• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 58-64)

PADA PELAJARAN MATEMATIKA Arif Rahman Hakim

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Hasil

Data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Secara deskriptif, data hasil penelitian ini ditampilkan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1.

Ringkasan Hasil Perhitungan Statistik Deskriptif

Kelompok Mean Median Modus

Prestasi Belajar Matematika 75,06 75,00 75,00

Kecerdasan Spiritual Peserta Didik 79,88 80,50 82,00 Sikap Peserta Didik pada Pelajaran Matematika 65,48 66,00 69,00 Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 1, diperoleh informasi untuk variabel prestasi belajar matematika peserta didik bahwa skor mean, median, dan modus relatif sama yang berada di satu titik yakni kisaran angka 75. Hal ini berarti, kurva

Y

X

1

50

distribusi frekuansi akan terbentuk simetris, yang maknanya adalah frekuensi dari skor prestasi belajar matematika yang tinggi dan rendah relatif sama. Kemudian berdasarkan tabel 1 juga, dapat diperoleh informasi bahwa skor mean, median, dan modus untuk variabel kecerdasan spiritual peserta didik tidaklah sama, dimana skor mean lebih kecil dari skor median, dan skor median lebih kecil dari skor modus. Hal ini berarti, kurva distribusi frekuensi akan terbentuk miring ke kiri, yang maknanya adalah akan ada frekuensi lebih rendah dari skor kecerdasan spiritual yang tinggi dan frekuensi lebih tinggi dari skor kecerdasan spiritual yang rendah. Informasi terakhir berdasarkan tabel 1 juga diperoleh bahwa skor mean, median, dan modus untuk variabel sikap peserta didik pada pelajaran matematika tidaklah sama, dimana skor mean lebih kecil dari skor median, dan skor median lebih kecil dari skor modus. Hal ini juga berarti, kurva distribusi frekuansi sikap peserta didik pada pelajaran matematika akan terbentuk miring ke kiri, yang maknanya adalah akan ada frekuensi lebih rendah dari skor tinggi untuk sikap peserta didik pada pelajaran matematika dan frekuensi lebih tinggi dari skor rendah sikap peserta didik pada pelajaran matematika.

Selanjutnya data hasil penelitian dianalisis secara inferensial untuk pengujian hipotesis, namun terlebih dahulu harus dilakukan uji persyaratan analisis data, yang meliputi uji normalitas, uji linearitas, dan uji multikolinearitas. Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data yang akan dianalisis. Perhitungan untuk uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorof Smirnof. Kriteria pengujiannya adalah jika nilai probabilitas atau asymp. sig. (2-tailed) 0,05 (dalam penelitian ini menggunakan 5%), maka dinyatakan data berasal dari populasi berdistribusi normal. Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa kelompok sampel yang diteliti memiliki nilai probabilitas atau asymp. sig. (2-tailed) 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dari ketiga variabel dalam penelitian ini berasal dari populasi berdistribusi normal.

Tabel 2.

Ringkasan Hasil Uji Normalitas

Variabel Kolmogorov-

Smirnov Z

Asymp. Sig. (2-tailed)

Prestasi Belajar Matematika 0,999 0,271

Kecerdasan Spiritual Peserta Didik 0,761 0,608

Sikap Peserta Didik pada Pelajaran Matematika 0,665 0,769 Sumber: Data primer yang diolah

Setelah uji normalitas data, selanjutnya dilakukan uji persyaratan analisis untuk uji linearitas. Pengujian linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah dua variabel berpola linear antara satu sama lainnya. Dengan kata lain, uji linearitas dilakukan dalam rangka menguji model persamaan suatu variabel terikat atas suatu variabel bebas. Kriteria pengujiannya adalah kedua variabel dikatakan berpola linear jika nilai sig. linearity < 0,05 (dalam penelitian ini menggunakan 5%). Oleh karena pada penelitian ini terdapat satu variabel terikat (Y) dan dua variabel bebas (X1 dan X2), maka ada dua uji linearitas. Pertama uji linearitas X1 terhadap Y, yang mana berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa nilai sig. linearity < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara kecerdasan spiritual (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y).

Tabel 3.

Ringkasan Hasil Uji Linearitas Kecerdasan Spiritual terhadap Prestasi Belajar Matematika

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 11822.546 1 11822.546 131.222 .000

Residual 11532.262 128 90.096

Total 23354.808 129

Sumber: Data primer yang diolah

Kedua uji linearitas X2 terhadap Y, yang mana berdasarkan tabel 4, terlihat bahwa nilai sig. linearity < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara sikap peserta didik pada pelajaran matematika (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y).

Tabel 4.

Ringkasan Hasil Uji Linearitas Sikap Peserta Didik pada Pelajaran Matematika terhadap Prestasi Belajar Matematika

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 5338.305 1 5338.305 37.927 .000

Residual 18016.503 128 140.754

Total 23354.808 129

51

Setelah uji linearitas terpenuhi, selanjutnya dilakukan uji persyaratan yang terakhir yaitu uji multikolinearitas. Uji multikolinearitas dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas yaitu ada atau tidaknya hubungan yang kuat antara variabel kecerdasan spiritual dengan sikap peserta didik pada pelajaran matematika. Kriteria pengujiannya adalah kedua variabel bebas tidak terdapat masalah multikolinearitas jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10. Berdasarkan tabel 5, terlihat bahwa nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10, berarti variabel terbebas dari asumsi klasik multikolinearitas atau dengan kata lain kedua variabel bebas tidak terdapat masalah multikolinearitas.

Tabel 5.

Ringkasan Hasil Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 SPIRITUAL .849 1.177

SIKAP .849 1.177

Sumber: Data primer yang diolah

Setelah semua uji persyaratan analisis terpenuhi, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis, yaitu uji pengaruh kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika, uji pengaruh kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar matematika, dan uji pengaruh sikap peserta didik terhadap prestasi belajar matematika.

Tabel 6.

Ringkasan Hasil Uji Korelasi X1 dan X2 terhadap Y Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .744a .554 .547 9.054

Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 7.

Ringkasan Hasil Uji F untuk Pengujian Pengaruh Simultan X1 dan X2 terhadap Y

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 12943.103 2 6471.551 78.939 .000a

Residual 10411.705 127 81.982

Total 23354.808 129

Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 8.

Ringkasan Hasil Uji t untuk Pengujian Pengaruh X1 terhadap Y dan Pengaruh X2 terhadap Y

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -10.572 6.963 -1.518 .131 SPIRITUAL .886 .092 .619 9.631 .000 SIKAP .240 .065 .238 3.697 .000

Sumber: Data primer yang diolah

Korelasi ganda yang menghubungkan persamaan kecerdasan spiritual, sikap peserta didik pada pelajaran matematika, dan prestasi belajar matematika diperoleh dari tabel 6. Berdasarkan tabel 6, diperoleh hasil korelasi kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama dengan prestasi belajar matematika adalah 0.744;

52

yang berarti korelasi antara ketiga variabel tersebut tergolong kuat. Koefisien determinasinya sebesar 0,554 atau ada kontribusi sebesar 55,4% berupa pengaruh kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika. Pengujian signifikansi korelasi menggunakan koefisien sig, dimana sig=0,000; yang artinya korelasi antara ketiga variabel tersebut signifikan.

Selanjutnya adalah pengujian hipotesis regresi ganda X1 dan X2 terhadap Y dengan uji F. Adapun kriteria pengujiannya adalah H0 diterima jika Fhitung Ftabel atau H0 ditolak jika Fhitung Ftabel. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh nilai F seperti pada tabel 7. Berdasarkan tabel 7, diperoleh nilai Fhitung 78,939. Adapun dengan dk1 2 dan dk2 127 diperoleh nilai Ftabel 3,067. Oleh karena Fhitung Ftabel maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa H0 (hipotesis nol) yang menyatakan tidak terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika adalah ditolak. Dengan demikian,

hipotesis pada penelitian ini yang berbunyi: “terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika” adalah diterima. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama- sama terhadap prestasi belajar matematika.

Adapun persamaan regresi ganda yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian ini dapat disusun berdasarkan tabel 8. Berdasarkan tabel 8, dapat disusun persamaan regresi ganda 1 . Adapun persamaan regresi ganda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Konstanta sebesar menyatakan bahwa jika tidak ada kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik pada pelajaran matematika maka prestasi belajar matematika peserta didik diperoleh sebesar . Atau dengan kata lain prestasi belajar matematika peserta didik diperoleh sebesar jika kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik pada pelajaran matematika diabaikan.

Koefisien regresi 1 (kecerdasan spiritual) sebesar 0,886 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 satuan, kecerdasan spiritual peserta didik akan meningkatkan prestasi belajar matematika sebesar 0,886 dengan anggapan (sikap peserta didik pada pelajaran matematika) tetap. Berlaku juga sebaliknya, jika kecerdasan spiritual peserta didik turun 1 satuan, maka prestasi belajar matematika diprediksi mengalami penurunan sebesar 0,886 dengan anggapan (sikap peserta didik pada pelajaran matematika) tetap.

Koefisien regresi (sikap peserta didik pada pelajaran matematika) sebesar 0,240 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 satuan, sikap peserta didik pada pelajaran matematika akan meningkatkan prestasi belajar matematika sebesar 0,240 dengan anggapan 1 (kecerdasan spiritual peserta didik) tetap. Berlaku juga sebaliknya jika sikap peserta didik pada pelajaran matematika turun 1 satuan, maka prestasi belajar matematika diprediksi mengalami penurunan sebesar 0,240 dengan anggapan 1 (kecerdasan spiritual peserta didik) tetap.

Kemudian nilai seperti tampak pada tabel 8, yang mana diperoleh nilai sebesar 9,631. Pada taraf signifikansi 0,05 dengan n k diperoleh = 1,960. Dengan demikian H0 ditolak karena ( ), hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar matematika.

Berikutnya tertera pada tabel 8, nilai sebesar 3,697. Pada taraf signifikansi 0,05 dengan n

k diperoleh = 1,960. Dengan demikian H0 ditolak karena ( ), hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan sikap peserta didik terhadap prestasi belajar matematika.

Pembahasan

Mengacu pada perhitungan data hasil penelitian untuk data prestasi belajar matematika (Y), kecerdasan spiritual (X1), dan sikap peserta didik (X2) disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengaruh kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika adalah 55,4%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Asrori (2012) bahwa kecerdasan spiritual peserta didik harus dibangun oleh guru dengan sebaik-baiknya karena kecerdasan spiritual berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Rosa (2012) bahwa sikap peserta didik berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar peserta didik. Oleh karena itu, kecerdasan spiritual yang dimiliki peserta didik harus terus dibangun lebih baik lagi sekaligus dibarengi dengan sikap peserta didik pada pelajaran matematika secara bersama-sama dapat membangun prestasi belajar matematika menjadi lebih baik.

Mengacu pada perhitungan data hasil penelitian untuk data prestasi belajar matematika (Y) dan kecerdasan spiritual (X1), dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh kecerdasan spiritual peserta didik sebesar 50,6%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Asrori (2012) bahwa kecerdasan spiritual peserta didik harus dibangun oleh guru dengan sebaik-baiknya karena kecerdasan spiritual berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Oleh karena itu, kecerdasan spiritual yang dimiliki peserta didik harus terus dibangun secara kontinu dengan lebih baik lagi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika menjadi lebih baik.

53

Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang untuk memaknai hidup menjadi lebih baik dan

lebih bernilai. Zohar dan Marshall (Nggermanto, 2008: 115) mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah ‘kecerdasan

yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar’. Dalam hal ini, kemampuan yang kita gunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, melainkan juga untuk secara kreatif menemukan segenap nilai-nilai baru. Dengan demikian, menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada peserta didik senantiasa diupayakan dengan maksimal.

Kecerdasan spiritual peserta didik yang harus dibangun adalah segenap perilaku peserta didik dengan mengacu pada instrumen kecerdasan spiritual berdasarkan penelitian ini. Beberapa perilaku yang dimaksud diantaranya berdoa untuk menuntut ilmu dan memohon restu kedua orangtua dapat dijadikan habbit, kemudian peserta didik dibangun untuk terus bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan kapanpun dan dimanapun, serta peserta didik juga harus tawakal kepada Allah dengan segala kerendahan hati peserta didik, serta senantiasa sadar bahwa dirinya hanyalah sebagai hamba Allah yang lemah sehingga akan selalu bersikap patuh dan taat atas segala kewajiban yang Allah tetapkan dan selalu bersikap patuh dan taat untuk meninggalkan segala larangan-Nya.

Kecerdasan spiritual peserta didik juga ditunjukkan dengan kemampuan melakukan transendensi atas perilakunya sehingga segala bentuk aktivitasnya senantiasa mengutamakan ridlo Tuhan yang sarat dengan karunia dan pahala. Transendensi perilaku peserta didik yang mengutamakan ridlo Tuhan diperlihatkan setiap saat dalam pembelajaran. Peserta didik senantiasa dalam pembelajarannya menunjukkan karakter diri yang kuat berupa belajar sebagai ibadah yang dilaksanakan dengan baik dan benar, aqidah yang bersih, akhlak yang kuat, mampu mengendalikan diri untuk tidak bebuat zalim pada diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat

Ja’far (2007: 76) yang menyatakan“sepuluh sifat mulia (ten noble characters) akan lahir dalam diri seseorang yang menerapkan metode Spiritual Emotional and Intellectual Empowerment”. Diantara karakter-karakter yang lahir dapat berupa mampu mengendalikan diri; tanggung jawab sosial; akhlak kuat; semua urusan teratur (effective); manajemen waktu baik (efficient); aqidah bersih; ibadah benar; wawasan luas; fisik kuat; dan terampil.

Mengacu pada perhitungan hasil penelitian untuk data prestasi belajar matematika (Y) dan sikap peserta didik pada pelajaran matematika (X2), dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan perhitungan hasil penelitian diketahui bahwa prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh sikap peserta didik pada pelajaran matematika sebesar 22,9%.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Rosa (2012) bahwa sikap peserta didik berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Ruhiyat (2011) juga berpendapat sama bahwa sikap peserta didik pada matematika berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar matematikanya. Oleh karena itu, sikap peserta didik pada pelajaran matematika harus terus dibangun secara kontinu dengan lebih baik lagi. Sikap peserta didik pada pelajaran matematika menjadikan energi awal yang dapat menstimulasi kegiatan belajar matematika sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika menjadi lebih baik.

Sikap peserta didik pada pelajaran matematika harus positif, karena dengan sikap positif dari peserta didik pada pelajaran matematika akan menjadikan hasil yang baik atas kegiatan belajar matematika. Hal ini senada dengan

pernyataan Karim (2014), “siswa yang memiliki sikap positif pada pelajaran matematika cenderung mendapatkan

hasil belajar yang baik, sementara siswa yang memiliki sikap negatif pada pelajaran matematika cenderung kurang

memuaskan”. Oleh karena itu, guru jangan pernah putus asa dalam membangun sikap positif peserta didik pada pelajaran matematika dan berupaya sekuat tenaga menghapus sikap negatif peserta didik pada pelajaran matematika. Sikap peserta didik pada pelajaran matematika yang harus dibangun adalah segenap perilaku dengan mengacu pada instrumen sikap peserta didik berdasarkan penelitian ini. Sikap peserta didik pada pelajaran matematika yang dimaksud adalah jadikan peserta didik senang mendengar pelajaran matematika termasuk berbagai event yang diselenggarakan atas nama pelajaran matematika, jadikan peserta didik serius dan penuh antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran matematika, dan bangun kesadaran diri peserta didik untuk senantiasa meningkatkan antusias dan semangat dalam belajar matematika guna meraih prestasi yang sebaik- baiknya.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, simpulan penelitiannya adalah secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual dan sikap peserta didik secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika. Kemudian secara parsial, terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar matematika. Serta terdapat pengaruh yang signifikan sikap peserta didik terhadap prestasi belajar matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, A. G. dan Mukri, R. 2007. ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Jakarta: AGRA Publishing.

Asrori. 2012. Pengaruh Metode Pembelajaran dan Kecerdasan Spiritual terhadap Hasil Belajar Matematika di MTs Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI.

54

Fahmi, N. 2009. Spiritual Excellece: Kekuatan Ikhlas Menciptakan Keajaiban Hidup. Jakarta: Gema Insani.

Hartati, L. 2013. Pengaruh Gaya Belajar dan Sikap Siswa pada Pelajaran Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika. Formatif, 3 (3): 224-235.

Ja’far, F. 2007. SEI Empowerment Road To The Great Success (Meraih Kesuksesan Tanpa Batas). Depok: Spiritual Learning Centre.

Karim, A. 2014. Pengaruh Gaya Belajar dan Sikap Siswa pada Pelajaran Matematika terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematika. Formatif, 4 (3): 188-195.

Marzuq, M. I. 2010. Rahasia Kedahsyatan ESQ (Memompa Diri dengan Pendekatan Spiritual). Yogyakarta: Pustaka Rama.

Nggermanto, A. 2008. Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum): Cara Cepat Melejitkan IQ, EQ, dan SQ Secara Harmonis. Bandung: Nuansa Cendikia.

Ruhiyat, Y. 2011. Pengaruh Konsep Diri dan Sikap Peserta Didik pada Matematika terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas X SMA (Survei pada Siswa Gugus 01 SMA di Kota Tangerang Selatan). Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI.

Suharsono. 2002. Mencerdaskan Anak: Melejitkan Dimensi Moral, Intelektual, & Spiritual dalam Memperkaya Khasanah Batin dan Motivasi Kreatif Anak. Depok: Inisiasi Press.

---. 2004. Akselerasi Inteligensi Optimalkan IQ, EQ & SQ. Depok: Inisiasi Press.

Rosa, N. M. 2012. Pengaruh Sikap pada Mata Pelajaran Kimia dan Konsep Diri terhadap Prestasi Belajar Kimia. Formatif, 2 (3): 218-226.

55

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM POSING MENGGUNAKAN

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 58-64)

Garis besar

Dokumen terkait