Di era informatika ini, menjamurnya stasiun televisi di Indonesia menjadikan para penonton mendapat banyak pilihan ketika ingin menonton. Setiap stasiun televisi berlomba – lomba untuk membuat acara yang dapat menarik minat penonton. Dari acara talkshow, variety show, music show bahkan sampai acara yang menggabungkan beberapa konsep acara. Bahkan tema yang dipilih pun semakin beragam, dari yang mengambil tema tentang motivasi, human interest, bahkan dengan tema yang berbau “esek-esek” pun ada.
Entah sebuah kebiasaan ataukah kebinasaan, masyarakat rela meluangkan waktu luangnya hanya untuk menonton televisi terlepas dari apa yang mereka tonton. Sebuah hal menjadi ironi ketika acara yang mereka tonton itu adalah acara yang kurang mendidik etika dan moral masyarakat. Dan bagaimana jika acara yang dikhususkan untuk kalangan dewasa itu ditonton oleh anak dibawah umur tanpa pengawasan orang tua? Tidak dapat dipungkiri bahwa anak – anak tersebut akan menjadi dewasa sebelum waktunya bila terus mengkonsumsi acara – acara dewasa. Senada dengan kalimat sebelumnya, teori kultivasi menjelaskan bahwa televisi, diantara media modern lainnya telah mendapatkan tempat yang utama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendominasi “lingkungan silmbolik” kita, menggantikan pesan mengenai realitas untuk pengalaman pribadi dan alat lain untuk mengetahui mengenali dunia. (McQuail, 2011: 256)
Televisi juga digambarkan sebagai “lengan budaya” dari tatanan yang mapan utamanya bertindak untuk memelihara, menstabilkan, dan meneguhkan alih – alih untuk menggeser, mengancam, atau melemahkan keyakinan serta perilaku konvensional (Groos, 1977: 180). Dalam teori kultivasi, menonton televisi secara berangsur-angsur mengarahkan pada adopsi keyakinan mengenai sifat dasar dari dunia sosial yang mengikuti
pandangan akan realitas yang memiliki stereotip, terdistorsi, dan sangat selektif terhadap suatu tonton yang ditayangkan oleh stasiun televisi. (McQuail, 2011: 257)
Sudah menjadi rahasia umum, pada saat prime time yakni pada pukul 18.00 ke atas intensitas menonton masyarakat meningkat. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa ada segelintir masyarakat yang menonton televisi lebih dari jam prime time, bahkan sampai dengan terbitnya fajar atau tergolong ke heavy viewers. Hal tersebutlah yang justru dimanfaatkan oleh media televisi untuk menayangkan sebuah tayangan yang di kategorikan sebagai sebuah tayangan yang hanya dikhususkan untuk kalangan dewasa.Salah satu talkshow yang sedang menjadi hits dan tergolong dalam kategori dewasa adalah acara “Sebelas Duabelas” yang tayang di Kompas TV setiap hari Senin – Jumat dari pukul 23.00 WIB – 24.00 WIB. Acara ini bertemakan bincang – bincang ringan bersama narasumber menurut tema yang dibahas pada malam itu. Dengan host Pandji Pragiwaksono, acara ini menjadi lebih ceria dengan sentuhan komedinya yang begitu kental dan tak luput dari komedi verbal yang berbau pornografi .
Pada tanggal 30 September 2014, Sebelas Duabelas mengambil tema “Artis Cilik”. Dengan bintang tamunya adalah Tasya “Gembala Kecil”, Dea Ananda dan Adi Bing Slamet. dan tetap dengan host, Pandji Pragiwaksono.
(Gambar 2.6 Ketika host membuka acara Sebelas Duabelas) Berdasarkan dengan apa yang host utarakan pada saat
opening program, terdapat beberapa kata berkonotasi negatif yang menjurus kepada hal yang berbau pornografi . Jenis pelanggaran
ini dikategorikan sebagai perlanggaran terhadap pasal 3 UU No.32 tahun 2002 , berikut adalah penggalan dari pasal tersebut, “Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh intergrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Seperti yang tertera dalam pasal diatas, bahwa tujuan dari setiap penyiaran itu salah satunya adalah untuk membina watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa. Hal yang berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh host. Pandji menyebutkan kata lele kasur untuk mengibaratkan kelamin pria dan kemudian diperjelas dengan penyebutan “kalo lele kasurnya pengen hidup, harus ditiup – tiup baru lelenya gerak”. Kata yang seharusnya tidak diucapkan malah menjadi makanan sehari – hari bagi anak muda yang notabene adalah pilar bangsa sebagai agen perubahan demi terwujudnya bangsa yang beriman dan bertakwa. Bila tidak ditanggapi dengan serius, tidak dapat dipungkiri bahwa pada pemuda dan pemudi akan dijejajali dengan kata – kata yang berkonotasi negatif seperti apa yang ada di
opening program Sebelas Duabelas di Kompas TV dan berimplikasi secara tidak langsung dengan perilaku mereka dalam menjalani kehidupannya sehari – hari.
Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara dengan mayoritas umat muslim terbesar di Dunia. Negara yang menganut paham – paham Islam dalam melakukan aktifi tas
kenegaraannya. Begitupun dengan stasiun televisi di Indonesia yang seharusnya memperhatikan aspek – aspek Islam dalam melakukan penyiarannya, baik itu dalam produksi maupun dalam pengawasan terhadap hasil dari produksi siaran tersebut.
(Gambar 2.7 Adi Bing Slamet memeluk Dea Ananda pada salah satu segmen di Acara Sebelas Duabelas pada tanggal 30 Spetember 2014)
Berdasarkan gambar di atas, terdapat jenis pelanggaran terhadap pasal 36 ayat (6) UU No. 32 tahun 2002 yang berbunyi, “Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai – nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional”.
Terdapat nilai agama Islam yang diabaikan dalam adegan dalam salah satu segmen tersebut, mereka mengabaikan ajaran Islam untuk saling menghormati antar mukhrim ataupun bukan mukhrim. Seharusnya bintang tamu itu tidak serta – merta memeluk / merangkul yang jelas – jelas itu adalah perempuan dan bukan mukhrim. Hal yang sepatutnya kita sadari sedari dulu, bahwa hal yang menyangkut dengan identitas negara itu harus kita jaga dan pertahankan, jangan sampai dilain waktu terkikis oleh budaya luar yang masuk ke Indonesia. Sungguh ironis memang bila saat ini ajaran – ajaran Islam sudah mulai terkikis oleh budaya barat yang masuk ke Indonesia melalui sektor hiburan baik itu musik, fashion style, serta dari dunia penyiaran.
Dalam penanyangannya, acara Sebelas Duabelas di Kompas TV ini tergolong acara dalam klasifi kasi D menurut jam
tayangnya. Karena pada jam 22.00 – 03.00 waktu setempat adalah ruang yang disediakan KPI untuk acara yang dikategorikan sebagai acara Dewasa yang masuk klasifi kasi D. Namun, Sebelas
Duabelas ini melanggar Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) pasal 21 ayat (3) yang berbunyi, “Lembaga penyiaran televisi wajib menayangkan klasifi kasi program siaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) di atas dalam bentuk karakter huruf dan kelompok usia penontonnya, yaitu: P (2-6), A (7-12), R (13-17), D (18+), dan SU (2+) secara jelas dan diletakkan pada posisi atas layar televisi sepanjang acara berlangsung untuk memudahkan khalayak penonton mengidentifi kasi program siaran”.
(Gambar 2.8 Tayangan Program Sebelas Duabelas yang tidak mencantumkan klasifi kasi program dalam bentuk tulisan)
Tidak dicantumkannya klasifi kasi program siaran dalam acara
sebelas duabelas menjadi alasan kenapa pasal 21 ayat 3 menjerat acara ini. Karena ketentuannya sudah jelas bahwa setiap lembaga penyiaran televisi wajib mencantumkan klasifi kasi siaran tersebut
selama acaranya berlangsung. Sejalan dengan perkembangan zaman untuk kedepannya setiap lembaga penyiaran harus lebih jeli lagi dalam memvisualisasikan apa yang mereka rencanakan agar tidak menyinggung pasal – pasal yang terdapat pada UU No.32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) dan Standar Program Siaran (SPS) yang dibuat oleh DPR dan KPI.
Dapat disimpulkan bahwa efek yang ditimbulkan televisi itu begitu dahsyat. Efek yang ditimbulkan dapat mempengaruhi audience mulai dari efek kognitif , afektif dan behavioral. Dalam hal memenuhi kebutuhan dan kepentingan, televisi memiliki peran besar didalamnya. Peran sebuah televisi mungkin secara tidak langsung dapat memberikan efek kepada audience baik itu efek positif ataupun efek negatif. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa akhir - akhir ini televisi sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi penikmatnya, terjadi pergeseran peran yang tadinya televisi itu hanya ditonton ketika waktu luang sedang melanda, sekarang televisi itu sudah menjadi salah satu kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari.