57
W
alapun Bapak Televisi dinisbatkan kepada Paul Nipkow, seorang mahasiswa di Berlin yang menemukan gagasan mengenai televisi sebagai transmisi elektrik dari elemen gambar dan suara secara simultan pada 1884, tetapi semua orang Indonesia yang menikmati layar televisi harus berterima kasih kepada Thayeb Mohammad Gobel. Gobel yang lahir di Gorontalo, 12 September 1930, menciptakan radio transistor per tamanya pada usia 24 tahun dan 8 tahun kemudian membuat “kotak ajaib” agar masyarakat Indonesia bisa menyaksikan tayangan spektakuler Asian Games IV di Jakarta dari rumahnya. Pada waktu itu, televisi adalah barang yang sangat langka dan benda mewah. Orang orang tua bercerita bagaimana di pelosok daerah, orang harus berkerumun di halaman kantor kecamatan atau kabupaten untuk menyaksikan siaran televisi.Gobel semula adalah tengkulak pisang di kampung halamannya. Setelah lulus Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, dia meniti karier dari tenaga admi nistrasi di Makassar, menjadi salesman di Dasaad Musin Concern, dan tercatat pernah menjadi kepala cabang di Fasco Surabaya. Tidak banyak diketahui, bagaimana
National Gobel
Sebuah Ide Besar Perlu
Bantuan Orang Besar
M . M A ’R U F 58
perjalanan Gobel dari Makasar, Jawa Timur dan kemu dian ke Jakarta. Yang pasti, pada 1954 dia sudah men dirikan perusahaan Transistor Radio Manufacturing dengan pabrik pertama di daerah Cawang, Jakarta, dan menamai radio transistor pertamanya dengan merek daerah itu, Cawang. Radio itu berbentuk kotak, dengan tombol frekuensi besar di sudut kanan atas, dan tombol satu lagi untuk volume. Orangorang tua saat ini, masih percaya kejernihan suara radio Cawang tidak pernah tersaingi.
Dialog yang banyak dikutip sampai saat ini adalah ketika suatu kali Presiden Soekarno menanyakan kepada Gobel alasan memilih usaha pembuatan radio. Dia men jawab, agar rakyat bisa mendengarkan pidato luar biasa Presiden Soekarno. Jawaban itu menyenangkan hati Bung Karno. Sekitar 1 juta unit radio transistor Cawang berhasil diproduksi dan dipasarkan dalam kurun wak tu 19541964. Oleh pemerintah, Gobel diajukan se bagai penerima beasiswa Colombo Plan—sebuah orga nisasi bentukan negera maju dan berkembang untuk menyekolahkan anakanak muda negara miskin ke Jepang. Di negeri Sakura itu, mahasiswa dari tanah bekas jajahan yang berusia 27 tahun itu mendapat ke sempatan bertemu secara langsung dengan pendiri dan pemilik Matsushita Electric Industrial Co. Ltd, Konosuke Matsushita yang kala itu sudah berusia 64 tahun. Anak muda dari bekas negeri jajahan Jepang ini cukup memberi kesan mendalam kepada Konosuke yang memulai usahanya pada pada 1927 sebagai produsen lampu sepeda bermerek National.
Saat itu, Matsushita adalah produsen elektronik terbesar di Jepang dan pelbagai produk elektronik ke luarannya sudah dipasarkan di beberapa negara, sehingga amat terkenal di Amerika dan Eropa—Konosuke menjadi sampul majalah Time edisi 23 Februari 1962, dengan judul Industrialist Matsushita. Dia orang di balik Sanyo Electric yang didirikan adik iparnya.
Ba gian 2 – Or ang-Or ang Spesial; P ar a Pionir 59
Pertemuan industrialis beda usia itu berlanjut ke tahap yang lebih serius, dengan kesediaan Konosuke memberi Gobel bantuan teknik untuk pengembangan teknologi baru; televisi. Bagi Matsushita sendiri, ini ada lah peluang ekspansi yang luar biasa, setelah hubungan bilateral JepangIndonesia yang memburuk. Pertemuan pertemuan dengan Konosuke menambah pengetahuan Gobel mengenai televisi. Ini tampak seperti botol yang menemukan tutupnya, sebab Bung Karno sedang merancang sebuah perhelatan akbar, Asean Games yang ditargetkan bisa menjadi hiburan oleh seluruh rakyat yang tengah kesusahan. Setelah pertemuan dengan Presiden, Gobel mengusulkan kepada Menteri Penerangan Maladi agar membangun pemancar televisi di Indonesia. Televisi Republik Indonesia pun didirikan pada 1961.
Gobel mendapat berkah luar biasa dari usulan ini dan segera menghubungi Konosuke. Tak lama kemudian, televisi merek National tiba di Tanjung Priok. Sejumlah tenaga teknik dari Jepang didatangkan ke Jakarta un tuk merakitnya. Order dadakan pertama datang dari pemerintah yang memesan 10.000 unit dan harus ram pung sebelum Asean Games dimulai. Pesanan dapat dise lesaikan dengan televisi pertama diberikan kepada ibu negara, Fatmawati Soekarno.
Selama 10 tahun kemudian, kerja sama bantuan teknik itu terus ditingkatkan berkat sukses penjualan televisi National. Tetapi, Gobel tidak sendiri mengurus bisnis yang sudah semakin menggelembung ini, ada Barlianta Harahap dan Lukman Hakim sebagai tangan kanan dan kirinya.
Kesepakatan besar diambil kedua belah pihak pada 27 Juli 1970 dengan mendirikan perusahaan patungan yang mengambil nama merek televisi Konosuke dan marga Gobel, National Gobel. Dengan modal awal USD 15 juta (40% Gobel, 60% Matsushita) dan Gobel
M . M A ’R U F 60
menjabat direktur utama. Empat tahun kemudian, didirikan Met Gobel, sebagai agen impor produk dari Matsushita ke Indonesia. Met juga mengimpor produk produk elektronik yang tidak diproduksi oleh National Gobel.
Sabtu, 21 Juli 1984, beberapa jam setelah menye lesaikan salat Isya dalam posisi berbaring, Gobel meninggal akibat komplikasi penyakit jantung, gagal ginjal, dan tekanan darah tinggi. Sejam sebelum meng embuskan napas terakhir, dia mengumpulkan ketujuh anaknya dari istrinya yang pertama (Annie Nento, wafat tahun 1968). Orangorang merasa berduka atas wafatnya industrialis generasi pertama republik ini, termasuk Presiden Soeharto dan istrinya yang tampak hadir melayat. Sebuah kisah nyata yang menggambarkan kecintaan karyawannya kepada Gobel seperti dialami sesorang asal Makassar bermarga Gobel yang naik angkutan kota ke arah perumahan Lembah Hijau di daerah CimanggisDepok—tahun lalu.
Pengemudi angkot jurusan Kampung Rambutan Cisalak itu adalah seorang pensiunan karyawan pabrik National Gobel di daerah Gandaria, Jakarta Selatan. Sopir itu menebak bahwa si penumpang yang bernama Amril Taufik Gobel itu adalah saudara pendiri National Gobel, lantaran menyebut akan turun di daerah Lembah Hijau. Dia bercerita, Gobel itu begitu disiplin, rendah hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan karyawan. “Beliau menjadi panutan sekaligus kebanggaan kami semua,” kata si sopir. Ketika turun dari angkot, si sopir itu menolak ongkos yang diberikan. Baginya, kata penge mudi itu, adalah sebuah kehormatan mengangkut salah satu anggota keluarga dari pemilik perusahaan di tempat saya pernah bekerja dulu. Amril—cucu dari pamannya Gobel—tak pernah bisa menghilangkan pengalaman itu. “Saya terpana dan baru tersadar saat angkot yang tadi saya tumpangi berlalu,” kata dia.
Ba gian 2 – Or ang-Or ang Spesial; P ar a Pionir 61
Sepeninggalan Gobel, posisi puncak National Gobel silih berganti. Hubungan antara Matsushita dan Gobel juga mengalami pasang surut kepemilikan. Ini tampak pada beberapa pergantian nama perusahaan, seperti 1980 berubah menjadi Gobel Dharma Nusantara, dan 1991 berubah menjadi National Panasonic Gobel dan akhirnya mulai 1 April 2004 berganti nama menjadi Panasonic Gobel Indonesia (PGI). Menurut Presiden Direktur PGI Ichiro Sagunama, perubahan terakhir terjadi seiring dengan perubahan komposisi pemegang saham yakni 60% Matsushita Electric dan 40% Gobel International. Sementara Rachmat Gobel—anak kelima dari tujuh anak Gobel—menjadi komisaris utama.
Gobel yang aktif di Kamar Dagang dan Industri ini sering mengampanyekan antipenyelundupan ba rang elektronik asal China yang membanjiri pasar dalam negeri. Saat ini, lewat Gobel International yang dipimpinnya, generasi kedua ini mulai merambah bisnis telekomunikasi, melalui kemitraan dengan Qatar Tele com, yang kini menjadi pengendali Indosat (Rachmat Gobel saat ini juga menjabat Komisaris Indosat). Se mentara Matsushita Electric Industrial Ltd yang sudah berganti menjadi Panasonic Corporation adalah peng huni urutan ke59 deretan 500 Forbes Global 2007.
Pada 2004, penjualan PGI mencapai Rp 2,5 triliun dan menguasai 20% pasar elektonik nasional. Mereka menghadapi tekanan besar dari produkproduk asal Jepang yang lain, Korea, Taiwan, dan Eropa—yang masuk ke pasar Indonesia sejak awal 1990an. Dari sekadar radio dan televisi, kini duet merek “National Gobel” nyaris ditemukan untuk semua perabotan elek tronik rumah tangga, mulai dari alat perekam, hair
62
S
angat sulit membayangkan untuk bisa memiliki usaha taksi antarkota atau travel yang trayeknya bukan la gi antarkota seperti JakartaBandung, melainkan antar kota di Arab Saudi atau di Negeri Paman Sam. Dulunya obsesi itu juga tidak pernah terbayangkan oleh Irawan Sarpingi yang anak juragan petani dan pedagang di Bandung. Namun, 4848 yang didirikan Irawan setelah perang kemerdekaan, kini bukan lagi travel dengan jalur tetap BandungJakarta, tapi telah menghubungkan kota kota di Singapura, Kuala LumpurMalaysia, Jeddah Saudi Arabia, Los Angeles dan New York. Pada awal 2007, mereka sudah mempersiapkan jalur di Toronto, Vancouver, Las Vegas, San Diego, San Francisco, Dubai dan Kairo.Lahir di Singaparna, Jawa Barat, 13 November 1926, Irawan kecil sudah menyenangi delman dan gerobak kuda milik orangtuanya—dia kerap ikut ayahnya, M Sarpingi mengantarkan barang dan orang ke luar kota. Saat itulah Irawan kecil mulai memahami bahwa sarana angkutan sangat diperlukan banyak orang. Konsep transportasi itu semakin terasah dengan