Perkembangan media yang sangat pesat, membuat manusia mudah untuk mendapatkan berbagai informasi secara update, salah satunya melalui media televisi. Media televisi merupakan sarana penyampaian informasi yang dapat mempengaruhi perilaku manusia, baik kearah yang positif maupun kearah yang negatif. Televisi telah melahirkan beragam informasi melalui iklan, fi lm,
sinetron, berita, talkshow dan lain sebagainya. Tidak sedikit dari masyarakat yang meluangkan waktunya hanya untuk menonton tayangan dari media televisi ini, salah satunya adalah dengan menonton sinetron. Manusia Harimau merupakan sebuah sinetron
produksi MD Entertainment milik stasiun televisi MNCTV yang ditayangkan setiap hari pada pukul 19:00 hingga pukul 20.00 WIB.
(Gambar 4.32 Bumper dari sinetron Manusia Harimau)
Sinetron ini mengisahkan tentang manusia berkarakteristik dan bertingkahlaku seperti hewan yang bersaingan dengan manusia hewan lainnya. Sinopsis dari fi lm ini berawal dari kisah
Arga, seorang siswa di SMA Bunga Bangsa yang mendadak mempunyai kekuatan luar biasa dan berubah menjadi manusia
harimau. Arga sering terganggu dengan kehebatan yang ia miliki, karena ketika dalam emosi tertentu, Arga dapat langsung berubah menjadi manusia harimau, dan nafsunya untuk membunuh pun selalu muncul. Perubahan Arga yang tak terkontrol, membuat jiwa Arga kacau. Arga memiliki seorang sahabat bernama Bembi yang terus berusaha membantunya untuk mengendalikan emosi. Bembi menemukan cara supaya Arga dapat mengendalikan emosinya, yaitu dengan cara mengingat orang yang dicintainya. Cara ini selalu diterapkan oleh Arga, jika dalam keadaan emosi, Arga selalu mengingat Citra, kekasih hatinya.
Di sisi lain, Arga terkejut karena ia telah mengetahui adanya bangsa lain disekitanya, yakni bangsa singa dan bangsa serigala. Bangsa singa membawa dendam masa lalu kepada bangsa harimau, untuk memusnahkan manusia harimau serta mempunyai misi untuk mendapatkan kekuatan abadi yang tiada tara dengan cara menikahi putri dari keturunan manusia harimau, yaitu Citra. Citra dan Arga saling mencintai, namun dengan semakin eratnya hubungan mereka, membuat berbagai kendala bermunculan. Sinetron manusia harimau ini memang cukup menghibur bagi setiap penikmatnya. Selain menampilkan kisah tentang pertemanan dan percintaan, di dalam sinetron ini terdapat pula kisah permusuhan yang mengandung unsur kekerasan, serta tidak layak untuk dipertontonkan, terutama mengingat jam tayang dari sinetron, yaitu dibawah dari jam 22:00. Penayangan sinetron dengan unsur kekerasan dibawah jam 22:00 berpotensi bahwa anak-anak masih bisa menonton tayangan kekerasan yang berada di dalam sinetron tersebut. Konsekuensinya, tayangan kekerasan yang ditonton anak-anak secara terus menerus menyebabkan anak-anak menjadi agresif (Trunstall, 1978:126-136).
Perilaku kekerasan dalam sinetron manusia harimau ini muncul karena adanya karakter sifat dari para pemain sebagai manusia berkarakteristik setengah hewan dalam mempertahankan kelompok mereka dari serangan bangsa manusia berkarakteristik hewan lainnya. Hal ini berkaitan dengan pelanggaran terhadap Peraturan Komisi Penyiaran tentang Pedoman Perilaku Penyiaran Tahun 2012 Bab XIII, Pasal 25, yang menyebutkan bahwa promo program siaran yang mengandung muatan adegan kekerasan dibatasi hanya boleh disiarkan pada klasifi kasi D, pukul 22:00 hingga 03:00
waktu setempat. Contoh kekerasan yang terdapat pada sinetron ini yakni adanya adegan pemukulan, penonjokkan, pengeroyokan, penyekapan, dan perkataan kasar di setiap episodenya.
Menyaksikan tayangan kekerasan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan dampak sebagai berikut : Kekerasan mengajarkan perilaku agresif, menekan kemampuan mengekang perilaku agresif, berkurangnya kepekaan dan menganggap kekerasan sebagai hal biasa, serta tayangan televisi yang terlalu lama ditonton dapat membentuk kesan tentang realitas (Hjelle,
1981:262).
(Gambar 4.33 dan Gambar 4.34 Adegan penyekapan terhadap Arga dengan menggunakan rantai pada Episode 34 pukul 19.30 Gambar diatas adalah adegan pemain dalam pencarian manusia serigala berkekuatan tinggi yang saat itu sedang mengincar kalung yang dikenakan oleh Citra, tiba-tiba saat di tengah perjalanan Arga dan Bara justru terkena jebakan dari manusia serigala, pundak mereka dipukul dari belakang menggunakan kayu hingga tidak sadarkan diri, saat sadar, Arga dan Bara terkejut melihat tubuh mereka yang telah terikat dipohon. Pada episode lainnya, terdapat unsur kekerasan yang menampilkan adegan perkelahian, seperti menonjok dan menendang.
(Gambar 4.35 Adegan Perkelahian antar pemain Manusia Harimau pada Episode 35, Pukul 19.00)
Arga dan Bara berkelahi, berusaha menunjukkan kekuatan mereka dalam memperebutkan Citra untuk dijadikan sebagai pasangan. Bebarapa tayangan kekerasan dalam sinetron ini belum sesuai dengan peraturan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang telah berlaku, pasal pelanggaran sinetron ini terkait dengan SPS (Standar Program Siaran) Tahun 2012 Bab XIII, Pasal 23 huruf (a) tentang menampilkan secara detail peristiwa kekerasan, seperti tawuran, pengroyokan, perang, penusukan penyembelihan, mutilasi, terorisme, pengrusakan barang-barang secara kasar atau ganas, pembacokan, penembakan atau bunuh diri. Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Bab XIII pasal 17 pasal 17 ayat 2 yang berbunyi Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang menertawakan, merendahkan, menghina orang lain dan kelompok masyarakat. SPS (Standar Program Siaran) Bab XIII, pasal 24 ayat 1 yang tentang Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun non verbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok, mesum, cabul,dan atau menghina agama Tuhan dan agama.
Banyaknya pelanggaran kekerasan dalam sinetron ini dapat dilihat melalui data bagan berikut:
(Infografi s 4.9 Presentase tayangan kekerasan pada sinetron GGS
Data ini menunjukkan bahwa tingkat persentase kekerasan pada Episode 34 menggunakan benda atau senjata tajam sebanyak 4%, pukulan/ tonjokkan/ cakaran 13%, tendangan 1%, dan kata- kata kasar 3%, serta di Episode 35, kekerasan dengan benda atau senjata tajam sebanyak 2%, pukulan/ tonjokkan/ cakaran 15%, tendangan 2%, dan kata-kata kasar 1%. Hal ini membuktikan bahwa tayangan ini masih perlu berbagai perbaikan, agar tayangan yang ada dalam sinetron ini dapat sesuai dengan peraturan pertelevisian yang telah berlaku.