• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bad News Primadona Televisi Nisa Akmala

Informasi merupakan suatu hal yang perlu bagi kehidupan seseorang, lewat informasi kita dapat mengetahui hal apa saja yang sedang terjadi disekitar kita, baik informasi yang bersifat penting atau tidak. Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi manusia, informasi yang kita dapatkan biasanya sudah diolah menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dan dijadikan pembelajaraan bagi si penerima informasi baik yang buruk maupun tidak. Bentuk informasi biasanya dapat berupa pembicaraan langsung, media sosial dan juga melalui berita baik online maupun elektronik (televisi).

Penyampaian informasi juga dapat disampaikan melalui berita. Berita adalah informasi terbaru mengenai sesuatu yang sedang terjadi, berita juga disajikan melalui cetak, internet, mulut ke mulut hingga siaran (elektronik). Media informasi yang menyiarkan berita salah satunya adalah televisi, televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang paling terkenal karena sifatnya yang dapat menyajikan semua informasi lengkap dengan gambar dan suara. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, televisi kini menjadi media massa yang paling besar pengaruhnya. Hal ini dikarenakan pengaruh televisi melalui media audio visual- nya dapat langsung diterima oleh pemirsa. Hal ini yang membuat orang menyukai kotak ajaib ini, seseorang akan lebih percaya dengan informasi yang disajikan secara langsung dengan kata langsung yang terdapat sumber dan bukti yang nyata. Tidak hanya dapat menyajikan informasi secara lengkap dan cepat, media ini juga menjanjikan sebuah keuntungan besar bagi para bos-bos media untuk mendapat keuntungan besar dalam segi profi t. Namun sayang, karena hanya

melihat keuntungan ini informasi-informasi yang disajikan terkadang hanya tentang kejelekan petinggi pemilik statiun televisi rival.

Televisi sebagai salah satu sumber informasi yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai pemberi hiburan

semata. Televisi juga menjadi sebagai sarana mencari pengetahuan dan berbagai sumber informasi oleh pemirsanya, melalui tayangan berita yang disajikan diharapkan kebutuhan masyarakat akan informasi semakin terpenuhi. Hal ini juga menjadikan televisi sebagai media yang menguasai ruang dam siaran yang disajikan oleh televisi dapat diterima dimana saja dengan jangkauan pancarannya yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Hubungan yang terjadi saat ini adalah tak ada media tanpa berita, sebagaimana halnya tak ada berita tanpa media. Pengaruh televisi sangat besar dalam penyampaian berita, yang juga sudah pasti akan menciptakan pola pemikiran tersendiri kepada pemirsanya.

Sebagai media yang menyajikan informasi-informasi berita, televisi harus bersaing dengan penyaji informasi berita lainnya yang tidak kalah cepat seperti media cetak dan online. Maraknya sumber- sumber penyedia informasi yang berkembang membuat media berlomba-lomba untuk mendapat informasi dengan cepat bahkan tidak mengindahkan peraturan-peraturan yang sudah dibuat. Media juga tidak akan menyia-nyiakan momentum yang sedang hangat terjadi, tak jarang momentum itu menjadi headline berhari-hari yang diulang-ulang tayangannya seperti menunjukkan bahwa para pembuat dan pencari informasi ini terbatas dalam bergerak, seolah- olah pemirsa hanya membutuhkan informasi-informasi yang itu-itu saja. Berita yang disajikan pun cenderung lebih kepada informasi- informasi yang negatif, seakan membentuk streotype pemirsa sesuai dengan berita yang diinformasikan. Bahkan pemberitaan bersifat negatif ini tak jarang menyerang salah satu pihak dengan kepentingan tertentu. Banyaknya berita negatif yang diinformasikan dibanding berita positif membuat sebuah pertanyaan besar, masih adakah stasiun televisi yang menyajikan informasi secara benar dengan kata lain sesuai dengan kebutuhan pemirsa dan mempunyai netralitas dalam pemberitaan ? Faktanya media semakin berlomba melakukan apapun untuk tetap mempertahankan penonton yang banyak, kemudian mengundang pengiklan atau pembeli media untuk bekerja sama dengan media tersebut. Sekali lagi pemilik media saat ini tidak benar benar mendirikan media dengan fungsi atau perannya sebagai sarana memenuhi kebutuhan masyarakat umum akan hiburan dan informasi, tetapi mereka mendirikan media untuk kepentingan perusahaan pribadi dan profi t semata.

Seringnya pemberitaan yang berbau negatife terhadap tayangan berita dewasa ini membuat pemirsa memiliki stereotype

bahwa berita yang baik dan bagus adalah berita yang mengandung unsur konfl ik, sexdan kontroversi. Hal ini membuat media semakin

berlomba-lomba untuk menyajikan berita seperti itu demi tetap mendapatkan tempat dihati pemirsanya dan mempertahankan eksistensinya sebagai perusahaan media demi mendapatkan profi t,

yang akhirnya membuat berita buruk menjadi berita yang layak disajikan untuk pemirsa dan selalu menjadi headline dimana- mana. Serta seakan-akan membangun pemikiran di masyarakat bahwa berita buruk adalah berita bagus yang layak disajikan dan dikonsumsi bagi masyarakat. Berikut adalah diagram yang menunjukkan presentase tentang perbandingan good news dan bad news pada tayangan liputan 6 SCTV yang tayang pada hari Sabtu, 11 November 2014.

(Diagram 1.2 Presentase Isi Berita Liputan 6 SCTV)

Dalam diagram diatas menunjukkan bahwa bad news adalah berita yang paling sering ditayangkan oleh liputan 6 SCTV. Dengan presentase tayangan berita seperti itu semakin membuat masyarakat memiliki pemikiran bahwa berita buruk adalah berita yang justru bagus dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Jika diperhatikan tayangan berita yang seperti ini justru mengkhawatirkan karena

membuat stereotype dikalangan masyarakat menjadi negatif terhadap objek yang diberitakan. Menjadikan pemikiran bahwa di Indonesia hanya terdapat informasi-informasi yang buruk seperti kasus korupsi yang sering menjadi headline berita bahkan menjadi senjata empuk bagi media lawan untuk menjatuhkan lawan media lainnya.

Media yang lebih mengutamakan kepetingan perusahaan dibanding kepentingan masyarakat jelas sudah melenceng dari fungsinya sebagai media. Tidak hanya itu, hal tersebut juga melanggar Undang Undang nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Pemberitaan yang berisi tentang bad news demi mempertahankan rating dan penonton tanpa menitik beratkan fungsi program berita untuk menambah wawasan masyarakat juga turut melanggar peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) Bab XVIII Prinsip-Prinsip Jurnalistik Bagian Pertama Umum Pasal 22 butir 1, 2, dan 5 yang berbunyi: (1) Lembaga penyiaran wajib menjalankan dan menjunjung tinggi idealisme jurnalistik yang menyajikan informasi untuk kepentingan publik dan pemberdayaan masyarakat, membangun dan menegakkan demokrasi, mencari kebenaran, melakukan koreksi dan kontrol sosial, dan bersikap independen. (2) Lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik, antara lain: akurat, berimbang, adil, tidak beritikad buruk, tidak menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan opini pribadi, tidak menonjolkan unsur sadistis, tidak mempertentangkan suku, agama, ras dan antar golongan, serta tidak membuat berita bohong, fi tnah dan cabul. (5) Lembaga penyiaran wajib menjaga

independen dalam proses produksi program siaran jurnalistik untuk tidak dipengaruhi oleh pihak eksternal maupun internal termasuk pemodal atau pemilik lembaga penyiaran.

Selain peraturan yang sudah tertera di atas, media yang tetap mempertahankan model pemberitaan dengan mengedepan bad news sebagai sajian utamanya juga melanggar peraturan Standar Program Siaran (SPS) Bab XVIII Program Siaran Jurnalistik Bagian Satu Pasal 40 butir a, b, dan c yang berbunyi : (a) akurat, adil, berimbang, tidak berpihak, tidak beritikad buruk, tidak menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan oponi pribadi, tidak menonjolkan unsur kekerasan, dan tidak

mempertentangkan suku, agama, ras, dan antar golongan. (b) Tidak membuat berita bohong, fi tnah, sadis dan atau cabul. (c)

Menerapkan prinsip praduga tak bersalah dalam peliputan dan atau menyiarkan program siaran jurnalistik dan tidak melakukan penghakiman.

Media penyiaran khususnya televisi merupakan organisasi yang berfungsi menyebar luaskan sebuah informasi berupa produk, budaya atau pesan yang mampu mempengaruhi dan mencerminkan suatu budaya dari asal informasi tersebut. Ketika berita yang di informasikan melulu tentang konfl ik, keburukan daerah atau keburukan instansi dan

salah satu tokoh maka akan lahir pemikiran tentang hal hal tersebut. Bad news yang dijadikan sumber utama bagi media untuk meraup rating dan profi t bagi kepentingan pribadi justru bisa menjadi boomerang

bagi masyarakat Indonesia karena lahirnya stereotype negatif tentang berita yang disajikan membuat masyarakat cenderung menganggap bobrok negeri nya sendiri. Serta menganggap tidak adanya suatu hal yang positif tentang Indonesia atau hal lainnya. Padahal masyarakat kita juga membutuhkan good news yang dapat membuat pemirsa atau penonton terpacu untuk melakukan perbaikan dan pemikiran positif terhadap bangsa dan negara.

Seharusnya program siaran berita harus bersifat umum, aktual, dan berimbang. Selain itu, program berita juga seharunsya mampu menyasar seluruh lapisan masyarakat. Namun yang terjadi dewasa ini adalah isi program siaran berita tidak mencakup hal tersebut, penayangan konten konten yang diangkat oleh program berita hanya mengenai tentang kasus korupsi yang terjadi, kecelakaan dan bad news lainnya. Padahal masyarakat yang menjadi segmentasi program berita adalah semua kalangan termasuk mereka kalangan menengah dan menengah ke bawah. Jika terus menerus dihidangkan bad news oleh program berita di televisi, bukan justru malah membuat mereka semakin percaya akan adanya kemajuan terhadap bangsa malah akan membuat mereka berpikir bahwa keadaan bangsa ini semakin buruk karena korupsi yang merajalela, kecelakaan yang terjadi karena pengguna jalan yang lalai menaati peraturan, ekonomi negara yang tidak berkembang karena adanya kasus korupsi yang dilakukan pejabat tinggi pemerintah serta utang negara yang bertumpuk. Tayangan yang mengangkat kekayaan seseorang tokoh negara atau artis

diatas pemberitaan pemberitaan mengenai korupsi dan ekonomi juga mempengaruhi stereotype masyarakat. Topik pemberitaan yang seperti itulah membuat masyarakat kita akan berpikiran tidak adanya harapan kehidupan yang baik untuk mereka, dan juga semakin membenarkan pemikiran “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” benar adanya. Seharusnya jurnalisme televisi mampu menjadi pengurai persoalan yang terjadi di bangsa ini, bukan malah turut menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Masyarakat yang semakin cerdas dalam memilih media atau melek media kini semakin kritis dan terbukti kini semakin banyak masyarakat yang dengan terang-terangan menyatakan ketidak puasan mereka terhadap kualitas konten dan isi beberapa tayangan program-program televisi dan berita. Sudah banyak muncul gugatan atau kritik dari masyarakat soal banyaknya pemberitaan televisi yang manipulatif, terlalu vulgar, berpihak dan tidak obyektif. Adanya otoritas besar dari pemilik media televisi yang menentukan format dan materi siaran yang bisa ditayangkan atau tidak berdasarkan selera dan kepentingannya ditambah ketatnya persaingan antar media televisi merebutkan pasar dan jumlah permirsanya membuat para jurnalisme ini tidak mengindahkan kode etik jurnalistik yang ada, mereka melakukan berbagai cara agar tayangan-tayangannya tampil lebih menarik dan lebih banyak ditonton permirsa. Hal inilah yang membuat para jurnalis televisi begitu agresif dalam membuat tayangan berita, salah satunya dengan mengeskploitasi informasi yang sifatnya kontroversial dan spekulatif untuk sekedar menarik perhatian publik. Para jurnalis televisi membuat apapun berita informasinya harus segera ditayangkan, urusan benar atau salah menjadi urusan belakangan yang terpenting produksi tayangan tersebut mengundang untuk disaksikan oleh pemirsanya.

Program tayangan berita yang seharusnya mampu memberikan edukasi bagi masyarakat terkait dengan tayangan yang boombastis terutama dengan kasus-kasus yang banyak menarik perhatian masyarakat justru membuat masyarakat menjadi kurang bisa menentukan runtunan kebenaran suatu peristiwa dari tayangan yang mereka tonton. Masyarakat sudah jenuh dengan apa yang mereka saksikan di televisi, program berita yang seharusnya mampu menjadi tayangan berita pemberi wawasan dan edukasi justru melenceng dari

fungsi yang sebenarnya. Banyak pertanyaan yang timbul terhadap program – program tayangan yang hadir akhir-akhir ini, ketatkah KPI mengawasi program-program tayangan televisi ? Atau memang penguasa media yang terlalu berkuasa di bangsa ini, Sehingga tayangan-tayangan dan program berita dengan isi pemberitaan yang melenjeng justru semakin berkembang.

Konten pemberitaan tidak berimbang yang ditayangkan dalam program siaran berita juga menjadi PR besar kedepannya, bagaimana para jurnalis televisi ini benar-benar memilih pemberitaan yang patut ditayangkan dan dikonsumsi oleh masyrakat Indonesia. Tidak hanya melulu tentang korupsi, kecelakaan, kebakaran, bencana alam, perampokan dan sebagainya. Tetapi juga harus diimbangi dengan pemberitaan Good News yang dapat memacu masyarakat khususnya generasi muda seperti prestasi anak bangsa, daerah Indonesia yang mampu mengembangkan perekonomiannya dengan memaksimalkan sumber daya alam yang ada. Kemudian para pejabat yang bersih dan bekerja sesuai amanah, kehidupan sosial yang mampu menggugah masyarakat agar memiliki kehidupan sosial, informasi budaya agar masyarakat menjaga dan melestarikan budaya sendiri. Masyarakat juga terkadang harus mengetahui kondisi bangsanya baik atau buruk, tetapi bukan dengan berlarut larut menjadi bagian keterpurukan dalam pemberitaan. Pemirsa juga perlu mendapat hal yang positif agar mereka juga memiliki stereotype positif terhadap apa yang disampaikan media tentang hal apapun, karena sesuatu yang baik akan membawa hal yang baik juga kedepannya dan sebaliknya. Masyarakat sudah jengah dengan model pemberitaan yang melulu tentang itu-itu saja, masyarakat membutuhkan sesuatu yang dapat membuat semangat tumbuh kembali untuk membawa bangsa ini lebih baik.

Bad News tidak sama dengan Good News, masyarakat memang membutuhkan informasi yang banyak dari media. Bukan informasi yang disajikan karena adanya kepentingan pribadi para pemilik media, akan tetapi informasi yang memang benar benar dibutuhkan masyarakat. Informasi yang dapat membangun pemikiran positif, menambah wawasan dan dapat menjadikan pemirsa melakukan hal yang lebih baik. Jika Bad News terus menerus menjadi menu utama tayangan berita hal ini akan berimbas kepada generasi penerus bangsa yang hanya disodori tentang kejelekan dan kebusukan suatu peristiwa, mereka akan menjadi apatis terhadap negaranya sendiri.

Televisi Pilihan Presiden