Eni Lestari
[email protected] Fakultas Teknik, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indraprasta PGRI
Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar matematika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan analisis korelasional yang dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 157 Jakarta tahun ajaran 2014/2015. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling sebanyak 60 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan metode penyebaran angket untuk mengukur adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional, sedangkan prestasi belajar matematika menggunakan metode dokumentasi nilai UTS genap. Data dianalisis terlebih dahulu dengan uji persyaratan analisis data yaitu uji normalitas, uji linieritas regresi, dan uji multikolinieritas. Setelah uji persyaratan analisis data terpenuhi, dilakukan analisis inferensial untuk pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan teknik analisis korelasi dan regresi ganda. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) terdapat pengaruh adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional secara bersama- sama terhadap prestasi belajar matematika; (2) terdapat pengaruh adversity quotient (AQ) terhadap prestasi belajar matematika; (3) terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar matematika.
Kata Kunci: adversity quotient (AQ), kecerdasan emosional, prestasi belajar matematika
Abstract: The purpose of this study was to determine the influence of adversity quotient (AQ) and emotional intelligence on mathematics achievement. The method used is the method of correlation analysis survey, this research did in student class VIII SMP Negeri 157 Jakarta of 2014/2015 academic year. The sample taken by simple random sampling technique, involved 60 students. Data collection is carried out by questionnaire to measure of adversity quotient (AQ) and emotional intelligence, while mathematics achievement using is the method of document UTS. The data were analyzed first by test requirements, the normality test, regression linearity, and multicollinearity. After the fulfill of the test data analyzed requirements, inferential analysis to the test the research hypothesis using correlation and multiple regression. From the results of the study found that: (1) Adversity quotient (AQ) and emotional intelligence had a positive and significant simultaneous impact on mathematics achievement; (2) Adversity quotient (AQ) had a positive and significant impact on mathematics achievement; (3) Emotional intelligence had a positive and significant impact on mathematics achievement.
Keyword: adversity quotient (AQ), emotional intelligence, mathematics achievement.
PENDAHULUAN
Sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berkualitas adalah salah satu faktor penentu dalam peningkatan di segala aspek kehidupan. Pendidikan sangat berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Pendidikan adalah sebuah lembaga vital sekaligus lembaga yang menyediakan investasi jangka panjang bagi semua bangsa di dunia serta kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan melalui lembaga ini” (Martono, 2014:xv). Namun, pada kenyataannya sekarang ini mutu pendidikan dan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dan kondisinya masih jauh dari yang diharapkan. Suparno (Sukardjo dan Ukim, 2010:79) mengatakan bahwa
“pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada
di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan”. Pada satu sisi, betapa pendidikan di Indonesia saat ini dirundung
masalah besar; sedangkan pada sisi lain, tantangan semakin sulit dan tidaklah main-main. Selanjutnya Suparno mengungkapkan masalah besar tersebut, yaitu: (1) mutu pendidikan kita yang masih rendah; (2) sistem pembelajaran di sekolah-sekolah yang belum memadai; dan 3) krisis moral yang melanda masyarakat kita. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dan menciptakan generasi muda yang bermoral baik, berdaya juang yang tinggi, pantang menyerah, mampu memahami dan mengendalikan emosi dirinya sendiri, serta berkualitas baik harus dilakukan sesegera mungkin.
Belajar merupakan suatu proses yang terjadi pada semua orang yang berlangsung seumur hidup (belajar sepanjang hayat), aktivitas individu untuk mencari dan memperoleh pengetahuan, pengalaman maupun informasi melalui bahan belajar ataupun dari lingkungan. Matematika merupakan salah satu materi pelajaran yang diberikan di pendidikan formal, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Matematika memegang peranan penting karena dengan belajar matematika secara benar, daya nalar siswa dapat terolah dan dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa mampu berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif,
89
diharapkan peserta didik mampu untuk menguasai konsep dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari”.
Dalam mengajarkan matematika, guru harus memahami bahwa kemampuan setiap siswa berbeda-beda serta tidak semua siswa menyenangi mata pelajaran matematika. Senada dengan Supardi (2014:81) bahwa
“kebayakan siswa masih menganggap pelajaran matematika sulit, penuh perhitungan yang memusingkan, banyak
rumus, simbol, angka serta pelajaran yang membosankan sehingga menimbulkan sikap malas belajar yang
ditujukkan siswa dalam belajar”. Jika siswa sudah memandang matematika itu sulit, maka ia juga akan sulit
menyerap dan memahami materi pelajaran matematika, sehingga prestasi belajar yang diperoleh rendah. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, baik faktor dari dalam diri siswa maupun faktor dari luar diri siswa.
Siswa sebagai peserta didik merupakan sasaran utama dari kegiatan pendidikan, dimana mereka diharapkan dapat mencapai keberhasilan dalam belajar. Keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran, keterampilan, dan kebenaran dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
guru, serta prestasi belajar yang dicapai siswa. Menurut Slameto (2010:52), “prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa dalam suatu mata pelajaran tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur
keberhasilan murid”. Prestasi belajar dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa.
Kecerdasan siswa pun merupakan faktor penentu keberhasilan dan kesuksesan siswa dalam belajar, namun tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu berbeda-beda. Slameto (2010:128), “kecerdasan siswa akan membantu pengajar menentukan apakah siswa mampu mengikuti pelajaran yang diberikan, serta meramalkan
keberhasilan atau gagalnya siswa yang bersangkutan”. Salah satu faktor internal siswa yang memiliki pengaruh luar biasa terhadap keberhasilan seseorang yaitu kecerdasan mengatasi masalah, hambatan, dan kesulitan yang dinamakan Adversity Quotient (AQ). Keberhasilan siswa dalam pembelajaran tergantung pada bagaimana cara siswa mengatasi kesulitan yang ada.
Adversity quotient (AQ) merupakan faktor yang paling menentukan bagi kesuksesan jasmani maupun rohani, karena pada dasarnya setiap orang memendam hasrat untuk mencapai kesuksesan. Menurut Stoltz (2005:47),
“Adversity Quotient (AQ) merupakan tanah yang kaya akan zat hara, faktor kunci yang penting bagi kesuksesan”. Adversity Quotient (AQ) merupakan kecerdasan individu dalam mengatasi setiap kesulitan yang muncul, sebagai daya juang untuk melawan kesulitan, bahkan mampu menjadikan kesulitan tersebut menjadi sebuah peluang dalam menggapai kesuksesan yang diinginkan sehingga menjadikannya sebagai individu yang berkualitas. Dalam proses belajar matematika dapat dipastikan setiap siswa akan menemukan kesulitan dan hambatan-hambatan yang akan mereka hadapi. Disinilah potensi adversity quotient (AQ) sangat dibutuhkan dalam belajar matematika. Menurut Sudarman (2012:55), “siswa yang memiliki AQ tinggi tidak pernah putus harapan dalam menempuh pendidikan,
termasuk dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru kepadanya”. Potensi adversity quotient (AQ) yang ada pada diri siswa ini tentu akan sangat bermanfaat, jika diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah.
Faktor internal lain yang mendukung prestasi belajar matematika siswa adalah kecerdasan emosional.
Agustian (2001:286), “kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengungkap dan mengenali perasaan kita
sendiri juga perasaan orang lain. Kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi diri sendiri
dengan baik dan dalam hubungan dengan orang lain”. Menurut Budiani, dkk (2014:4), “Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan dalam mengelola kecakapan diri sendiri, di mana kecakapan-kecakapan tersebut mencakup kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan mempunyai
kecakapan sosial”. Pasiak (2006:69), “keberhasilan mengelola hidup (karier, rumah tangga, pergaulan) tidak hanya ditentukan oleh gelar-gelar, pendidikan tertinggi, IP, apalagi IQ”. Orang pintar tidak punya jaminan juga pintar mengatur hidup. Kesadaran diri (self-awareness), keterampilan sosial (social skill), motivasi diri (personal motivation), dan empati merupakan kunci keberhasilan dalam mengelola hidup. Senada dengan Ronnie (2006:96)
mengatakan “Setiap orang yang terus mengasah kepekaan emosinya dalam berinteraksi, akan lebih mudah meraih kesuksesan dan kebahagiaan, karena kemampuannya untuk memotivasi dan menguasai diri, serta menjaga dan
mempertahankan level harapan dan optimismenya dalam menghadapi segala hal yang terjadi”.
Dengan adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional, siswa dapat menghadapi segala kesulitan dalam belajar, menjadikan siswa sebagai siswa yang pantang menyerah, berdaya juang tinggi, dan sumber daya manusia yang berkualitas dengan memiliki kemampuan memotivasi diri sendiri, mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubungan dengan orang lain, serta dengan lingkungan dimana pun ia berada.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap 60 orang siswa kelas VIII. Peneliti mengambil dan menggunakan instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitas sebelumnya tanpa memberikan perlakuan terhadap subjek penelitian. Data yang telah terkumpul dianalisis sebagai langkah penyelesaian dari masalah yang telah dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah. Desain penelitian yang digambarkan dalam gambar hubungan antar variabel sebagai berikut:
90
Keterangan: X1 : Adversity Quotient (AQ) X2 : Kecerdasan Emosional Y : Prestasi Belajar Matematika
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang siswa yang diambil dengan teknik simple random sampling dimana pengambilan sampel dari populasi secara acak tanpa memperhatikan strata/ tingkatan karena anggota populasi dianggap homogen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk adversity quotient (AQ) dan kecerdasan emosional dengan penyebaran angket, sedangkan data prestasi belajar matematika siswa diambil dari dokumen sekolah yaitu nilai UTS genap tahun ajaran 2014/2015. Uji coba instrumen dilakukan kepada responden lain yang tidak dijadikan sebagai sampel. Data dianalisis terlebih dahulu dengan uji persyaratan yaitu uji normalitas, uji linieritas regresi, dan uji multikolinieritas. Jika persyaratan analisis data sudah terpenuhi, maka dilakukan analisis inferensial untuk pengujian hipotesis penelitian. Analisis inferensial menggunakan teknik analisis korelasi dan regresi ganda.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Statistik Deskriptif Adversity Quotient (AQ). Kecerdasan Emosional, dan Prestasi Belajar Matematika
Statistik Deskriptif Adversity Quotient (AQ) Kecerdasan Emosional Prestasi Belajar Matematika Maksimum 133 116 93 Minimum 71 61 45 Rata-rata 104,85 99,03 72,62 Median 106,5 101,83 75,42 Modus 111,9 106,1 81,60 Varians Simpangan Baku 240,23 15,50 150,76 12,28 171,90 13,11 Sumber: Data Primer yang diolah
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis data yang terdiri dari uji normalitas, uji linieritas regresi, dan uji multikolinieritas. Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi data setiap variabel yang diteliti apakah berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dilakukan dengan uji Chi-Kuadrat. Kriteria pengujiannya adalah jika χ2hitung< χ
2
tabel data berdistribusi normal, dan
jika χ2
hitung> χ2tabel data tidak berdistribusi normal. Untuk besarnya χ2tabel untuk taraf signifikansi α = 0,05 dan dk = k
– 1 = 7 – 1 = 6 , maka diperoleh nilai χ2tabel = 12,592. Dari tabel 2, terlihat bahwa seluruh variabel yang diteliti
memiliki nilai χ2
hitung< χ2tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian ini berdistribusi normal.
Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Normalitas
Variabel Kesimpulan Data Adversity Quotient (X1) 3,774 12,592 Normal Kecerdasan Emosional (X2) 10,815 12,592 Normal Prestasi Belajar Matematika (Y) 11,954 12,592 Normal Sumber: Data Primer yang diolah
Pengujian linieritas regresi dilakukan untuk menguji garis regresi antara variabel bebas dengan variabel terikat, apakah berpola garis lurus (linier) atau tidak. Pengujian linieritas regresi dilakukan dengan kriteria pengujian jika Fhitung< Ftabel maka persamaan garis regresi berpola linier dan jika Fhitung > Ftabel maka persamaan garis regresi tidak berpola linier. Dari tabel 3, terlihat bahwa setiap variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki nilai Fhitung < Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa berpola linier.