• Tidak ada hasil yang ditemukan

Televisi Pilihan Presiden Mohamad Nurul Pamungkas

Media televisi sebagai saluran informasi bagi khalayak luas selalu hadir dengan beragam pemberitaan. Khalayak tidak dapat menghindari akan kebutuhannya terhadap informasi, baik dari dunia politik, ekonomi, pendidikan,sosial, budaya, teknologi, dan lainnya. Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu). Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk (Lindsey dalam Riyanto, 2013:24). Berita adalah suatu laporan yang tepat waktu mengenai fakta atau opini yang memiliki daya tarik atau hal yang penting bagi masyarakat. Berita pada hakikatnya penting bagi masyrakat namun apa jadinya jika kepentingan berita itu hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu yang belum tentu juga bermanfaat bagi golongan yang lain.

Panggung televisi ingin menunjunkan bahwa televisi seperti sebuah panggung besar dan tersendiri. Sebuah panggung besar yang beridiri diantara ribuan rumah di Indonesia yang terkadang kita tidak menyadarinya bahwa kita sedang menonoton sebuah acara dalam sebuah kegiatan besar disuatu panggung. Saat ini televisi sudah dikelola lebih dari sekedar barang elektronik, televisi saat ini bisa dijadikan sebagai alat penguatan karakter atau lebih dikenal dengan istilah pencitraan. Namun televisi juga kini bisa dijadikan sebagai alat pembunuhan karakter bagi tokoh-tokoh politik di Indonesia.

Berbicara tentang pemberitaan ditelevisi mengenai proses Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, sangat terlihat bahwa pemberitaan di televisi seperti sebuah proses acara dalam suatu panggung. Panggung yang luasnya tersebar diseluruh Indonesia. Layaknya sebuah panggung pastilah memiliki seorang artis yang ingin show atau yang sedang melakukannya, ditambah kita sadar atau tidak bahwa posisi tempat televisi yang ada dirumah kita saat ini diposisikan sebagai tempat santai , berada diruang tengah atau diruang keluarga dimana pada waktu-waktu primetime inilah panggung televisi itu

dilihat oleh ribuan atau mungkin jutaan keluarga di Indonesia dan saat itulah sebenarnya bisa dikatakan selamat datang dipanggung televisi dengan berbagai artis kami dan program kami.

Televisi memiliki kekuatan yang amat dahsyat karena terkadang kita sadar bahwa televisi telah mengatur semua standar dalam hidup kita. Membawa sederet syarat-syarat terselubung menyangkut gaya hidup, karakter manusia sampai ke nilai-nilai sosial politik. Yang perlu dikhawatirkan adalah terkadang televisi memperlihatkan sesuatu secara berlebihan, seolah-olah dan seperti memperlihatkan bahwa jika kita tidak mengikuti trend ditelevsi kita dianggap kuno atau tidak update dan pada akhirnya televisi adalah gambaran realitas yang tidak sebenarnya. Hanya dibuat- buat dan hanyalah nilai ekonomi yang terkandung didalamnya.

Jika kita mengaitkan kedalam drama besar panggung televisi indonesia adalah sangat jelas seperti yang ditulis penulis diatas bahwa dalam proses pemilu presiden 2014 yang lalu, kita dipertontonkan sebuah panggunng drama . Dua aktor utama dalam drama tersebut adalah Metro TV dan TV One. Jika Metro TV menjadikan Jokowi Dodo dan Jusuf Kalla sebagai artis utamanaya, maka TV One menjadikan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai artis utamanya. Isi berita yang dihadirkan Metro TV dan TV one sangat sarat dengan kepentingan politik, padahal dalam pasal 36 butir (4) Undang-Undang (UU) Penyiaran menyatakan bahwa isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu

Selanjutnya sebuah panggung pasti mempuyai agenda acara, selayaknya panggung profesional pastinya memiliki sebuah urutan acara. Dua panggung ini mempunyai tipe artis utama yang berbeda, misalnya di panggung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang berada di kubu Metro TV telah berhasil menampilkan sosok Jokowi yang ramah, sederhana dan merakyat. Sehingga mereka berhasil membuat Jokowi menjadi harapan bagi masyarakat, dan itu terbukti dengan kemenangan Jokowi Dodo dalam pertarungan Pilpres 2014. Sementara lawan tanding dari panggung KIH yaitu panggung Koalisi Merah Putih (KMP) yang dimotori TV One telah berhasil membawa sosok Prabowo Subianto sebagai sosok tegas layaknya pemimpin kelas atas.

(Gambar 1.9 dan 1.10 Berita Metro TV dan TV One)

Dalam perspektif lain, sesungguhnya Pilpres 2014 tahun ini seperti pertarungan dua tokoh yang berbeda. Sosok Prabowo yang digambarkan sebagai seorang tentara tegas dan berprestasi, politikus, pengusaha, mempunyai pergaulan internasional yang cukup luas, dan mampu berbahasa inggris dengan baik serta dia termasuk seorang priyayi ( karena kakeknya menyandang gelar Raden Mas). Sementara itu Jokowi Dodo bukanlah tentara hanyalah pengusaha mebel, dan banyak menghabisi umurnya ditanah jawa. Hemat penulis inilah yang menilai bahwa sebenarnya Pipres 2014 ini tidaklah berimbang, dalam istilah sepakbolanya head to head

antara kedua calon ini tidaklah imbang dalam kalkulasi nilai dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi

Dalam perspektif ini lah yang dimanfatkan Metro TV dalam mengelola beritanya, bahwa masryarakat butuh pembaharuan. Artinya Metro TV berhasil membaca karakter masyrakat Indonesia yang telah berubah. Era semacam ini adalah era pengelolaan penonton dengan memahami rasa jenuh penonton dalam memilih karakter Presidennya. Seperti yang kita ketahui bahwa selama beberapa periode, kepresidenan Indonesia hampir rata-rata dipegang oleh sosok militer. Sebutlah era jaman Soeharto dan era SBY yang dimana mereka beruda adalah sosok milter yang tegas dan mampu mengayomi masyarakat.

Jika kita menarik sedikit kebelakang pada saat proses kampanye, sebenarnya sangat terlihat kepentingan pada masing- masing panggung tersebut. Televisi dijadikan sebagai media kampanye dan alat propaganda dalam mendukung calon kandidatnya masing-masing.

(Gambar 1.11 dan 1.12 Perbandingan berita antara TV One dan Metro TV)

Hal ini tentu bertentangan dengan pasal 33 UU No.40 tahun 1999 tentang pers adalah sebagai media informasi, media pendidikan, sebagai media hiburan dan fungsi kontrol sosial. Namun jika dikaitkan dengan fenomena ini, fungsi pers sebagai media pendidikan dan media pengontrol sosial tampak tidak hadir. Padahal sudah dinyatakan secata hukum bahwa frekuensi radio, televisi, merupakan sumber daya alam yang terbatas dan merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dinyatakan tegas bahwa dalam pasal 36 butir 4 UU penyiaran bahwa isi siaran wajib dijaga netralitasnya tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu .

Perkembangan sosial politik di dalam masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan bagaimana televisi merepresentasikannya, seperti yang dikatakan Garin Nugroho (2004:62)bahwa poltik yang hidup didalam ruang televisi tidak dengan sendirinya melukiskan pengertian politik yang nyata dan terkadang televisi hanya menggiring pada wujud hiper-realitas, yaitu wujud simulasinya dalam media, yang berbeda bahkan dapat terputus sama sekali dari realitas politik diruang nyata (The hyper-reality of politics.)

Drama besar panggung televisi indonesia ingin menunjukan sebuah lukisan sederhana dalam proses pemilu 2014 dari aspek televisi yang penulis anggap sebagai sebuah panggung besar dan Pilpres 2014 yang lalu adalah salah satu rangkaian agenda atau peristiwa yang pada akhirnya hadir di tengan ruang keluarga. Sekali lagi media televisi menjadi kunci dalam panggung besar ini. Karena yang menentukan alur dan jalan cerita dari drama tersebut adalah televisi. Masyarakat hanya menjadi penonton (korban) dari panggung drama besar tersebut.

Jawa Sentris dalam Bingkai Berita