• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN PENGENALAN LAMBANG

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 188-192)

BILANGAN PADA ANAK DOWN SYNDROME

Marisah Chaidir [email protected]

Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Teknik, Matematika dan IPA Universitas Indraprasta PGRI Leonard

[email protected]

Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Teknik, Matematika dan IPA Universitas Indraprasta PGRI Abstrak. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan suatu desain pembelajaran matematika pengenalan lambang bilangan di kelas 1 Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita khususnya peserta didik down syndrome. Desain pembelajaran ini dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan terhadap kompetensi matematika yang seharusnya dimiliki oleh lulusan SDLB kelas 1 sebagai kompetensi awal untuk melanjutkan pelajaran matematika di kelas 2 dan karakteristik awal peserta didik agar sesuai dengan desain pembelajaran yang diberikan. Pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara dengan guru dan orang tua peserta didik. Penelitian mengacu pada Model Pengembangan Instruksional (MPI). Penelitian ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi kebutuhan dan menulis tujuan instruksional, (2) melakukan analisis instruksional, (3) mengidentifikasi perilaku dan karakter awal peserta didik, (4) menulis tujuan instruksional khusus, (5) menyusun alat penilaian hasil belajar, (6) menyusun strategi instruksional, (7) mengembangkan bahan instruksional, (8) melaksanakan evaluasi formatif. Temuan penelitian yaitu dihasilkan suatu desain pembelajaran yang komperehensif sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika peserta didik tunagrahita khususnya down syndrome SDLB C kelas 1.

Kata Kunci: desain pembelajaran, pembelajaran pengenalan lambang bilangan, instruksional.

Abstract. This research aim to produce a mathematics instructional design emblem recognition numbers in grade 1 Elementary School Exceptional Tunagrahita, especially students with Down syndrome. This study design is based on the analysis of the mathematical competence requirements that should be owned by SDLB graduates first class as early competence to continue math in grade 2 and baseline characteristics of learners to fit the given instructional design. The collection of data by observation and interviews with teachers and parents of students. This research referring to the Instructional Development Model (MPI). This watchfulness consist of several steps, namely: (1) identify needs and writing instructional objectives, (2) the instructional analysis, (3) identify the behavior and character of early learners, (4) write aim instructional special, (5) composed result evaluation tool learns, (6) composed strategy instructional, (7) develop instructional materials, (8) carry out formative evaluation. The findings of the research that produced a design of a comprehensive learning in accordance with the purpose of learning mathematics learners tunagrahita particularly Down syndrome SDLB C grade 1.

Keyword: learning design, emblem recognition learning numbers, instructional PENDAHULUAN

Dalam Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan pasal 5 ayat 1 yang menyatakan

bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu” dan pasal 5 ayat 2 yang menyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual,

dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus”. Dari dasar hukum diatas, jelas diterangkan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas berlaku untuk semua tanpa ada diskriminasi, baik itu pendidikan umum maupun pendidikan khusus. Oleh karena itu, anak-anak berkebutuhan khusus juga berhak untuk memperoleh pendidikan.

Menurut Marienzi (2012: 320-321) anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya secara signifikan mengalami kelainan atau penyimpangan (fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, emosional) dibandingkan anak – anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda-beda, berdasarkan kelainan yang mereka miliki, salah satunya adalah anak down syndrome.

Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom (Miftah, 2013). Menurut Ramali (2005: 98) bahwa Sindrom Down adalah kelainan bawaan, terutama keterbelakangan mental, bentuk wajah yang khas (idiosi Mongoloid, Mongoloidisme), kelainan kromosomal berupa trisomi atau translokasi gen secara tidak seimbang.

180

Menurut Alimin (2004:173) “secara psikologis hampir semua anak (DS) memiliki tingkat kecerdasan dibawah

50”, oleh karena itu pada umumnya anak down syndrome dikategorikan sebagai anak tunagrahita sedang. Salah satu mata pelajaran yang dikembangkan pada anak down syndrome adalah belajar berhitung dasar berupa kemampuan mengenal lambang bilangan 1-5. Kemampuan mengenal lambang bilangan 1-5 merupakan kemampuan berhitung dasar yang bermanfaat bagi anak dalam kehidupan sehari – hari seperti membaca jam dan untuk menulis lambang bilangan 1-5.

Namun pada kenyataannya berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti dibeberapa SLB C di Bekasi anak-anak down syndrome belum bisa mengenal lambang bilangan. Anak-anak tersebut mengalami kesalahan dalam menyebutkan lambang bilangan yang ia lihat, menunjukan lambang bilangan yang sesuai dengan ia dengar, menuliskan dan memasangkan lambang bilangan yang mewakili benda yang ia sebut. Hal ini dapat menjadi indikator bahwa anak down syndrome tidak mengenal lambang bilangan dengan baik atau belum memahami konsep lambang bilangan.

Mengerti atau paham dalam pembelajaran matematika anak, datang dari membangun atau mengenali hubungan, senada dengan apa yang telah dikemukakan oleh Catthcart (Nurlela, 2009:16) mengemukakan bahwa tampilan bilangan yang satu dengan tampilan bilangan yang lainnya memahami hubungan antar tampilan bilangan dapat diartikan, sebagai contohnya setelah anak mendengarkan soal (tampilan bahasa lisan), anak bisa menunjukkan dengan media balok (tampilan model/benda mainan), menggambarkannya (tampilan gambar), lalu anak menulis jawaban pada kertas (simbol tertulis angka atau kata). Pendapat tersebut jelas bahwa pembelajaran matematika mengenal konsep lambang bilangan tidak hanya tampilan bahasa lisan saja tetapi harus diiringi dengan tampilan model/benda mainan ataupun tampilan gambar.

Pengenalan lambang bilangan pada anak perlu diberikan sedini mungkin dengan menggunakan cara yang tepat dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Dengan mengenalkan lambang bilangan diharapkan anak akan lebih mudah dalam memahami konsep matematika yang lainnya pada pembelajaran di tingkat yang lebih tinggi. Pengenalan lambang bilangan pada anak akan merangsang perkembangan kognitif, sehingga anak dapat mengolah dan menggunakan lambang bilangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam mencapai pemahaman mengenai pengenalan lambang bilangan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya adalah pada dasarnya memang anak down syndrome memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Rendahnya kemampuan kognitif yang dimiliki anak down syndrome menyebabkan anak sulit mengenal atau mengetahui suatu objek termasuk lambang bilangan 1-5 dengan baik. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan anak down syndrom belum mengenal lambang bilangan. Dari kondisi ini guru sebaiknya melakukan refleksi untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran.

Faktor eksternal dari rendahnya kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak down syndrome, salah satunya disebabkan oleh cara mengajar yang kurang tepat atau metode mengajar yang diterapkan guru. Guru menggunakan metode pembelajaran yang kurang menarik dan cara mengajar yang kurang tepat. Hal tersebut mengakibatkan kejenuhan bagi anak sehingga anak tidak menaruh perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan.

Dalam meningkatkan mutu pendidikan, yaitu pada pembelajaran matematika khususnya pengenalan lambang bilangan pada anak down syndrome, sekiranya perlu diupayakan pula peningkatan mutu dari proses pembelajaran itu sendiri. Mutu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat suasana penunjang seperti perangkat pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar anak sesuai dengan teori pembelajaran yang digunakan. Diharapkan media pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah media pembelajaran yang menarik yang dapat memotivasi dan membangun perhatian anak dalam belajar mengenal lambang bilangan sehingga meningkatkan kemampuan anak dalam mengingat dan mengenal lambang bilangan.

Hal tersebut dilakukan agar anak dapat belajar dengan aktif dan memiliki daya ingat yang kuat serta pengelolaan pembelajaran dan penilaian dilakukan secara baik oleh guru. Salah satunya adalah dengan membuat desain pembelajaran yang efektif. Desain pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam memenuhi kebutuhan belajar anak down syndrome sesuai perkembangan kognitif secara aktif dan menyenangkan bagi anak.

Salah satunya adalah dengan membuat desain pembelajaran yang efektif. Desain pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam memenuhi kebutuhan belajar anak down syndrome sesuai perkembangan kognitif secara aktif dan menyenangkan bagi anak. Hasil penelitian Asrori (2013:19) menunjukkan bahwa desain pembelajaran merupakan disiplin ilmu yang berhubungan dengan pemahaman dan perbaikan satu aspek dalam pendidikan, yaitu proses pembelajaran. Tujuan dari kegiatan membuat desain pembelajaran adalah menciptakan sarana yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Tujuan desain pembelajaran ini agar anak down syndrome dapat mengenal lambang bilangan.

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran sangat bergantung pada sejauh mana pembelajaran itu didesain atau direncanakan. Keberhasilan dalam proses pembelajaran juga dinilai dari apa yang telah diperoleh siswa

181

dalam pembelajaran, apakah telah memenuhi tujuan yang diinginkan atau belum. Oleh karena itu, seorang guru perlu langkah nyata dalam membuat desain pembelajaran yang disusun secara baik dan seimbang.

Menurut Hamzah (2008:2) bahwa “Desain pembelajaran adalah suatu cara yang memuaskan untuk

membuat kegiatan dapat berjalan dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang

terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Guru perlu membangun langkah- langkah yang tepat agar tidak terjadi kesenjangan antara rencana dengan proses pelaksanannya. Selain rencana yang matang, hendaknya penyusunan strategi yang efektif serta pelaksanaannya yang efisien akan sangat membantu dalam pelaksanaannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Suparman (2012:86) mengemukakan bahwa desain pembelajaran adalah perpaduan proses sistematis dalam menciptakan sistem instruksional secara efektif dan efisien melalui urutan kegiatan instruksional, cara pengorganisasian materi pengajaran dan peserta didik, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sistem instruksional yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian kegiatan pengidentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian.

Tujuan penelitian ini adalah tersusunnya bahan pembelajaran matematika pengenalan lambang bilangan sekolah dasar luar biasa kelas 1 untuk peserta didik tunagrahita khususnya down syndrome.

METODE

Sesuai dengan tujuan penelitian, metode penelitian disesuaikan dengan kegiatan penelitian yang dilakukan. Tahapan kegiatan penelitian berdasarkan Model Pengembangan Instruksional (MPI) Atwi Suparman terdiri dari 8 langkah yang harus dilakukan. Kegiatan pertama mengidentifikasi instruksional dengan mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi. Proses tersebut dimulai dari mengidentifikasi kesenjangan. Selanjutnya, penulis dapat merumuskan Tujuan Intruksional Umum (TIU) yang mengandung 4 bagian yaitu: (1) orang yang

belajar, (2) istilah “akan dapat”, (3) kata kerja aktif, (4) perilaku yang diharapkan.

Untuk kegiatan kedua, melakukan analisis instruksional, yaitu menjabarkan kompetensi yang ada di Tujuan Instruksional Umum (TIU) menjadikan subkompetensi, kompetensi dasar, kompetensi khusus yang lebih kecil, dan mengidentifikasi hubungan antara sub kompetensi satu sama lain. Kegiatan ketiga, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik peserta didik. Pada langkah ini yang dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik down syndrome dengan menggunakan pendekatan menerima peserta didik apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan peserta didik tersebut. Kemudian kegiatan keempat, menentukan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). TIK harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar unsur-unsur yang dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya.

Untuk kegiatan kelima, membuat alat penilaian hasil belajar. Alat penilaian hasil belajar akan digunakan untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam menguasai kompetensi-kompetensi yang ada dalam TIK. Selanjutnya, kegiatan keenam menentukan strategi pembelajaran yang terdiri dari tiga komponen utama. Komponen pertama kegiatan instruksional yang berisi pendahuluan, penyajian, dan penutup, kedua garis besar isi instruksional dan ketiga sistem peluncuran yang terdiri dari metode instruksional, media dan alat instruksional, serta alokasi waktu. Seluruh komponen tersebut terintegrasi dan berfungsi bersama dalam bentuk strategi instruksional untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Untuk kegiatan ketujuh, mengembangkan bahan instruksional. Pada tahap ini yang dilakukan adalah menyusun bahan ajar seperti lembar kegiatan, dan rangkuman materi ajar matematika sekolah dasar luar biasa kelas 1. Terakhir, melakukan evaluasi formatif dengan cara observasi dan wawancara kepada guru SDLB kelas 1 untuk memperoleh komentar dan pendapat mengenai kekurangan desain instruksional dan bahan ajar yang dikembangkan.

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2015. Adapun langkah-langkah penelitian secara rinci tergambar dalam gambar 1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Kebutuhan dan Menentukan Tujuan Instruksional Umum

Proses mengidentifikasi kebutuhan instruksional hanya sampai pada perumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta kompetensi yang perlu dicapai peserta didik. Hasil aktifitas analisis kebutuhan terlihat dalam gambar 2.

182

Gambar 1.

Model Desain Instruksional Modern (Suparman, 2012: 116)

Gambar 2.

Aktivitas 1 Identifikasi Kebutuhan

Selanjutya, dari angket aktivitas tersebut dijadikan dasar perumusan TIU. Tujuan Instruksional Umum (TIU) yang berhasil dirumuskan penulis setelah melakukan satu kali revisi, yaitu: Jika diberikan sola latihan Matematika mengenai pelajaran Matematika kelas 1 SDLB C, maka siswa kelas 1 Sekolah Dasar Luar Biasa akan mampu memahami dan mengerjakan dengan baik, serta dapat menyelesaikan soal-soal latihan secara mandiri, cepat, dan minimal benar 80% pada materi bilangan.

2. Analisis Instruksional

Analisis instruksional memberikan penjabaran kompetensi dasar yang ada di Tujuan Instruksional Umum menjadi uraian peta kompetensi, dan penjelasan dari masing-masing kompetensi sebagai berikut.

Uraian Peta Kompetensi 1. Mampu membilang 1-5.

2. Mampu membilang banyak benda

3. Mampu menunjukkan lambang bilangan 1-5 4. Mampu mengurutkan bilangan 1-5

5. Mampu mengurutkan banyak benda

6. Mampu memasangkan lambang bilangan dengan kumpulan benda 1-5

7. Mampu menjelaskan bangun datar sederhana berupa segitiga, segiempat, dan lingkaran

8. Mampu menentukan bentuk-bentuk bangun datar sederhana berupa segitiga, segiempat, dan lingkaran Melakukan analisis instruksional Menyusun Alat Penilaian Hasil Belajar Identifikasi kebutuhan instruksional dan menulis TIU Menulis Tujuan Instruksional Khusus

Mengidentifikasi

perilaku dan

karakteristik

awal siswa

Mengembangkan bahan instruksional

Menyusun

strategi

instruksional

Menyusun desain dan melaksanakan evaluasi formatif

183

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 188-192)

Garis besar

Dokumen terkait