• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media televisi sebagai salah satu sarana hiburan masyarakat mampu menghipnotis penontonnya untuk duduk manis menikmati setiap tayangan yang diberikan. Televisi pun membuat masyarakat candu dengan setiap programnya, hingga memberikan keuntungan dalam bentuk rating yang tinggi bagi sang pemilik media. Program acara yang ditayangkan pun bermacam-macam dimulai dari pemberitaan, talkshow, variety show, infotainment, sinetron, dan masih banyak lagi program lainnya yang ditayangkan untuk menghibur atau memberikan informasi. Pada hakikatnya media televisi merupakan salah satu komunikasi massa secara umum yang memiliki tiga fungsi yakni : fungsi edukasi, informasi, dan hiburan (Nurudin, 2011 : 63).

Dari ketiga fungsi tersebut, dapat kita lihat fungsi hiburan lebih mendominasi dunia pertelevisian, dikarenakan minat penonton yang lebih menyukai tayangan yang berbau hiburan dengan kemasan percintaan, bullying, kuis-kuis berhadiah, dan tayangan bernuansa komedi. Sedangkan fungsi edukasi dan informasi pada televisi era kini sangat terbelakang, dengan maraknya fungsi hiburan ‘ecek-ecek’ yang banyak melanggar norma hidup bermasyarakat, hal ini tidak sepatutnya dikonsumsi oleh publik. Salah satu fungsi hiburan yang dimaksud adalah tayangan sinetron. Sinetron menjadi salah satu program populer yang dinanti oleh setiap kalangan, baik anak-anak, remaja dan dewasa. Hal ini dikarenakan sinetron adalah cerita fi ksi yang

dibuat dengan latar belakang kehidupan sehari-hari, oleh karena itu persepsi dari masyarakat dapat terbangun oleh setiap adegan dan alur cerita yang ditampilkan.

Sinetron yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan public dan mendapatkan rating tinggi, adalah sinetron Ganteng Ganteng Serigala di SCTV. Berlatar belakang dunia remaja dan

konfl ik keluarga, Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) menceritakan

kisah keluarga-keluarga vampir yang mencari darah suci untuk mendapatkan kekuatan sakti, mereka saling berlomba untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Mereka memakan darah hewan dan manusia, namun darah manusia akan membuat diri mereka lebih kuat dibandingkan dengan darah hewan lainnya. Kisah ini dimulai dari Ayah Agra, tokoh yang menjadi salah satu kepala keluarga vampir yang memerintah anaknya (Tristan, Digo, Yasha, Liora, dan Thea) untuk bersekolah di International School. Ia meminta Tristan untuk mendekati Nayla yakni siswi SMA tersebut yang memiliki darah suci. Hingga akhirnya Nayla jatuh cinta kepada Tristan.

Sinetron ini selalu dinanti oleh penontonnya, bahkan banyak remaja yang kecanduan untuk mengikuti setiap episode yang ditayangkan. Hal ini tentu saja berhubungan dengan talent dari kalangan para artis muda terpopuler, yang memainkan peran dalam GGS seperti : Kevin Julio, Jessica Mila, Ricky Harun, Aliando Syarief, dan Prilly Latuconsina. Faktor pendukung inilah yang membuat sinetron ini menjadi tayangan favorit, terlebih untuk kaum remaja di Indonesia. Bahkan sejak episode pertama,

Ganteng-Ganteng Serigala sudah mendapat respon positif dan rating tertingggi. Namun, rating dari suatu tayangan tidak menentukan baik-buruknya tayangan tersebut terhadap masyarakat, karena penonton saat ini lebih menyukai sinetron yang bertemakan hal-hal yang tidak logis dan tidak memiliki nilai pendidikan. Begitupun dalam sinetron ini, banyak menampilkan adegan-adegan yang tidak dapat diukur oleh logika seperti adegan memakan darah kelinci dan memakan darah manusia. Tidak hanya itu, GGS juga menampilkan beragam adegan kekerasan yang tentunya sangat tidak baik dikonsumsi oleh masyarakat.

Kekerasan dalam fi lm ksi, siaran, dan iklan menjadi bagian

dari industri budaya yang tujuan utamanya ialah mengejar rating program tinggi dan sukses pasar. Program yang berisi kekerasan sangat jarang menmpertimbangkan aspek pendidkan aspek pendidikan, etis, dan efek traumatisme penonton (Haryatmoko, 2007 : 121). Komisi Penyiaran Indonesia sebagai lembaga independen yang bertugas untuk mengembangkan kebijakan pengaturan, pengawasan, dan pengembangan isi siaran mengeluarkan teguran

tertulis kepada sinetron Ganteng-Ganteng Serigala terhadap pelanggarannya yaitu, program sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala” yang ditayangkan oleh stasiun SCTV pada tanggal 26 April 2014 pukul 19.20 WIB, sudah melangar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Penyiaran (P3SPS) terkait pasal 23 yang menyatakan program siaran yang menayangkan adegan kekerasan, dilarang secara detail menampilkan peristiwa kekerasan baik itu kekerasan dalam bentuk tawuran, penyiksaan, bahkan tindakan sadis kepada manusia dan hewan.

Sinetron ini menayangkan adegan murid berseragam sekolah yang tengah memakan kelinci hidup dengan mulut yang berlumuran darah. Jenis pelanggaran ini jelas tertera pada pasal 23 dalam hal menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap hewan dan menampilkan adegan memakan hewan dengan cara yang tak lazim. Setiap episode yang ditayangkan juga tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan, ilmu pengetahuan, ataupun budi pekerti. Perkembangan psikologis remaja pun bertentangan dengan etika yang ada di lingkungan pendidikan. Beberapa pelanggaran dalam sinetron ini dapat memberikan contoh perilaku agresif dan berbau negatif yang sama sekali tidak mendidik penonton,berbagai macam pelanggaran diantaranya :

(Gambar 4.9 dan gambar 4.10 Tino salah satu siswa SMA yang juga manusia serigala memakan kelinci hidup-hidup dengan mulut

berlumuran darah di Episode 6)

Pada gambar diatas terlihat siswa bernama Tino yang berniat untuk berangkat sekolah terhenti karena melihat seekor kelinci di tepi jalan, lalu memakannya. Adegan ini memperlihatkan Tino dengan mulut berlumuran darah memakan seekor kelinci yang

masih hidup. Gambar tersebut juga menunjukkan bagaimana kekerasan terhadap hewan, ditunjukkan secara terang-terangan, tanpa adanya sensor. Hal ini seharusnya menjadi suatu peringatan, agar tayangan-tayangan yang tidak layak, tidak seharusnya ditayangkan.

(Gambar 4.11 dan Gambar 4.12 Kekerasan fi sik dan perkelahian di

GGS pada episode 10)

Adegan selanjutnya yang terdapat dalam sinetron ini adalah kekerasan. Kekerasan dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu kekerasan verbal dan kekerasan non verbal (fi sik). Terlihat pada

gambar diatas Digo dan Tristan sudah mengadegankan kekerasan

sik dalam bentuk perkelahian, disini penonton dapat melihat

proses kejadian perkelahian mereka tanpa sensor gambar. Dapat kita lihat pada saat ini media televisi dapat merubah psikologi cara bersikap dan berprilaku seseorang hanya karena sering melihat apa yang mereka tonton. Bahkan kekerasan fi sik para remaja pun

semakin meningkat di Indonesia, hanya karena sering melihat kekerasan di televisi.

(Gambar 4.13 dan gambar 4.14 Adegan berbahaya Sissy melompat ke kobaran api dan tubuh yang terbakar di sinteron GGS Episode 121)

Pada episode 121 sinetron GGS ini menayangkan adegan siswi SMA yakni Sissy melompat ke dalam kobaran api yang membara hingga mengakibatkan luka bakar ditubuhnya. Adegan berbahaya seperti ini tidak pantas diperlihatkan kepada penonton. Setiap adegan berbahaya yang ditampilkan oleh televisi, harus menuliskan pemberitahuan di dalam tayangannya. Terlebih adegan berbahaya ini dapat ditiru oleh penonton yang ingin mencoba untuk mencelakakan diri seperti gambar diatas. Di dibidang perizinan, kewenangan KPI hanya bersifat sekunder, hanya diberikan kewenangan melakukan pengawasan isi siaran, pembuatan PPP- SPS, serta menjatuhkan sanksi administrasi pelanggaran isi siaran (Rasyid, 2013 : 55). KPI pun tidak dapat menghentikan program tayangan dari televisi. Teguran surat tertulis yang sudah diberikan KPI kepada program GGS masih tidak diacuhkan, terbukti masih banyaknya pelanggaran yang dulang kembali dengan mengadegankan kekersan, adegan berbahaya, bahkan adegan berpelukan dan ciuman remaja SMA.

Bisa kita bayangkan jika setiap harinya masyarakat menonton program acara televisi dengan menayangkan sinetron-sinetron yang mengadopsi cerita percintaan klise, dengan menampilkan adegan bermesraan, prilaku kekerasan, dan beberapa tayangan negatif lainnya. Hal tersebut tentunya dapatmerusak moral anak bangsa Indonesia.Karena menurut teori kultivasi, persepsi masyarakat dapat terbangun dengan tayangan-tayangan yang disuguhkan oleh sang “kotak ajaib” (Nurudin, 2011 : 167). Sudah saatnya kita cerdas untuk memilih tayangan yang tidak membodohi kita dengan unsur hiburan yang banyak memberikan sisi negatif. Dengan kritis terhadap media televisi, kita dapat memilih-memilah tayangan yang sepatutnya baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Melihat Lebih Dekat Kegantengan