• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Haryanti 1) , dan Nerru Pranuta M 2)

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 143-146)

1)

Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] 2)

Prodi Pendidikan Matematika, STKIP Surya Email: [email protected]

Abstrak. Penelitian inidilatarbelakangi oleh kondisi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar geometri, terutama materi jarak dan sudut dalam bangun ruang. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan abstraksi siswa. Siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menentukan jarak antara titik ke garis, jarak antara dua garis, jarak garis ke bidang, jarak antara dua bidang, dan begitu pula dalam menentukan sudut yang terbentuk. Jenis penelitian merupakan pre-experimental design dengan design penelitian one group pretest-postest. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas 10 SMAN XYZ di kota Semarang sebanyak 32 siswa, dan tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pembelajaran bangun ruang secara kooperatif dengan berbantuan software Cabri 3D. Cabri 3D merupakan salah satu software yang digunakan untuk pembelajaran geometri khususnya bangun ruang. Software Cabri 3D ini mampu mengambar secara visual suatu obyek 3D yang dapat digerakan dan dilihat dari berbagai sudut pandang. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran secara kooperatif dengan berbatuan Cabri 3D. Kata kunci: kooperatif, Cabri 3D, dan Geometri.

PENDAHULUAN

Perkembangan zaman yang semakin pesat menuntut setiap bangsa untuk dapat mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya, salah satunya yaitu dengan memajukan mutu pendidikan yang ada. Upaya pemerintah untuk dapat memajukan mutu pendidikan telah ditunjukkan dari tahun ke tahun. Salah satu upaya tersebut adalah dengan perbaikan kurikulum. Perubahan kurikulum yang dari kurikulum KBK menjadi kurikulum KTSP kemudian berubah lagi kurikulum 2013 memiliki fokus tujuan utama yaitu mencapai tujuan pendidikan.

Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuanpendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa.Proses belajar mengajar yang diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, pada hakikatnya dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana baik dalam aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun sikap (afektif). Ketiga aspek tersebut merupakan komponen- komponen dari hasil belajar.

Hasil belajar merupakan salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses pembelajaran yang alami oleh siswa. Hasil belajar merupakan cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan suatu evaluasi. Hasil belajar diartikan sebagai hasil akhir pengambilan keputusan tentang tinggi rendahnya nilai siswa selama mengikuti proses belajar mengajar, pembelajaran dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah dari hasil sebelumnya (Djamarah, 2000). Sedangkan Arikunto (2001:63) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan.

Rendahnya hasil belajar siswa terutama untuk bidang studi matematika di picu oleh beberapa faktor, beberapa diantaraya adalah ketidakpahaman siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh gurunya dan siswa takut atau bingung apa yang mau ditanyakan. Hal tersebut menyebabkan kurang terjadinya interaksi dan komunikasi aktif antara guru dan siswa sehingga cenderung belajar secara individu dan pada akhirnya menjadikan kegiatan proses belajar menjadi monoton karena siswabersifat pasif sedangkan guru yang berperan aktif, siswa dianggap tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu di dalam Dalam proses belajar mengajar guru hendaknya memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, karena dengan keaktifan ini siswa akan mengalami, menghayati dan mengambil pelajaran dari pengalamannya.

SMAN XYZ merupakan salah satu SMA Negeri dikota Semarang yang masih melaksanakan kurikulum KTSP. Proses pembelajaran dalam Kurikulum KTSP menuntut adanya partisifasi aktif dari seluruh siswa. Jadi kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator didalamnya agar suasana kelas lebih hidup.Pembelajaran secara kooperatif merupakan salah satu upaya dapat dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Belajar kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi. Siswa yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya

135

sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.

Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Kebanyakan siswa menganggap bahwa materi geometri merupakan materi yang sulit, karena sebagian besar selalu menuntut kemampuan abstraksi siswa terutama materi dimensi tiga. Oleh karena itu, untuk dapat mengembangakan kemampuan geometri siswa terutama dalam bangun ruang tiga dimensi tentang jarak dan sudut dalam ruang tiga dimensi maka diperlukanlah suatu media alat bantu di dalam pembelajaran. Salah satu media yang dapat digunakan dengan memanfaatkan teknologi adalah komputer. Penggunaan komputer dalam proses belajar mengajar telah mewakili dan terus untuk mewakili solusi yang ditawarkan oleh pendidikan kepada kemajuan masyarakat (Adriana. P dan Angela T.S, 2010), salah satunya dengan memanfaatkan software (perankat lunak). Menurut Straesser, R. (2001) ada beberapa pertimbangan tentang penggunaan Software dalam pembelajaran matematika, khususnya geometri, di antaranya mengembangkan keterampilan berpikir siswa tentang geometri, sehingga intuisi siswa dapat dibawa ke tingkat pembelajaran geometri yang lebih tinggi. Program Cabri 3D merupakan merupakan salah satu software geometri interaktif yang mampu mengkonstruksikan bentuk geometri tiga dimensi. Teknologi Cabri ini

mulai dibuat pada tahun 1985 oleh France’s Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) dan Joseph Fourier University di Grenoble.

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka diduga pembelajaran geometri bangun ruang tiga dimensi dengan berbantuan Cabri-3D secara kooperatif dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa.

METODE

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan bentuk Pre-Experimental Design. Sugiyono (2013) memandang bahwa desain ini belum merupakan desain eksperimen yang sungguh- sungguh, seperti yang dikemukakannya bahwa

Berdasarkan metode penelitian Pre-Experimental Design, maka desain penelitian yang digunakan adalah One- Group Pretest-Posttest Design. Menurut Sugiyono (2013) mengatakan bahwa One-Group Pretest-Posttest Designmempunyai desain rancangan sebagai berikut:

Y1 X Y2 Keterangan :

Y1 = Pengukuran awal tentang hasil belajar siswa Y2 = Pengukuran akhir tentang hasil belajar siswa

X = Pemberian perlakuan (dengan model pembelajaran kooperatif berbantuan software Cabri-3D).

Terkait dengan One-Group Pretest-Posttest Design, Sugiyono (2013) juga menyatakan bahwa “Hasil perlakuan

dapat diketahui lebih akurat, karena dapat dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan”. Pada saat

penelitian berlangsung, sebelum diberikan perlakuan, terlebih dahulu siswa diberikan pretest. Kemudian diberikan perlakuan yaitu dengan pembelajaran secara kooperatif dengan berbantuan software Cabri-3D. Setelah diberikan perlakuan, siswa kemudian diberikan posttest. Setelah selesai, hasil pretest dan posttest dibandingkan untuk melihat hasil perlakuan yang diberikan. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN XYZ, sedangkan subyek penelitiannya adalah 32 orang siswa kelas X-1. Adapun variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa. Dalam hal ini hasil belajar siswa yang diukur hanyalah aspek kognitifnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan selama 3 minggu sebanyak 6 kali pertemuan. Dan metode kooperatif yang digunakan adalah Dalam penelitian ini digunakan metode kooperatif Snowball Throwing.

Pada pertemuan pertama penelitimemberikan pretest / tes awal kepada siswa untuk mengetahui kondisi awal siswa. Setelah pretest selesai guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Kelompok dibagi secara heterogen berdasarkan dengan acauan pembagian adalah nilai siswa yang yang terkumpul di guru kelasnya. Pertemual awal ini hanya digunakan untuk pretest dan pembagian kelompok saja.

Pertemuan ke-2 sampai dengan pertemuan ke-5 peneliti melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan Snowball Throwing berbantuan Cabri-3D. Sebelum siswa mengelompok peneliti menjelaskan tentang tata cara pengeperasian software Cabri 3D di dalam kelas. Setelah semua siswa mengerti tentang tata cara pengoperasian software Cabri-3D, peneliti meminta siswa untuk berkelompok sesuai kelompoknya masing-masing seperti yang telah terbentuk. Setelah berkelompok, masing-masing kelompok diminta untuk memilih salah satu anggota kelompoknya untuk menjadi ketua kelompok.Peneliti menyampaikan kepada siswa garis besar tentang materi yang akan dipelajari oleh siswa. Setelah itu peneliti memanggil masing-masing ketua kelompok untuk menerima penjelasan materi dari peneliti, Setelah ketua kelompok mengerti penjelasan yang disampaikan oleh peneliti. Ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing dan menjelaskan kepada anggota kelompoknya.

136

Kemudian masing – masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 5 menit.Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi per pertemuan.

Pertemuan ke-6 hanya diisi dengan kegiatan posttest saja. Berikut ini adalah analisis data hasil penelitian

1. Uji Normalitas data tes awal / Pretest

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data pretest siswa berdistribusi normal. Hipotesis yang akan digunakan didalam uji hipotesis ini adalah :

H0:Data berasal dari sampel yang berdistribusi normal

Ha :Data berasal dari sampel data yang tidak berdistribusi normal.

Tabel 1. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Pretest

N 32

Normal Parametersa,b Mean 53.0575 Std. Deviation 1.57800 Most Extreme Differences

Absolute .151

Positive .107

Negative -.151

Kolmogorov-Smirnov Z .854

Asymp. Sig. (2-tailed) .459

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Pada Tabel 1 diperoleh bahwa nilai rata-rata kelas 53,057 dengan standar deviasi sebesar 1,57. Sedangkan nilai Asymp. Sig = 0.459> 0.05 sehingga Ho diterima. Maka dapat disimpulkan data hasil belajar berdistribusi normal. 2. Uji Normalitas data tes akhir / Posttest

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data posttest siswa berdistribusi normal. Hipotesis yang akan digunakan didalam uji hipotesis ini adalah :

H0 :Data berasal dari sampel yang berdistribusi normal

Ha :Data berasal dari sampel data yang tidak berdistribusi normal.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Posttest

N 32

Normal Parametersa,b Mean 81.2500 Std. Deviation 4.54369 Most Extreme Differences

Absolute .138

Positive .138

Negative -.084

Kolmogorov-Smirnov Z .779

Asymp. Sig. (2-tailed) .578

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Pada Tabel 2 diperoleh bahwa nilai rata-rata kelas 81,25 dengan standar deviasi sebesar 4,54. Sedangkan nilai Asymp. Sig = 0.578> 0.05 sehingga Ho diterima. Maka dapat disimpulkan data hasil belajar berdistribusi normal. 3. Uji Homogenitas data pretest dan postest

Uji Homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah data presttest dan posttest mempunyai varians yang sama. Ini sebagai saya untuk dapat lanjut ke uji berikutnya. Jika data tersebut tidak homogen, maka lanjut ke uji non parametrik. Hipotesis yang akan digunakan didalam uji hipotesis ini adalah :

H0 :Data berasal dari sampel yang berdistribusi homogen

137

Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances Gabungan

Levene Statistic df1 df2 Sig.

17.737 1 62 .000

Pada Tabel 3 diperoleh bahwa nilai Asymp. Sig = 0.000 < 0.05 sehingga Ho ditolak dan terima Ha. Maka dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar berdistribusi tidak homogen.

Karena data tidak homogen, maka dilanjut uji statistik non parametrik.

 Uji Mann Whitney

Uji Non Parametrik Mann Whitney bertujuan untuk mencari ada tidaknya perbedaan rata-rata antara data pretest dan posttest. Jika terdapat perbedaan rata-rata maka di lanjutkan dengan uji N-Gain. Uji N-Gain bertujuan untuk mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar siswa.

Tabel 4. Hasil Uji Mann Whitney Ranks N Mean Rank Sum of Ranks Postest - Pretest Negative Ranks 0a .00 .00 Positive Ranks 32b 16.50 528.00 Ties 0c Total 32 a. Postest < Pretest b. Postest > Pretest c. Postest = Pretest

Tabel 5. Hasil Uji Mann Whitney Test Statisticsa

Postest - Pretest

Z -4.937b

Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Wilcoxon Signed Ranks Test

b. Based on negative ranks. Hipotesis yang akan digunakan didalam uji hipotesis ini adalah : H0:1 = 2

Rata-rata hasil belajar siswa antara pretest dan posttest adalah sama. Ha :1≠2

Rata-rata hasil belajar siswa antara pretest dan posttest adalah tidak sama.

Pada Tabel 5 diperoleh bahwa nilai Asymp. Sig = 0.000 < 0.05 sehingga Ho ditolak dan terima Ha. Maka dapat disimpulkan bahwa data rata-rata hasil belajar siswa untuk sebelum (pretest) dan sesudah pertemuan (posttest) adalah tidak sama atau dapat diakatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah perlakuan

 Uji N-Gain

Untuk mengetahui besarnnya peningkatan kemampuan yang terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran yang dihitung dengan rumus N-Gain, yakni:

Skor Posttest - Skor Prestest

N - Gain =

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 143-146)

Garis besar

Dokumen terkait