, by J.H.J. van der Werf. In E.P. Guimaraes, J. Ruane, B.D. Scherf, A.R. Sonnino & J.D. Dargie, eds. Marker-assisted selection: current status and future perspectives in crops, livestock, forestry and fish. Rome.
Flock, D.K. & Preisinger, R. 2002. Breeding plans for poultry with emphasis on sustainability. In
Proceedings of the 7th World Gongress on Genetics Applied to Livestock Production, held 19–23 August 2002, Montpellier, France.
Guèye, E.F. 2005. Editorial: Family poultry must no longer be a ‘hidden harvest’. INFPD Newsletter, 15(1):1.
Hanset, R. & Michaux, C. 1985a. On the genetic determinism of muscular hypertrophy in the Belgian White and Blue cattle breed. I – Experimental data. Genetics Selection Evolution, 17:359–368. Hanset, R. & Michaux, C. 1985b. On the genetic
determinism of muscular hypertrophy in the Belgian White and Blue cattle breed. II - Population data.
Genetics Selection Evolution, 17: 369–386. Hoffmann, I., Siewerdt, F. & Manzella, D. 2004.
Research and investment: challenges and options for sustainable use of poultry genetic resources. Paper presented at the XXII World Poultry Congress, Istanbul, 8–13 August 2004.
Homann, S., Maritz, J.H., Hülsebusch, C.G., Meyn, K. & Valle Zárate, A. 2006. Boran and Tuli cattle breeds – origin, worldwide transfer, utilisation and the issue of access and benefit sharing. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 395–458. GTZ, BMZ.
Huyen, L.T.T., Roessler, R. Lemke, U. & Valle Zárate, A. 2006. Impact of the use of exotic compared to local pig breeds on socio-economic development and biodiversity in Vietnam. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 459–508. GTZ, BMZ.
Mathias, E. & Mundy, P. 2005. Herd movements. Ober- Ramstadt, Germany. League for Pastoral Peoples and Endogenous Livestock Development. Merat. P. 1990 Genes majeurs chez la poule (Gallus
gallus): autres genes que ceux affectant la taille. Productions Animales, 3(5): 355–368.
Mergenthaler, M., Momm, H. & Valle Zárate, A. 2006. Global gene flow in cattle. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 241–280. GTZ, BMZ.
Musavaya, K., Mergenthaler, M. & Valle Zárate, A. 2006. Global gene flow of pigs. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 281–304. FAO, GTZ, BMZ.
Peters, K.J. & Meyn, K. 2005. Herausforderungen des internationalen Marktes für Tiergenetik.
Züchtungskunde, 77(6): 436–356.
Piper, L.R. & Bindon, B.M. 1982. Genetic segregation for fecundity in Booroola Merino sheep. In R.A. Barton & D.W. Robinson, eds. Proceedings of the World Congress on Sheep and Beef Cattle Breeding, Volume 1, pp. 395–400. Palmerston North, New Zealand. The Dunmore Press Ltd.
Rothschild, M., Jacobson, C., Vaske, D., Tuggle, C., Wang, L., Short, T., Eckardt, G., Sasaki, S., Vincent, A., McLaren, D., Southwood, O., van der Steen, H., Mileham, A. & Plastow, G. 1996. The estrogen receptor locus is associated with a major gene influencing litter size in pigs. Proceedings of the National Academy of Science USA, 93: 201–205. Rummel, T., Valle Zárate, A. & Gootwine, E. 2006. The
worldwide gene flow of the improved Awassi and Assaf sheep breeds from Israel. In A. Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 305–358. GTZ, BMZ.
Schäfer, C. & Valle Zárate, A. 2006. Gene flow of sheep. In A.Valle Zárate, K. Musavaya & C. Schäfer, eds. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends, pp. 189–228. GTZ, BMZ.
Shrestha, J.N.B. 2005. Conserving domestic animal diversity among composite populations. Small Ruminant Research, 56: 3–20.
Thibier, M. & Wagner, H.G. 2002. World statistics for artificial insemination in cattle. Livestock Production Science, 74: 203–212.
Valle Zárate, A., Musavaya, K. & Schäfer, C. 2006. Gene flow in animal genetic resources: a study on status, impact and trends. GTZ, BMZ.
Willis, M. 1998. Dalton’s introduction to practical animal breeding. 4th edition. Oxford, UK. Blackwell Science.