Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Globalisasi informasi dan komunikasi setiap media massa jelas menghadirkan suatu efek sosial yang bermuatan perubahan nilai-nilai sosial dan budaya manusia. Pengaruh acara televisi sampai saat ini masih terbilang cukup kuat dibandingkan dengan radio dan surat kabar. Hal ini terjadi karena kekuatan audiovisual televisi telah menyentuh segi-segi kejiwaan pemirsa. Terlepas dari pengaruh positif atau pengaruh negatif, pada intinya media televisi telah menjadi cerminan budaya tontonan bagi pemirsa dalam era informasi dan komunikasi yang semakin berkembang pesat.
Dalam dunia televisi, gambar mempunyai arti dan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan kata-kata karena gambar dapat bercerita sendiri apa yang sedang terjadi. Kekuatan gambar di televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia, kelompok masyarakat bahkan anak-anak. Maka maraknya persaingan di dunia penyiaran menjadikan suatu persaingan dalam menyajikan program-program tayangan yang menarik baik itu sinetron, hiburan, pendidikan, maupun informasi. Namun persaingan itu terkadang di salah gunakan bayaknya sinetron-sinetron tidak mendidik dan banyak menayangkan unsur kekerasan dokumen. Kekerasan dokumen merupakan penampilan gambar kekerasaan yang dipahami pemirsa atau pembaca dengaan mata telanjang sebagai dokumentasi atau rekamaan fakta kekerasan. Kekerasan dalam media bisa dipersentasikan melalui isinya, misalanya tindakan (pembunuhan, perkelahian, pertengkaran, kerusuhan, dan tembakan), bisa juga dengaan setuasi, (konfl ik, luka dan tangisan) dimana emosi yang terungkap
menggambarkan perasan yang terdalam. Kekerasan semacam itu bisa menarik, mengundang simpati, menjijikan, bisa membosankan, atau membuat marah (Haryatmoko, 2007: 128).
Kekerasan juga salah satu elemen yang sering muncul dalam dunia hiburan audio-visual mulai dari sinetron, komedi, fi lm dan
lain-lain. Salah satu contohnya sinetron ‘Manusia Harimau’ yang tayang di MNCTV setiap hari pukul 19.00 WIB. Namun Sinetron ini telah melangar Undang-undang penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan P3 (Pedoman Perilaku Penyiaran) dan SPS (Standar Program Siaran) yang menjadi peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Contoh pertama pada tayangan perdananya Sinetron ‘Manusia Harimau’ yang tayang di MNCTV pada tanggal 4 september 2014 pukul 19.00 WIB. Sinetron yang di sutradrai oleh AC Manopo ini Telah menayangkan adegan kekerasan yang menampilkans eorang pria menyeret dan membenturkan temanya ke tembok diiringi adegan pengeroyokan, selanjutnya adegan Arga di lempari bola basket oleh Bara lalu Arga terlempar jauh ke kursi dan dinding bangunan sekolah.
(Gambar 4.25 dan gambar 4.26 Perkelahian Reno dan Bombom lalu Bombom terlempar ke dinding yang tayanag pukul 19.00 di MNCTV
pada tanggal 4 september 2014)
Banyaknya adegan kekerasan yang ditayangkan dalam sinetron Manusia Harimau pada tanggal 4 September 2014 di MNCTV. Kekerasan dalam sinetron jelas melanggar Undang-undang penyiaran No. 32 Tahun 2002. Pada pasal 36 ayat (1) dari regulasi ini disebutkan bahwa siarang wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan maanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama, dan budaya indonesia. Harusnya hal ini lebih diperhatikan oleh MNCTV, karena melanggar undang-
undang penyiaran. Kemudian sinetron Manusia Harimau yang tayang pada tanggal 4 September 2014 juga melanggar PPP (pedoman perilaku penyiaran) pasal 15 ayat (1) dan pasal 17 yang menyatakan bahwa lembaga penyiaran wajib memperhatikan dan melindungi hak dan kepentingan. Kedua, lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang menertawakan, merendahkan, dan/atau menghina orang lain dan/atau kelompok masyarakat sebagai mana yang dimaksud ayat (1). Ketiga Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program siaran bermuatan kekerasan.
Selain Undang-undang Penyiaran dan PPP (Pedoman Perilaku Penyiaran), sinetron ini juga telah melanggar SPS (Standar Program Siaran), pasal 37 ayat 4 huruf (a) yang menetapkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang prilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan prilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu pada tanggal 9 september 2014 yang tayang pada pukul 19.11 WIB. Sinetron “Manusia Harimau” telah menayangkan adegan pria menembakkan anak panah ke dada Arga dan anak panah tersebut menancap tepat di dadanya serta adegan mencekik leher.
Adegan ini telah melangar Undang-undang penyiaran No. 32 Tahun 2002. Pada pasal 36 ayat (1) dari regulasi ini disebutakan bahwa siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan maanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama, dan budaya Indonesia.
(Gambar 4.27 Adegan Arga di tembak dengan anak panah oleh temanya yang tanyang pada pukul 19.11 WIB di MNCTV pada tanggal
Pada UU Penyiaran sudah dijelaskan tentang pelanggaran dan pembatasan adegan kekerasan dan sadisme. Lembaga penyiaran dilarang menyajikan program yang dapat dipersepsikan sebagai mengagung-agungkan kekerasan atau menjustifi kasi kekerasan
sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dari sudut pandang pisikologi, penonton akan terhibur ketika melihat kenyataanya bahwa kekerasaan mendapat upahnya dengan keberhasilan tokoh(Haryatmoko, 2007: 123). Pada menit selanjutnya juga menayangkan adegan Arga si manusia harimau diikat di pohon dan kedua tanganya di rantai. Sampai rantainya putus dan arga melawan orang yang mengikatnya, lalu Arga dipukuli dan dilempar ke pohon.
(Gambar 4.28 Adegan Arga diikat sama rantai dan di seret ketanah lalu di lemparkan kepohon yang tanyang pada pukul 19.11 WIB di
MNCTV pada 9 September 2014)
Program sinetron Manusia Harimau yang tayang di MNCTV banyak mengandung unsur kekerasan atau adengan yang memperlihatkan kekerasan fi sik atau pun kekerasan verbal. Yang
paling banyak di tampilkan adegan kekerasan fi sik. Kekerasan yang
dilakukan oleh pelaku terhadap korban dengan cara memukul, menampar, mencekik, menendang, melempar, barang ketubuh, menginjak, melukai, dengan tangan kosong dengan alat/senjata, menganiaya, dan membunuh (Sunarto, 2009:57). Kemudian pada
tangal 17 september 2014 jam 19.00 WIB, sinetron ini telah melangar undang-undang penyiaran No. 32 Tahun 2002. Pada pasal 36 ayat (1) dari regulasi ini di sebutakan bahwa siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan maanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama, dan budaya indonesia. Seorang murid SMA saling mengejek dan menghina contohnya; bodoh, goblok, seperti bakpao. Lalu mereka saling dorong mendorong, memukul, menendang satu sama lainya hingga salah satu pingsan. Adegan ini telah melanggar penayangan adegan kekerasan secara verbal maupun non verbal.
Bahasa verbal adalah sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal mengunakan kata-kata yang mempresentasikan berbagai aspek realitas individual kita (Mulyana, 2007: 261). Istilah non verbal bisanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa Komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa bayak peristiwa dan perilaku non verbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku non verbal itu tidak sungguh- sungguh bersifat non verbal (Mulyana, 2007: 347). Selain melanggar Undang-undang Penyiran tayanggan ini juga telah melanggar P3 (Pedoman Perilaku Penyiaran) pasal 15 ayat (1) dan pasal 17 dan SPS (Standar Program Siaran). Selain itu melanggar SPS pasal 37 ayat 4 huruf (a) yang menetapkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang prilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan prilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya P3(Pedoman Perilaku Penyiaran) pasal 15 ayat (1) dan pasal 17.
(Gambar 4.29 dan Gambar 4.30 Adegan remaja berkelahi dan Anak sekolah dihajar preman. Adegan ini tayang pada tanggal 17 September
Bahaya kekerasan dalam media mempunyai alasan yang sangat kuat, meskipun sering lebih mencerminkan bentuk ketakutan dari pada ancaman real. Apa yang ditakutkan adalah skenario penularan kekerasan dalam media menjadi kekerasan sosial. Informasi tentang keekerasan juga bisa menambah kegelisaan umum sehingga membangkitkan sikap relatif masyarakat, alat penegak hukum. Menurut hasil studi tentang kekerasan media televisi di Amerika Serikat oleh American Pscyholodical Association
pada tahun 1995, ada 3 kesimpulan yang menarik yang perlu dapat perhatian serius; pertama, mempersentasikan program kekerasan meningkatkan prilaku agresif. Kedua memperlihatkan secara berulang tayangaan kekerasan yang dapat menyebabkan ketidak pekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban. Ketiga, tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga akan menciptakan representasi dalam diri pemirsa, betapa bahayanya dunia (Haryatmoko 2007: 124)
(Infografi s 4.7 Kekerasan Fisik Pada Sinetron Manusia Harimau Pada