• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlawanan sesudah tahun

Dalam dokumen Untuk SMPMTs Kelas VIII (Halaman 78-86)

memerdekakan diri dari penjajahan pada tahun 1945.

B. Perlawanan sesudah tahun

Perlawanan rakyat sesudah tahun 1800 antara lain perlawanan rakyat Maluku, perlawanan kaum paderi di Sumatera Barat, perlawanan Diponegoro di Jawa, perlawanan rakyat di Bali, perlawanan rakyat Banja, perlawanan rakyat Aceh, dan perla- wanan Sisingamangaraja.

a. Perang Maluku (1817)

Rakyat Maluku sangat menderita sewaktu VOC berkuasa. Akan tetapi, pada masa penjajahan Ing- gris terjadi perubahan yang menggembirakan rak- yat Maluku. Perubahan itu antara lain, Inggris mau membeli rempah-rempah dengan harga yang wa- jar. Inggris memenuhi kebutuhan rakyat Maluku. Inggris memberi kesempatan bagi para pemuda untuk mengikuti dinas angkatan perang Kerajaan Inggris. Penjajahan Inggris memberi suasana baru dan harapan yang lebih baik bagi rakyat Maluku. Pada tahun 1814, diadakan Traktat London I. Traktat ini memaksa Inggris supaya mengem- balikan jajahan Indonesia kepada Belanda. Oleh sebab itu, pada tahun 1817, Belanda mendarat di Maluku untuk menanamkan kembali kekuasa- annya. Rakyat Maluku masih teringat kekejaman Belanda sehingga memberikan perlawanan. Keke- jaman pada masa lampau, seperti monopoli dagang, pelayaran hongi, dan wajib militer meru- pakan tindakan yang sangat menyakitkan.

Di bawah pimpinan Thomas Mattulessy (Kapitan Pattimura), Raja Abubu, Anthoni Rebok, Phillip Latu- mahina, Said Printah, Paulus Tiahahu, dan Christina Martha Tiahahu, rakyat Maluku mengadakan perla- wanan terhadap Belanda. Perlawanan dimulai de- ngan menyerang pos Porto. Serangan dilanjutkan ke

Benteng Duurstede di Saparua yang menyebabkan

Residen van den Berg beserta keluarga dan penga- walnya terbunuh. Rakyat di Hitu juga mengadakan perlawanan dipimpin oleh Ulupaha bersama rakyat Seram dan pulau-pulau yang lain.

Belanda berusaha untuk merebut kembali Benteng Duurstede, namun gagal bahkan menye- babkan Mayor Beetjes tewas dalam pertempuran.

Usaha Belanda untuk menguasai kembali Maluku dilakukan dengan politik devide et impera. Belanda memperalat beberapa raja dan tokoh masyarakat sehingga Benteng Duurstede dapat direbut kemba- li. Pattimura, Anthoni Rebok, Philip Latumahina, dan Said Printah tertangkap. Mereka dijatuhi hu- kuman gantung di Benteng Victoria (Ambon). Sedang- kan, Ulupaha setelah tertangkap, dijatuhi hukuman tembak.

b. Perang Paderi (1821-1837)

Di Sumatera Barat terdapat beberapa haji yang baru saja kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Para haji tersebut antara lain Haji Miskin,

Haji Sumanik, dan Haji Piabang. Mereka menganut aliran Wahabi. Masyarakat Sumatera Barat sudah lama memeluk agama Islam, tetapi masih banyak orang yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti kebiasaan me- nyabung ayam, berjudi, minum-minuman keras yang memabukkan dan memegang adat matriline- al. Para haji yang mendapat ajaran wahabi terse- but berusaha melancarkan gerakan untuk mengikis perbuatan yang bertentangan dengan ajaran aga- ma Islam. Mereka inilah yang disebut kaum Paderi. Gerakan kaum Paderi berusaha untuk membersih- kan agama Islam dari tradisi, adat kolot, dan kebiasaan buruk yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Gerakan kaum Paderi ini meresahkan kaum tua-tua atau golongan pemangku adat yang tetap berusaha mempertahankan tradisi lama. Di sam- ping itu, mereka menolak gerakan kaum Paderi da- lam usaha memurnikan agama Islam. Golongan pemangku adat disebut kaum hitam, karena selalu menggunakan jubah hitam. Kaum Paderi disebut

kaum putih, karena selalu mengenakan jubah putih. Pertentangan antara dua golongan ini menyebab- kan terjadinya perang terbuka. Karena golongan

Gambar 2.1.6

Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Ia memimpin perlawan- an rakyat melawan Belanda di

Maluku.

Sumber:

pemangku adat menderita kekalahan, mereka min- ta bantuan kepada Belanda. Belanda tidak sekadar membantu kaum adat. Belanda ingin menguasai Minangkabau.

Pada tahun 1825, perang Paderi dihentikan karena Belanda sedang memusatkan perhatiannya dalam menghadapi Perang Diponegoro. Sesudah perang Diponegoro selesai, perang Paderi tahap ke- dua dilanjutkan. Kaum pemangku adat akhirnya menyadari kesalahannya. Mereka kemudian ber- gabung dengan kaum Paderi untuk menghadapi Belanda. Penggabungan kedua kekuatan ini me- nyulitkan Belanda dalam menghadapi dan me- numpasnya. Belanda akhirnya menerapkan Sistem Benteng (Benteng Stelsel).

Untuk menghalangi kaum Paderi, Belanda membangun benteng, antara lain Benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Benteng Fort van der Capellen

di Batusangkar. Dengan siasat ini, perlawanan ka- um Paderi dapat dipatahkan.

Pada tanggal 30 Oktober 1832, Tuanku nan Alahan menyerah.Pada tanggal 25 Oktober 1837,

Tuanku Imam Bonjol dapat ditangkap. Ia dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839 dibuang ke Ambon. Tahun 1841 Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Manado sampai tutup usia. Pasukan Paderi menyingkir ke wilayah Tapanuli untuk meneruskan perlawanan. Salah satu pemimpinnya adalah Tuanku Tambusi. Pada tanggal 28 Desember 1838, Tuanku Tambusi dapat dikalahkan Belanda. Dengan demikian, berakhirlah perang Paderi.

Pasca pemerintahan Hamengku Buwono I, situasi politik Keraton Yogyakarta tidak stabil. Ke- tidakstabilan itu terjadi karena Hamengku Bu- wono II (Sultan Sepuh) dianggap tidak dapat mengendalikan pemerintahan. Akhirnya Sultan Hamengkubuwono II diasingkan.

Pengganti Hamengku Buwono II adalah Ha- mengku Buwono III (Sultan Raja). Setelah Ha- mengku Buwono III wafat (1814), kekuasaan dipe- gang oleh Pangeran Jarot. Ia adalah putra Hameng- ku Buwono III yang lahir dari permaisuri. Ia ber- gelar Hamengku Buwono IV.

Hamengku Buwono IV bergaya hidup mewah dan suka memasukkan hal-hal yang baru ke ling- kungan keraton. Ia wafat secara tiba-tiba, sehingga diangkatlah putranya yang masih kecil, yakni Sul- tan Menol (Hamengku Buwono V) sebagai peng- gantinya. Sementara itu, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai wali sul- tan. Karena kecewa, Pangeran Diponegoro mundur dari dewan perwalian. Ia tidak mau turut campur lagi dalam urusan istana. Pangeran Diponegoro me- ninggalkan kemewahan keraton dan tinggal di Te- galrejo.

Gambar 2.1.7

Tuanku Imam Bonjol. Ia adalah salah seorang pemimpin perang Paderi di Sumatera Barat. Tuanku Imam Bonjol

meninggal di pengasingan di Manado.

Sumber:

Atlas Indonesia

c. Perang Diponegoro (1825-1830)

Perang Diponegoro merupakan perang besar yang dihadapi Belanda di Jawa. Peristiwa perang Diponegoro tidak terlepas dari situasi politik Ke- raton Yogyakarta pada masa itu. Pangeran Dipo- negoro, yang nama kecilnya Raden Mas Onto- wiryo adalah putera pertama Hamengku Buwono III. Ia lahir dari seorang selir.

Gambar 2.1.8

Peta Perlawanan Pangeran Diponegoro. Perang Diponegoro sendiri berlangsung selama tahun 1825-1830 dan mengeruk

ekonomi pemerintah Belanda.

Sumber: I Wayan Badrika, 2004.

Pusat Perlawanan Pangeran Diponegoro Tempat pertempuran

Perang Diponegoro merupakan perang terbesar di Pulau Jawa. Secara umum penyebab perang Di- ponegoro adalah sebagai berikut.

 Pengurangan daerah Mataram. Pengurangan ini sudah terjadi sejak Daendels dan Raffles se- hingga daerah apanage menjadi kecil. Apanage

adalah daerah yang diberikan kepada keluarga raja, tanpa jasa kerja.

 Adanya bermacam-macam pajak dari Belanda, apalagi pajak tersebut diborongkan kepada orang-orang Tionghoa. Pajak tersebut antara lain pajak tanah, rumah, jembatan, pintu, dan sebagainya.

 Adanya aturan van der Capellen yang melarang menyewa tanah dan penduduknya untuk per- kebunan kepada swasta. Maksudnya agar tidak menyaingi perkebunan milik pemerintah. Yang sudah terlanjur menyewakan tanahnya dimin- ta mengembalikannya kepada pemerintah.

 Kemiskinan rakyat dan adanya perlakuan tidak adil dari penjajah.

 Campur tangan pemerintah Belanda dalam urusan intern keraton.

Secara khusus, penyebab Diponegoro mengo- barkan perang terhadap Belanda adalah sebagai berikut.

 Pengangkatan khotib dilakukan oleh Patih Da- nurejo, padahal itu merupakan hak raja (wali raja). Tindakan patih ini dibenarkan oleh Be- landa, maka Pangeran Diponegoro meninggal- kan istana dan pergi ke Tegalrejo.

 Belanda mau membuat jalan melalui tanah makam keluarga Diponegoro. Sebagai protes terhadap tindakan tersebut, patok-patok se- bagai tanda rencana pembuatan jalan dicabuti oleh Diponegoro. Belanda kemudian menyuruh Mangkubumi untuk membujuk Diponegoro, te- tapi gagal. Akhirnya, pada tanggal 20 Juli 1825 pecah Perang Diponegoro.

Dalam perang besar ini, Pangeran Diponegoro mendapat bantuan dari banyak pihak, antara lain

Pangeran Mangkubumi (paman Pangeran Dipo- negoro), Sentot Alibasyah Mustafa Prawirodirjo, (putera bupati Maospati, Madiun), Kyai Mojo (se- orang ulama), Pangeran Ngabehi Jaya Kusuma, dan rakyat yang memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro dengan mudah dapat menghimpun kekuatan rakyat. Ia melancarkan sia- sat perang gerilya dan menghindari perang ter- buka karena persenjataannya jauh tidak seimbang dibandingkan dengan persenjataan Belanda. Ben- teng gerilya Pangeran Diponegoro terdapat di Gua Selarong, Dekso, lereng Gunung Merapi, dan daerah Bagelen.

Kesulitan dalam menghadapi perlawanan Di- ponegoro menyebabkan Belanda melaksanakan

Sistem Benteng (Benteng Stelsel). Belanda mendiri- kan benteng di daerah yang telah berhasil dikuasai dengan suatu penjagaan. Tujuan dari sistem ben- teng ini adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro.

Sebagai usaha untuk menghentikan perlawan- an Diponegoro, Belanda melaksanakan politik devide et impera. Belanda mengangkat kembali Hamengku Buwono II menjadi raja. Belanda juga memanfaat- kan Sunan Surakarta dan Mangkunegara yang te- lah berpihak pada Belanda. Akhirnya, pada tahun 1827 beberapa pangeran menyerah kepada Belan-

da. Pada tahun 1828, Kyai Mojo ditangkap dan di- asingkan ke Manado. Ia meninggal di sana pada tahun 1848. Pada tahun 1829, Pangeran Mang- kubumi menenyerah kepada Belanda. Sentot Prawirodirjo tertangkap, kemudian dibawa ke Ba- tavia. Pada Tahun 1830, ia dimanfaatkan Belanda untuk melawan kaum Paderi di Sumatera Barat. Akan tetapi, Sentot Prawirodirjo justru berpihak pada kaum Paderi. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dibuang ke Bengkulu sampai wafat pada tahun 1855.

Dalam keadaan yang sangat sulit ini, Pangeran Diponegoro diajak berunding oleh Jenderal Hen- drick Marcus de Kock di Magelang, Jawa Tengah. Pangeran Diponegoro mendapat jaminan jika perundingan gagal, ia diizinkan kembali ke pasu- kannya. Akan tetapi, ternyata hal tersebut merupa- kan tipu daya. Ketika perundingan itu mengalami kegagalan, Pangeran Diponegoro ditangkap. Ia diasingkan ke Manado (1830). Pada tahun 1839, ia dipindahkan ke Makassar. Ia wafat di Makassar pada 8 Januari 1855. Dengan demikian, perlawanan Diponegoro dapat dipatahkan.

d. Perang Jagaraga

Di Bali terdapat banyak kerajaan, seperti Klung- kung, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Mengwi, Tabanan, Badung, Buleleng, dan Bangli yang me- nganut agama Hindu. Kerajaan-kerajaan tersebut memberlakukan adat Hak Tawan Karang. Hak Ta- wan Karang adalah adat yang berlaku di Bali untuk menawan setiap kapal asing yang kandas di per- airannya. Kapal dan harta bendanya dirampas, sedangkan anak buah kapalnya dijadikan budak karena dianggap sebagai miliknya.

Pada tahun 1844, kapal Belanda kandas di per- airan Buleleng. Belanda menuntut kepada Raja Buleleng untuk mengembalikan kapal dan segala isinya kepada Belanda. Tuntutan itu ditolak oleh raja Buleleng dan patihnya (Gusti Ktut Jelantik). Oleh karena itu, pada tahun 1846 Belanda mengi- rimkan pasukannya untuk menyerang Buleleng. Untuk menghadapi pihak Belanda, Buleleng diban-

Gambar 2.1.9

Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan rakyat melawan Belanda di Yogyakarta (kiri) dan Jenderal de Kock

yang menangkap Diponegoro (kanan).

Sumber: Repro

Lukisan Sedjarah. 1956

Sumber: Repro

Ensiklopedi Nasional

tu Kerajaan Karangasem. Akan tetapi, kedua kera- jaan itu kemudian dipaksa menandatangani suatu perjanjian. Isi perjanjian tersebut adalah pengaku- an Kerajaan Buleleng dan Karangasem terhadap kekuasaan Belanda di Batavia. Belanda berhak me- monopoli dagang dan Hak Tawan Karang dihapus- kan. Dengan perjanjian ini, Belanda mengira bahwa kedua kerajaan tersebut telah dikuasai sehingga tentara Belanda ditarik ke Batavia.

Raja-raja Bali tak pernah tunduk kepada Be- landa. Lalu dihimpunlah kekuatan dari Kerajaan Buleleng, Karangasem, dan Klungkung untuk menghadapi Belanda. Benteng Jagaraga dijadikan pertahanan utama pasukan Bali. Hak Tawan Karang

tetap dilaksanakan. Kabar ini juga sampai pada Belanda. Pada tahun 1848, Belanda mengirim pa- sukannya ke Bali untuk menghancurkannya. Akan tetapi, Belanda tidak mampu menghadapi perla- wanan rakyat Bali di bawah pimpinan Gusti Ktut Jelantik sehingga Belanda kembali ke Batavia de- ngan banyak korban.

Belanda kembali mengirim pasukannya ke Bali dengan kekuatan yang lebih besar lagi pada tahun 1849. Kerajaan Buleleng, Karangasem, dan Klung- kung bertahan di benteng Jagaraga. Meskipun de- mikian, akhirnya benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. Tentara Belanda bergerak ke selatan me- nuju Kerajaan Karangasem. Kerajaan Karangasem mengadakan Perang Puputan. Perang Puputan ada- lah perlawanan sampai mati oleh seluruh keluarga kerajaan dan pengikutnya. Klungkung bertahan di benteng Kasumba dan mengadakan perlawanan gerilya. Perang gerilya ini mengakibatkan Jenderal Michels tewas. Dengan bala bantuan yang dida- tangkan ke Bali, Belanda akhirnya mampu mengu- asai Bali. Kerajaan-kerajaan itu dipaksa untuk menandatangani suatu perjanjian, walaupun ma- sih ada perlawanan rakyat dari Tabanan, Badung, dan Klungkung.

e. Perang Banjar (1859-1905)

Perang Banjar terjadi pada tahun 1859 - 1905. Perang Banjar timbul karena Belanda terlalu jauh ikut campur tangan di kerajaan Banjar setelah membantu Pangeran Nata naik takhta. Belanda menguasai bidang perkebunan dan pertambangan batu bara. Ketika Sultan Adam mengangkat Pange- ran Hidayattullah sebagai penggantinya, Belanda tidak setuju dan mengangkat Pangeran Tamjid Ulah sebagai pengganti Sultan Adam. Sultan Adam wafat pada tahun 1857. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Tamjid Ulah sebagai Sul- tan dan Pangeran Hidayattullah sebagai Mangku- bumi. Sultan Tamjid Ulah berusaha mengkhianati Pangeran Hidayatullah dengan membuat keka- cauan di tambang batu bara. Hal ini diketahui oleh Belanda, maka Sultan Tamjid Ulah diturunkan dari takhta Kerajaan Banjar. Di samping itu, Pangeran Prabu Anom (putera Sultan Adam) yang anti Be- landa ditangkap dan dibuang ke Jawa. Akhirnya, kesultanan Banjar dihapus dan langsung berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun 1859, Pangeran Antasari mengge- rakkan rakyat Banjar melawan Belanda. Perla- wanan bertambah hebat setelah Pangeran Hidaya- tullah bergabung dengan Pangeran Antasari. Pa- ngeran Hidayatullah tertangkap pada tahun 1861. Pangeran Antasari tetap mengadakan perlawanan. Bahkan oleh rakyat ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi dengan gelar Amirudi Kha-lifatul Mukmi- nin. Pada tahun 1862, Pangeran Antasari wafat. Perlawanan rakyat Banjar tidak pernah reda dan berlangsung lama sampai tahun 1905.

f. Perang Aceh (1873-1904)

Sampai tahun 1870, Aceh merupakan kerajaan yang merdeka dan mempunyai letak yang strategis, baik secara ekonomi maupun militer. Setelah Terus-

Gambar 2.1.10

Peta perlawanan kerajaan-kerajaan di Bali melawan kekuasaan Belanda. Karena belum bersatu, kerajaan- kerajaan tersebut dengan mudah dikalahkan Belanda.

Sumber: I Wayan Badrika, 2004. Buleleng Jembrana Tabanan Ba ngli K a ra ng- asem Klungkung B a d u n g G ia n y a r Gambar 2.1.11

Raja Buleleng beserta segenap rakyatnya melakukan pe- rang puputan (perang habis-habisan) melawan Belanda di

Bali.

sumber:

an Suez dibuka pada tahun 1869, peran Aceh men- jadi semakin penting. Pada tahun 1871, diadakan

Traktat London III sehingga Inggris melepaskan tun- tutannya terhadap Aceh. Sebagai gantinya, Belan- da menyerahkan Sri Lanka kepada Inggris. Dengan perjanjian itu, Belanda mempunyai hak untuk menguasai Aceh.

Pada tahun 1873, Belanda mulai melaksanakan aksi militer dengan menyerang dan menduduki istana sultan serta membakar Masjid Raya Aceh, Baitur Rahim. Tindakan Belanda ini menimbulkan kemarahan rakyat dan ulama Aceh. Rakyat Aceh mengadakan perlawanan yang menewaskan Jen- deral Kohler. Perlawanan rakyat Aceh disemangati oleh perang agama dalam mengusir orang Belanda yang dianggapnya kafir sehingga perang tersebut dikenal sebagai perang jihad. Sistem gerilya diguna- kan rakyat Aceh dalam menghadapi Belanda.

Sementara itu, Belanda menggunakan siasat

konsentrasi stelsel. Konsentrasi stelsel adalah pemu- satan kekuatan dalam satu benteng. Siasat ini sa- ngat lemah karena bersifat pasif. Artinya, kalau tidak diserang musuh berarti keadaan dianggap aman. Apabila terjadi serangan, Belanda menderita banyak kerugian karena serangan dilaksanakan pa- da saat Belanda dalam keadaan lengah.

Korban yang semakin meningkat dan keuang- an yang semakin kosong, mendorong Belanda me- laksanakan siasat lain. Seorang ahli hukum Islam dan ahli bahasa-bahasa Timur dikirim ke Aceh un- tuk menyelidiki adat-istiadat dan kekuatan rakyat Aceh. Tokoh itu adalah Dr. Snouck Hurgronje. Ia mempunyai nama samaran Abdul Gafar. Hasil pe- nyelidikannya dirumuskan dalam bukunya yang berjudul De Acehers yang berisi cara untuk dapat mengalahkan rakyat Aceh. Dalam buku tersebut, Belanda dianjurkan melakukan hal-hal berikut.



Menyingkirkan semua golongan ulama.



Menggempur kaum ulama.



Mendirikan pangkalan-pangkalan tetap di Aceh.



Mengadakan gerakan pasifikasi, yaitu dengan mempertinggi kesejahteraan rakyat untuk me- narik simpati rakyat Aceh.

Siasat yang dikemukakan Dr. Snouck Hurgronje ini didukung oleh Jenderal van Heutz. Ia menyata- kan bahwa penyelesaian perang Aceh dilakukan melalui operasi militer. Untuk itu, Jenderal van Heutz membentuk pasukan gerak cepat. Sebelum siasat Dr. Snouck Hurgronje dan van Heutz dilak- sanakan, Belanda melaksanakan anjuran Jenderal Deykerhoff, yaitu politik adu domba. Artinya, or- ang Aceh harus dilawan oleh orang Aceh sendiri. Belanda mendekati alim ulama dan para huluba- lang dengan janji gaji besar dan pangkat tinggi. Seorang pejuang Aceh, yakni Teuku Umar mene- rima tawaran ini. Akan tetapi, setelah mendapat kepercayaan dari Belanda berupa uang dan persen- jataan yang cukup, Teuku Umar menghilang. Ia menyingkir ke pedalaman untuk melanjutkan per- lawanan lagi.

Belanda yang merasa tertipu oleh Teuku Umar, kemudian melaksanakan anjuran dari Dr. Snouck Hurgronje dan van Heutz. Van Heutz segera mem- bentuk pasukan gerak cepat yang diberi nama pa- sukan marchose. Pasukan ini adalah pasukan gerak cepat yang diperlengkapi klewang dan senapan. Pasukan Aceh diserang terus-menerus. Mulai dari Aceh Tengah ke Aceh Selatan. Teuku Umar gugur dalam pertem- puran di dekat Meulaboh pada tahun 1899.

Dengan gugurnya Teuku Umar, perlawanan Aceh semakin kendor. Banyak tokoh Aceh menyerah. Pada tahun 1903, Sultan Mohammad Daudsyah

menyerah, dan wafat dalam pengasingan di Batavia. Di tahun yang sama, Panglima Polim menyerah. Diikuti Cut Nyak Dien yang tertangkap dan diasing- kan ke Sumedang pada tahun 1905. Cut Meutia

Gambar 2.1.13

Pasukan Belanda dipimpin Van Heutsz menduduki Batee Ilie (1901)

Sumber: Lukisan Sedjarah, 1956, hlm. 88

Gambar 2.1.12

Dr. Snouck Hurgronje mengusulkan cara-cara efektif untuk mengalahkan perjuangan rakyat Aceh.

Sumber:

gugur tahun 1910. Terakir, Teuku Cik di Tiro menye- rah tahun 1912.

Aceh akhirnya mengalami kekalahan. Aceh di- paksa untuk menandatangani Korte Verklaring atau Plakat Pendek. Isi plakat tersebut sebagai berikut.

 Aceh mengakui kedaulatan Belanda atas Aceh.

 Aceh berjanji tidak mengadakan hubungan de- ngan negara lain.

 Aceh akan menaati peraturan gubernemen (Be- landa).

Karena jasanya, van Heutz diangkat menjadi gubernur jenderal. Ia lalu digantikan oleh van Daalen. Van Daalen terkenal kejam dan kurang bijaksana sehingga menimbulkan pemberontakan lagi.

Perang Aceh oleh Belanda dinyatakan sudah selesai pada tahun 1904. Namun, perlawanan rak- yat tetap berlangsung terutama berpusat di Pegu- nungan Gayo yang sukar didatangi oleh Belanda. Pemimpin perlawanan tersebut, antara lain Cut Meutia. Karenanya, pada tahun 1917, “Barisan Macan” di bawah pimpinan Christoffel melakukan pengejaran sampai ke Gayo. Namun, rakyat Aceh tidak benar-benar tunduk kepada Belanda.

g. Perlawanan Sisingamangaraja XII (1878- 1907)

Sisingamangaraja XII naik takhta kerajaan pa- da tahun 1870. Sejak masa pemerintahan ayahnya, yaitu Sisingamangaraja XI, pada tahun 1860, Dr. Nomensen (seorang misionaris Belanda) telah ber- hasil menyebarkan agama Kristen Protestan di dae- rah Tapanuli. Pada mulanya Sisingamangaraja XII

Gambar 2.1.14

Para pahlawan dari Aceh: Teuku Cik Di Tiro (kiri), Cut Nya Dien (tengah), dan Teuku Umar (kanan).

tetap toleran terhadap agama Kristen yang ber- kembang di daerahnya. Beliau sendiri menganut kepercayaan yang disebut Parmalim. Dalam perkem- bangannya, Belanda berusaha menguasai tanah Batak dengan alasan melindungi kepentingan para misionaris.

Melihat sikap Belanda yang ingin merebut ke- kuasaan tersebut, Sisingamangaraja merasa teran- cam kekuasaannya. Rencana perang melawan Be- landa pun disusun. Sisingamangaraja bekerja sama dengan para pejuang Minangkabau dan Aceh yang menyingkir ke daerah Batak.

Tahun 1877, pertempuran pertama terjadi di Bahal Batu, pusat pertahanan Belanda. Sementara pusat pertahanan Sisingamangaraja berada di Bakkara. Perjuangan melawan Belanda berkobar terus dengan perang gerilya selama 24 tahun. Belan- da mengerahkan pasukan Marchosse yang ditarik da- ri Aceh. Jenderal van Daalen memimpin pasukan ini. Pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Chris- toffel berhasil mengepung Sisingamangaraja di daerah Pakpak. Sisingamangaraja bersama dua putranya, yaitu Patuan Nagari dan Patuan Anggi

gugur sehingga seluruh daerah Tapanuli dapat di- kuasai oleh Belanda.

Gambar 2.1.15

Sisingamangaraja XII. Motif perlawanan yang semula menentang penyebaran agama Kristen di Tapanuli, berkembang

1. Bangsa-bangsa Barat yang semula datang untuk mencari rempah-rempah lama kela- maan membangun koloni di Indonesia. Kebi- jakan pemerintah kolonial Belanda pasca VOC terhadap Indonesia antara lain: melak- sanakan sistem sewa tanah, melaksanakan sistem tanam paksa, membuka Indonesia bagi penanaman modal swasta, melaksana- kan politik etis.

Sistem sewa tanah dipraktikkan pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Van der Cape- llen. Sistem ini dimaksud sebagai usaha un-

Dalam dokumen Untuk SMPMTs Kelas VIII (Halaman 78-86)