D i Jakarta, pada tanggal 19 September 1945diselenggarakan rapat raksasa di lapang-
F. Penyebarluasan berita kemerdekaan Indonesia
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo jang sesingkat- singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta
Demikianlah saudara-saudara,
Kita telah merdeka. Tidak ada suatu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka, ne- gara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.”
Setelah pembacaan teks proklamasi, upacara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Pengibaran Merah Putih dilakukan S. Suhud
dan Cudanco Latif, serta diiringi lagu Indonesia Raya. Bendera Merah Putih dijahit oleh Ibu Fat- mawati Soekarno.
F. Penyebarluasan berita
kemerdekaan Indonesia
Penyebaran berita kemerdekaan Indonesia me- rupakan hal yang penting. Hal itu sangat disadari sejak teks proklamasi kemerdekaan selesai diru- muskan. Yang berperan menyebarluaskan berita kemerdekaan itu adalah para pemuda dan pegawai kantor berita Domei.
a. Peran peserta sidang PPKI
Selain melalui siaran radio dan selebaran, berita proklamasi dibawa oleh para utusan yang menghadiri sidang PPKI. Para utusan yang berasal dari berbagai daerah ini juga menghadiri peristiwa proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
b. Peran para pemuda
Selesai perumusan teks proklamasi, Soekarno berpesan kepada para pemuda untuk memperba- nyak teks proklamasi dan menyiarkannya ke ber- bagai tempat. Untuk melaksanakan tugas itu, para pemuda membagi pekerjaan dalam kelompok- kelompok agar berita proklamasi bisa lebih cepat sampai pada masyarakat. Ada kelompok yang ber- tugas untuk menyebarluaskan berita proklamasi dalam bentuk tulisan. Ada pula yang menyebar- kannya dari mulut ke mulut secara beranting.
Salah satu kelompok pemuda yang terkemuka adalah kelompok Sukarni yang bermarkas di Jalan Bogor Lama (Sekarang Jl. Dr. Sahardjo). Dini hari tanggal 17 Agustus 1945, kelompok tersebut menga- dakan rapat rahasia di Kepu (Kemayoran). Kemu- dian mereka pindah ke Defensielijn van den Bosch
(sekarang Jalan Bungur Besar) untuk mengatur ca- ra penyiaran proklamasi.
Para pemuda memanfaatkan semua media ko- munikasi yang ada untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Media komu- nikasi yang banyak digunakan adalah pamflet dan
Gambar 5.2.7
Soekarno sedang membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada pukul 10.00 WIB di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Sumber
: Risalah Sidang BPUPKI, 1995
Gambar 5.2.8
Upacara pengibaran bendera Merah Putih diiringi Lagu Indonesia Raya. Bendera yang dikibarkan ini dijahit oleh Ibu
Fatmawati Soekarno.
surat kabar. Sejumlah besar pamflet disebarkan ke berbagai penjuru kota. Pamflet itu juga dipasang di tempat-tempat strategis yang mudah dilihat khalayak ramai. Pada tanggal 20 Agustus 1945, se- cara serempak surat kabar di seluruh Jawa memuat berita tentang proklamasi kemerdekaan.
Selain menggunakan media komunikasi, penye- barluasan berita proklamasi kemerdekaan juga menggunakan pengerahan massa dan penyam- paian dari mulut ke mulut. Keampuhan cara itu terbukti dari banyaknya masyarakat yang datang ke lapangan Ikada untuk mendengarkan pembaca- an proklamasi kemerdekaan (meskipun ternyata tidak dilakukan di tempat itu).
c. Peran pegawai kantor berita Domei
Menjelang sore hari, tanggal 17 Agustus 1945, wartawan kantor berita Domei yang bernama Syahruddin menyampaikan foto kopi teks prokla- masi kepada Waidan B. Palenewen (kepala bagian radio). Segera ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis/petugas telekomunikasi) untuk menyiar- kan berita proklamasi sebanyak tiga kali berturut- turut. Domei adalah kantor berita resmi pemerintah Jepang sampai akhir Perang Dunia II. Kantor berita Domei didirikan pada tanggal 1 Juni 1936 dengan melakukan fusi di antara dua kantor telegraf.
Walaupun berlaku sensor yang ketat, tetapi melalui Domei pengumuman mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dapat disebarluaskan ke berbagai daerah dan
ke luar negeri. Berita itu disiarkan oleh staf Indo- nesia melalui jaringan telepon dan telegraf tanpa lebih dahulu meminta persetujuan petugas sensor. Penyiaran baru dapat dilaksanakan sebanyak dua kali saat tentara Jepang memerintahkan agar penyiaran dihentikan. Namun, Waidan B. Pelene- wen tetap memerintahkan markonis untuk terus menyiarkan. Bahkan penyiaran terus diulangi setiap 30 menit sampai saat siaran berakhir pada pukul 16.00.
Untuk menghalangi penyebarluasan berita proklamasi, pimpinan bala tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita proklamasi sebagai suatu kekeliruan. Tindakan selanjutnya adalah menyegel kantor berita Domei pada tang- gal 20 Agustus 1945. Para pegawainya dilarang masuk.
Tindakan Jepang itu tidak menyurutkan tekad para pegawai kantor berita Domei untuk menye- barluaskan berita proklamasi. Dengan bantuan se- jumlah teknisi radio, mereka berupaya membuat pemancar baru. Peralatan pemancar yang dibutuh- kan diambil bagian demi bagian dari kantor berita
Domei. Sebagian dibawa ke rumah Waidan B. Pale- newen, sebagian lagi ke Menteng 31. Akhirnya, ber- dirilah pemancar baru di Menteng 31 dengan kode panggilan DJK 1. Dari pemancar itulah, berita pro- klamasi terus-menerus disiarkan.
Usaha para pemuda dalam penyiaran berita ini tidak terbatas lewat radio saja, melainkan juga lewat pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita Proklamasi dan Undang-Undang Dasar Negar Republik Indonesia. Demikianlah berita proklamasi tersiar ke seluruh pelosok tanah air.
Gambar 5.2.9
Surat-surat kabar pada waktu proklamasi kemerdekaan ikut serta menyebarluaskan proklamasi kemerdekaan. Di
antaranya “Soeara Asia” yang terbit di Surabaya dan “Tjahaya” yang terbit di Bandung.
Gambar 5.2.10
Gedung kantor berita Antara di Jl. Antara, Jakarta. Dari gedung ini, berita proklamasi kemerdekaan disiarkan ke seluruh dunia. Pada jaman Jepang, Antara diganti namanya
menjadi Yashima dan menjadi bagian dari kantor berita Jepang, Domei.
Sumber
: 30 T
ahun Indonesia Merdeka 1, 1985
Sumber: 30 T
5.2.2 Sikap Rakyat Terhadap
Proklamasi Kemerdekaan
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 mendapat tanggapan yang meriah dari seluruh rakyat Indonesia. Pro- klamasi merupakan wujud niat dan tekad rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Rakyat di berbagai daerah di seluruh Indonesia mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sikap rakyat terhadap proklamasi ke- merdekaan kelihatan dalam tindakan-tindakan- nya, antara lain berikut.