• Tidak ada hasil yang ditemukan

INFEKSI KULIT DAN GENITALIA EKSTERNA

Dalam dokumen ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN (Halaman 75-80)

Oleh

Sri Linuwih Mena/di, Sandra Widaty, Hanny Nilasari

PENDAHULUAN

lnfeksi kulit dan genitalia eksterna pada infeksi menular seksual dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Untuk menetapkan diagnosis selain dari anamnesis dan pemeriksaan klinis, diperlukan juga pemeriksaan penunjang.

Beberapa pemeriksaan penunjang sederhana dapat dilakukan di poliklinik karena tidak diperlu- kan peralatan yang canggih, seperti pemeriksaan kerokan kulit untuk mikologik, slit skin smear untuk basil tahan asam, dan pulasan Gram serta sediaan basah pada infeksi menular seksual.

PEMERIKSAAN MIKOLOGIK Tujuan

Pemeriksaan dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis:

1. Dermatofitosis pada kulit, kuku, dan rambut 2. Kandidosis kulit dan kuku

3. Pitiriasis versikolor 4. Piedra

5. Tinea nigra 6. Mikosis profunda

Macam-macam Pemeriksaan 1. Pemeriksaan langsung

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat elemenjamurseperti hifa panjang, hifa pendek, pseudohifa, spora, dan blastospora.

• Bahan atau spesimen berasal dari:

- Kulit: kerokan papul, pustul, krusta, skuama, atap vesikel.

- Kuku: kerokan tepi kuku, permukaan, dasar, debris di bawah kuku, dan bagian terjauh dari distal kuku.

- Rambut: rambut dicabut dan kerok kulit pada lesi, atau potong rambut yang mengandung lesi/benjolan.

• Alat dan bahan Alat:

- Pisau skalpel tumpul, selotip, kapas lidi

- Gelas obyek, gelas penutup, api Bunsen, mikroskop cahaya.

Bahan:

- Alkohol 70%, larutan NaCl 0,09%

- Larutan KOH 10-20%, KOH-DMSO, atau KOH-tinta Parker biru-hitam

• Cara pengambilan spesimen

- Bersihkan kulit dengan alkohol 70%

- Kerok dengan skalpel tumpul dengan arah ke atas, atau

- Tempel tekan dengan menggunakan selotip (pada pasien anak atau skuama minimal, atau pada lokasi yang sulit) - Pada lesi basah gunakan kapas lidi

digulirkan pada lesi

• Cara pembuatan sediaan

- Letakkan skuama di atas gelas obyek, tetesi KOH 20%, kemudian ditutup dengan gelas penutup

- Bila menggunakan selotip, lekatkan selotip pada gelas obyek yang telah ditetesi KOH

- Biarkan selama 15 menit, atau lewatkan di atas api Bunsen, jangan sampai mendidih

- Periksa dan amati dengan mikroskop cahaya pemeriksaan 1 OOx, kemudian 400x

- Bila kurang jelas, dapat ditetesi tinta Parker, sehingga memberi warna dasar biru-kehitaman, sedangkan elemen jamur tetap jernih.

• Hasil pemeriksaan

- Dermatofitosis: elemen jamur kulit berupa hifa panjang dan/atau artrospora.

,

Pada rambut berupa spora endotrik/

ektotrik dan kadang terdapat hifa di dalam atau di luar rambut.

- Kandidosis: elemen jamur berupa spora, blastospora dan pseudohifa.

Pitiriasis versikolor: elemen jamur berupa sekelompok spora oval/bulat, blastospora dan hifa pendek.

- Tinea nigra palmaris: tampak hifa t:rer- cabang, bersekat, berwarna coklat muda sampai dengan hijau tua.

- Piedra: tampak benjolan yang terdiri atas hifa bersekat, teranyam padat dan di antaranya terdapat askus yang berisi 4-8 askospora.

• Pengiriman bahan

Bila tidak tersedia laboratorium, spesimen dapat dikirim dengan cara:

- Skuama diletakkan pada kertas hitam, dilipat, atau

- Selotip berskuama dilekatkan pada gelas obyek, masukkan dalam amplop tertutup dan kirimkan.

Hasil negatif palsu dapat disebabkan:

• Faktor pasien - Salah memilih lesi

- Pasien dalam pengobatan anti jamur

• Faktor laboratorium

- Spesimen yang dikumpulkan tidak cukup

- Larutan KOH tidak memenuhi syarat - Pemeriksaan dengan mikroskop tidak

fokus atau pencahayaan kurang baik

• Faktor pemeriksa Kompetensi kurang

2. Pemeriksaan biakan Tujuan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk:

1. ldentifikasi jamur penyebab 2. Kepentingan epidemiologi 3. Penelitian

• Cara pengambilan spesimen

Pengambilan spesimen dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeriksaan sediaan langsung, bahan diambil sebanyak mungkin dan diletakkan pada cawan petri.

• Persiapan pasien

Pasien diminta untuk tidak menggunakan obat anti jamur (OAJ) topikal minimal 1 minggu dan OAJ sistemik 1 bulan.

• Alat dan bahan Alat:

- Pinset anatomis

- Pisau skalpel tumpul, selotip atau kapas lidi

- Api Bunsen

- Sengkelit, gelas objek, gelas penutup - Cawan petri, tabung reaksi

Bahan:

- Alkohol 70%, NaCl 0,9%

- Media biakan agar Sabourraud, agar Mycobiotic®

- Larutan lactophenol cotton blue

• Cara pemeriksaan

1. Ambil spesimen dengan sengkelit steril dan letakkan pada media kultur dalam cawan petri atau tabung reaksi.

2. Letakkan pada suhu ruangan dan kelembaban yang cukup, amati per- tumbuhan jamur sampai maksimal 4 minggu.

• Cara pembacaan hasil kultur

1. Ambil spesimen dari koloni yang tumbuh pada titik tengah antara bagian tepi dan pusat koloni.

2. Letakkan spesimen pada gelas objek yang telah ditetesi alkohol 70%.

3. Tambahkan larutan lactophenol cotton blue dan tutup dengan gelas penutup.

4. Periksa dan amati dengan mengguna- kan mikroskop pembesaran rendah

(100x), kemudian 400x

• Hasil Pemeriksaan 1. Koloni kapang

- Makroskopis: permukaan bagian depan tampak kasar (granular hingga seperti kapas) sedangkan permukaan belakang berwarna sesuai masing-masing spesies. - Mikroskopis: tampak hifa dengan

makrokonidia dan atau mikrokonidia.

2. Koloni menyerupai ragi

- Makroskopis: permukaan tampak licin.

- Mikroskopis: tampak pseudohifa, spora, dan blastospora serta sel ragi.

3. Koloni ragi

- Makroskopis: permukaan tampak licin dan berbau

- Mikroskopis: tampak spora, blasto- spora, dan sel ragi.

PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM

Pemeriksaan bakterioskopik untuk basil tahan asam (BTA) M.leprae dilakukan dengan membuat sediaan hapus kerokan jaringan kulit (slit skin smear). WHO menetapkan pengambilan spesimen berasal dari cuping telinga kiri dan kanan serta 2-4 lesi lainnya. Pengambilan spesimen dari mukosa hidung tidak dianjurkan, karena didapati M.atipik yang bersifat komensal. Di samping itu, bila di kulit tidak didapati lesi, maka di mukosa hidung juga tidak ada. Selanjutnya M.leprae pada hidung cepat negatif dalam pengobatan, walaupun lesi pada kulit masih positif.

Alat dan bahan 1. Mikroskop cahaya 2. Gelas obyek 3. Minyak emersi

4. Skalpel dengan mata pisau no.15 5. Api Bunsen

6. Sarung tangan 7. Kapas alkohol

8. . Bahan pewama tahan asam: Ziehl Neelsen

atau Kinyoun Gabett Cara pengambilan spesimen

Bersihkan cuping telinga dengan kapas alkohol Jepit dengan ibu jari dan jari telunjuk sampai iskemi, agar tidak tercampur darah

Sayat dengan pisau sepanjang 0,5 cm dengan kedalaman 2-3 mm, sejajar dengan garis lipatan kulit

Putar pisau 900, sehingga sisi lebar pisau searah sayatan

Kerok 2-3 kali dengan ujung pisau dan letakkan jaringan tersebut di atas gelas obyek dan ratakan

Buat sediaan seperti di atas dari 2-4 lesi lain yang aktif (plak eritematosa) atau bila tidak ada, pilih dari lesi yang paling anestesi.

CARA PEMERIKSAAN

1. Spesimen difiksasi dengan jalan mengering- kan di udara dalam suhu kamar atau dengan pemanasan melalui api Bunsen

2. Tandai tempat-tempat pengambilan spesimen dengan menggunakan pensil kaca

3. Tuang larutan fukhsin karbol 1 %

4. Panaskan di atas api Bunsen sampai uap keluar, jangan terlalu panas

5. Biarkan 15 menit tanpa pemanasan 6. Cuci dengan air mengalir sampai berwarna

merah muda

7. Tuang campuran asam alkohol (H

2S0

4)

8. Cuci dengan air mengalir

9. Tuang larutan biru metilen 1 % selama 10 detik 10. Cuci dengan air mengalir dan keringkan di

udara CAT AT AN

• Bersihkan bisturi dengan alkohol dan sterili- sasi dengan dipanaskan melalui api Bunsen, sebelum digunakan untuk mengambil sediaan pada lesi lain

• Cuci sarung tangan dengan sabun dan anti- septik sebelum dilepaskan dari tangan

• Kapas/kapas alkohol yang terkena darah sebaiknya dibakar

• Bisturi yang sudah dipakai disterilisasi, kemudian dibuang pada tempat yang khusus disediakan.

PENILAIAN HASIL

1. Gunakan mikroskop cahaya (binokuler lebih baik)

2. Pembesaran 1000x (okuler 10, obyektif 100) dengan menggunakan minyak emersi 3. Baca hasil dan hitung indeks bakteri (IB)

dan lndeks morfologi (IM) dengan arah:

Z arau2

lndeks Bakteri

lndeks Bakteri (IB) ialah jumlah seluruh basil yang hidup (solid) dan yang mati (batang terputus/

fragmented atau berbutir granular)

Skala logaritmik Ridley

0 : tidak didapatkan basil dalam 100 lapang pandang

1 + : 1 - 1 O basil /100 lapang pandang 2 +: 1 - 1 O basil /1 O lapang pandang 3 + : 1 - 10 basil / la pang pandang 4 + : 10 - 100 basil / lapang pandang 5 + : 100 - 1000 basil / lapang pandang 6 + : > 1000 basil / la pang pandang IB pasien: jumlah seluruh IB tiap lesi, dibagi

dengan jumlah lesi yang diambil contoh:

Telinga kanan 5+; punggung kanan 4+;

telinga kiri 5+; lengan kanan 4+.

IB rata-rata: 5+5+4+4 =

.1.a

= 4,5

4 4

lndeks Morfologi

lndeks Morfologi (IM) adalah persentase jumlah basil hidup dibandingkan dengan seluruh basil (basil hidup + mati)

IM=

s

x 100%

S+F+G 2

= x 100%= 0,5%

2+170+228

Basil yang dihitung adalah basil yang terpisah, tidak dalam bentuk globus

IM pasien: dihitung rata-rata tiap lesi yang diperiksa

Kegunaan: menilai respons pengobatan Hasil positif palsu dapat disebabkan: - Gelas objek bekas

- Zat warna (Fukhsin karbol) mengkristal Hasil negatif palsu dapat disebabkan:

- Lesi yang dipilih tidak aktif

- Pemanasan terlalu lama sehingga sel rusak - Zat warna kurang baik

PEMERIKSAAN DUH TUBUH

Duh tubuh uretra dan vagina merupakan salah satu gejala klinis infeksi menular seksual, yang dapat disebabkan oleh infeksi gonore, triko-

moniasis, bakterial vaginosis, kandidosis vulvo- vaginalis maupun infeksi nonspesifik.

Tujuan

Untuk mendapatkan mikroorganisme/agen penye- bab yaitu Neisseria gonnorheae, Trichomonas vagina/is, Gardnere/la vagina/is, Candida albicans.

Alat dan Bahan - Mikroskop cahaya

- Kaea objek (2) untuk pulasan Gram dan sediaan basah, dan gelas penutup

- SengkeliUose logam atau plastik (disposible) sebanyak 4 (empat) buah dan kapas lidi steril - Alkohol 70% dan larutan garam fisiologis

(NaCl) - Kapas - Spekulum - Sarung tangan - Kursi ginekologik - Api Bunsen

- Bahan pewarnaan Gram - Lampu sorot

CARA PENGAMBILAN SPESIMEN Laki-laki

1. Gunakan sarung tangan

2. Duh tubuh uretra diambil dengan sengkelit steril (dipanaskan sampai membara dan di- dinginkan kembali)

3. Masukkan sengkelit melalui orifisium uretra eksternum sedalam 1-2 cm

4. Oleskan pada kaca objek

5. Fiksasi dan warnai dengan pulasan Gram Perempuan

1. Pasien dalam posisi litotomi 2. Gunakan sarung tangan

3. Bersihkan genitalia eksterna dengan larutan antiseptik

4. Bila belum menikah, gunakan kapas lidi untuk mengambil duh tubuh vagina

5. Bila sudah menikah, gunakan spekulum dengan ukuran yang sesuai

6. Masukkan spekulum steril, lihat posisi porsio, bersihkan dengan kassa steril, masukkan sengkelit sampai endoserviks, ambil duh dan letakkan di kaca objek.

7. Masukkan sengkelit yang berbeda untuk pengambilan sekreUduh di forniks posterior,

letakkan di kaca objek yang telah ditetesi larutan NaCl 0,9%.

8. Masukkan kapas lidi steril, usap dinding vagina dan letakkan pada kaca objek.

9. Lepaskan spekulum dari vagina.

10. Masukkan sengkelit ukuran terkecil untuk mengambil sediaan dari uretra, letakkan spesimen pada kaca objek.

11. Fiksasi sediaan dengan api Bunsen dan wamai dengan pulasan Gram.

CARA PEWARNAAN SEDIAAN 1. Sediaan Basah

Sediaan yang telah ditetesi dengan NaCl 0,09% dapat dilihat langsung dengan mikroskop pembesaran 1 OOx dan 400x 2. Sediaan Gram

Setelah difiksasi dan diwamai, sediaan dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1Ox100 dengan minyak emersi.

HASIL PEMERIKSAAN

1. Trikomoniasis: terlihat pergerakan flagel parasit T vagina/is pada sediaan.

2. Gonore: tampak diplokokus Gram negatif seperti biji kopi, intra dan ekstraseluler.

3. Bakterial vaginosis: didapatkan kokobasil dalam jumlah banyak yang menutupi seluruh epitel, disebut sebagai clue cells.

4. Kandidosis vulvovaginalis: tampak spora dan blastospora berwarna biru keunguan (Gram positif) dengan tunas (budding) serta pseudohifa.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pariser OM, Caserio RJ, Eaglstein WH. Techniques for Diagnosing Skin and Hair Disease. New York:

Thieme Inc; 1986. p 11-54.

2. Rippon JW. Medical mycology. 2"" ed. Philadephia:

WB Saunders Co; 1982. p 140-5.

3. Rohde B, Hartmann G. Introducing Mycology by Examples. Hamburg; 1980.

4. Josodiwondo S. Pemeriksaan bakteriologik dan serologik infeksi menular seksual. Dalam: Daili SF, Makes WIB, Zubier F, Judanarso J. lnfeksi menular seksual. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005.h.25-47.

5. Thangaraj RH, Yawalkar SJ. Leprosy for Medical Practitioners and Paramedical Workers. Basie: Ciba Gergy Ltd; 1986. p 16-22.

6. World Health Organization. A Guide to Eliminating Leprosy as a Public Health Problem. 1" ed. Geneva:

World Health Organization; 1995. p. 31-41.

..

BAB II

Dalam dokumen ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN (Halaman 75-80)