• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewasa ini serasa sangat ada yang kurang bila seseorang tidak pernah menikmati manisnya hiburan televisi malam. Ketika seseorang baru selesai dengan seluruh aktifi tasnya yang membuat

jenuh dan begitu lelah, tentu mereka sangat membutuhkan sebuah hiburan, atau setidaknya ada sesuatu aktifi tas yang

membuat mereka lebih nyaman dan rileks. Tentu dari sini kita bisa mengetahui bahwa memang manusia menggunakan televisi intensitasnya lebih meningkat di malam hari atau mulai dari pukul 6 petang, atau ba’da maghrib. Hal inilah yang menimbulkan sebuah istilah “prime time”.

Lebih jauh menurut Nurudin (2004:6), tidak heran jika pada jam-jam prime time biasanya disajikan program-program hiburan. Hal ini dijelaskan dengan fungsi hiburan bagi media elektronik yang menduduki posisi paling tinggi dibanding dengan fungsi-fungsi yang lain. Memang pada nyatanya sebagian besar masyarakat memang masih menjadikan televisi sebagai media hiburan utama. Namun, lebih dari itu, masih juga ada penonton yang menyaksikan televisi lebih dari jam prime time, bahkan sampai dengan terbitnya fajar. Hal ini lah yang menjadi sebuah malfungsi dari hiburan itu sendiri. Batas waktu tak kan pernah bisa ditolelir.

Waktu waktu tersebut justru dimanfaatkan oleh media televisi untuk menayangkan sebuah tayangan yang bisa dikategorikan sebuah tayangan yang hanya dikhususkan kepada kalangan dewasa. Salah satunya adalah program “Harta Tahta Wanita”. Sebuah program yang memaparkan sebuah kronologis kematian seorang wanita dalam kisah asmaranya bersama pria hidung belang yang kemudian wanita tersebut dibunuh dengan tragis. Mungkin bagi kalangan dewasa hal ini sangat lah membantu mereka untuk menyadarkan kembali bahwa posisi

seorang perempuan itu jauh lebih penting, karena dari program tersebut dapat kita lihat bahwa wanita adalah sesuatu yang harus dilindungi, juga terlihat jelas bahwa program ini berteriak mengenai persoalan penindasan wanita, yang tentu berujung dengan sebuah permasalahan kesetaraan gender.

Di dalam buku Televisi, Kekerasan dan Perempuan yang ditulis oleh Sunarto tertuang sebuah pernyataan mengenai isu gender yang mempermasalahkan hal feminisme. Bahwa dibuku ini dijelaskan isu feminisme liberal dan Marxian memiliki pemaparan isu penindasan gender terhadap wanita tidak hanya berbeda dan tidak sama, tetapi wanita secara aktif dikendalikan, disubordinasikan, dibentuk, dan digunakan, serta dilecehkan oleh para pria. Dan masih banyak pandangan feminis dari golongan- golongan tertentu yang tak jauh berbeda dari pandangan feminisme liberal (Sunarto, 2009:35).

Kembali berbicara soal tayangan “Harta Tahta Wanita”

ini, bagaimana jika yang menyaksikan adalah anak dibawah umur yang tanpa pengawasan orang tua menyaksikan program tersebut?. Atau orang tua yang bukan melihat dari sisi positif program tersebut?. Hanya ingin menyaksikan hal hal tertentu yang menurutnya dapat memuaskan rasa nafsunya tersebut?. Mari kita telaah program tersebut.

Program “Harta Tahta Wanita” adalah sebuah program

news bertabur reality show (atau kehidupan yang dipertontonkan) yang dalam hal ini diperankan oleh pihak pihak tertentu bukan dari mereka yang bersangkutan dengan kasus yang diangkat. Jam tayang program ini dimulai pukul 00:00 WIB atau dini hari. Acara ini menjadikan sosok perempuan sebagai objek penindasan dan pembuai nafsu, hal ini bisa dilihat dari judul dan juga dari setiap episode program tersebut.

Namun, dalam menyajikannya tentu program ini tak lepas dari sebuah “pelanggaran”. Pada hari Rabu dini hari, tepat tanggal 8 Oktober 2014 lalu, program ini menayangkan episode yang berjudul “cinta lama berakhir kelabu”. Episode ini menayangkan mengenai seorang perempuan janda dan seorang pria duda yang pada awalnya tidak saling mengenal dan kemudian dipertemukan oleh seorang pengrajin kusen, yang juga teman si pria. Kemudian

perkenalan ini berujung kepada sebuah pernyataan sang pria yang ingin melamar sang perempuan. Namun, hal ini tidak direstui oleh ibu dari perempuan tersebut hanya karena sang pria adalah seorang pengrajin kusen. Sang pria pun sangat terpukul dan memutuskan hubungannya dengan calon istrinya itu. Akhirnya Ia dikenali lagi seorang perempuan janda dari teman sesame pengrajin kusen. Berbeda dengan sebelumnya, kisah perkenalan mereka ini berakhir dengan sebuah pernikahan.

Namun, tragedy ironi dimulai dari sini. Tak lama setelah mereka menikah, nampaknya butir butir cinta dari pria dengan mantan pacarnya masih terbungkus dengan rapih, begitu juga dengan mantan pacarnya yang walau saat itu sudah memiliki pacar. Mereka masih melakukan komunikasi dengan baik dan bermesraan layaknya kisah cinta mereka dulu, tetapi ini tidak berlangsung lama. Ketika sang wanita diajak kerumah kosong tak berpenghuni, sang pria menyatakan bahwa hubungan ini harus tetap berjalan seperti halnya cinta mereka yang dulu. Namun sang wanita pun menolak, yang pada akhirnya membuat sang pria emosi dan mencekik wanita malang ini. Kemudian hal yang tak terduga pun terjadi, sang wanita tewas ketika terjatuh saat dicekik, kepalanya terbentur oleh sebuah batu bangunan dari rumah kosong tak berpenghuni, lalu pria itupun lari dari sebuah kasus tragedi ini.

Lalu bagaimanakah bentuk pelanggaran yang terjadi?. Yang pertama adalah ketika scene awal memperlihatkan korban wanita yang sudah menjadi mayat ini. Dalam scene ini, wanita tergeletak di atas lantai yang kemudian kamera mengarahkan bukan dari atas namun mengambilnya dari posisi bawah yang sejajar dengan sang korban. Hal ini tentu sangat memperlihatkan hal-hal yang seharusnya tak perlu ditonjolkan melalui kamera tersebut. Namun, pada shoot kali ini nampak kemolekan badan wanita tersebut, dan juga memperlihatkan dengan jelas bagian dadanya yang walau tertutup dengan pakaian. Ditambah lagi posisi kamera nampaknya sangat dekat dengan selangkangan si korban. Seperti pada pasal 15 ayat 1 point B dari Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) yang berisi,“Orang dan/atau kelompok dengan orientasi seks dan identitas gender tertentu”. Sehingga dari pernyataan pasal tentu hal ini sangatlah tidak sesuai

dilihat dari konteks gender dalam tayangan tersebut dan posisinya yang dapat membuat orang berpikir untuk berorientasi terhadap seks.

(Gambar 2.9 Sang Wanita ditemukan tewas di sebuah rumah tak berpenghuni)

Setelah scene tersebut dan beberapa selingan iklan, kemudian muncul kembali scene yang cukup menggiurkan, ketika adegan sang pria berkunjung ke rumah pacarnya untuk melamar, Nampak sang wanita sangat berpakaian minim. Bahkan daerah sekitar paha sang wanita hanya ditutup oleh tangan kanannya saja. Jika saja bagian dari bawahannya tersingkap sedikit, ini sudah menjadi sebuah pelanggaran yang sangat fatal. Hal ini juga terkait dengan pasal sebelumnya yang penulis bahas. Selain pasal tersebut masih ada pasal yang dinilai telah dilewati begitu saja aturannya oleh program ini, yaitu pada Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran (SPS) di bab 5 pasal 9 yang berbunyiProgram siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang dianut oleh masyarakat”. Norma kesopanan menjadi nilai penting dalam membentuk nilai kebudayaan yang santun dan sopan, namun keberadaan

scene dalam program tersebut seolah menepis nilai kesopanan dalam berpakaian. Seharusnya pihak produksi bagian wardrobe

menyediakan pakaian yang sekiranya sesuai dengan norma dan kesopanan yang berlaku di negara kita.

Selanjutnya dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran (SPS) di bab 12 pasal 18 yang

berbunyi, “Mengeksploitasi dan/atau menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti: paha, bokong, payudara, secara close up

dan/atau medium shot”. Tampak memang secara sisi pengambilang shot dari kamera (angle) sudah sesuai dengan kandungan pasal tersebut, namun tentulah tetap memperhatikan dari segi visual

dan objek apa yang ditangkap yang kemudian akan nampak di layar kaca di setiap televisi seluruh Indonesia. Lebih baik lagi bila mengambilgambar kedua objek, sang pria dan wanita ke dalam

angle medium close, yang artinya kedua objek tersebut ditangkap sampai dengan bagian pinggul saja dari atas kepala dengan tetap memperhatikan head room yang ada.

(Gambar 2.10 Sang pria dan wanita sedang mengunjungi rumah ibu sang wanita)

(Gambar 2.11 Sang Pria sedang menyatakan lamaran kepada Ibu sang wanita)

Kemudian pada adegan bermesraannya si pria dengan istrinya di sebuah kamar mandi. Yang sungguh ini tak terlalu penting untuk diperlihatkan dalam siklus pembunuhan tragedi ini. Bahwasannya hal ini juga nampak mengabaikan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran (SPS) di bab 9 pasal

13 ayat 1yang berbunyi, “Program siaran wajib menghormati hak privasi dalam kehidupan pribadi objek isi siaran”. Nampaknya dalam adegan ini terlalu mengumbar kehidupan pribadi sang objek yang benar – benar di rekam ulang adegannya oleh pemeran dalam program tersebut, tentu ini jauh dari konteks dan juga terlalu membuka ruang privasi dari kehidupan si objek

Bahkan dalam adegan ini juga terkesan “abu-abu” terhadap Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran (SPS) di bab 12 pasal 18 bagian pertama poin B,E, dan J. Di poin B sudah sangat dijelaskan bahwa menampilkan adegan yang menggambarkan aktivitas seks dan/atau persenggamaan itu dilarang. Tambah lagi di point E bahwa menampilkan percakapan tentang rangkaian aktivitas seks dan/atau persenggamaan pun juga dilarang. Terlebih lagi pada pont J, tampilan pada program jangan mengesankan ketelanjangan. Maka dari adegan tersebut meski secara tidak langsung menggambarkan aktivitas persenggamaan dan ketelanjangan, tetap pada adegan ini orientasi dari adegan tersebut adalah persenggamaan. Digambarkan bahwa sang suami menghampiri sang istri di kamar mandi dan menggodanya dengan kemesraan suami istri yang bertujuan untuk melakukan persenggamaan. Sehingga hal ini mengorientasikan percakapan tersebut terhadap rangkaian aktivitas persenggamaan. Serta pakaian yang dikenakan pada objek wanita hanyalah pakaian penutup kain bisa sampai dengan dada (kemben). Dan objek tersebut berada dalam kamar mandi yang dalam adegan ini sang objek hendak mandi. Tentu dalam benak para penonton hal ini mengesankan ketelanjangan walau tak sepenuhnya ia telanjang.

(Gambar 2.13 Sang wanita digoda oleh suaminya untuk melakukan persenggamaan)

Tentu hal ini tak lepas dari konteks kandungan yang juga dilewati begitu saja oleh program ini dari bunyi Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Tentang Standar Program Siaran (SPS) di bab 12 pasal 21, “Program siaran yang menampilkan muatan mengenai pekerja seks komersial serta orientasi seks dan identitas gender tertentu dilarang memberikan stigma dan wajib memperhatikan nilai-nilai kepatutan yang berlaku di masyarakat”. Lagi lagi tak lepas dari kata “orientasi” yang hal ini dilarang karena akan memunculkan stigma terhadap para penonton. Terlepas dari kata mengandung, menampilkan, memperlihatkan, setidaknya sebuah program tentu lebih baik “menghindari” sebuah adegan untuk menimbulkan sebuah orientasi para penonton untuk memikirkan hal – hal yang berprospek terhadap seksualitas, walau itu bukan hal yang diperlihatkan secara langsung.

I’m Sexy and I Know it