• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reproduksi Remaja Meskipun bab ini mengacu pada remaja

Kotak 20: Keterampilan Perencanaan Hidup

Pendidikan keterampilan perencanaan hidup mencakup:

• Perubahan-perubahan isik dan emosi yang diharapkan terjadi selama pubertas • Keluarga berencana

• Kesehatan mental

• Keterampilan hidup yang sesuai dengan usia untuk remaja yang lebih muda seperti mengidentiikasi nilai, memahami konsekuensi dari suatu perilaku

• Keterampilan hidup terkait kesehatan reproduksi seperti rasa percaya diri bahwa ia mampu memakai kondom, menegosiasikan seks aman, menolak hubungan seks yang tidak diinginkan

• Seksualitas dan gender (termasuk norma gender yang dibentuk secara sosial) • Pemahaman terhadap kesehatan dan kesadaran akan fertilitas

• Pencegahan HIV/AIDS

• Pencegahan kekerasan berbasis gender

• Jejaring ke fasilitas kesehatan, mendorong remaja untuk mencari pertolongan di fasilitas ini • Keterampilan hidup lain seperti membuat keputusan, pemikiran kritis, kreatiitas, memegang

nilai, komunikasi, mengatasi emosi dan stress tengah mengalami menstruasi. Selain itu,

fasilitas kamar mandi yang digunakan bersama baik oleh pria dan wanita seringkali disebut sebagai lokasi kekerasan berbasis gender di sekolah. Kurangnya fasilitas kebersihan/toilet yang terpisah untuk jenis kelamin berbeda serta kurangnya produk pembersih/hygiene untuk wanita akan membuat remaja putri tidak ingin datang ke sekolah. Untuk meminimalkan jumlah hari remaja putri tidak sekolah dan pelecehan seksual serta kekerasan seksual di sekolah serta untuk mendorong lingkungan belajar yang lebih aman:

• Pastikan adanya fasilitas kebersihan/toilet

yang aman dan terpisah untuk laki-laki dan perempuan di sekolah.

• Sediakan kain atau bahan lain yang sesuai

budaya setempat untuk digunakan pada saa menstruasi bagi remaja putri.

Pendidikan keterampilan hidup berbasis kurikulum

Program pendidikan mengenai seksualitas dan HIV yang didasarkan pada suatu kurikulum tertulis dan diimplementasikan di kelompok remaja merupakan suatu intervensi yang menjanjikan untuk mengurangi perilaku risiko seksual remaja. Manajer program seringkali membuat kurikulum yang cocok dengan konteks lokal. Karakteristik kurikulum keterampilan hidup yang memiliki dampak terhadap perilaku remaja dipaparkan dalam Tabel 10.

Petugas kesehatan reproduksi dan manajer program dapat menyediakan bantuan teknis kepada para guru dan pendidik masyarakat untuk memastikan bahwa mereka merasa nyaman dalam membahas masalah ini dan memilih pelajaran yang sesuai untuk kurikulum keterampilan hidup (lihat Kotak 20).

3.5 Berkoordinasi dan membuat

jejaring dengan program-program

untuk remaja

Berjejaring dan berkoordinasi antar program untuk remaja akan memungkinkan penyediaan layanan yang lebih komprensif.

• Menghubungkan layanan kesehatan

reproduksi dengan layanan masyarakat untuk remaja: Remaja seringkali mencari orang dewasa yang mereka percayai di tempat-tempat aman yang bisa mereka gunakan sebagai tempat yang dirasakan aman untuk berbagi informasi. Seringkali, orang-orang tsb bekerja di tingkat masyarakat. Kembangkan sistem rujukan untuk memastikan bahwa remaja menerima perlakuan yang sesuai untuk masalah yang mungkin terungkap di luar klinik (misalnya kekerasan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan atau aborsi yang tidak aman).

• Memastikan penyusunan program multi

sektor: Para praktisi kesehatan reproduksi mungkin tidak mampu, atau memiliki keterampilan, untuk memasukkan komponen keterampilan livelihood/mata pencaharian dalam program mereka.

Dengan berkoordinasi dengan kluster/sektor kesehatan, bermitralah dengan manajemen kamp dan kelompok koordinator cluster lain untuk membentuk jejaring antara program remaja, kesehatan dan perlindungan, layanan psikososial, pendidikan dan livelihood. Dukung implementasi pelatihan keterampilan dan pengembangkan keterampilan untuk remaja karena

implementasi tersebut akan meningkatkan rasa mampu mengendalikan dan optimisme terhadap masa depan serta merupakan komponen penting untuk merekonstruksi dan merehabilitasi jejaring sosial dan masyarakat, baik selama dan setelah krisis kemanusiaan terjadi. Bekerjasamalah dengan program pengembangan keterampilan remaja sebagai sumber

rujukan dan untuk mengintegrasikan informasi kesehatan reproduksi ke dalam program terkait mata pencaharian/ livelihood.

• Melibatkan pria dan remaja putra sebagai

agen perubahan sosial: Norma sosial yang kaku telah dikaitkan dengan peningkatan pengambilan risiko seksual yang dapat mengarah ke angka penularan IMS dan HIV yang lebih tinggi serta peningkatan penggunaan narkoba dan kekerasan berbasis gender. Kondisi-kondisi di lokasi bencana dapat bersifat menantang bagi pria yang mungkin merasa tertekan untuk melaksanakan peran tradisional mereka sebagai pencari nafkah dan pelindung karena mereka menjadi tergantung pada bantuan luar. Rasa frustasi dan malu yang terjadi dapat mengarah ke peningkatna perilaku berisiko dan kekerasan dalam rumah tangga. Remaja putra memerlukan lingkungan yang aman tempat norma pria alternatif dapat menjadi model sementara dekonstruksi norma sosial tradisional dilakukan. Carilah dukungan dari pria dan anak laki-laki: berikan kesempatan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka dan secara aktif terlibat dalam kesehatan reproduksi sehingga akan menguntungkan bagi remaja putri dan remaja putra.

• Pemberdayaan dan sosialisasi remaja putri:

Bekerja dengan kelompok-kelompok yang hanya terdiri dari remaja putri merupakan cara ideal untuk mengatasi norma sosial yang diterapkan pada wanita dalam bentuk sikap yang pasif, tunduk dan lebih rendah daripada pria. Dorong para remaja putri untuk bersuara dan kuatkan keyakinan dan nilai-nilai yang mereka pegang sehingga akan meningkatkan potensi mereka untuk berkontribusi secara setara dalam masyarakat. Situasi bencana seringkali membuat masyarakat menjadi protektif terhadap peran tradisional wanita. Rancanglah program dengan memperhatikan pemberdayaan wanita.

3.6 Advokasi

Sensitisasi dan orientasi orang-orang yang berpengaruh dan yang merupakan bagian dari komunitas pemberi bantuan kemanusiaan serta komunitas yang dilayani untuk kerentanan kesehatan reproduksi, kebutuhan spesifik dan hak-hak remaja.

Petugas kesehatan reproduksi, manajer kesehatan reproduksi dan pemberi layanan kesehatan reproduksi harus merupakan agen- agen perubahan dan:

• Lakukan advokasi untuk informasi dan

layanan untuk remaja untuk memastikan bahwa layanan yang tersedia bersifat ramah remaja;

• Terlibat dalam kegiatan peningkatan

kesadaran di dalam masyarakat, seperti “open day”kegiatan terbuka dan dialog

• Soroti kebutuhan remaja dengan petugas

dan pembuat kebijakan.

4. Pertimbangan-pertimbangan hak

asasi manusia dan hukum

4.1 Standard-standard hak asasi

manusia

Kategori remaja (10-19 tahun) mencakup anak-anak yang didefinisikan oleh Konvensi Hak-Hak Anak (KHA) sebagai “semua manusia yang berada di bawah usia delapan belas tahun kecuali jika undang-undang yang berlaku pada anak mayoritas usia dewasa dicapai lebih dini”. KHA mengeluarkan daftar proteksi khusus yang menjadi hak anak-anak yang melekat pada status mereka sebagai anak-anak. Konvensi ini juga mengenali “kapasitas yang berkembang pada anak”. Ini berarti bahwa “pada saat anak meningkatkan kompetensi yang mereka memiliki, sejalan dengan itu maka kebutuhan untuk arahan akan berkurang dan kapasitas yang lebih besar untuk bertanggung jawab terhadap keputusan- keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka akan muncul”. Anak-anak memiliki hak

untuk mengekspresikan pandangan mereka dalam semua hal yang mempengaruhi mereka dan beban yang melekat pada pandangan- pandangan ini harus disesuaikan dengan usia dan kematangan jiwa anak.

Dalam mempertimbangkan isu-isu kesehatan dan perkembangan remaja, Komite Hak anak mengeluarkan suatu komentar umum yang menginterpretasi bahwa KHA mengharuskan negara untuk memberikan akses terhadap informasi dan layanan seksual dan reproduksi. Komentar ini didasarkan pada serangkaian hak yang tercakup dalam KHA termasuk hak untuk tidak didiskriminasi, hak untuk sehat, hak untuk memperoleh informasi, hak untuk memperoleh privasi, hak untuk mengungkapkan pendapat dan hak untuk memperoleh perlindungan dari semua bentuk kekerasan, pengabaian, kekerasan dan eksploitasi termasuk praktek- praktek tradisional yang berbahaya. Hak-hak ini juga tercakup dalam instrumen hak asasi manusia internasional. Hak-hak ini berlaku pula pada remaja non anak dan mungkin dilanggar ketika:

• Remaja tidak memiliki akses terhadap

layanan dan informasi kesehatan reproduksi karena usianya;

• Informasi dan layanan kesehatan reproduksi

tidak tersedia untuk remaja putri yang belum menikah karena status mereka yang belum menikah;

• Remaja yang hidup dengan HIV menjadi

tidak diuntungkan dalam kondisi pendidikan formal dan non formal serta lingkungan sosial;

• Remaja putri terkena dampak dari

praktek-praktek tradisional berbahaya seperti mutilasi genital perempuan/ sunat perempuan, pernikahan dini, pernikahan paksa dan pemeriksaan keperawanan;

• Persetujuan orang tua (atau wali) menjadi

syarat untuk memberikan layanan kesehatan reproduksi kepada remaja;

• Petugas kesehatan membuka status

memperoleh persetujuan resmi dari remaja untuk mengungkap informasi tersebut;

• Petugas kesehatan mengungkapkan fakta

bahwa remaja putri melakukan aborsi atau mencari perawatan pasca aborsi kepada pihak ketiga tanpa memperoleh persetujuan resmi dari remaja untuk mengungkap informasi tersebut;

4.2 Tantangan dan kesempatan

Dalam sejumlah kasus, manajer program kesehatan reproduksi dan pemberi layanan kesehatan reproduksi mungkin menghadapi keputusan yang sulit atau dilema. Mungkin mereka akan menemukan bahwa kemampuan mereka untuk memastikan bahwa hak-hak asasi remaja dilindungi menjadi dibatasi oleh perundangan nasional, norma sosial atau budaya atau kesalahpahaman konsep medis. Praktek dan hukum semacam itu dapat bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang telah diterima secara internasional seperti:

• Penyedia layanan kesehatan reproduksi

mungkin diminta oleh keluarga seorang remaja untuk melakukan pemeriksaan keperawanan (selaput dara) untuk mengetahui apakah ia sudah pernah melakukan hubungan seksual atau pernah diperkosa. Pemeriksaan semacam ini tidak memiliki validitas medis dan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak remaja jika dilakukan tanpa persetujuan tindakan yang berdasarkan informasi dari remaja tersebut.

• Manajer dan pemberi layanan dapat

patah semangat saat akan mengawali suatu program pemberian informasi atau layanan kepada remaja akibat keyakinan yang umum tetapi salah yaitu bahwa akses terhadap informasi mengenai

kesehatan reproduksi dan seksualitas dapat mendorong remaja untuk terlibat dalam kegiatan seksual. Bahkan informasi yang akurat dan mudah diakses akan mendukung kemampuan remaja untuk membuat

keputusan yang sehat dan penolakan untuk

memberikan informasi ini kepada remaja merupakan suatu pelanggaran hak mereka. Sebagai manajer atau pemberi layanan

kesehatan reproduksi, mungkin saja anda akan menghadapi masalah-masalah yang sulit seputar pemberian informasi dan layanan kesehatan reproduksi kepada anak-anak dan remaja. Anda harus menyadari posisi badan/ organisasi anda dalam masalah-masalah kesehatan reproduksi ini dan memasukkkannya sebagai bagian dari analisis anda terhadap situasi dan kemungkinan langkah selanjutnya. Jika anda menemukan diri anda menghadapi situasi seperti yang dipaparkan di atas, prioritas utama anda haruslah berada pada kepentingan terbaik klien dengan berfokus pada keselamatan dan kesehatannya. Keselamatan anda dan rekan kerja anda juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Berdasarkan penilaian anda terhadap situasi yang ada, anda mungkin ingin:

• Berbicara dengan supervisor anda; • Mendiskusikan pilihan-pilihan yang

memungkinkan untuk diambil oleh klien anda termasuk informasi mengenai organisasi hak-hak anak dan hak-hak perempuan setempat yang mungkin bisa membantu klien;

• Mengeksplorasi cara untuk memobilisasi

dukungan masyarakat untuk layanan kesehatan reproduksi ramah remaja;

• Mempertimbangkan bagaimana anda dapat

mendukung upaya advokasi jika badan atau lembaga tempat anda bekerja terlibat dalam advokasi masalah ini:

• Dengan tetap melindungi kerahasiaan

klien anda, identifikasi bagaimana cara menghadapi/menangani situasi semacam itu di masa depan bersama rekan sejawat anda;

• Ungkapkan kekhawatiran-kekhawatiran

5. Monitoring

Untuk memastikan bahwa remaja

menggunakan layanan kesehatan reproduksi yang tersedia dan menerima informasi kesehatan reproduksi, indikator-indikator kesehatan reproduksi harus dipisahkan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Lihat Bab 4 untuk indikator-indikator yang bersifat spesifik untuk remaja. Lihat di bawah ini untuk indikator-indikator kunci kesehatan reproduksi. Indikator-Indikator Kunci kesehatan reproduksi remaja:

• Proporsi IMS di kalangan remaja di bawah

usia 18 tahun.

• Proporsi melahirkan di kalangan remaja di

bawah usia 18 tahun

• Penggunaan kondom yang dicatat secara

terpisah berdasarkan jenis kelamin dan usia

6. Bacaan Lanjutan

Community Pathways to Improved Adolescent Sexual and Reproductive Health: A conceptual framework and suggested outcome indicators.

Inter-Agency Working Group (IAWG) on the Role of Community Involvement in Adolescent Sexual and Reproductive Health, December 2007. http://www.unfpa.org/upload/lib_pub_ file/781_filename_iawg_ci.pdf

Adolescent Friendly Health Services: Agenda for Change. WHO,WHO/FCH/CAH/02.14. http://whqlibdoc.who.int/hq/2003/WHO_FCH_ CAH_02.14.pdf

Senderowitz J, Solter C and Hainsworth G.

Clinic Assessment of Youth Friendly Services: A tool for Assessing and Improving Reproductive Health Services for Youth. Pathfinder

International, 2002. http://www.pathfind.org/ site/DocServer/mergedyFStool.pdf?docID=521

Adolescent Reproductive and Sexual Health Toolkit for Humanitarian Settings. UNFPA and Save the Children, 2009. http://www. savethechildren.org/programs/health/ publications.html

Daftar Isi

1. PENDAHULUAN 111 2. TUJUAN 112 3. PENyUSUNAN PROGRAM 112 3.1 Needs assessment/penilaian kebutuhan 113 3.2 Layanan keluarga berencana berkualitas tinggi 115

3.3 Logistik kontrasepsi 115

3.4 Kesempatan untuk layanan KB 116

3.5 Sumber daya manusia 117

3.6 Komunikasi, informasi dan edukasi 117

3.7 Pelatihan penyedia layanan KB 117

3.8 Penyediaan layanan keluarga berencana 119

3.9 Metode keluarga berencana 121

3.10 Keluarga berencana pasca melahirkan 133

3.11 Keluarga berencana untuk ODHA 134

3.12 Infertilitas 134

3.13 Keterlibatan laki-laki dalam program keluarga berencana 135

3.14 Advokasi 135

4. PERTIMBANGAN HAK ASASI MANUSIA DAN HUKUM 136

4.1 Standar hak asasi manusia 136

4.2 Tantangan dan Kesempatan 136

5. MONITORING 137 6. BACAAN LANJUTAN 138

Semua orang memiliki hak untuk layanan