• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERBAGAI JENIS LESI (MORFOLOGI KULIT)

Dalam dokumen ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN (Halaman 60-66)

MORFOLOGI KULIT

A. BERBAGAI JENIS LESI (MORFOLOGI KULIT)

Dermatologi dapat dipelajari secara siste- matis setelah Plenck (1776) menulis bukunya yang berjudul System der Hautkrankheiten. Ber- dasarkan efloresensi (ruam) tersebut penyakit kulit mulai dipelajari secara sistematis. Sampai kini pemikiran Plenk masih dipakai sebagai dasar membuat diagnosis penyakit kulit secara klinis, walaupun ditambah dengan segala kemajuan teknologi di bidang bakteriologi, mikologi, histo- patologi dan imunologi. Jadi untuk mempelajari ilmu penyakit kulit mutlak diperlukan pengetahuan tentang ruam kulit atau morfologi atau ilmu yang mempelajari lesi kulit.

Efloresensi kulit dapat berubah pada waktu berlangsungnya penyakit. Proses tersebut dapat merupakan akibat yang lazim dalam perjalanan proses patologik. Kadang-kadang perubahan ini dapat dipengaruhi keadaan dari luar, misalnya trauma garukan dan pengobatan yang diberikan, sehingga perubahan tersebut tidak biasa lagi;

akibatnya gambaran klinis morfologik penyakit menyimpang dari biasa sehingga sulit dikenali.

Demi kepentingan diagnosis, penting sekali men- cari kelainan yang pertama (efloresensi primer), yang biasanya khas untuk penyakit tersebut.

Menurut Prakken (1966) yang disebut efloresensi (ruam) primer adalah: makula, papul, plak, urtika, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustul, dan kista. Sedangkan yang dianggap sebagai efloresensi skunder adalah skuama (sangat

jarang sekali timbul sebagai efloresensi primer), krusta, erosi, ulkus, dan sikatriks.

A. BERBAGAI JENIS LESI (MORFOLOGI KULIT)

Untuk mempelajari macam-macam kelainan kulit lebih sistematis sebaiknya dibuat pembagian menurut Siemens (1985) yang membaginya se- bagai berikut:

Tabel 6.1. Morfologi kulit menurut pembagian Siemens 1985

Ciri khas Morfologi

Setinggi permukaan kulit Makula

Bentuk peralihan, tidak ter- Eritema, telangiektasis batas pada pennukaan kulit

Di alas permukaan kulit Urtika, vesikel, bula, kista, pustul, abses, papul, nodus, tumor, vegetasi Bentuk peralihan:

1. tidak terbatas pada suatu lapisan saja:

2. melekat di alas kulit

Sikatriks, atrofi, hipertrofi, hipotrofi, anetodenna, erosi, ekskoriasi, ulkus (tukak), fistel (fistulae) Skuama, krusta, sel-sel asing dan hasil metabolit- nya, debris (kotoran)

Berikut ini akan diberikan definisi berbagai ke- lainan kulit dan istilah-istilah yang berhubungan dengan kelainan tersebut (lihat gambar).

Makula: kelainan kulit berbatas tegas berupa pe- rubahan warna semata-mata. Contoh: melano- derma, leukoderma, eritema, purpura, petekie, ekimosis.

Eritema: kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler yang reversibel.

Berikut adalah morfologi yang berisi cairan:

Urtika: edema setempat yang timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan.

Vesikel: gelembung berisi cairan serum Oernih), ukuran diameter kurang dari Y2 cm, mempunyai dasar dan atap; vesikel berisi darah disebut vesikel hemoragik.

Pustul: vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap di bagian bawah vesikel disebut vesikel hipopion.

Bula: vesikel yang berukuran lebih besar. Dikenal juga istilah bula hemoragik, bula purulen dan bula hipopion.

Kista: ruangan berdinding dan berisi cairan, sel, maupun sisa sel. Kista terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun demikian dapat meradang. Dinding kista merupakan selaput yang terdiri atas jaringan ikat, dan biasanya terdiri atas lapisan epitel atau endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang melebar dan tertutup, saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah bening, keringat, sebum, sel-sel epitel, lapisan tanduk, dan rambut.

Abses: merupakan kumpulan nanah dalam jaring- an, bila mengenai kulit berarti di dalam kutis atau subkutis. Batas antara ruangan yang berisikan nanah dan jaringan di sekitarnya tidak jelas.

Abses biasanya terbentuk dari infiltrat radang. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah. Dinding abses terdiri atas jaringan sakit, yang belum menjadi nanah.

Berikut adalah morfologi yang berisi jaringan pad at

Papul: penonjolan di atas permukaan kulit, sirkumskrip, berdiameter lebih kecil dari 1/2 cm, dan berisikan zat padat. Bentuk papul dapat ber- macam-macam, setengah bola, contohnya pada eksim atau dermatitis, kerucut pada keratosis foli- kularis, datar pada veruka plana juvenilis, datar dan berdasarkan poligonal pada liken planus, berduri pada veruka vulgaris, bertangkai pada fibroma pendulans dan pada veruka filiformis.

Warna papul dapat merah akibat peradangan, pucat, hiperkrom, putih, atau seperti kulit di sekitarnya. Beberapa infiltrat mempunyai warna sendiri yang biasanya baru terlihat setelah eritema yang timbul bersamaan ditekan (lupus vulgaris menjadi warna apple jelly). Letak papul dapat epidermas atau dermis.

Nodus: masa padat sirkumskrip, infiltrat terletak di kutis atau subkutis, diameter lebih dari 1 cm, dapat menonjol. Jika diameternya lebih kecil daripada 1 cm disebut nodulus.

Plak (plaque): peninggian di atas permukaan kulit, permukaannya datar dan berisi zat padat

(biasanya infiltrat), diameternya 2 cm atau lebih.

Contohnya papul yang melebar atau papul-papul yang berkonfluensi pada psoriasis.

Tumor: istilah umum untuk benjolan yang ber- dasarkan pertumbuhan sel maupun jaringan.

lnfiltrat: adalah tumor yang terdiri atas kumpulan sel radang.

Vegetasi: pertumbuhan berupa penonjolan bulat atau runcing yang menjadi satu. Vegetasi dapat terjadi di bawah permukaan kulit, disebut granulasi, misalnya pada tukak (ulkus).

Sikatriks: disebut juga jaringan parut terdiri atas jaringan tak utuh, relief kulit tidak normal, per- mukaan kulit licin dan tidak terdapat adneksa kulit. Sikatriks dapat atrofik, kulit mencekung, dan dapat hipertrofik yang secara klinis terlihat menonjol kelebihan jaringan ikat. Bila sikatriks hipertrofik menjadi patologik, pertumbuhan melampaui batas Iuka disebut keloid (sikatriks yang pertumbuhan selnya mengikuti pola pertumbuhan tumor), ada kecenderungan untuk terus membesar.

Anetoderma: bila kutis kehilangan elastisitas tanpa perubahan berarti pada bagian kulit yang lain, dapat dilihat bagian-bagian yang bila ditekan dengan jari seakan-akan berlubang. Bagian yang jaringan elastiknya atrofi disebut anetoderma.

Erosi: kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak melampaui startum basal.

Contoh bila kulit digaruk sampai stratum spinosum akan keluar cairan serosa dari bekas garukan.

Ekskoriasi: bila garukan lebih dalam lagi se- hingga tergores sampai ujung papila dermis, maka akan terlihat darah yang keluar selain serum. Kelainan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan sampai dengan stratum papilare disebut ekskoriasi.

Ulkus: adalah hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi. Ulkus dengan demikian mempunyai tepi, dinding, dasar dan isi.

Termasuk erosi dan eksoriasi dengan bentuk linier ialah fisura atau rhagades, yakni belahan kulit yang terjadi oleh tarikan jaringan sekitarnya, terutama terlihat pada sendi dan batas kulit dengan selaput lendir.

Fistu/ae (fistel): saluran yang menghubungkan rongga di bawah kulit dan luar tubuh.

Skuama: adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama disebut halus (pitiriasis) akan tampak bila dilakukan kerokan atau pere- gangan kulit umumnya mirip taburan tepung atau bedak, sedangkan skuama kasar bila langsung dapat dilihat dengan mata biasa. Skuama dapat berwarna putih atau coklat kehitaman, kering atau berminyak (o/eosa). Skuarna yang mirip lembaran kertas disebut lamelar. Skuama jenis lain, misalnya skuama berlapis-lapis pada psoriasis, iktiosiformis (mirip sisik ikan), membranosa atau eksfoliativa (lembaran-lembaran) dan keratotik (terdiri atas zat tanduk). Skuarna yang berbentuk melingkar disebut kolaret

Krusta: adalah cairan tubuh yang mengering di atas kulit. Dapat bercampur dengan jaringan nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat, dan sebagainya). Warnanya ada beberapa rnacarn:

kuning muda berasal dari serum, kuning kehijauan berasal dari pus, dan kehitaman berasal dari darah.

Likenifikasi: merupakan penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas.

Guma: adalah infiltrat sirkumskrip, menahun, destruktif, biasanya rnelunak.

Fagedenikum: adalah suatu proses yang menjurus ke dalam dan meluas (ulkus tropikum, ulkus mole}.

Terebrans: proses yang menjurus ke dalam.

Monomorf: kelainan kulit yang pada suatu ketika terdiri atas hanya satu macam ruarn kulit.

Polimorf: kelainan kulit yang sedang berkembang, terdiri atas bermacam-macam (biasanya lebih dari 2) efloresensi.

Gambar Penampang Berbagai Ruam

Makula:

A. hiperpigmentasi, pigmen melanin

B. biru, bayangan melanosit

C. eritema, vasodilatasi kapiler D. Purpura, ekstravasasi eritrosit

Nodus:

A. infiltrat sampai di subkutan

B. infiltrat di dermis

Gambar 6-1. Penampang berbagai ruam

Papul:

A. deposit metabolik B. sebukan sel radang C. hiperplasi sel epidermia

Urtika:

edema setempat karena pengumpulan serum di dermis bagian atas

Plak: papul datar

penampang lebih dari 1 cm

Vesikel: A. subkorneal B. intra epidermal

C. supra basal

Kista:

ruangan berisi calran dan dikelllingi kapsul

Slkatriks: A. hipertrofi B. hipotrofi

Kerusakan kullt : A. erosi

B. ekskoriasi

C. ulkus

Krusta:

••

A. krusta tipis

B. krusta tebal dan lekat

Telangiektasi: pelebaran kapiler yang menetap pada kulit.

Roseola: eksantema lentikular berwarna merah tembaga pada sifilis dan frambusia.

Eksantema: kelainan pada kulit yang timbul serentak dalam waktu yang singkat, dan tidak berlangsung lama, umumnya didahului oleh demam.

Enantem: eksantem di mukosa

Eksantema skarlatiniformis: erupsi yang difus dapat generalisata atau lokalisata, berbentuk eritema, berukuran numular.

Eksantema morbiliformis: erupsi berbentuk eritema, berukuran lentikular.

Galopans: proses yang sangat cepat meluas (ulkus diabetikum galopans).

BERBAGAI ISTILAH UKURAN, SUSUNAN KELAINAN/BENTUK SERTA PENYEBARAN DAN LOKASI Di bidang dermatologi sering digunakan berbagai istilah yang digunakan secara internasional dan dipakai sebagai kesepakatan bersama bahasa dermatologi.

1. Ukuran

• Miliar: sebesar kepala jarum pentul

• Lentikular: sebesar biji jagung

• Numular: sebesar uang logam (koin) 100 rupiah

• Plakat: en-plaque, lebih besar dari numular 2. Susunan Kelainan/bentuk

• Linier: seperti garis lurus

• Sirsinar/anular: seperti lingkaran

• Arsinar: berbentuk bentuk sabit

• Polisiklik: bentuk pinggiran sambung-me- nyambung

• Korimbiformis: susunan seperti induk ayam yang dikelilingi anak-anaknya

Bentuk lesi

• Teratur: misalnya bulat, lonjong, seperti ginjal dan sebagainya.

• Tidak teratur: tidak mempunyai bentuk teratur.

3. Penyebaran dan lokasi

• Sirkumskrip: berbatas tegas

• Difus: tidak berbatas tegas:

• Generalisata: tersebar pada sebagian besar bagian tubuh

• Regional: mengenai daerah tertentu

• Universalis: seluruh atau hampir seluruh tubuh (90%-100%)

• Solitar: hanya satu lesi

• Herpetiformis: vesikel berkelompok seperti pada herpes zoster

• Konflues: dua atau lebih lesi yang menjadi satu

• Diskret: terpisah satu dengan yang lain

• Serpiginosa: proses yang menjalar ke satu jurusan diikuti oleh penyembuhan pada bagian yang ditinggalkan

• lrisformis: eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel warna yang lebih tengah di tengahnya

• Simetrik: mengenai kedua belah badan yang sama

• Bilateral: mengenai kedua belah badan yang sama

• Unilateral: mengenai sebelah badan

PENUTUP

Pemahaman tentang morfologi kulit dan aplikasi dalam praktek sehari-hari sangatlah penting. Penulisan di dalam rekam medis harus jelas dan benar, sehingga dalam penyusunan status harus mengikuti kaidah ilmiah.

Status pemeriksaan pasien kulit harus lengkap, mulailah dengan: identitas, anamnesis terkait penyakit, pemeriksaan fisik umum (sangat penting, namun seringkali dokter melewatkannya), status dermatologikus (lokasi dan morfologi), pemeriksaan diagnostik langsung dengan atau tanpa labora- torium penunjang; Dari data tersebut (kumpulan gejala dan tanda) buatlah kesimpulan diagnosis kerja (sementara) dengan diagnosis banding, buat perencanaan apakah hendak dilakukan penunjang laboratorium dan non-laboratorium/intervensi, atau dirujuk ke departemen lain untuk melihat apakah ada keterlibatan organ tertentu.

Bila semua data terkumpul, buatlah diagnosis kerja. Tentukan rencana terapi medikamentosa dan non-medikamentosa. Tentukan prognosis dan rencana tindak lanjut.

Dalam dokumen ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN (Halaman 60-66)