Dimensi 3: Iklim sekolah positif tercipta
A. Widiansyah, Y. Gumala
161 PENDAHULUAN
Saat ini dunia sedang dihadapkan pada perubahan yang massive, hal ini pun menjadi tuntutan dan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia.
Era Society 5.0 merupakan masa dimana manusia menjadi pusat beradaban dan
menggunakan sains serta teknologi berdampingan dalam kehidupan, sehingga hal ini menuntut kualitas SDM yang berkualitas.
SDM yang berkualitas menjadi tantangan tersendiri bagi dunia khususnya bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang dan dukungan dalam peningkatan SDM harus
Manajemen Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Iklim Organisasi
Yohamintin
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Indonesia
162 didukung dengan banyak hal demi menyongsong era 5.0 yakni salah satunya adalah tentang pentingnya leadership dan management dalam pendidikan, dimana pendidikan merupakan tempat dimana SDM berkualitas dan ungggul dihasilkan. Pengelolaan dan kepemimpinan menjadi hal yang crucial dalam menjalankan roda organisasi pendidikan sehingga tujuan untuk menghasilkan output yang diharapkan tercapai.
Manajemen pendidikan merupakan pondasi dalam keberhasilan pencapaian tujuan sekolah.
Manajemen lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan organisasi dalam hal ini kepala sekolah. Dimana, pemimpin harus mampu membawa lembaga tersebut ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam era kehidupan yang terus berubah. Pemimpin harus mampu mendorong semangat, menggunakan nilai-nilai, kepercayaan dan kebutuhan bawahan untuk menyelesaikan tugas dan mampu melakukan dalam situasional yang sangat cepat berubah atau situasi yang penuh krisis, atau dengan kata lain mampu menampilkan kepemimpinan yang kharismatik, penuh inspirasi, stimulasi intelektual dan perasaan bahwa setiap bawahan diperhitungkan.
Kepemimpinan kepala sekolah untuk menciptakan iklim organisasi yang kondusif, dituntut harus memahami manajemen berbasis sekolah yaitu dapat memberikan peluang kepada guru untuk dapat mengembangkan diri untuk dapat mencapai predikat profesional.
Pada studi pendahuluan yag dilakukan peneliti, masih banyak ditemukan dilapangan bahwa kinerja guru dianggap sebagai penyebab kualitas lulusan sekolah rendah dan merosotnya mutu pendidikan. Kinerja guru tersebut mungkin saja terjadi akibat dari kepemimpinan
kepala sekolah, lingkungan kerja fisik, iklim organisasi, supervisi kepala sekolah, kompetensi mengajar guru, sikap guru terhadap profesinya sebagai guru, pengetahuan tentang kepemimpinan, jenjang atau tingkat pendidikan.
Pada sisi lainnya keluhan dari guru tentang gaya, kepemimpinan yang dimiliki kepala sekolah yang kurang memberi perhatian dan penghargaan terhadap guru, seharusnya guru yang berprestasi mendapat reward atau penghargaan. Sehingga harus disadari bahwa SDM guru menjadi sangat penting dan harus dilakukan pembinaan secara intensif, efektive, terprogram dan memiliki tujuan yang jelas.
Berdasarkan pengamatan tersebut peneliti akan mengamati mengenai pengaruh kepemimpinan dalam manajemen sekolah terhadap kualitas kinerja dan iklim organisasi dengan studi kasus di SMP Plus Al- Kautsar Malang
METODE
Penelitian ini bertujuan sebagai gambaran manajemen Kepala Sekolah dalam meningkatkan iklim organisasi SMP Plus Al- Kautsar Malang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi dengan rancangan studi kasus, teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan tahapan-tahapan diantaranya reduksi data, paparan data, dan verifikasi data. Sumber data adalah kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.
Analisis data yang digunakan dengan triangulasi, yaitu membandingkan hasil observasi dengan dokumentasi dan hasil wawancara. Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan proses daripada hasil. Jadi dalam penelitian kualitatif penelitian merupakan instrument yang memegang peranan dalam mengumpulkan data guna menyelesaikan
163 permasalahan yang ada dalam penelitian (Lexy Meleong, 2004: 4). Oleh karena itu peneliti mengamati proses atau pelaksanaan proses evaluasi ketercapaian tri darma sebagai tolak ukur mutu objek penelitian.
Subjek penelitian merupakan sumber data yang memberikan kejelasan mengenai duduk persoalan yang dikaji. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah SMP Plus Al- Kautsar Malang, empat orang wakil kepala sekolah, enam guru, dua siswa dan dua komite.
PEMBAHASAN
Pelaksanaan Kebijakan di SMP Plus Al- Kautsar Malang
Hasil penelitian ini menunjukkan kebijakan yang telah dilaksanakan kepala sekolah dalam mengelola organisasi yang sesuai dengan standar nasional pendidikan sebagai tolak ukur dalam menentukan kebijakan untuk mengelola sebuah organisasi sekolah. Berlepas dari tujuan khusus sekolah yang akan menjadi haluan dalam setiap keputusan yang diambil agar tercapainya tujuan. Ditemukan di SMP Plus Al- Kautsar Malang dalam pelaksanaan kebijakan yang diambil sudah baik, dalam penerapan aturan- aturan yang harus diberlakukan di internal sekolah. Sejauh ini berdasarkan pengamatan dan data, kepala sekolah memberikan suatu acuan dalam penataan setiap komponen dilingkungan sekolah, antara lain menentukan tata tertib sekolah, mengkomunikasikan dengan sesuai warga sekolah dalam melakukan pengembangan baik bidang kurikulum, kesiswaan, humas, sarana dan prasarana, administrasi sekolah dan pengaturan hubungan dengan berbagai stakeholder yang sasarannya adalah menjadikan sekolah yang beriklim kondusif.
Kegiatan organisasi pendidikan tidak terlepas dari pengembangan yaitu menciptakan
kerjasama dan menata perubahan sesuai dengan kondisi yang dihadapi baik secara internal dan ekternal mampu menampilkan strategik yang efektif dan efesien dalam memberikan jawaban kebutuhan pendidikan. Manajemen strategik adalah suatu metode peningkatan mutu yang bertumpu pada lembaga itu sendiri, mengaplikasikan sekumpulan teknik, mendasarkan pada ketersediaan data kuantitatif dan kualitatif, dan pemberdayaan semua komponen lembaga pendidikan untuk secara berkesinambungan meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasi guna memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat (Mulyasa: 2013).
Perilaku Manajerial dalam Meningkatkan Iklim Organisasi Sekolah pada SMP Plus Al- Kautsar Malang.
Pelaksanaan sekolah dalam membina iklim menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang berarti kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMP Plus Al- Kautsar Malang. Hubungan yang memeliki hubungan berbanding lurus dimana apabila kepemimpinan kepala sekolah dijalankan dengan baik, maka semakin tinggi pula kinerja guru. Untuk melaksanakan fungsi-fungsi organisasi harus dilakukan melalui komunikasi dua arah atau hubungan interaktif yang saling memperlakukan pihak lain sebagai subjek (Usman :2014)
Dengan demikian, kepemimpinan kepala sekolah yang dilaksanakan secara efektif, efisien dan produktif akan memberikan dampak positif bagi guru. Hal ini terlihat dalam perubahan prilaku guru kearah yang lebih positif yang menyebabkan lonjakan rasa percaya diri bagi guru yang akan memotivasi dirinya untuk lebih berprestasi.
164 Faktor Pendukung dan Penghambat prestasi sekolah di SMP Plus Al- Kautsar Malang.
Faktor pendukung yang menjadi poin penting dalam organisasi di SMP Plus Al- Kautsar Malang adalah adanya iklim kerjasama yang baik dimana pemimpin dapat berkomunikasi dengan baik dengan seluruh stake holders terutama guru, menjadi nilai lebih sekolah sehingga kepala sekolah yang cakap dalam berkomunikasi dapat menyampaikan maksud dan tujuan sekolah dalam program- program yang akan dilaksanakan. Serta ditemukannya kebijakan internal yang diberlakukan oleh kepala sekolah untuk mendukung guru mengembangkan diri dengan melanjutkan studi dan memberi dukungan kelapangan jam mengajar dan insentif bantuan dari sekolah. Tentunya hal ini semakin memberikan motivasi tinggi bagi guru untuk mengembangkan diri dan akhirnya hal ini akan memberi imbas baik pada kemajuan sekolah karena iklim organisasi yang kondusif dan terpelihara dengan baik.
Faktor penunjang lain yang peneliti dapatkan dilapangan yaitu, kebijakan sekolah sudah sesuai dengan peraturan pemerintah pada satuan pendidikan, hal ini dalam pengelolaan sekolah tidak terlepas dari 8 standar nasional pendidikan, walaupun pada empat standar nasional pendidikan itu selalu mendapat revisi- revisi dan perubahan-perubahan, sehingga kebijakan yang ditempuh mengacu pada perubahan pada standar nasional pendidikan tersebut. Kemudian faktor penunjang lainya adalah adanya pelatihan dan pembinaan seperti workshop untuk meningkatkan kompetensi guru. Selain itu sekolah rutin mengadakan kegiatan kajian keagamaan rutin bagi guru untuk memotivasi semangat dan kinerja guru.
Adapun penghambat iklim organisasi sekolah yakni kurangnya kesiapan SDM administrasi
dalam melaksanakan program-program yang telah dibuat sekolah, dan kesiapan pendanaan yang masih harus dibenahi sehingga dapat lebih optimal dalam menunjang kemajuan sekolah.
Faktor pembiayaan menjadi salah satu kekurangan demi pengembangan sekolah ini, akan tetapi sejauh ini manajemen sekolah melakukan strategi subsidi silang untuk membantu bagi anak-anak yang kurang mampu, serta memberikan kesemmpatan bagi komite sekolah untuk memberikan donasi bagi pendidikan anak-anak yang kurang mampu disekolah ataupun donasi untuk program- program sekolah lainnya walaupun hal ini belum memberikan pendanaan secara optimal dalam pengembangan sekolah. Karena kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
Agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai seorang educator, manajer, administrator, supervisor, leader (pemimpin), innovator,komunikator dan motivator yang baik. (Mulyasa:2013).
KESIMPULAN
Program manajemen kepala sekolah dalam membangun dan membina iklim organisasi mempunyai hubungan yang berarti dengan kinerja guru SMP Plus Al- Kautsar Malang.
Pelaksanaan manajemen sekolah dalam membina iklim organisasi sekolah, kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun kinerja guru pada SMP Plus Al- Kautsar Malang.
Faktor pendukung dan penghambat dalam membina iklim organisasi sekolah secara bersama-sama mempunyai hubungan yang signifikan dengan kinerja guru SMP Plus Al- Kautsar Malang.
165 DAFTAR PUSTAKA
Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset.
Makawimbang Jerry H, (2013). Kepemimpinan Pendidikan Berkualitas.Bandung:
Alfabeta.
Mulyasa E., (2013). Menjadi Kepala Sekolah yang Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Murniati dan Yusrizal. (2015). Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru di SD Negeri 2 Lambheun Kabupaten Aceh Besar.
Jurnal. Administrasi pendidikan UNSYIAH: Banda Aceh.
Najib. M. dkk (2019). Analisis Enam Keterampilan Inti Kepemimpinan Dalam Pengembangan Organisasi Pembelajaran. Jurnal Adminstrasi Pendidikan, 26 (2), 206-216.
Usman Nasir.(2012). “Manajemen Peningkatan Kualitas Kinerja Guru”. Bandung:
Citapustaka Media Perintis.
166
167 PENDAHULUAN
Sejumlah kegiatan Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) Penguatan Kepala Sekolah pada akhir tahun 2019 ini, diselenggarakan di sejumlah kota di berbagai Provinsi di Indonesia. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan provinsi, Kabupaten maupun kota bekerja sama dengan berbagai lembaga menjadi pelaksana kegiatan DIKLAT ini.
Pelaksanaan kegatan Diklat Kepala Sekolah ini sebagai respon atas diberlakukannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai kepala Sekolah.
Permendikbud tersebut mewajibkan kepada kepala sekolah yang sudah menjabat sebelum
diterbitkannya peraturan tersebut untuk mengikuti Diklat Penguatan dengan durasi 71 jam.
Mengapa ini perlu dilakukan? Kita paham bahwa Keberhasilan proses belajar siswa di Sekolah membutuhkan peran berbagai pihak, salah satunya kepala sekolah. Bahkan kepala sekolah berperan penting sebagai pemimpin dalam manajemen sekolah, termasuk mengatur guru dan siswa. Untuk itu, kepala sekolah harus memiliki kompetensi memadai untuk menggerakkan dan mengembangkan semua potensi yang ada di sekolah sehingga terjadi perubahan positif yang bisa dilihat dari hasil belajar siswa.