• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1 Desain Penelitian

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 99-103)

91

Tabel 3. Ringkasan Hasil Uji Linieritas Regresi

Garis yang diuji Fhitung Ftabel Keterangan

X1 atas Y 0,71 1,93 Linear

X2 atas Y 1,67 1,87 Linear

Sumber: Data Primer yang di olah

Uji multikolinieritas menggunakan koefisien VIF (variance inflation factor), dimaksudkan untuk menguji hubungan antara variabel bebas yaitu adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional. Pengujian multikolinieritas dilakukan dengan kriteria jika nilai VIF < 10 maka tidak terjadi masalah multikolinieritas atau dengan kata lain, tidak terdapat hubungan kuat antara variabel bebas. Dan jika nilai VIF > 10 maka terdapat multikolinieritas.

Tabel 4. Ringkasan Hasil Uji Multikolinieritas

Variabel VIFhitung VIF Keterangan

Adversity Quotient (AQ) dan

Kecerdasan Emosional 2,55 10

Tidak terjadi masalah multikolinieritas Sumber: Data primer yang diolah

Setelah melakukan uji persyaratan analisis data, langkah selanjutnya dilakukan perhitungan pengujian hipotesis yaitu dengan teknik korelasi dan regresi ganda. Dari hasil pengolahan data diperoleh besar koefisien korelasi sebesar 0,64 , nilai ini mengindikasikan adanya korelasi yang kuat antara adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika. Besarnya koefisien determinasi sebesar 40,96% yang berarti sebesar 40,96% prestasi belajar matematika siswa dipengaruhi oleh tingkat adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Secara individu, signifikansi setiap variabel bebas terhadap variabel terikat, berdasarkan hasil perhitungan uji lanjut (uji-t) menunjukkan bahwa masing-masing variabel bebas diperoleh │thitung│> ttabel (2,154 > 2,002 serta 2,059 > 2,002). Sehingga dapat disimpulkan secara individu setiap variabel bebas memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat.

Dari hasil perhitungan regresi ganda, diperoleh model persamaan regresi ganda yang terbentuk adalah Ŷ = 8,47 + 0,28X1 + 0,35X2. Hal ini berarti, jika adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional diabaikan, maka prestasi belajar matematika 8,47 ; setiap penambahan 1 poin pada adversity quotient (AQ) akan menambah prestasi belajar sebesar 0,28 dan setiap penambahan 1 poin pada kecerdasan emosional akan menambah prestasi belajar sebesar 0,35. Hasil uji signifikansi koefisien regresi ganda diperoleh nilai Fhitung > Ftabel (20,21 > 3,16), maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika.

Dari perhitungan data secara individu diperoleh besar koefisien korelasi variabel bebas X1 atas variabel terikat (Y) sebesar 0,61; nilai ini mengindikasikan terdapat korelasi yang kuat antara adversity quotient (AQ) terhadap prestasi belajar matematika. Besar koefisien determinasi 37,21%, yang berarti 37,21% variabel prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh adversity quotient (AQ), sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Dari hasil perhitungan analisis korelasi sederhana diperoleh thitung > ttabel (5,863 > 2,0017), maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan adversity quotient (AQ) terhadap prestasi belajar matematika.

Dari perhitungan data secara individu diperoleh besar koefisien korelasi variabel bebas X2 atas variabel terikat (Y) sebesar 0,60; nilai ini mengindikasikan terdapat korelasi yang kuat antara kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar matematika. Besar koefisien determinasi 36%, yang berarti 36% variabel prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh kecerdasan emosional, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Dari hasil perhitungan analisis korelasi sederhana diperoleh thitung > ttabel (5,807 > 2,0017), maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar matematika.

Pembahasan

Penelitian ini telah menemukan dan berhasil mengkonfirmasi bahwa adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional memberikan dampak positif yang berarti terhadap prestasi belajar matematika siswa. Hal ini berarti bahwa prestasi belajar matematika siswa akan lebih baik apabila tingkat adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional yang dimiliki siswa semakin tinggi. Agar prestasi belajar matematika siswa menjadi lebih baik, dibutuhkan kesinambungan dari guru dan orang tua untuk membangun adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional yang baik bagi setiap diri siswa sehingga dapat diperoleh prestasi belajar matematika yang maksimal. Guru matematika harus dapat membantu siswa dalam mengembangkan adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional siswa ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat bermanfaat karena matematika sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-sehari. Belajar matematika sangat membutuhkan keuletan, daya juang yang

92

tinggi, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan soal-soal matematika untuk dapat memahami konsep serta pola bilangan matematika dan penalaran-penalaran yang logis untuk dapat menyelesaikan masalah matematis. Dengan adversity quotient (AQ) yang tinggi yang dimiliki oleh siswa, kesulitan matematika akan menjadi sebuah tantangan untuk dapat diselesaikan dengan baik dan pantang menyerah. Adversity quotient (AQ) sangat dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidup karena seseorang yang memiliki adversity quotient (AQ) yang tinggi akan sukses dan berhasil dalam belajar meskipun banyak hambatan yang menghadang, individu tersebut tidak akan langsung menyerah dan tidak akan membiarkan kesulitan dan hambatan-hambatan tersebut menghancurkan impian dan cita-citanya. Dari data penelitian terlihat sebagian besar siswa telah memiliki adversity quotient (AQ) yang baik yang tentunya berdampak positif dan signifikan terhadap prestasi belajar

matematika. Hasil penelitian ini senada dengan penelitian Kustriyatmoko (2013) yang berjudul “Pengaruh adversity quotient terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 160 Jakarta” menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara adversity quotient terhadap prestasi belajar matematika. Adversity quotient yang baik akan meningkatkan prestasi belajar individu. Dengan demikian, adversity quotient (AQ) memberikan kontribusi yang baik terhadap prestasi belajar matematika.

Selain adversity quotient (AQ) yang dapat mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa, dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional yang juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi

belajar matematika siswa. Hal ini senada dengan penelitian Warsiyah (2012) yang berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa” menunjukkan bahwa kecerdasan emosional siswa memiliki hubungan positif dan signifikan dengan prestasi belajar matematika siswa. Semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional siswa, maka akan semakin tinggi prestasi belajar siswa.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengungkapkan dan mengenali perasaan diri sendiri serta perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubungan dengan orang lain. Mubayidh (2006:125), “guru menempati posisi yang sangat penting dalam meningkatkan kecerdasan emosional murid-muridnya”. Berdasarkan temuan yang ada dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika merupakan variabel yang sangat rentan terhadap perubahan, prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal siswa akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Usaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan prestasi belajar dan sekaligus meningkatkan prestasi belajar yang telah dicapai sebelumnya hanya mungkin dapat dilakukan dengan membangun dan mengembangkan secara bersama-sama antara faktor internal dan faktor eksternal. Faktor yang cukup berperan dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dalam penelitian ini adalah adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional.

PENUTUP Simpulan

Pertama, terdapat pengaruh adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika. Kedua, terdapat pengaruh adversity quotient (AQ) terhadap prestasi belajar matematika. Ketiga, terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar matematika.

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka beberapa saran terkait yang dapat penulis sampaikan pada penelitian ini adalah (1) Bagi siswa, hendaknya siswa lebih bersemangat dalam belajar, rajin berlatih mengerjakan soal matematika; (2) Bagi guru, diharapkan dapat mengembangkan dan mengarahkan siswa agar dapat mengoptimalkan adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosionalnya; (3) Diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua dalam membantu meningkatkan kondisi siswa baik secara fisik maupun psikis agar para siswa memiliki adversity quotient (AQ) yang tinggi dan kecerdasan emosional yang baik.; (4) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peningkatan adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional serta analisis terhadap psikologis lainnya yang diperkirakan sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary G. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga.

Budiani, Ida Ayu Putu dkk. 2014. Determinasi kecerdasan emosional dan adversity quotient (AQ) terhadap sikap profesional ditinjau dari status profesi guru SMP di kecamatan Buleleng kabupaten Buleleng. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar, Vol.4: 1-13. Kustriyatmoko. 2013. Pengaruh Adversity Quotient Terhadap Prestasi Belajar Matematika (Survei pada Siswa kelas

VIII SMPN 160 Jakarta). Skripsi: Universitas Indraprasta PGRI.

Martono, N. 2014. Dunia Lebih Indah Tanpa Sekolah. Jakarta: Mitra Wacana Media.

93

Nugroho, S dkk. 2013. Pengaruh pembelajaran kooperatif TAI terhadap prestasi belajar matematika ditinjau dari motivasi berprestasi siswa kelas V SD Tunas Daud. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar Vol. 3: 1-10.

Pasiak, T. 2006. Manajemen Kecerdasan: Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ Untuk Kesuksesan Hidup. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Ronnie, D. 2006. The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers. Jakarta: Hikmah (PT Mizan Publika). Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya . Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sudarman. 2012. Adversity Quotient: Kajian Kemungkinan Pengintegrasiannya dalam Pembelajaran Matematika. AKSIOMA, 01 (01) :55-62.

Sukardjo, M dan Ukim, K. 2010. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya . Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Supardi, U. S. 2014. Peran kedisiplinan belajar dan kecerdasan matematis logis dalam pembelajaran matematika.

Jurnal Formatif, 4 (2):80-88.

Stoltz, Paul G. 2005. Adversity Quotient : Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta: PT Gramedia.

Warsiyah, W. 2012. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa di SDIT As

94

PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALOGI MATEMATIS

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 99-103)

Garis besar

Dokumen terkait