• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi perintis pergerakan nasional

Dalam dokumen Untuk SMPMTs Kelas VIII (Halaman 93-98)

Organisasi Pergerakan Nasional

C. Organisasi perintis pergerakan nasional

Hasrat dan semangat untuk bersatu untuk me- nentang kolonialisme akhirnya melahirkan gerak- an kebangsaan untuk mencapai Indonesia merdeka. Muncullah pelopor-pelopor dan perintis perge- rakan dari kalangan pelajar yang mempunyai wa- wasan nasional, antara lain: Boedi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan Gerakan Pemuda.

1. Boedi Oetomo

Pendiri Boedi Oetomo adalah para mahasiswa STOVIA (School tot Opleideing van Inlansche Aartsen). STOVIA adalah sekolah untuk mendidik calon dok- ter pribumi. STOVIA ada di kota Jakarta. Salah satu pendiri Boedi Oetomo adalah Soetomo. Organisasi tersebut secara resmi berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Semboyan Boedi Oetomo adalah “meningkat- kan martabat rakyat”.

Inspirasi pendirian Boedi Oetomo datang dari

Dokter Wahidin Sudirohusodo. Wahidin adalah seorang pensiunan dokter Jawa. Ia mendirikan Ya- yasan Beasiswa atau Dana Pelajar (studiefonds). Yayasan ini didirikan untuk membiayai pemuda- pemuda pandai dan ingin meneruskan studinya ke sekolah-sekolah yang lebih tinggi, tetapi tidak mempunyai biaya.

Tujuan Boedi Oetomo, yaitu:

 Mencapai kemajuan nusa dan bangsa dengan jalan memajukan pengajaran dan kebudayaan.

Gambar 2.2.5

Soetomo dan Wahidin Sudiro Husodo, dua orang tokoh pendiri Boedi Oetomo.

Sumber:

 Mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat. Pada mulanya keanggotaan Boedi Oetomo ter- batas hanya golongan elite Jawa. Pada umumnya mereka adalah kaum intelektual dan pegawai, khususnya pegawai pangreh praja dan bangsawan. Keanggotaannya dibatasi karena takut mendapat saingan dari golongan rakyat jelata. Boedi Oetomo baru terbuka menerima keanggotaan dari seluruh Indonesia setelah kongresnya pada bulan Desem- ber 1930.

Boedi Oetomo bersikap kooperatif terhadap pemerintah Belanda sebab para pemuka dan pen- dukungnya kebanyakan orang yang erat dengan masyarakat Belanda. Bahkan, banyak anggotanya adalah pegawai pemerintah. Pada tahun 1914, ke- tika pecah Perang Dunia I di Eropa, Boedi Oetomo membentuk Komite Pertahanan India. Tujuan ko- mite itu adalah mempertahankan Indonesia dari serangan luar. Oleh karena itu, diperlukan wajib militer. Pada waktu pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1918, wakil-wakil Boedi Oetomo duduk dalam de- wan itu.

Pada tahun 1932, Boedi Oetomo mempunyai orientasi untuk mencapai Indonesia merdeka. Oleh karena itu, Boedi Oetomo mempunyai rencana untuk bergabung dengan perhimpunan perjuang- an kemerdekaan yang lain.

Lahirnya Boedi Oetomo mempunyai makna penting bagi perkembangan nasionalisme Indone- sia. Boedi Oetomo merupakan organisasi modern pertama yang memiliki hal-hal sebagai berikut.

 Mempunyai pemimpin, dasar, dan tujuan or- ganisasi yang jelas, serta keanggotaannya dia- tur secara modern.

 Perjuangannya terarah menuju kebebasan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

 Mencita-citakan kemerdekaan Indonesia dan cita-cita ini diikuti oleh organisasi-organisasi lain yang lahir berikutnya.

Dengan kata lain, Boedi Oetomo memberi arah perubahan politik menuju penyemaian semangat nasional yang pertama. Oleh karena itu, hari lahir Boedi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Tokoh-tokoh Boedi Oetomo yang berperan besar antara lain: Dr. Sutomo, Wahidin Sudirohu- sodo, Tjipto Mangunkusumo, Radjiman Wedyodi- ningrat, R.A. Tirtokusumo, Surjodiputro, Pangeran Noto Dirodjo, dan R. Gunawan Mangunkusumo.

2. Sarekat Islam

Sarekat Islam (SI) semula bernama Sarekat Da- gang Islam (SDI). Sarekat Dagang Islam didirikan

oleh Haji Samanhudi dan R.M. Tirtosudirjo di Solo pada tahun 1911. Faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Sarekat Dagang Islam adalah sebagai berikut.

 Sarekat Dagang Islam dapat menjadi “wadah” perjuangan para pedagang Islam dalam meng- hadapi gelombang perdagangan Cina peran- tauan yang semakin ekspansif dan monopolis. Kegairahan berdagang orang Cina perantauan sangat dipengaruhi oleh Revolusi Cina, 10 Ok- tober 1911. Revolusi itu menggugah harga diri dan kesadaran emosional, kemudian memba- ngun ikatan-ikatan eksklusif yang bercorak nasionalistis Cina. Semua itu sangat meme- ngaruhi kinerja pedagang Cina di Indonesia, khususnya Solo.

 Sarekat Dagang Islam menjadi wadah perju- angan menghadapi semua bentuk penghinaan terhadap penduduk pribumi.

Dalam kongres di Surabaya tanggal 30 Septem- ber 1912, atas usul dan saran dari H.O.S. Tjokroa- minoto, Sarekat Dagang Islam diubah namanya menjadi Sarekat Islam. Perubahan nama itu sesuai tuntutan kebutuhan saat itu. Menurut H.O.S. Tjo- kroaminoto, organisasi ini harus terbuka bagi semua masyarakat dari berbagai latar belakang profesi (mata pencarian). Semua masyarakat pada lapisan bawah yang sudah sejak berabad-abad la- manya tidak tersentuh perubahan, harus menda- pat perhatian Sarekat Islam.

Gambar 2.2.6

K.H. Agus Salim dan H.O.S Tjokroaminoto tokoh pemimpin Sarekat Islam

Sumber:

Atlas dan Lukisan Sejarah.1985

Menurut Anggaran Dasarnya, tujuan pendiri- an Sarekat Islam adalah sebagai berikut.

 Mengembangkan jiwa dagang.

 Membantu anggota yang menderita dan kesu- litan.

 Memajukan pengajaran.

 Menaikkan derajat penduduk asli.

 Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang Islam.

Pada tanggal 26 Januari 1913, Sarekat Islam me- ngadakan kongres di Surabaya. Hasil keputusan yang diambil dalam kongres tersebut antara lain sebagai berikut.

 H.O.S. Tjokroaminoto terpilih sebagai ketua.

 Surabaya ditetapkan sebagai pusat kegiatan.

 Sarekat Islam terbuka bagi bangsa Indonesia, dengan Islam sebagai dasar persatuan.

 Membatasi masuknya pegawai negeri dalam keanggotaan Sarekat Islam.

Setelah kongres di Surabaya, Sarekat Islam mengalami beberapa perkembangan, antara lain sebagai berikut.

 Tahun 1915, Sarekat Islam ikut dalam aksi Ko- mite Indie Weerbar dan mendesak berdirinya De- wan Rakyat (Volksraad).

 Tahun 1917, Sarekat Islam pecah menjadi dua. Penyebabnya adalah masuknya paham sosial- isme-marxisme yang dibawa oleh Semaun,

Alimin, dan Darsono. Ketiga tokoh tersebut adalah anggota ISDV (Indische Social Democratische Vereniging) cabang Semarang. Sarekat Islam pecah menjadi Sarekat Islam merah dan Sarekat Islam putih. Sarekat Islam merah menganut pa- ham sosialis kiri. Pemimpinnya adalah Semaun, Alimin, Darsono, dan Muso. Sarekat Islam putih berpegang pada ajaran Islam. Pemimpinnya adalah K.H. Agus Salim dan H.O.S. Tjokroami- noto.

 Pada tahun 1918, Sarekat Islam menempatkan H.O.S Tjokroaminoto sebagai anggota Dewan Rakyat (Volksraad).

 Tahun 1920 merupakan puncak perkembangan Sarekat Islam. Pengaruh Sarekat Islam sangat dirasakan oleh masyarakat. Sifat dan corak Sa- rekat Islam sebagai organisasi perjuangan sa- ngat tampak. Sarekat Islam bersifat demokratis, sosialis, dan ekonomis.

 Tahun 1923, dalam kongres di Madiun, Sarekat Islam mengganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Partai Sarekat Islam bersifat non- kooperatif terhadap Belanda.

 Tahun 1927, dalam kongres diputuskan bahwa Partai Sarekat Islam bertujuan mencapai Indo- nesia merdeka berasaskan Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya, Partai Sare- kat Islam mengubah nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Nama PSI diubah menjadi PSII karena sifat perjuangan partai yang sangat na- sionalis.

Tokoh-tokoh Sarekat Islam antara lain: Haji Sa- manhudi, R.M. Tirtosudirjo, H.O.S. Tjokroaminoto, K.H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosuyoso, dan Ab- dul Muis.

3. Indische Partij

Indische Partij (IP) didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker (Danudirdja Setia- budi), R.M. Suwardi Suryaningrat, dan Dokter Cipto

Mangunkusumo. Indische Partij didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung.

Indische Partij adalah organisasi campuran. Anggotanya terdiri dari orang-orang indo (cam- puran Belanda dan Indonesia) dan orang-orang bumiputra. Organisasi ini merupakan organisasi yang mendukung gagasan revolusioner nasional. Jika orang-orang indo dan bumiputra bersatu, pasti akan terbentuk kekuatan besar yang mampu menghadapi pemerintah Belanda. Pada waktu itu, orang-orang indo mendapat perlakuan diskrimi- natif. Mereka dibedakan dari orang Belanda asli.

Tujuan Indische Partij adalah menumbuhkan dan meningkatkan jiwa integrasi semua golongan un- tuk memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional, serta mempersiapkan diri bagi kehidup- an rakyat yang merdeka. Dasar keanggotaannya terbuka untuk semua orang. Sedangkan asas per- juangannya adalah nasionalisme dan kooperatif.

Indische Partij menyatakan dengan tegas dan me- ngakui bahwa Hindia adalah tanah airnya. Per- nyataan ini menunjukkan bahwa nasionalisme In- donesia sudah ada di dalam Indische Partij, yaitu menginginkan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah Belanda bersikap tegas. Permohon- an Indische Partij untuk mendapat izin sebagai badan hukum ditolak. Organisasi itu dinyatakan terla- rang sejak awal Maret 1912.

Pada tahun 1913, pemerintah Hindia Belanda bermaksud merayakan seratus tahun pembebasan Belanda dari pendudukan Perancis. Dokter Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat membentuk suatu organisasi dengan nama Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Be- landa atau Komite Bumiputra. Para pemimpin

IndischePartij menulis beberapa kritik di harian De Expres, antara lain tulisan Suwardi yang berjudul

“Sekiranya aku seorang Belanda”. Kemudian, Cipto me- nulis karangan berjudul “Kekuatan atau Ketakutan”.

Gambar 2.2.7

Tiga Serangkai pendiri Indische Partij: Dr. Cipto Mangunkusumo. E.F.E Douwes Dekker, dan Suwardi

Suryaningrat.

Sumber:

Douwes Dekker juga menulis karangan yang ber- judul “Pahlawan kita Dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat”. Dalam tulisannya itu, Dou- wes Dekker memuji keberanian mereka dalam memperjuangkan nasib bangsa. Tulisan-tulisan tersebut mengecam ketidakadilan yang diterapkan Belanda di Indonesia.

Karena tulisan-tulisan tersebut menyinggung perasaan Belanda, Tiga Serangkai pemimpin

Indische Partij ditangkap. Mereka di buang ke luar Jawa. Alasan penangkapan adalah membahayakan keamanan dan ketertiban. Namun, atas permin- taan mereka sendiri, mereka memilih negeri Belanda sebagai tempat pembuangan. Ketiga tokoh tersebut kembali ke Indonesia pada tahun 1918. Sepulangnya dari negeri Belanda, mereka mendiri- kan Insulinde. Akan tetapi, organisasi ini tidak ber- kembang dan kurang mendapat simpati dari kalangan bumiputra.

4. Gerakan Pemuda

Sejak awal tahun 1920-an sering diadakan per- temuan antarorganisasi pemuda. Tujuan pertemu- an itu adalah untuk menyatukan langkah menuju sasaran yang sama, yaitu Indonesia merdeka. Alat untuk mencapai Indonesia merdeka adalah persa- tuan antarsesama pemuda pelajar. Akan tetapi, untuk menyatukan organisasi tersebut tidaklah mudah. Faktor penghalang untuk menyatukan or- ganisasi tersebut, antara lain adalah perbedaan latar belakang berdirinya organisasi, sifat, dan ide- ologi dari masing-masing organisasi.

Faktor penghalang tersebut akhirnya dapat di- kesampingkan. Mereka menyadari adanya hu- bungan dan keterikatan yang sangat erat satu sama lain sebagai satu bangsa, yaitu Indonesia. Selama bertahun-tahun, mereka berdebat tentang bentuk persatuan yang diinginkan. Ada dua alasan bentuk persatuan yang diperdebatkan, yaitu:

 bentuk federasi, penggabungan yang longgar (hanya ada satu keterikatan);

 bentuk fusi, peleburan (semua perkumpulan meleburkan diri menjadi satu).

Pada tanggal 7 Maret 1915, R. Satiman Wiryo- sandjoyo, Kadarman, dan Sunardi mencapai kesepakatan untuk mendirikan perkumpulan pemuda Jawa dan Madura. Perkumpulan itu diberi nama Trikoro Dharmo. Trikoro Dharmo berarti tiga tujuan mulia. Ketiga tujuan mulia itu adalah Sakti, Budhi, dan Bhakti.

Azas perkumpulan Trikoro Dharmo, yaitu: a. Menumbuhkan pertalian antara murid-murid

bumiputra pada sekolah menengah dan kursus perguruan kejuruan dan sekolah Vak.

b. Menambah pengetahuan umum bagi anggota- anggotanya.

c. Membangkitkan dan mempertajam perasaan bagi segala bahasa dan budaya Indonesia. Hadirnya Trikoro Dharmo yang sangat Jawa- sentris menimbulkan rasa tidak senang dari pemuda Sunda dan Madura. Oleh karena itu, pada tanggal 12 Juni 1918 diubah namanya menjadi Jong Java. Selain Jong Java muncul juga organisasi seru- pa, misalnya Jong Ambon, Jong Celebes (Sulawe- si), Jong Sumateranen Bond, dan lain-lain.

Pada dasarnya perkumpulan pemuda tersebut mempunyai cita-cita yang sama, yaitu Indonesia merdeka. Dalam perkembangan selanjutnya, dira- sa perlu untuk membentuk satu wadah yang mam- pu mempersatukan para pemuda dari berbagai latar belakang asal, budaya, pendidikan, dan aga- ma. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk menye- lenggarakan suatu pertemuan bersama (kongres) guna merealisasikan cita-cita tersebut.

a. Kongres Pemuda Indonesia I

Pada tanggal 15 Desember 1925, wakil-wakil dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Arum, dan lain- lain mengadakan suatu pertemuan. Dalam perte- muan tersebut, mereka bersepakat membentuk sebuah panitia untuk mempersiapkan “Kerapatan Besar Pemuda”. Mereka berusaha menggugah se- mangat kerja sama di antara berbagai organisasi di Indonesia, agar dapat mewujudkan dasar pokok lahirnya persatuan dan kesatuan di Indonesia.

Rapat tersebut menghasilkan susunan panitia kongres. Kepanitiaan kongres terdiri dari:

Ketua : M. Tabrani (Jong Java) Wakil ketua : Sunarto (Jong Java)

Sekretaris : Jamalludin Adinegoro (Jong Sumatra Bond)

Bendahara : Suwarso (Jong Java)

Panitia bertugas mempersiapkan segala sesua- tu yang diperlukan dalam pelaksanaan pertemuan. Contohnya adalah menghubungi tokoh-tokoh pe- muda, menyiapkan tempat dan acara pertemuan, dan lain sebagainya.

Setelah semua persiapan selesai, Kerapatan Be- sar yang diadakan di Jakarta dibuka. Pertemuan itu kemudian dikenal dengan Kongres Pemuda In- donesia I.

Kongres Pemuda Indonesia I diadakan pada tanggal 30 April - 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres dibuka oleh M. Tabrani yang menjabat sebagai Ke- tua Jong Indonesia Kongres Komite. Dalam pida- tonya, ditegaskan bahwa “Kita semua, orang Jawa, Sumatra, Ambon, Minahasa, dan lain-lain dija- dikan makhluk yang harus saling mengulurkan tangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan In- donesia”.

Dalam kongres tersebut, tokoh-tokoh pemuda mengambil kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Beberapa pidato yang menonjol adalah:

 Pidato Sunarto yang berjudul “Indonesia Bersatu”.

 Bahder Johan berpidato tentang “Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia”.

 Mohammad Yamin berpidato tentang “Ke- mungkinan-kemungkinan untuk Bahasa-bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Kemudian Hari”.

 Paul Pinontoan berpidato tentang “Kewajiban Agama dalam Pergerakan Kebangsaan”.

Pidato-pidato tersebut pada umumnya mem- berikan wawasan mengenai persatuan kebangsaan dan pentingnya mempererat hubungan antara se- mua perkumpulan pemuda.

Kongres Pemuda I ini berhasil membentuk suatu wadah yang disebut Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indonesia (PPPI). Tujuan PPPI adalah menggabungkan semua perkumpulan pemuda da- lam satu badan perhimpunan massa pemuda In- donesia.

Untuk mencapai cita-cita tersebut ternyata ma- sih ada beberapa hambatan. Misalnya, organisasi yang ikut dalam kongres merasa belum waktunya untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam satu wadah tunggal. Di samping itu, ada kesalah- pahaman antarmereka, serta rasa kedaerahan yang juga masih kuat.

b. Kongres Pemuda Indonesia II

Pada tanggal 20 Februari 1927, Algemeene Studie Club Bandung mendirikan sebuah organisasi yang bersifat nasional. Organisasi itu dinamakan Jong Indonesia dan kelak berganti nama menjadi Pemu- da Indonesia. Tujuan Jong Indonesia adalah mena- namkan dan mewujudkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia dengan dasar nasionalisme menuju In- donesia Raya.

Keanggotaan organisasi tersebut terdiri dari pemuda yang berumur 15 tahun dan pelajar AMS, RHS, dan STOVIA. Adapun tujuan organisasi ini

adalah memperluas dan memperkuat ide kesatuan nasional Indonesia. Oleh sebab itu, mereka mendi- rikan organisasi-organisasi, seperti organisasi ke- panduan dan menerbitkan majalah dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Organisasi ini mengadakan kongres pada tanggal 28 Desember 1927. Keputusan penting yang dihasilkan dalam kongres ini adalah sebagai berikut.

 Nama organisasi yang menggunakan bahasa Belanda harus diganti dengan bahasa Indone- sia, yaitu Jong Indonesia menjadi Pemuda In- donesia.

 Bahasa Melayu (Indonesia) ditetapkan sebagai bahasa pengantar.

 Mendukung gagasan PPPI untuk membentuk wadah fusi (penyatuan dan peleburan semua perkumpulan pemuda ke dalam satu perkum- pulan).

Pemuda Indonesia dan PPPI adalah dua organi- sasi yang sangat aktif untuk mencapai cita-cita per- satuan di kalangan pemuda. Pemuda Indonesia (PI) pernah menghadiri “Liga Anti Penindasan dan Penjajahan” yang dilaksanakan di Brussel, 10-15 Februari 1927.

Sesuai dengan maklumat pengurus kerapatan pemuda Indonesia dalam rapat tanggal 12 Agustus 1928, disusunlah panitia Kongres Pemuda Indone- sia II. Berikut ini susunan panitia Kongres Pemuda Indonesia II.

Ketua : Suganda Joyopuspito (PPPI) Wakil Ketua : Joko Marsaid (Jong Java) Sekretaris : Mohammad Yamin (JSB) Bendahara : Amir Syarifudin (Jong Batak)

Maksud dan tujuan diadakannya kongres pe- muda II, adalah sebagai berikut.

 Menyatukan cita-cita semua perkumpulan pe- muda Indonesia.

 Membicarakan beberapa masalah mengenai pergerakan pemuda Indonesia.

 Memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia. Sebelum Kongres Pemuda Indonesia II menca- pai kesimpulan, diadakan pertemuan-pertemuan atau sidang. Dalam sidang pertama, Suganda me- nyampaikan pidatonya tentang Persatuan dan Ke- bangsaan Indonesia.

Kongres Pemuda Indonesia II itu dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 di ge- dung Oast Java Bioskop (gedung tersebut sudah di- bongkar) dan di gedung Indonesische Club Gebouw

(Wisma Indonesia) di Jl. Kramat Raya 106, Jakarta. Kongres Pemuda Indonesia II menghasilkan Sumpah Pemuda. Isi Sumpah Pemuda, yaitu: Pertama : Kami putera dan puteri Indonesia

Gambar 2.2.8

Para peserta kongres pemuda kedua di Jakarta pada tanggal 26-28 Oktober 1928.

Sumber:

mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga : Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatu- an, bahasa Indonesia.

Keputusan sidang itu disiarkan melalui surat kabar Pemuda Sumatra pada akhir Oktober 1928. Kongres juga mengimbau kepada seluruh bangsa Indonesia, khususnya para pemuda untuk menggemakan sumpah tersebut di setiap kesem- patan, agar jiwa persatuan dan kesatuan semakin mengakar di hati masyarakat Indonesia. Pada saat kongres, lagu kebangsaan Indonesia (Indonesia Raya) dan bendera pusaka (Merah Putih) diperke- nalkan kepada peserta kongres. Lagu Indonesia Ra- ya diciptakan oleh W.R. Supratman.

Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia menjunjung tinggi serta memahami arti pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan cita-cita lu- hur bangsa Indonesia.

D. Masa dan organisasi pergerakan

Dalam dokumen Untuk SMPMTs Kelas VIII (Halaman 93-98)