• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETIKA PERDA HANYA MENJADI PERDA SEMATA

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 60-66)

budaya masyarakat Jawa dan menjadi bahasa ibu bagi hampir seluruh penduduk di Pulau Jawa. Namun demikian, keberadaan peraturan yang menopang kebijakan penggunaan dan penganti- sipasian berkurangnya penutur bahasa tersebut di daerah asli penuturnya belumlah menuai hasil yang memuaskan banyak pihak.

Bahasa daerah sebagai warisan budaya bangsa merupakan jati diri masyarakat yang menempati suatu daerah. Sebagai warisan budaya, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan yang di dalamnya mengatur pen- tingnya pelindungan, pelestarian, dan pembinaan bahasa daerah. Undang-undang ini memberikan kewenangan dan kewajiban penanganan bahasa dan sastra Indonesia kepada pemerintah pusat dan memberikan kewenangan dan kewajiban penanganan bahasa dan sastra daerah kepada pemerintah daerah. Pemerintah pusat berwenang merumuskan kebijakan nasional kebahasaan yang di dalamnya juga memuat kebijakan tentang apa dan bagai- mana pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah itu harus dilakukan. Pemerintah daerah berkewajiban men- dukung pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa Indonesia. Sebaliknya, pemerintah pusat juga harus memberikan dukungan kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah.

Untuk menindaklanjuti undang-undang tersebut, Peme- rintah Provinsi Jawa Tengah menerbitkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 55 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2013 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. Dalam hal ini, pemprov Jawa Tengah akan menerapkan peng- gunaan Bahasa Jawa di lingkungan kerja instansi pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta kabupaten/kota. Pemberlakuan wajib berbahasa Jawa sehari seminggu dalam percakapan di kantor

merupakan salah satu upaya pemerintah provinsi untuk melin- dungi, membina, dan mengembangkan bahasa, sastra, dan aksara Jawa di lingkungan kerja.

Peraturan gubernur tersebut dikeluarkan agar penggunaan bahasa, sastra, dan aksara Jawa semakin melekat dalam ke- hidupan sehari-hari. Hal ini selain dimaksudkan agar masyarakat Jawa Tengah tidak kehilangan jati dirinya juga untuk melindungi warisan tradisi masyarakat penuturnya. Pemerintah provinsi juga mewajibkan aksara Jawa ditulis sebagai pendamping Bahasa Indonesia pada nama/identitas jalan, kantor pemerintah daerah dan kabupaten/kota serta instansi lainnya di Jawa Tengah. Pedoman penulisan tersebut menjadi tanggung jawab Satuan Kerja Perangkat Daerah yang membidangi kerja sama dengan perguruan tinggi. Kerja sama tersebut dapat berupa penyuluhan kebahasaan seperti penggunaan tata bahasa daerah yang ber- sandingan dengan tata bahasa Indonesia dalam pemerian pe- namaan, kegiatan yang melibatkan pakar bahasa dan sastra, serta diskusi ilmiah yang bertujuan menyemarakkan kembali keber- adaan bahasa dan sastra daerah.

Meskipun perda tersebut bisa dikatakan cukup terlambat dikeluarkan sebagaimana di daerah lain yang paling dekat dengan budaya Jawa yakni Jawa Barat yang telah lebih dahulu mengatur dan membina Bahasa Sunda, tetapi sudah lebih baik daripada daerah lain yang sama sekali belum menganggap permasalahan bahasa sebagai permasalahan yang memberikan dampak luas terhadap masyarakat. Hal ini bisa jadi disebabkan karena per- soalan bahasa belum dianggap sebagai persoalan yang dapat memberikan dampak bagi kenaikan pendapatan daerah.

Persoalan yang ikut melatarbelakangi lahirnya perda menge- nai pelindungan, pengembangan, dan pembinaan bahasa dan sastra Jawa antara lain adalah banyaknya dialek di dalam Bahasa Jawa. Setiap dialek memiliki jumlah penutur yang tersebar di beberapa daerah yang berbeda. Pemetaan, pengkajian, pengem- bangan, pembinaan, penelitian, maupun pelestarian beragam

dialek Bahasa Jawa menjadi tanggung jawab pemerintah bersama dengan masyarakat. Tidak ada dialek yang lebih bagus/sem- purna dari dialek lainnya, demikian pula tidak ada penutur dialek tertentu yang lebih baik dari penutur dialek lainnya.

Permasalahan lainnya adalah perkembangan zaman yang demikian pesat sehingga mau tidak mau mulai menggeser peng- gunaan bahasa daerah oleh masyarakat penutur asli bahasa ter- sebut. Semakin modern suatu keluarga, semakin maju pola pikir anggota di dalam keluarga tersebut sehingga mengakibatkan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga.

Beragamnya dialek Bahasa Jawa menjadikan perda semakin dibutuhkan guna melestarikan keberagaman dialek yang men- jadi warisan budaya Jawa. Tidak mudah memang, mewadahi semua keinginan dalam satu aturan yang sama. Semisal, meng- gunakan satu dialek tertentu dalam pembelajaran muatan lokal bahasa dan budaya di sekolah. Namun hal ini bukanlah suatu hal yang mustahil dilakukan jika semua pemangku kepentingan dan juga masyarakat bahu membahu mendorong bertumbuhnya bahasa dan budaya Jawa di lingkungannya masing-masing dengan cara yang sesuai dengan dialek dan tradisi masing-masing. Baha- sa Jawa diharapkan tidak hanya digunakan oleh masyarakat se- bagai bahasa pada acara keagamaan, rapat di lingkungan RT, lembaga adat, dan kegiatan adat lainnya, tetapi juga telah me- lekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kendala yang paling berat berasal dari pengguna bahasa daerah itu sendiri. Ketika zaman semakin modern, kebutuhan akan penggunaan bahasa selain bahasa daerah menjadi keharus- an. Setiap orang berkebutuhan untuk menguasai lebih dari satu bahasa di luar bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu mereka. Kebutuhan tersebut memang sejalan dengan tingkat kemajuan zaman dan mengerucutnya jumlah lapangan kerja bagi penutur yang hanya menguasai bahasa daerah saja. Pengguna tenaga kerja lebih mementingkan calon tenaga kerja yang memiliki

kemampuan bahasa Indonesia sekaligus bahasa asing dibanding bahasa daerah. Hal ini mengakibatkan banyak keluarga muda modern mulai menanamkan sejak dini penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing di lingkungan rumah. Tergesernya bahasa daerah dari penutur aslinya tak perlu menunggu waktu lama jika hal ini telah marak dan jamak terjadi di keluarga muda modern. Kebanggaan menggunakan bahasa daerah di rumah mulai berkurang apalagi ketika terjadi pernikahan antar suku yang mengakibatkan kecenderungan pemilihan penggunakan bahasa nasional sebagai bahasa penghubung kedua orang tua di rumah.

Upaya pelestarian bahasa Jawa yang dilakukan oleh Pem- prov Jateng selain penggunaan bahasa Jawa di lingkungan kerja dan lingkungan sekolah adalah mendorong diselenggarakannya lomba-lomba di bidang sastra Jawa serta melakukan pembinaan di sanggar-sanggar maupun pemberdayaan kelompok pegiat sastra Jawa. Hal ini dimaksudkan agar sastra Jawa kembali ber- gema gaungnya di tengah semakin gencarnya arus globalisasi yang melanda masyarakat. Semakin berkurangnya intensitas media massa cetak maupun elektronik yang mengangkat topik- topik tentang bahasa Jawa menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah provinsi Jawa Tengah. Untuk itu, diperlukan banyak upaya berupa sumbang pemikiran yang bisa mendorong ber- tumbuhnya kembali budaya, bahasa, dan sastra Jawa di era modern seperti saat ini.

Manfaat signifikan bagi perkembangan bahasa dan sastra Jawa setelah perda tersebut dijalankan merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam kaitannya dengan penerbitan perda tentang bahasa dan sastra Jawa. Bisa dibayangkan ketika belum ada perda yang mengatur bahasa dan sastra Jawa, penggunaan bahasa Jawa di lingkungan kerja tak bakal terjadi. Keberadaan perda sedikit banyak telah membangkitkan keinginan masyarakat untuk tetap menggunakan bahasa daerah di rumah ataupun di lingkungannya. Meskipun

orang tua muda modern mulai berkurang jumlahnya yang meng- gunakan bahasa daerah di rumah, tetapi keberadaan bahasa Jawa sebagai penghubung komunikasi dengan orangtua mereka tetap terjaga kelangsungannya.

Bagaimana dengan bahasa daerah di daerah lain? Di provinsi lain juga mulai marak pengkajian mengenai perda dan dibukti- kan dengan terbitnya perda di beberapa provinsi seperti Provinsi Jawa Barat, Provinsi lampung, dan Provinsi Bali. Meski belum semua provinsi menerbitkan perda sebagai acuan bagi terbina- nya kelestarian bahasa dan budaya di daerah masing-masing, tetapi sistem percontohan tetap berjalan. Ketika suatu daerah/ provinsi telah berhasil membina dan melestarikan budaya dan bahasa daerah di lingkungannya, daerah lain akan mengikuti keberhasilan tersebut dengan cara mencontohnya. Demikian se- terusnya. Tak dapat dipungkiri, sistem percontohan ini akan menjadi satu sistem tersendiri dalam era otonomi daerah. Masyarakatlah yang kelak akan menikmati manfaat signifikan dari diterbitkannya perda mengenai bahasa dan sastra daerah. Sebagai bagian dari sistem pemerintahan yang mengedepan- kan keberlangsungan bahasa dan budaya daerah, sudah semesti- nya pemerintah daerah dan masyarakat saling mendukung terlaksananya perda tentang bahasa dan sastra daerah di ling- kungannya masing-masing. Jangan sampai kelak perda hanya menjadi perda semata yang tidak memiliki gaung bagi perkem- bangan kelestariannya di tengah masyarakat penutur aslinya sendiri.

Dalam era kekinian, sikap positif berbahasa tidak lagi harus dipandang sebagai sesuatu yang instan terjadi atau langsung diterima masyarakat setelah dianjurkan oleh pembina atau penyuluh bahasa. Namun, yang perlu diperhatikan adalah sikap positif mengandung muatan-muatan dinamis yang membutuh- kan formulasi pada tataran penjabaran sehingga ia dapat menjadi sistem yang terpadu.

Hal itu perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh, karena sikap positif berbahasa merupakan tautan multifungsi dari anggapan, tata nilai, dan perilaku. Smith berpendapat bahwa perangkat penerimaan tentang dunia pengalaman diterjemahkan ke dalam tata nilai yang memberi pedoman tentang sifat se- layaknya perikehidupan ini. Tata nilai itu selanjutnya diungkap- kan sebagai perangkat sikap yang dalam perilaku berupa per- nyataan putusan penilaian (Moeliono, 1981:143).

Gambaran dan pernyataan tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa nilai, fungsi, dan harapan dalam sikap positif berbahasa seharusnya diformulasikan dalam paradigma kontinuitas yang konkret. Artinya, konsep sikap positif tidak hanya menjadi bagi- an dari doktrin pembinaan kebahasaan dan anjuran bernasional- isme, tetapi harus dikemas dalam pola yang runtut sehingga menjadi media pemberdayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud paradigma sikap positif berbahasa adalah suatu konsep yang dapat diharapkan menumbuhkan keyakinan, menggugah perasaan, dan mendorong kecenderungan bertindak sehingga sikap positif tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak.

KONTINUITAS NILAI, FUNGSI,

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 60-66)