Bakhtiar Kurniawan
Program Studi Pendidikan Matematika,
Fakultas Teknik, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indraprasta PGRI
Abstrak. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode ekspositori. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Grafika Kahuripan 2 Jakarta, tahun ajaran 2014/2015. Kelas XII sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Besar sampel sebanyak 44 siswa. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian berupa tes objektif sebanyak 20 soal dengan 5 pilihan jawaban. Teknik analisis data menggunakan uji-t. berdasarkan perhitungan uji-t menunjukkan pada derajat kebebasan 42 dan taraf signifikansi 0,05 diperoleh thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil penelitian didapat hasil belajar matematika siswa yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan metode ekspositori. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: “metode problem posing menggunakan
lembar kerja siswa berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa”.
Kata Kunci : Metode Problem Posing, Lembar Kerja Siswa, Hasil Belajar Matematika.
Abstract. The purpose of research is to anizye, found according to empirical and to know did the result of
mathematic’s study student which give teaching with used problem posing method using worksheet more high than result of mathematic’s study student who in teaching with using ekspositor method. Research method
which used is experiment method. This research held in SMK Grafika Kahuripan 2 Jakarta teaching 2014/2015. Class of XII as sampling. Technic of sample taking using technic of puposive sampling. Large of sample as many 44 student. Instrument which to collecting researchching of data such as objective tesr as many as 20 questions with 5 option answer. Technical of data analyze using test t, base on accounting test-t point out on degree of liberty 42 and signification standard 0,05 get thitung > ttabel, then Ho refused and H1 accepted. Then can called result of mathematics study of student who teaching using problem posing methode using worksheet student more high than result of mathematics study of student who teaching with espositori method. Thus can conciude that : “problem posing method using worksheet student influential about result of
matheatic’s student study.
Kata Kunci : problem posing methode, worksheet student, result of mathematic’s student study. PENDAHULUAN
Di era globalisasi ini, para generasi muda dituntut untuk menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Dengan pendidikan yang tinggi, pola pikir masyarakat akan semakin meningkat sehingga dapat beradaptasi terhadap perubahan kehidupan masyarakat karena pengaruh dari globalisasi dan mampu mengaktualisasikan diri dalam pembangunan nasional. Salah satu mata pelajar disekolah yang dapat digunakan untuk membangun cara berfikir siswa, cara untuk menumbuhkan kretifitas siswa, mandiri, dan berilmu adalah matematika. Di dalam pelajaran matematika tentu saja banyak rumus-rumus yang diajarkan. Rumus-rumus matematika yang begitu banyaknya membuat siswa kesuliatan dalam menguasai pelajaran matematika. Banyak peserta didik yang menganggap bahwa matematika itu pelajaran yang sulit. Perasaan itulah yang membuat siswa tidak berusaha belajar maksimal atau belajar dengan kemampuan apa adanya yang dimiliki peserta didik. Sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar terhapadap pelajaran matematika. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika seperti cara mengajar guru yang tidak tepat, sebagian besar guru belum mampu menciptakan suasana emberian tugas yang menarik dan menyenangkan, sehingga siswa kurang termotivasi dan kurang antusias terhadap matematika. Beberapa guru hanya mengajar dengan satu metode yang tidak selalu cocok dan Bahkan sulit dimengerti oleh siswa.
56
didik, maka seorang pendidik harus jeli dalam memilih metode pembelajaran agar siswa tetap termotivasi dan antusisas dalam belajar. Dan salah satu metode pembelajaran inovatif yang cocok untuk meningkatkan hasil belajar matematika salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran problem posing (pengajuan soal). Soal-soal tersebut dapat dibuat oleh guru, siswa sendiri, maupun secara kelompok, kemudian soal tersebut diselesaikan oleh siswa yang membuat atau siswa lain. Hal ini sependapat dengan Suryosubroto (2009: 203) “salah satu model pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interakti yakni Problem Posing atau pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan”.
Untuk mempermudah dan menunjang dalam proses pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran problem posing, maka seorang guru perlu mempersiapkan lembar kerja siswa sebagai acuan dan panduan peserta didik dalam pembuatan soal. Lembar kerja siswa dapat digunakan oleh guru untuk menjadi sarana sebagai penunjang preses pembelajaran, dan mempermudah bagi siswa untuk memahami penjelasan yang diberikan oleh guru. Sebaiknya seorang guru membuat lembar kerja sendiri dan disesuaikan dengan kondisi siswa-siswanya, sehingga lembar kerja siswa tersebut dapat berfungsi dengan maksimal.
TINJAUAN PUSTAKA Hasil Belajar Matematika
Belajar adalah sebuah aktivitas perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan misalnya dari membaca, mengamati, mendengarkan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sardiman (2012: 20) bahwa
“belajar adalah belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian
kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan
lebih baikkalau si subjek belajar itu mengalamiatau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.”
Dalam Proses belajar mengajar harus ada interaksi antara siswa dan guru untuk mencapai tujuan pendidikan. dalam tujuan pendidikan berhasil tidaknya dilihat dari hasil belajar seorang siswa. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh seseorang setelah mengalami aktivitas belajar. Sebagaimana yang
diungkapkan (Jihad dan Haris, 2008:15) “Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku secara nyata setelah dilakukan
proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran”. Secara umum hasil belajar adalah suatu bentuk perubahan dari tingkah laku, sikap, setelah seorang individu melakukan proses belajar mengajar, dan hasil dari belajar tersebut dapat diukur dan dapat dilihat dengan nilai, atau angka-angka.Seorang siswa dikatan berhasil apabila nilai hasil belajarnya bagus, akan tetapi jika nilainya kurang dari standar maka siswa itu belum dianggap berhasil.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah Perubahan kemampuan yang dimiliki seseorang setelah melakukan pembelajaran matematika berupa keterampilan, pengetahuan dan aplikasi dari matematika baik kualitatif maupun kuantitatif, dan hasil belajar matematika adalah pencerminan indikator keefektifan pembelajaran matematika, yang biasanya dalam bentuk penilaian angka-angka, dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Metode Problem Posing
Problem Posing merupakan pemecahan masalah melalui elaborasi atau dengan pengajuan masalah dan
pembuatan soal. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Ngalimun (2012: 164) bahwa “ problem posing yaitu pemecahan masalah melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga bisa dipahami”. Menurut Suryosubroto (2009: 203) “salah satu model pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk berpkir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interakti yakni Problem Posing atau pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan dan dijawab sendiri”.
Berikut Kelebihan Problem Posing : 1)Kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi dituntut keaktifan siswa; 2) Minat siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dan siswa lebih mudah memahami soal karena dibuat sendiri; 3) Semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal.; 4) Dapat membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada dan yang baru diterima. Metode Problem posing juga memiliki kekurangan sebagai berikut: 1) Persiapan guru lebih karena menyiapkan informasi apa yang dapat disampaikan ; 2)Waktu yang digunakan lebih banyak untuk membuat soal dan penyelesaiannya sehingga materi yang disampaikan lebih sedikit.
Metode Ekspositori
Ekpositori adalah metode pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara
optimal. Dalam metode ini pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Menurut Jihad (2008:30) “metode
ekspositori memiliki kesamaan dengan metode ceramah, karena sifatnya memberi informasi. Beda ekspositori
dari ceramah adalah dominasi guru dikurangin”. Artinya dalam metode ini ekspositori guru memberi informasi hanya pada waktu-waktu tertentu yang diperlukan siswa, misalnya pada awal pengajaran, atau untuk suatu topik yang baru.