• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBAGAI UPAYA MERAMAIKAN KRITIK SASTRA DI RIAU

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 155-160)

karya sastra dan dia membuat pendapat tentang karya sastra tersebut, dia sudah bisa memulai untuk menulis kritik sastra. Di- anggap susah (sulit) karena sebuah karya sastra itu pada dasarnya adalah sebuah karya yang menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Artinya, apa yang diceritakan pengarang dalam karya- nya itu harus diungkap lagi maknanya karena ada sesuatu yang disampaikannya, selain yang tampak jelas dalam cerita. Hal itu disebabkan karya sastra itu adalah sistem model kedua (secondary modelling system). Untuk sebuah kritik yang lebih serius (baik), tentulah harus menggunakan teori dan metode tertentu sehingga analisis menjadi lebih tajam dan terarah.

Keluhan sastrawan tersebut adalah mengenai kritik sastra yang tidak terekspos. Menurutnya, hasil penelitian mengenai karya sastra ini lebih banyak teronggok di perpustakaan dengan pem- baca yang terbatas atau tinggal sebagai arsip saja. Oleh karena itu, pembicaraan penyebab kurangnya kritik sastra di Riau ini lebih diarahkan pada kurangnya pemunculan (publikasi) karya kritikus-kritikus di media massa seperti koran dan majalah.

Di media massa terdapat istilah “layak muat” atau “layak cetak”. Hal itu artinya sebuah tulisan, entah itu dari wartawan- nya atau dari luar, sudah memenuhi standar tertentu yang di- syaratkan media itu. Untuk memenuhi standar tersebut, hal per- tama yang harus dipenuhi oleh seorang penulis adalah kualitas tulisannya yang “mumpuni”. Untuk memenuhi kualifikasi ter- sebut, yang diperlukan oleh penulis kritik sastra adalah kemampu- an di bidang sastra atau budaya, serta tentu saja kemampuan menulis secara umum.

Kemampuan ini akan mempengaruhi isi dari tulisan yang dibuat. Kualitas penulis yang baik akan menghasilkan analisis yang tajam terhadap suatu masalah yang ada di sebuah karya sastra. Jika kualitas seorang penulis baik, kemungkinan untuk dimuat pun akan lebih besar. Untuk tulisan di media massa, seringkali dituntut sebuah tulisan yang up to date, tulisan-tulisan yang terkait dengan momen yang ada pada waktu itu. Hal yang seperti itu lebih disukai.

Kemampuan yang dibutuhkan tidak hanya kemampuan yang mempengaruhi isi tulisan (apa yang disampaikan), tetapi juga bahasanya (bagaimana penyampaiannya). Bahasa yang di- gunakan dalam sebuah tulisan di surat kabar tentu saja berbeda dengan karya ilmiah yang akan diterbitkan di jurnal, misalnya. Oleh karena itu, dituntut pula kemampuan dari penulis untuk mampu menulis ala surat kabar atau majalah.

Bagi penulis pemula, penulis yang tulisannya belum pernah atau baru sesekali dimuat di media massa, menembus seleksi bukanlah urusan mudah. Sementara, bagi para kritikus senior, ketidakmunculan tulisannya di surat kabar atau majalah, bisa jadi disebabkan mereka lebih memilih menuangkan kritik mereka dalam sebuah tulisan yang lebih ilmiah sehingga sasaran mereka adalah jurnal-jurnal ilmiah atau berbentuk buku. Sayangnya, seringkali jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku mengenai kritik sastra ini hanya terakses oleh kalangan yang terbatas saja.

Redaktur sebuah kolom bertanggung jawab terhadap kolom yang diasuhnya. Seorang redaktur kolom atau rubrik sastra atau budaya, bertanggung jawab terhadap kualitas tulisan yang di- anggap layak cetak. Oleh karena itu, para redaktur akan mencari tulisan yang menurutnya bagus dan bermutu.

Pemilihan sebuah tulisan yang layak cetak oleh seorang redaktur dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya kemampuannya di bidang tersebut (baca: sastra atau budaya) dan juga kemampu- an untuk “meramal” apakah sebuah tulisan yang dimuat akan “disukai” oleh pembaca. Hal itu tidak terlepas dari oplah surat kabar atau majalah tersebut nantinya.

Selain kedua hal tersebut, jadi atau tidaknya sebuah karya dimuat juga bergantung pada selera redaktur. Bisa saja sebuah karya yang bagus, tidak dimuat karena tidak sesuai dengan se- lera (kecenderungan estetis, bahkan politis) redaktur. Sayangnya, tidak semua penulis mengetahui selera redaktur. Biasanya, se- orang redaktur juga tidak akan menyampaikan seperti apa selera- nya. Kejelian penulislah untuk mengetahui selera redaktur.

Apakah dia menyukai masakan tulisan yang manis, asam, atau berbumbu. Untuk mengetahui hal itu, sebaiknya penulis meng- amati tulisan-tulisan yang pernah muncul sebelumnya. Dari situ, penulis akan mendapat gambaran mengenai selera redaktur. Ketidaksesuaian isi kritik dengan selera redaktur dapat meng- akibatkan tulisan seorang kritikus tidak dimuat.

Selain sebagai sarana untuk memperkenalkan tulisan dan diri sendiri kepada masyarakat, seorang penulis juga mengingin- kan imbalan untuk tulisan yang merupakan buah pikirannya itu. Pada beberapa surat kabar nasional yang terbit di Jakarta dan mempunyai oplah banyak dan didistribusikan ke seluruh Indo- nesia, imbalan yang diberikan cukup menggiurkan. Bahkan, bagi seorang penulis yang produktif, menulis di media massa seperti ini dapat dijadikan mata pencaharian untuk hidup layak.

Sementara di Riau, penghargaan untuk sebuah tulisan di surat kabar atau majalah di Riau belum cukup memadai. Hal ini bisa saja merupakan penyebab minimnya orang menulis di surat kabar. Imbalan yang didapat dengan menulis sebuah penelitian jauh lebih besar daripada menulis di surat kabar, walaupun disadari tingkat kesulitannya juga lebih besar. Namun, imbalan untuk penulis di surat kabar memang harus ditingkatkan supaya gairah para penulis lebih meningkat pula.

Menyatakan persoalan kritik sastra di Riau hanya berkaitan dengan ketiga hal di atas, tentu saja sebuah sikap yang terlalu menyederhanakan masalah. Akan tetapi, ketiga poin di atas dapat mempengaruhi kehidupan kritik sastra di Riau. Untuk menggairahkannya perlu peran serta berbagai pihak. Pada dasar- nya, sebuah karya sastra memerlukan kritik sastra untuk mem- perkenalkan karya tersebut ke masyarakat. Kritik sastra diperlu- kan untuk memperlihatkan kualitas sebuah karya. Bagi seorang sastrawan, sebuah kritik sastra seharusnya menjadi sebuah referensi untuk menulis karya secara lebih baik lagi. Tidak semestinya seorang sastrawan alergi terhadap kritik. Sastrawan juga tidak perlu merasa gundah apabila bila karyanya ditafsirkan berbeda

dengan apa yang dikehendaki atau dimaksudkannya karena ketika sebuah karya yang sudah “dilempar” ke masyarakat, masya- rakatlah yang berhak menafsirkannya.

Para pengampu sastra di perguruan tinggi hendaknya dapat pula membimbing dan mengarahkan mahasiswanya untuk me- nulis di media massa. Tugas-tugas yang dikerjakan pada saat perkuliahan dapat dipublikasikan. Para pegawai di institusi yang berkenaan dengan sastra pun digesa untuk memublikasikan tulisannya. Mereka akan mendapat keuntungan dari angka kredit karena pemublikasian ini.

Jadi, marilah menulis kritik sastra supaya kehidupan ke- sastraan di Riau dan Indonesia secara luas, lebih marak.

Postmodernisme pertama kali muncul ke permukaan di dunia Latin tahun 1930-an, satu generasi sebelum kemunculannya di Inggris atau Amerika. Adalah seorang dari Unamuno dan Ortega, Federico de Onis, yang mengedepankan istilah postmodernismo. Ia memakainya untuk menggambarkan pengaliran kembali kon- servatif (conservative reflux) dalam modernism itu sendiri: sebuah aliran yang mencari pelarian dari tangan lirik (lyrical challenge) yang berat dalam sebuah perfeksionisme yang detail dan humor ironis yang mati, yang keistimewaan paling orisinil pada peng- ungkapan kepada perempuan. Dilanjutkan oleh Toynbee yang menerbitkan A Study of History dalam jilid ke-8 terbit tahun 1954 memberi zaman yang baru terbuka dengan adanya perang Prancis-Prussia (Franco-Prussia War) sebagai era post-modern (Post- modern age).

Postmodernisme adalah nama gerakan di “kebudayaan kapitalis lanjutan”, secara khusus dalam seni. Terdapat pengerti- an bila orang melihat modernism sebagai kebudayaan moderni- tas, maka postmodernisme akan dipandang sebagai kebudayaan postmodernisme. Istilah postmodernisme muncul pertama kali di kalangan para seniman dan kritikus di New York pada 1960 dan diambil alih oleh para teoritikus Eropa pada 1970-an. Salah satunya, Jean Francois Lyotard, dalam buku sangat terkenal yang berjudul The Postmodern Condition, menyerang mitos yang melegitimasi zaman modern (“narasi besar”), pembebasan pro- gresif humanitas melalui ilmu, dan gagasan bahwa filsafat dapat memuliakan kesatuan untuk proses memahami dan mengem- bangkan pengetahuan yang secara universal valid untuk seluruh umat manusia. Teori postmodernisme menjadi identik dengan

IDEOLOGI PUITIKA POSTMODERNISME

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 155-160)