Pengertian Hasil Belajar Matematika
Belajar merupakan proses untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan ilmu yang belum dipunyai sebelumnya sehingga dengan belajar menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.Menurut Slameto (2010:2) “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkunagannya”.Artinya bahwa jika seseorang ingin berubah dalam seluruh sisi
kehidupannya, maka seseorang tersebut harus melawati proses pembelajaran melalui segala pengalaman yang sudah ia rasakan agar dapat menuju perubahan baru dalam kehidupannya.
Hasil belajar merupakan indikator untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan dan pengajaran tercapai atau tidak. Hasil belajar dapat diperoleh peserta didik sesudah mengikuti proses belajar mengajar. Untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar peserta didik dalam suatu bahasan biasanya pendidik mengadakan tes hasil belajar. Tes hasil belar dinyatakan dalam bentuk skor atau yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti tes hasil belajar yang diadakan setelah selesai program pengajaran.
Menurut Nana Sudjana (Jihad dan Haris, 2010: 15) mengemukakan “bahwa hasil belajar adalah kemampuan–
kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan dengan kemampuan yang di miliki peserta didik ke arah yang lebih baik.
Matematika adalah mata pelajaran yang membidangi mata pelajaran yang lain ini dibuktikan dari teori di bawah ini: Menurut Abdurahman (2003: 54) mengatakan bahwa “matematika adalah pola berfikir atau bahasa yang
menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat.” Ini menunjukan matematika mengunakan
pola pikir dan bahasa dengan menggunakan bahasa dan istilah yang tepat, jelas, dan akurat tanpa melebih-lebihkan kata-kata yang digunakan.
Hakikat belajar matematika merupakan suatu teori ilmu pasti dimana belajar matematika tersebut merupakan hasil kombinasi dari mata pelajaran lain dan membidangi mata pelajaran yang lain ini diperkuat oleh beberapa pendapat ahli diantaranya: Menurut hamzah, dkk (2014: 40) “hasil belajar matematika dapat dilihat pada hal-hal penghargaan seseorang terhadap matematika, bekerja secara logis dan matematis, menggunakan bilangan,
pengukuran, peluang, pengumpulan data, analisis ruang dan aljabar”. Artinya seseorang lebih menghargai hasil pekerjaan matematika dengan lebih meneliti hasil pekerjaan tersebut melalui tahap pengumpulan data analisis sehingga hasil pekerjaan itu lebih bermakna.
Pengertian Metode Pembelajaran Problem Solving
Salah satu penentu keberhasilan pembelajaran adalah dengan pemilihan metode yang tepat, karena metode dapat mempengaruhi jalannya pembelajaran. Pemilihan metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran diperoleh secara optimal.
Metode Problem Solving adalah suatu metode yang merangsang peserta didik agar berfikir kritis, mampu menganalisa suatu persoalan sehingga sampai menemukan pemecahannya. Oleh karena itu, Metode Problem Solving ini merupakan metode yang dapat membantu peserta didik untuk dapat membedakan masalah, untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat dan membantu peserta didik untuk membuat, memberikan dan mengambil keputusan. Hal ini senada dengan pendapat Menurut Gulo (2002: 111) problem solving adalah metode yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Jika suatu masalah diberikan kepada seseorang peserta didik kemudian peserta didik tersebut langsung bisa menyelesaikannya, maka masalah itu bukan merupakan masalah bagi peserta didik tersebut. Masalah yang dikaji dalam matematika adalah suatu persoalan dimana pada bagian ini persoalan tersebut tidak secara langsung memperlihatkan solusi atau pemecahannya maka dalam pengerjaannya dapat membuat sebuah model matematika untuk memudahkan pengerjaannya.
Perngertian Metode Pembelajaran Ekspositori
Metode Ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik kepada peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.Metode ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada pendidik (teacher centered). Menurut Sanjaya (2008: 179) pendidik memegang peran yang sangat dominan, melalui metode ekspositori pendidik menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai peserta didik dengan baik.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan Quasi Eksperimen, untuk mengetahuiuntuk mengetahui pengaruh metode Problem Solving terhadap hasil belajar matematika pada peserta didik kelas VII SMP At-Taqwa, dengan
154
jumlah sampel 30 orang yang diambil dengan teknik simple random sampling, data analisis menggunakan uji-tbeda rata-rata,yang terlebih dahulu dilakukan perhitungan analisis data, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Adapun desain penelitiannya adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Desain Penelitian Eksperimen Kontrol
X1 X2
Y1 Y2
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Sampel peneltian yang di gunakan sebanyak 30 peserta didik.Hasil penelitian dapat digambarkan melalui tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Peserta didik Antara Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Skor Terendah 60 40 Skor Tertinggi 100 92 Mean 77,23 69,2 Median 76,61 69,5 Modus 76,68 79,74 Simpangan Baku 11,10 12,60 Varians 123,29 158,65
Sumber: Data diolah
...
Dari tabel 2 dapat dikatakan bahwa hasil belajar kelompok kelas kontrol, yaitu peserta didik yang belajar dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositorimemiliki nilai hasil belajar yang lebih rendah dari pada hasil belajar matematika peserta didik yang menggunakan metode pembelajaran problem solving.
Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kelas Jumlah Sampel Lo Ltabel
05
,
0
Kesimpulan Eksperimen 30 0,0974 0,161 Normal Kontrol 30 0,1331 0,161 NormalSumber: Data diolah
Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Kelompok Jumlah Sampel Varians (s2) Fhitung Ftabel Kesimpulan Eksperimen 30 123,29 1,29 1,86 Terima H0 Kontrol 30 158,65
Sumber: Data diolah
Selanjutnya hasil penelitian dilakukan uji hipotesis dengan uji-t beda rata-rata dan didapat kriteria thitung> ttabel (2,61>1,64) maka H0 ditolak dan H1diterima pada α = 0,05. Hasil perhitungan uji hipotesis dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Kelompok Sampel Mean thitung ttabel Kesimpulan Eksperimen 30 77,23
2,61 1,64 Tolak H0 Kontrol 30 69,2
Sumber: Data diolah
Dengan demikian terdapat pengaruh metode Problem Solving terhadap hasil belajar matematika. Pembahasan
Dengan selesainya pengujian hipotesis, kita bisa mengetahui apakah terdapat pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar matematika. Metode problem solving adalah suatu metode yang merangsang peserta
155
didik agar berfikir kritis, mampu menganalisa suatu persoalan sehingga sampai menemukan pemecahannya.Oleh karena itu, metode problem solving ini merupakan metode yang dapat membantu peserta didik untuk dapat membedakan masalah, untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat dan membantu peserta didik untuk membuat, memberikan dan mengambil keputusan. Hal ini senada dengan pendapat Gulo (2002: 111) yang menyatakan metode problem solving adalah metode yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar.
Dari data nilai rata-rata hasil belajar matematika peserta didik pada kelompok eksperimen dengan menggunakan metode problem solving menunjukan bahwa sebagian besar nilai peserta didik cenderung tinggi. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari beberapa faktor.1)penggunaan metode problem solving yang efektif dan efisien membuat pembelajaran matematika lebih bermakna, karena peserta didik tidak hanya sekedar menghapalkan rumus namun dituntut dapat menyelesaikan atau memecahkan suatu soal atau permasalahan matematika sendiri atau berkelompok secara lengkap dengan pemecahannya.. Kebermaknaan ini telah berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika peserta didik.2)penggunaan metode problem solving merangsang pengembangan kemampuan berpikir peserta didik secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, peserta didik banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan. 3) penggunaan metode problem solving membuat peserta didik memiliki tanggung jawab lebih, yaitu peserta didik harus menguasai setiap indikator materi dan konsep-konsep matematika secara jalas.
Sedangkan dari data nilai hasil belajar matematika peserta didik pada kelompok kontrol dengan menggunakan metode ekspositori menunjukan bahwa sebagian besar nilai peserta didik cenderung rendah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pembelajaran secara ekspositori yang didominasi metode ceramah dan penugasan. Sistem pembelajaran berpusat pada pendidik (teacher centered) sehingga hanya dimungkinkan terjadi komunikasi satu arah, yakni dari pendidik ke peserta didik. Pendidik sebagai sumber informasi dan peserta didik sebagai penerima informasi.Kondisi demikian tidak memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Peserta didik seakan mendengarkan pendidik bercerita di depan kelas.
Dari analisis data selanjutnya dilakukan uji hipotesis kepada kedua kelompok untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan. Berdasarkan analisis uji hipotesis terlihat bahwa terdapat pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar matematika. Hal tersebut ditunjukkan melalui uji statistik dimana pada uji t diperoleh thitung = 2,61 dan tabel = 1,64 sehingga H0 ditolak dan H1diterima. Berarti terdapat pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar matematika.
PENUTUP Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hasil belajar matematika dengan menggunakan metode problem solving peserta didik kelas VII SMP At-Taqwa Jakarta tahun ajaran 2014/2015 diperoleh simpulan bahwa hasil belajar matematika peserta didik kelas VII SMP At-Taqwa dengan metode pembelajaran problem solving menunjukkan kategori baik dengan nilai rata-rata 77,23. Hal ini dapat dilihat dari semangat belajar peserta didik yang mencapai semua indikator yang telah diberikan oleh pendidik.
Hasil belajar antara peserta didik yang diajar mengguanakan metode problrm solving dengan peserta didik yang diajar menggunakan metode ekspositori terdapat perubahan yang sangat baik karena setelah dilakukan pengujian dengan uji t, diperoleh nilai (2,61 1,64) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya terdapat perubahan hasil belajar yang sangat baik antara peserta didik yang diajar menggunakan metode problem solving dengan peserta didik yang diajar menggunakan metode ekspositori. Hal ini menunjukkan bahwa metode problem solving dapat memberi pengaruh terhadap hasil belajar matematika peserta didik pada pokok bahasan segi empat
Saran
Berdasarkan hasil penulisan tersebut ada beberapa saran dari penulis yang perlu penulis sampaikan untuk dijadikan bahan masukan sebagai berikut:
1. Bagi Peserta didik
Pada saat pembelajaran menggunakan metode pembelajaran problem solving, peserta didik hendaknya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
2. Bagi Pendidik
Dalam melaksanakan pembelajaran matematika menggunakan metode pembelajaran problem solving, peserta didik hendaknya mengatur waktu seefektif mungkin.
3. Bagi sekolah
Sekolah hendaknya merekomendasikan strategi-strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan membuat peserta didik lebih aktif seperti metode pembelajaran problem solving untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
156
Al-Qarni, Aidh. 2012. La Tahzan:For Smart Teachers. Yogyakarta: LafalIndonesia. Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo.
Hamzah, Mustadi, dan Junaedi. 2007. Pendidikan Sejarah Perjuangan PGRI (PSP - PGRI). Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI.
Hamzah, dkk. 2014. Variabel Penelitan dalam Pendidikan dan Pembelajaran. Jakarta: Inapublikatama. Jihad dan Haris. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Sanjaya, Wina. 2008. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka