Media massa selalu mengikuti apa yang sedang populer di jamannya. Hal ini pula yang menuntut media massa terkadang kurang profesional dalam hal menyajikan memberikan informasi serta hiburan demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk menarik perhatian masyarakat, program yang ditawarkan oleh media massa pada umumnya adalah kemasan acara yang sedang populer di masyarakat. Hal-hal seperti ini juga dianggap oleh media massa sebagai peluang pasar. Terkadang konten dan isi pada program tidak disaring terlebih dahulu dan dibuat seadanya.
Saat ini mayoritas media lebih mementingkan share dan rating
dan banyak yang mengabaikan isi siaran, tak peduli berguna bagi masyarakat atau tidak. Cara yang digunakan juga terkadang merugikan kalangan tertentu, misalnya menjadikan perempuan sebagai objek dalam isi program siaran, jelas hal ini sangatlah merugikan bagi perempuan.
Di Indonesia televisi diawasi dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang menyebutkan bahwa “Sebagai kegiatan komunikasi massa, penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial”. Untuk memastikan peran ini dilaksanakan dengan baik, UU Penyiaran memandatkan pengawasan pelaksanaan kaidah ini kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang kemudian menurunkannya dalam kaidah-kaidah yang lebih operasional dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) dan Standar Program Siaran (SPS) atau yang biasa disingkat dengan P3-SPS.
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 pasal 1
menjelaskan pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto,
tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang
memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Dan memuat larangan dan batasan Undang Undang Pornografi pasal 4 untuk memproduksi, membuat,
memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara
eksplisit memuat persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin atau pornografi anak.
Banyak sekali tayangann televisi yang menggunakan perempuan untuk meningkatkan rating suatu acara, dan dalam banyak tayangan tersebut yang ditonjolkan dari perempuan mayoritas hanya kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Hal ini sangat disayangkan, karena seolah-olah hanya hal tersebut yang bisa dijual dari perempuan untuk mendapatkan kepuasaan penonton. Tayangan seperti ini banyak dijumpai baik di dalam acara kuis, reality show, sinetron, infotainment, tayangan tengah malam, iklan, dan utamanya tayangan komedi.
Dalam buku Post-ralitas dijelaskan bahwa kapitalisme yang telah masuk dalam dunia pertelevisian Indonesia sangat berpengaruh pada konten yang di bawa televisi saat ini. Di dalam sistem budaya kapitalisme, tubuh dengan berbagai potensi tanda, citra, simulasi, dan arifi ce-nya menjadi elemen yang sentral dalam ekonomi politik, disebabkan tubuh perempuan (estetika, gairah, sensualitas, erotisme) merupakan raison d’etere setiap produksi komoditi (Piliang, 2010:251).
Sistem kapitalisme telah membuat tubuh perempuan menjadi komoditi karena ia mempunyai nilai tukar yang tinggi. Tubuh khususnya perempuan didalam wacana kapitalisme tidak saja dieksplorasi nilai gunanya (use value) pekerja, prostitusi, pelayan; akan tetapi juga nilai tukarnya (exchange value) gadis model, gadis peraga, hostess; dan kini juga nilai tandanya (sign value) erotic magazine, erotic photography, erotic fi lm, erotic vcd, majalah porno, video porno, vcd porno, cyber porn (Piliang, 2010:264).
Canda Metropolitan adalah program variety show yang merupakan acara komedi yang dikemas dengan sketsa realita
yang dibumbui dengan humor dan guyonan segar. Diramaikan oleh para pelawak dan artis-artis yang sudah tidak asing lagi, seperti Narji, AA Jimmy, Hafi z, Ragil, dan Dede, memberikan
keseruan dengan humor dan tingkah laku yang menggelitik, serta Komik Band yang menambah keseruan dengan lagu-lagu plesetan dan mengeksplorasi alat musik yang dimainkan. Acara semakin menarik dengan dukungan para artis ternama seperti Ayu Ting Ting, Zaskia Gotik, Jenita Janet dan Lee Jeong Hoon. Ditambah dengan kehadiran 3 Ratu Goyang Gosip, yakni Ayu Lia, Ita KDI, dan Dahlia KDI yang akan memberitakan gosip terhangat melalui lagu dan goyangan khasnya.
Program reality show yang tayang setiap hari Senin - Jum’at pukul 21.00 WIB di MNC TV sebenarnya bukan merupakan program pada segmentasi dewasa, akan tetapi banyak ditemukan adegan-adegan yang dianggap kurang pantas seperti adanya goyangan erotis yang diperlihatkan oleh bintang tamu Dewi Persik dan Julia Perez. Tidak hanya bintang tamu, namun 3 Ratu Goyang Gosip yakni Ayu Lia, Ita KDI, dan Dahlia KDI yang memberitakan gosip terhangat melalui lagu dan goyangan khasnya. Canda Metropolitan selalu menghadirkan bintang tamu perempuan yang cantik dan berpakaian seksi dalam setiap episodenya untuk menjadi sumber bahan lawakan.
Gambar tersebut menggambarkan tayangan yang menampilkan goyangan 3 Ratu Goyang Gosip yang terlalu menonjolkan goyangan terlebih pada bagian dada. Adegan yang tayang pada hari Rabu, 17 September 2014 pada pukul 21.47 WIB menuntut para artis untuk menonjolkan lekukan tubuhnya dengan memakai pakaian mini dan bergoyang seksi. Hal ini melanggar peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang Pedoman Perilaku Penyiaran Standar Program Siaran (PPP-SPS) bab XII pada pasal 18 huruf (i) tentang larangan menampilkan gerakan tubuh atau tarian erotis.
Dalam tayangan hiburan komedi, artis bintang tamu dalam acara lawakan cenderung dijadikan objek seksual laki-laki didalam lawakan. Dalam hal ini, acara komedi lebih banyak membuat laki- laki sebagai yang aktif dalam wacana seksual sementara perempuan sebagai wacana yang pasif. Eksploitasi tubuh perempuan ditayangkan dengan cara berpakaian mini untuk memperlihatkan bagian tubuh yang erotis sehingga para artis tersebut sering digunakan sebagai bahan penghiburpenonton. Eksploitasi tubuh perempuan menempatkan perempuan sebagai posisi pelengkap dan objek hasrat.
(Gambar 2.26, 2.27, dan 2.28. Seorang bintang tamu perempuan yang bergoyang memakai rok mini, sehingga menimbulkan hasrat Jaja
Dalam gambar di atas merupakan pelanggaran pornografi ,
namun justru kenyataannya hal tersebut malah menimbulkan riuh tawa dari penonton sehingga Jaja Miharja mengulangnya berkali-kali agar menjadi bahan tertawa berlanjut oleh para penonton. Tayangan ini melanggar aturan P3SPS pasal 18 hurf (i) yang berisi pelarangan menampilkan gerakan tubuh dan tarian erotis. Tubuh perempuan dalam media berperan sebagai objek yang harus dinikmati terutama oleh kaum laki-laki, di mana perempuan ditampilkan secara erotis dan merangsang (Aziz, 2010:124; Sukmono, 2012:84).
(Gambar 2.29 Adegan Jupe dengan Sule Sedang Berbincang) Melihat beberapa adegan dalam tayangan Canda Metropolitan, terlihat eksploitasi tubuh perempuan telah menyentuh batas-batas seksual dan berani dalam menonjolkan bagian sensitif perempuan. Tuntutan konsumsi publik tentang hiburan dalam lawakan memaksa perempuan untuk berani menunjukkan batas-batas seksualnya.
Percakapan dalam Canda Metropolitan juga tidak luput menyangkut hal-hal yang berbau seksualitas. Keempat gambar tersebut adalah adegan pada hari Rabu, 8 Oktober 2014 disaat Julia Perez marah kepada Sule dengan mengatakan “aku kurang apa? Lihat!” sambil membungkukkan badannya sehingga dadanya mergarah tepat disamping Sule. Percakapan itu mendapat respon dari penonton dengan tak hentinya tertawa, kemudian Jupe melanjutkan dengan mengatakan “Pegang! Enak kaaan?”. Penonton semakin dibuat tertawa oleh perkataan Jupe tersebut yang sebenarnya adegan itu tidak pantas dipertontonkan karena itu sudah merupakan pelanggaran pornografi . Dari percakapan
tersebut mengesankan kata-kata cabul dan sudah jelas ini melanggar aturan SPS pasal 18 huruf (l).
(Gambar 2.30 dan Gambar 2.31 Shoot kamera yang mengarah ke bagian sensitif)
Pada gambar 2.30 dan 2.31 juga menjelaskan bagaimana sudut pandang cameraman dalam mengambil gambar. Dalam episode sebelumnya pada tanggal 17 September 2014 juga ditemukan pengambilan yang menampilkan lekukan payudara Dewi Persik secara jelas. Padahal KPI secara jelas melarang media untuk mengeksploitasi bagian tubuh tertentu seperti paha, bokong, dan payudara secara close up dan medium shot terdapat dalam aturan PPP-SPS bab XII pasal 18 huruf (h). Menjual seksualitas perempuan di layar televisi yang bentuknya bermacam-macam, bisa berupa menonjolkan lekuk tubuh perempuan dengan sorotan kamera, dengan menghadirkan gestur perempuan yang bergenit-genit dalam tayangan bernuansa seksual.
(Gambar 2.32 dan Gambar 2.33 Goyangan erotis dari bintang tamu) Goyangan yang disajikan oleh bintang tamu pada gambar 2.23 dalam episode 10 Oktober 2014, menampilkan goyangan erotis yang mengesankan ketelanjangan. Pada episode ini melanggar P3SPS
pasal 18 huruf butir i dan j di mana bintang tamu perempuan dalam gambar tersebut menggunakan rok sangat mini dengan model lebar. Sehingga ketika bergoyang hampir seluruh rok terbang dan membuka bagian paha hingga bokong terlihat yang mengesankan ketelanjangan. Sedangkan pada gambar 3.33, beberapa kali Jupe tertangkap kamera sedang bergoyang dengan memegang alat kelaminnya. Hal ini dapat merangsang hasrat seksualitas penonton yang dapat memicu bangkitnya seksualitas. Apabila hal tersebut diterus-teruskan, dikhawatirkan akan menjadi salah satu faktor berkembangnya kasus kekerasan dan pelecehan di Indonesia. Kekuatan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi seharusnya menjadi kekuatan utama
yang dapat memberi solusi bagi masalah pornografi di media massa.
Infografi s 2.4 Pelanggaran Pornografi Canda Metropolitan
Dari data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa program acara yang pada awalnya berkonsep komedi ini banyak memunculkan adegan seksualitas, padahal program acara ini ditayangkan secara langsung. Hal ini menandakan bahwa Canda Metropolitan sudah melanggar PPP bab XXVI pasal 47 (2) yang mengatakan bahwa lembaga penyiaran dalam memproduksi dan/ atau menyiarkan berbagai program siaran dalam bentuk siaran langsung wajib tanggap melakukan langkah yang tepat dan cepat untuk menghindari tersiarkannya isi siaran yang tidak sesuai dengan ketentuan penggolongan program siaran.