Reproduksi Remaja Meskipun bab ini mengacu pada remaja
Kotak 19: Kelompok Rentan pada Remaja
Kelompok rentan di kalangan remaja mencakup: • Remaja sangat muda (10 sampai 14 tahun) • Remaja yang sudah menjadi ibu
• Anak yatim piatu dan rentan
• Anak yang menjadi kepala rumah tangga • Remaja yang menikah muda
• Remaja dengan HIV positif
• Tentara anak (termasuk remaja putri) dan anak-anak lain yang terlibat dalam pertempuran (dalam peran yang tidak melibatkan pertempuran).
• Remaja yang terlibat dalam seks komersial
• Remaja korban/penyintas kekerasan seksual, perdagangan orang dan bentuk kekerasan berbasis gender lain
• Remaja yang terlibat dalam hubungan seks dengan sesama jenis
ini malah akan mengakibatkan dampak yang lebih buruk. Suatu assessment psikososial remaja yang mungkin membantu mengarahkan petugas kesehatan untuk menanyakan
pertanyaan yang sesuai dengan usia dan cukup memadai untuk menilai kebutuhan remaja akan mengikuti prinsip HEADSSS: Home (rumah), Education/Employment (pendidikan/pekerjaan),
Activities (kegiatan), Drugs (obat-obatan),
Sexuality (seksualitas), Suicide (bunuh diri) dan
Depression (depresi), Safety (keamanan).
3.4.3 Penyediaan Layanan Kesehatan
Reproduksi di Masyarakat
Penyediaan layanan dan informasi berbasis masyarakat menawarkan kesempatan bagi remaja untuk memperlihatkan kepemimpinan mereka dan memperoleh keterampilan- keterampilan baru melalui kerelawanan sambil membentuk kemitraan antara remaja dan orang dewasa. Masyarakat juga merupakan situasi ideal untuk menerima informasi kesehatan reproduksi dimana remaja merasa nyaman dan terbuka untuk berdialog dan melakukan penilaian risiko pribadi.
Distribusi berbasis masyarakat Remaja yang dilatih sebagai distributor berbasis masyarakat (DBM) adalah remaja yang telah dilatih untuk memberikan konseling kontrasepsi kepada sebayanya di masyarakat. Mereka biasanya berfokus pada pemberian informasi kesehatan reproduksi, pil KB, kondom dan informasi mengenai HIV, dan merujuk klien ke pusat kesehatan untuk memperoleh metode kontrasepsi dan layanan lain. DBM remaja dapat secara efektif mengintegrasikan informasi kesehatan reproduksi dan HIV. Karena banyak hambatan yang mencegah remaja mengakses layanan kesehatan reproduksi di klinik, melatih DBM remaja merupakan strategi yang berhasil untuk meningkatkan akses remaja terhadap layanan dan informasi kesehatan reproduksi sekaligus memberikan peran kepemimpinan DBM di masyarakat. DBM remaja seringkali menjadi partner bagi layanan kesehatan berbasis fasilitas melalui kerja sama dengan petugas kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan ramah remaja.
Pendidik sebaya
Pendidikan sebaya menawarkan banyak keuntungan karena teman sebaya biasanya dipersepsikan sebagai sumber informasi yang aman dan dapat dipercaya. Program pendidikan sebaya yang dirancang dengan baik, didasarkan pada kurikulum dan disupervisi dapat merupakan program yang sukses untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV. Untuk memastikan kualitas dalam program pendidikan sebaya:
• Memberikan pelatihan berkualitas tinggi
dan intensif kepada para pendidik sebaya yang mencakup juga assessment rutin dan memperkuat kapasitas mereka untuk memberikan informasi yang akurat kepada teman sebayanya
• Menggunakan daftar periksa/check
list standar dalam pengembangan dan implementasi program pendidikan sebaya untuk meningkatkan kualitas.
Tabel 9: Karakteristik Layanan Kesehatan Ramah Remaja
Karakteristik Fasilitas
Kesehatan Karakteristik Petugas Karakteristik administratif Jam layanan yang sesuai
dan nyaman untuk remaja
Menghormati remaja Keterlibatan remaja
Lokasi yang tepat dan nyaman
Sikap tidak menghakimi Anak laki-laki dan pria muda disambut dengan baik Ruangan memadai dan
privasi juga memadai
Privasi dan kerahasiaan sangat dihargai
Rujukan yang diperlukan tersedia
Konseling sebaya tersedia Tarif terjangkau Lingkungan sekitar yang
nyaman
Petugas berjenis kelamin sama jika memungkinkan
Klien tanpa janji terlebih dahulu tetap diterima Kerahasiaan yang ketat
dipertahankan
Publisitas dan rekruitmen yang memberikan informasi dan meyakinkan remaja Staf terlatih dalam karakteristik
layanan kesehatan ramah remaja
Dialog dengan masyarakat
Dalam upaya mengikuti prinsip keterlibatan masyarakat, gunakan dialog dengan masyarakat untuk memperoleh dukungan dari dan membangun keterampilan anggota masyarakat. Orang dewasa memerlukan informasi, keterampilan dan dorongan tidak hanya untuk mendukung penyusunan program kesehatan reproduksi remaja tetapi juga untuk merasa lebih nyaman dalam memberikan informasi kepada remaja.
3.4.4 Memberikan layanan kesehatan
reproduksi di sekolah
Buatlah agar layanan dan informasi kesehatan
reproduksi remaja tersedia di sekolah formal dan non formal serta di pusat pelatihan keterampilan. Hubungkan dengan pendidik untuk mengadvokasi penciptaan lingkungan yang mendukung untuk memastikan
tersedianya layanan kesehatan reproduksi untuk remaja.
Fasilitas kebersihan yang terpisah menurut jenis kelamin
Remaja kemungkinan merasa tidak nyaman dan malu untuk menggunakan fasilitas kebersihan/toilet dengan orang dengan jenis kelamin berbeda dan bahkan dengan anak- anak yang lebih kecil. Kondisi ini terutama mungkin sekali terjadi untuk remaja putri yang
Tabel 10: Karakteristik Program Keterampilan Hidup yang Efektif*
Pengembangan Kurikulum
Kandungan kurikulum Implementatsi
Kurikulum
• Melibatkan orang-orang
dari latar belakang yang berbeda
• Menilai kebutuhan dan
aset kelompok target
• Merancang kegiatan
yang konsisten dengan nilai-nilai masyarakat dan sumber daya yang tersedia (misalnya waktu dan keterampilan staf, ruang fasilitas, suplai)
• Melakukan uji coba
program
• Fokus pada tujuan-tujuan yang jelas (misalnya pencegahan IMS dan/atau kehamilan)
• Memberikan pesan yang jelas
terhadap perilaku yang mengarah pada tujuan-tujuan ini (misalnya tidak melakukan hubungan seks, menggunakan kondom dan/atau kontrasepsi lain)
• Menangani faktor-faktor risiko
dan proteksi yang mempengaruhi perilaku seksual.
• Menggunakan metode
pengajaran yang kuat dan mencakup berbagai kegiatan yang sesuai dengan budaya, usia dan pengalaman seksual) yang secara aktif melibatkan peserta dan membantu mereka mempersonalisasi informasi.
• Mencakup topik-topik yang
disajikan dalam urutan yang logis
• Melatih pendidik yang dapat menjangkau remaja
• Memastikan dukungan
dari pihak berwenang seperti kementerian kesehatan, dinas
pendidikan atau organisasi masyarakat
• Menciptakan lingkungan
yang aman agar remaja bisa berpartisipasi • Merekrut remaja dan mengatasi hambatan-hambatan terhadap keterlibatan remaja (misalnya mempublikasikan program, menawarkan makanan, memperoleh persetujuan orang tua)
• Mengajarkan kurikulum
secara penuh.
* Diadaptasi dari Kirby, D dkk. Impact of Sex and HIV Education Programmes on Sexual Behaviors of Youth in Developing and Developed Countries. Youth Net, Youth Research Working Paper No. 2, 2005.