Acara televisi atau progam televisi merupakan acara-acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi. Keberhasilan sebuah stasiun televisi, biasanya diukur oleh tingkat rating yang tinggi. Tingkat keberhasilan ini dilakukan atau didapatkan oleh lembaga riset. Acara televisi di Indonesia, semakin bervariasi seiring dengan berjalannya waktu, banyak program-program baru yang
fresh dan inovatif, dan seharusnya, stasiun televisi Indonesia juga memberikan tayangan-tayangan yang memiliki nilai edukatif. Pada kenyataannya, stasiun televisi saat ini hanya mengejar bentuk komersial dan mengejar rating untuk mencari keuntungan. Padahal, siaran tersebut hanya berisi hiburan semata dan tidak ada sisi edukatifnya. Fungsi acara televisi yang seharusnya mendidik, lama-lama menjadi acara yang sarat kekerasan dan pornografi
ringan yang bisa merusak kesopanan budaya yang sudah ada sejak lama, Sejumlah pihak menduga media khususnya televisi sebagai salah satu pemicu munculnya tindakan hal-hal tersebut. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah seharusnya bertindak tegas atas siaran-siaran yang melanggar undang-undang penyiaran maupun Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Progam Penyiaran (P3SPS).
(Gambar 4.31 Adegan pemeran terkena panah)
Sinetron Manusia Harimau sebagai contohnya, sudah mendapat teguran dari KPI beberapa kali karena di dalamnya terdapat banyak adegan kekerasan. Salah satunya pada tanggal 23 September 2014 KPI membuat surat peringatan kepada stasius
televisi PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia yang memproduksi Manusia Harimau. Peringatan tersebut berisi adegan pria menembakkan anak panah ke dada temannya dan anak panah tersebut menancap tepat di dadanya serta adegan mencekik leher. Adegan tersebut melanggar Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1) dan Pasal 37 ayat 4 huruf (a).Muatan yang mendorong remaja belajar tentang perilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari dan Program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan/atau remaja. Berdasarkan pelanggaran di atas, KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis.
Kekerasan diartikan sebagai sifat atau hal yang keras, kekuatan dan paksaan. Sedangkan paksaan berarti tekanan, desakan yang keras. Jadi kekerasan berarti membawa kekuatan, paksaan dan tekanan (Poerwadarminta, 1999: 102). Sedangkan dalam bahasa inggris, kekerasan (violence) berarti sebagai suatu serangan atau invasi fi sik atau integritas mental psikologi seseorang ( menurut
Fajar menurut Englander dalam Saraswati, 2006: 13).
(Gambar 4.31 Adegan pemain mencekik pemain lain)
Kekerasan dapat dibagi menjadi dua, yang pertama kekerasan non verbal, kekerasan non-verbal merupakan kekerasan yang merupakan perilaku kekerasan yang menyentuh kepada organ
fi sik secara langsung dan menimbulkan rasa sakit pada anggota
tubuh secara lahiriah, kekerasan ini bisa berupa pencekikan atau pemukulan yang menyebakan sakit fi sik ditubuh. Kedua
kekerasan verbal merupakan kekerasan melalui kata-kata, maka jenis kekerasan ini nantinya tidak berdampak pada rasa sakit secara lahiriah, melainkan lebih ditujukan kepada rasa sakit bathiniah seseorang, kekerasan verbal bisa berupa tindak perkataan meremehkan kemampuan orang lain yang dilakukan secara tidak langsungnya itu tidak dilakukan di depan orang yang bersangkutan bentuknya dapat berupa penertawaan dan senyuman sinis atau bisa juga berupa perkataan yang memburukkan atau mencemarkan nama baik orang lain.
Televisi dan media lainnya memainkan peranan yang teramat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan menonton televesi kelas berat mengultivasi suatu anggapan bahwa dunia adalah tempat yang penuh dengan kekerasan, dan para penonton televisi kelas berat merasa bahwa terdapat lebih banyak kekerasan di dunia dibandingkan dengan kenyataan atau dari pada yang dirasakan penonton kelas ringan. Dalam mengemukakan posisi realitas yang dimediasi, menyebabkan konsumen memperkuat realitis sosial mereka. Analisis kultivasi membuat beberapa asumsi. Karena teori
ini dari dulu hingga kini merupakan teori yang didasarkan pada televisi, ketiga asumsi ini menyatakan hubungan antara media dan budaya (West, 2007: 15). Pertama, televisi secara esensi dan fundamental berbeda dengan bentuk-bentuk media massa lainya. Kedua, televisi membentuk cara berpikir dan membuat kaitan dari masyarakat kita. Ketiga, pengaruh dari televisi terbatas.
Televisi merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah rumah tangga, di mana setiap anggota keluarga mempunyai akses yang tidak terbatas terhadap televisi. Dalam hal ini, televisi mampu mempengaruhi lingkungan melalui penggunaan berbagai simbol, mampu menyampaikan lebih banyak kisah sepanjang waktu. Hal ini sesuai dengan teori Kultivasi dijelaskan bahwa bahwa pada dasarnya ada dua tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik saling bertentangan/bertolak belakang, Pertama adalah para pecandu atau penonton fanatik (Heavy Viewers) yaitu mereka yang menonton televisi lebih dari empat jam setiap harinya. Yang kedua penononton biasa (Light Viewers) yaitu mereka yang menonton telvisi tidak lebih dari dua jam setiap harinya. Tanpa sadar kita menjadikan televisi bagian penting dalam hidup kita, karena kita menghabiskan rata-rata dua jam di depan televisi. Dari dua jam tersebut setiap minggu ada sekitar 550 jam televisi ditayangkan dan 90 persen rata-rata orang mendapatkan informasi dan hiburan ditelevisi (Burton,2008: 5).
Bagi anak-anak yang menonton, tentu harus adanya bimbingan dari orang tua atau ditemani selagi menonton. Hal negatif yang menerpa anak-anak bisa berupa menirukan adegan tersebut kepada teman-temannya, alhasil banyak anak-anak menjadi korban. Ini bisa menjadi pembelajaran kepada masing- masing orang tua agar mengontrol jam-jam anak untuk menonton. Jika tidak ada yang mengontrol, maka bisa berdampak juga kepada anak-anak pada saat pembelajaran, mereka akan lebih memilih menonton, dibanding mengerjakan PR-nya dirumah. Orang tua wajib untuk mendampingi anaknya dalam berbagai kegiatan, misalnya meluangkan waktu lebih untuk anak-anak yang dibawah sepuluh tahun, dikarenakan pada usia tersebut anak-anak rentan terhadap pengaruh apa saja yang ada diluar termasuk media televisi, dan orang tua harus mengontrol anak-anaknya untuk bermain dan menonton.
Persepsi apa saja yang terbangun di benak penonton tentang masyarakat dan budaya sangat di tentukan oleh televisi. Melalui kontak dengan televisi, penonton belajar tentang dunia, orang- orang di sekitar, nilai-nilai, dan adat kebiasaan. Tentang berbagai kenyataan hidup yang cenderung dipenuhi berbagai tindakan kekerasan. Televisi menjadi alat utama dimana penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya (Nurudin, 2007: 167). Apa yang ditayangkan televisi diasumsikan sebagai suatu acara yang penting untuk diasajikan bagi pemirsa belum tentu penting bagi khalayak, dikarenakan efektif tidaknya isi pesan yang disampaikan televisi tergantung dari situasi kondisi pemirsa yang menonton, hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial pemirsa.
Dengan kata lain apa yang ditayangkan di televisi, mencerminkan kejadian yang sedang terjadi disekitar kita. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap masing-masing individu dan terkadang menganggap yang ada pada televisi memang ada disekitar kita dan bukan fi ksi. Berdasarkan hal tersebut maka timbul pro
dan kontra mengenai isi konten dari televisi terhadap dampak, menurut (Kuswandi, 1996: 99) ada tiga, pertama acara televisi dapat mengancam nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, kedua acara televisi dapat menguatkan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, dan yang ketiga acara televisi akan membentuk nilai-nilai sosial baru dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Charles R. Wright, aktifi tas komunikasi massa
sebagai media hiburan memiliki fungsi dan disfungsi bagi masyarakat, individu, sub kelompok tertentu, dan kebudayaan. Pertama, fungsi bagi masyarakat adalah pelepasan lelah bagi sekelompok masyarakat yang seharian bekerja keras. Kedua, bagi individu juga sama sebagai pelepas lelah setelah lama beraktifi tas.
Ketiga, bagi sub kelompok tertentu, mereka bisa memperluas kekuasaan, mengendalikan bidang kehidupan melalui media. Keempat, dampak sangat terlihat di bidang kebudayaan, dimana media dapat memperlemah estetik atau budaya yang sudah ada. Untuk di bagian disfungsi sudah jelas bagi sub kelompok tertentu menguntungkan dan merugikan bagi masyarakat, yaitu pengalihan isu-isu yang ada agar masyarakat bisa melupakan isu-
isu yang lama. Bagi individu, disfungsi media di gunakan untuk meningkatkan kepastian, memperendah cita rasa, memungkinkan pelarian atau pengasingan diri, dan pastinya untuk budaya juga berdampak pada budaya-budaya yang ada (Wright, 1998: 23). Seperti yang sudah dirumuskan oleh Charles, fungsi hiburan di media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungksi lainya, hal ini membuat televisi menjadikan alat utama untuk melepas lelah setelah seharian berkaktifi tas. Pelaksanaan etika komunikasi massa sulit