penduduk
Ledakan penduduk menimbulkan dampak bu- ruk bagi kehidupan masyarakat terutama dalam bidang sosial ekonomi. Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat tidak sebanding dengan perkem- bangan ekonomi.
Beberapa dampak buruk ledakan jumlah pen- duduk adalah sebagai berikut.
Semakin terbatasnya sumber-sumber kebu- tuhan pokok (pangan, sandang, dan papan yang layak). Akibatnya sumber-sumber ke- butuhan pokok tersebut tidak lagi sebanding dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Tidak mencukupinya fasilitas sosial dan ke- sehatan yang ada (sekolah, rumah sakit, tempat rekreasi) serta berbagai fasilitas pendukung kehidupan lain.
Tidak mencukupinya lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja yang ada. Akibatnya, terjadilah peningkatan jumlah pengangguran dan ber- dampak pada menurunnya kualitas sosial (banyak tuna wisma, pengemis, kriminalitas meningkat, dan lain-lain)
B. Dampak buruk kepadatan
penduduk yang tidak merata
Tidak meratanya kepadatan penduduk di ber- bagai wilayah akan menimbulkan berbagai ma- salah, mencakup masalah sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dampak buruk akan diterima, baik oleh daerah berkepadatan tinggi maupun rendah. Untuk mengetahui besarnya tenaga kerja In-
donesia untuk bidang pekerjaan lain, coba amati
tabel 1.3.4 di bawah!
Permasalahan Indonesia berkaitan dengan tingkat pendapatan adalah rendahnya pendapat- an per kapita. Hal itu berarti tingkat pendapatan rata-rata penduduk Indonesia masih rendah. Jumlah masyarakat golongan ekonomi lemah masih jauh lebih banyak dibandingkan masya- rakat kelompok ekonomi tinggi. Jadi, tingkat pendapatan penduduk Indonesia belum merata.
Rendahnya tingkat pendapatan penduduk In- donesia disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut.
Berkurangnya daya dukung sektor pertanian, sehingga mengurangi lapangan kerja.
Lapangan kerja nonpertanian yang ada belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.
Sistem pengupahan pekerja masih rendah se- hingga pendapatan terbatas.
Tingkat pendidikan penduduk masih rendah.
Tabel 1.3.4 Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2006.
Lapangan Pekerjaan Utama Jumlah %
1. Pertanian 40.163.242 42,10
2. Pertambangan 923.591 0,97 3. Industri pengolahan 11.890.170 12,45 4. Listrik, gas dan air 228.018 0,24
5. bangunan 4.697.354 4,92
6. Perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel 19.215.660 20,13 7. Angkutan, pergudangan, dan komunikasi 5.663.956 5,93 8. Keuangan asuransi, dan jasa perusahaan 1.346.044 1,41 9. Jasa kemasyarakatan 11.355.900 11,90
Jumlah 95.456.935 100
Sumber: Statistical Pocket Book, BPS: 2007 menurut survei angkatan kerja Agustus(sakernas) 2006
Gambar 1.3.2
Industri garmen adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi jumlah
penduduk yang bekerja di sektor pertanian.
sumber:
Majalah T
Wilayah berkepadatan tinggi, terutama adalah perkotaan dan daerah berkepadatan rendah biasa- nya adalah pedesaan. Perhatikan dampak buruk yang diterima kedua wilayah tersebut, melalui uraian berikut ini!
a. Dampak kepadatan penduduk yang tidak me- rata terhadap kehidupan sosial masyarakat 1. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk
tinggi (perkotaan)
Terjadi kelebihan tenaga kerja yang ber- akibat munculnya pengangguran dan me- ningkatnya kriminalitas.
Terjadi masalah permukiman penduduk, yaitu munculnya permukiman kumuh.
Menyempitnya lahan pertanian, karena telah dialihfungsikan sebagai perumahan.
Tingkat pencemaran meningkat karena pe- ngelolaan lingkungan yang kurang baik (permukiman terlalu padat, banyak per- mukiman kumuh/liar).
2. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk rendah (pedesaan)
Terjadi kekurangan tenaga kerja penggarap lahan pertanian, sehingga produktivitas pertanian menurun/ berkurang.
Pembangunan berjalan lebih lambat.
Wilayah tertentu menjadi daerah mati, ka- rena sebagian besar penduduknya pindah ke daerah lain (perkotaan).
Pembangunan ekonomi di wilayah perkotaan cenderung tidak merata. Peningkatan pendapatan penduduk perkotaan tidak merata. Tingkat pen- dapatan untuk pengusaha dan pekerja tetap relatif mendukung peningkatan kesejahteranan. Namun mereka yang bekerja di sektor informal dan terlebih para pengangguran, crnderung terus terpuruk di bawah garis kemiskinan.
Masyarakat miskin di perkotaan meningkat terutama akibat bertambahnya pengangguran. Sebagai contoh, catatan BPS tahun 2005 menyebut- kan jumlah penduduk yang bekerja tetap dalam 6 bulan hanya bertambah 1,2 juta orang (dari 93,7 juta menjadi 94,9 juta), yang berarti menambah jumlah penganggur sebesar 600 ribu orang.
2. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk rendah (pedesaan)
Pembangunan ekonomi di wilayah berkepa- datan rendah, terutama pedesaan dapat meng- alami kendala terutama akibat kurang produktif- nya wilayah itu. Penyebabnya adalah kurangnya tenaga penggarap lahan atau kurangnya kegiatan ekonomi yang dilakukan penduduk selain bertani. Sebagai contoh, pada Maret 2008, BPS mencatat bahwa sebagian besar (63,47 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.
c. Dampak kepadatan penduduk yang tidak me- rata terhadap pembangunan politik
Kehidupan politik ternyata juga dipengaruhi oleh kepadatan penduduk. Sebagai contoh, di In- donesia, penentuan wakil rakyat di DPR, didasar- kan pada jumlah penduduk. Jumlah penduduk juga menentukan layak tidaknya suatu daerah melak- sanakan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada).
1. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk tinggi (perkotaan)
Wilayah dengan jumlah penduduk tinggi relatif lebih beruntung. Selain memenuhi syarat untuk melaksanakan pilkada, keterwakilan rakyat di DPR juga relatif besar. Namun, kepadatan yang tinggi juga rawan terhadap tingginya tingkat perbedaan pendapat dan aspirasi dalam politik.
2. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk rendah (pedesaan)
Wilayah dengan jumlah penduduk sedikit, cen- derung kurang terwakili aspirasinya. Hal itu kare- na semakin sedikit jumlah penduduk maka semakin sedikit wakilnya. Kurang terwakilinya aspirasi, sering kali berdampak pada tingkat perkembangan wilayah itu.
Dengan demikian wilayah berkepadatan tinggi maupun rendah, memiliki potensi masalah ber- kaitan dengan kondisi politik suatu negara.
b. Dampak kepadatan penduduk yang tidak me- rata terhadap pembangunan ekonomi
Pembangunan ekonomi terkait dengan pening- katan taraf hidup penduduk. Artinya pendapatan per kapita harus meningkat dan bebas dari kemis- kinan menurun. Bagaimana kepadatan penduduk memberi dampak bagi pembangunan ekonomi?
1. Dampak bagi daerah berkepadatan penduduk tinggi (perkotaan)
Pembangunan ekonomi di wilayah berkepadat- an tinggi, terutama perkotaan, dapat mengalami kendala. Hal itu terutama dipengaruhi oleh tinggi- nya tingkat pengangguran dan kurangnya lapang- an kerja.
Gambar 1.3.3 Lingkungan pemukiman kumuh di bantaran sungai di kota-kota besar
sumber:
Majalah T
C. Dampak buruk terjadinya migrasi
Migrasi memengaruhi perubahan jumlah pen- duduk suatu wilayah. Selain itu, migrasi juga mem- bawa dampak yang besar dalam kehidupan, baik dampak positif maupun negatif.
Dampak positif yang menguntungkan di anta- ranya adalah hal-hal berikut.
Terjadi transfer ilmu, teknologi, dan budaya, baik dari kota ke desa ataupun dari negara lain.
Terjadi ikatan yang kuat antara dua daerah.
Terjadi pemerataan taraf ekonomi.
Ketersediaan tenaga kerja di suatu daerah dan proses pembangunan berjalan lancar.
pak pada meningkatnya kriminalitas. Contoh: banyak orang datang ke kota tanpa bekal
keterampilan sehingga tidak mendapatkan pekerjaan;
kota yang dituju sudah tidak memerlukan tenaga kerja tambahan.
4. Timbul berbagai masalah kependudukan. Misalnya, krisis hubungan antarnegara karena masalah keimigrasian (tenaga kerja, imigran gelap, dan sebagainya) atau masalah hubungan berbagai etnis di daerah urban.
D. Dampak rendahnya kualitas
penduduk
Berbagai permasalahan kualitas penduduk In- donesia di bidang pendidikan, kesehatan dan ting- kat pendapatan berkaitan satu sama lain dan tidak terpisahkan. Perhatikan ilustrasi berikut ini!
Rendahnya tingkat pendidikan seseorang me- ngurangi kesempatannya untuk bekerja pada bidang berpenghasilan tinggi. Misalnya, seo- rang tenaga profesional disyaratkan memiliki tingkat pendidikan minimal D1-S1. Sebaliknya seseorang berpendidikan rendah umumnya hanya bisa diterima sebagai tenaga kasar ber- gaji rendah. Akibatnya, orang tersebut hanya mampu hidup dengan tingkat ekonomi rendah. Tingkat ekonomi yang rendah membuatnya ti- dak bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga, juga tidak mampu menyekolahkan anaknya.
Rendahnya tingkat kesehatan seseorang mem- buatnya tidak produktif. Kurang produktifnya seseorang juga dapat menjadi penyebab me- nurunnya tingkat pendapatan.
Secara keseluruhan, rendahnya kualitas pen- duduk suatu negara menghambat pembangunan. Negara-negara maju didukung oleh masyarakat berpendidikan tinggi, memiliki kesehatan dan kese- jahteraan yang baik, dan tingginya tingkat penda- patan. Sebaliknya negara berkembang dengan kua- litas penduduk rendah akan mengalami hambatan dalam kegiatan pembangunan.