• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar Independensi Ke Pengadilan Calciopoli

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 117-121)

1. Dagelan Merias Peradilan

Rekaman KPK yang pernah disiarkan MK berdurasi 4, 5 jam tercatat oleh sejarah. Rekaman ini seolah semakin melengkapi tragedi yang menimpa dunia peradilan di negeri ini atau membenarkan kalau peradilan Indonesia sedang atau telah diserang tumor ganas, yang penyakit ini bisa menggerogoti dan mendegradasi sampai mati.

Tumor ganas yang menyerang dunia peradilan ini terdiri dari elite penegak hukum dan ekonomi yang berkolusi. Mereka membuat wajah peradilan layaknya sanggar dagelan yang mempertontonkan sepak terjang segelintir orang yang dengan gampangnya melucuti atau menelanjangi hukum sebulat-bulatnya. Supremasi hukum di tangan 172

Anang Sulistyono, dkk, Op. Cit, hal. 66. 173

penegaknya tidak ubahnya macan kertas yang “dirobek” sendiri atau tidak berdaya menghadapi taring-taring gorila yang mencengkeram dan menghegemoninya.

Menyikapi kasus tersebut, tampaknya elite penegak hukum di negeri ini wajib belajar cara menjaga citra peradilan. Meminjam pemikiran sejarawan TS Illiot “kalau ingin menuai kehidupan yang lebih baik, kemajuan, dan pencerahan, maka belajarlah dari peristiwa masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu, adalah guru yang paling menentukan warna kehidupan masa kini dan masa depan.”

2. Belajar dari Calciopoli

Pengadilan skandal dunia sepak bola professional di Italia (Calciopoli) yang pernah menghukum beberapa klub yang terlibat pengaturan skor pertandingan layak dijadikan pelajaran bersejarah bukan hanya oleh manajer sepak bola semacam PSSI, tetapi juga oleh manajer negara ini, khususnya elite fundamental yang membingkai manajemen peradilan Indonesia.

Pengadilan yang menangani skandal pengaturan skor pertandingan di Italia tersebut tetap tidak bergeming dengan pengaruh publik yang maunya meminta ada “toleransi” dengan klub-klub yang telah berjasa menyumbangkan sebagian besar pemainnya dalam mengantarkan Tim Nasional Italia menjuarai Piala Dunia 2006, suatu gelar bergengsi, yang barangkali bagi negeri (Indonesia) ini hanya sebatas mimpi.

Klub sebesar Juventus maupun AC Milan, yang paling banyak menyumbangkan pemainnnya di Timnas Italia, tetap terkena hukuman yang tergolong berat. Jasa besar yang sudah diberikan kedua klub ini pada citra negara, tidak membuat pengadilan calciopoli bergeming atau memberikan hak privilitasnya. Tidak ada perlakuan istimewa atau penganak-emasan pada klub yang terbukti mempermainkan “hukum sepak bola” atau citra hukum di jagad olahraga.

Saat itu, Juventus, yang di dalamnya terdapat sejumlah besar pemain tenar seperti Cammonaresi, Buffon, Del Piero, Fabio Cannavaro, Zamrota, dan lainnya, harus menerima kenyataan pahit untuk melepas gelar juaranya atau kehilangan mahkota juaranya, setelah pengadilan

calciopoli mencopotnya dan menggusurnya dari Seri-A menuju Seri-B. Juventus yang merasa dirugikan oleh pengadilan calciopolimengajukan upaya hukum berkali-kali, tetapi tetap juga gagal. Akhirnya Juventus terpaksa harus memulai kompetisi di Seri-B dengan kondisi yang porak-poranda, karena sejumlah pemain terasnya telah pindah ke klub lain yang lebih menjanjikan masa depan.

Juventus atau AC Milan yang berjasa pada negara dan rakyat Italia, sepintas layaknya pepatah yang sering kita suarakan: “air susu dibalas

air tuba”, suatu jasa besar, prestasi istimewa, dan reputasi di tingkat dunia, ternyata kembali ke negeri sendiri disambut dengan pelecehan dan penghancuran. Apa yang sudah diperjuangkan dengan susah payah demi negara, faktanya bukan penghargaan yang diperoleh, tetapi justru sanksi hukuman menyakitkan.

Meski begitu, kedua Klub itu tetap sportif, berjiwa besar, atau

menerima menjalani sanksi hukum yang diberlakukan kepadanya. Juventus mau menjalani pertandingan di level klas dua yang jauh dari sorotan media, tidak seberapa dilirik oleh sponsor, yang tentu saja tidak mampu menggaji pemain secara memadai, dan kurang mendapatkan perlakuan-perlakuan istimewa.

Mengapa klub bermodal besar seperti Juventus mau menerima “dikalahkan” atau disungkurkan oleh pengadilan demikian? Mengapa mereka tidak memilih melakukan suap terhadap sistem peradilan yang memeriksanya? Mengapa pendukung Juventus tidak menjadi massa yang menyebar dan menyuburkan perbuatan anarkis dimana-mana?

Pengadilan Calciopoli merupakan salah satu faktor penting yang menentukan. Pengadilan174 ini sudah dipercaya menjadi pengadil yang berasas fair play, jujur, adil, tidak diskriminatif, dan independen, demi tegaknya kedisiplinan, ketertiban, dan keharmonisan sosial dalam dunia sepak bola. Kredibilitas pengadilan Calciopoli ditempatkan dalam hirarkhis tertinggi dibandingkan manajemen Timnas dan klub. Apa yang terjadi di ranah ”kapitalisme olahraga”, jika dapat dibuktikan kesalahan atau tindak pidanaya, tetap dijatuhi sanksi hukum secara egaliter sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya.

Prestasi yang bersifat nasional tidak dijadikan dalih yang mempengaruhi dan mengalahkan independensi pengadilan. Kokohnya independensi ini membuat setiap elemen masyarakat menghormati atau menaruh kredibilitas yang sangat tinggi, sehingga penyakit seperti dugaan ada kolaborasi dan skandal atau praktik-praktik kriminalisasi, tidak diselesaikan dengan cara anarkis, tetapi tetap di forum law enforcement-nya.

Pengadilan Calciopoli bukan hanya menjadi corong pemerintah dalam menjaga citra dunia olahraga, tetapi juga diberi amanat oleh publik dalam melindungi hak-hak pecinta dan penggemar sepak bola dari kemungkinan dirusak oleh ”intervensi” klub yang berlimpah uang,

174

Meski dalam bentuk pengadilan di bidang olahraga, tetapi kinerja peradilan ini tidak mempan dipengaruhi atau digoyahkan oleh kepentingan-kepentingan politik dan lainnya (di luar proses hukum). Setiap anggota masyarakat dituntut menyadari arti pentingnya dunia peradilan bagi keberlanjutan hidup masyarakat dan bangsa.

yang hanya mengejar kemenangan dengan cara-cara permisif (serba membolehkan segala cara).

Prestasi pengadilan Calciopoli tersebut terletak pada kapabilitas moralnya dalam menjaga independensi, yang kapabilitas ini tidak dimiliki oleh dunia peradilan di negeri ini. Memang secara de jure, peradilan berasaskan kemandirian dalam menangani perkara hukum, akan tetapi dalam praktinya, tidak sedikit kita jumpai akselerasi ”markus” (makelar kasus) dan oknum elite kekuasan yang menggerogoti dan mereduksi idealismenya profesinya sendiri.

Plato mengingatkan: seperti manusia, demikian pulalah negara. Negara adalah perwujudan sifat-sifat manusianya. Negara adalah apa yang menjadi perilaku manusianya. Karena itu, kita tidak dapat mengharapkan keadaan negara menjadi lebih baik, jika manusianya tidak lebih baik juga perilakunya. Kita tidak akan bisa mengharapkan citranya sebagai organisasi yang beradab, kalau manusianya suka memilih perilaku tidak bermoral

3. Dampak Kegagalan Menegakkan Independensi

Begitu pula peradilan, yang merupakan instrumen pengawal negara. Ia akan mampu mengawal negara menjadi organisasi yang melayani rakyat dengan sebaik-baiknya, kalau elite peradilannya belum sampai terjangkit penyakit ”kemiskinan” keteguhan moral atau independensi menegakkan amanat jabatannya masih terjaga. Ketika elemen peradilannya tergelincir dalam ranah ”ketaklukan” akibat intervensi dari luar semacam ”penjahat ekonomi” atau kekuatan elite kekuasan berpengaruh, maka wajah peradilan tidak ubahnya keranjang sampah.

Ironisnya, elemen peradilan (jaksa, hakim, penasihan hukum, dan lainnya) lebih sering tergoda melakukan malapraktik profesi akibat mengundang elite ekonomi atau siapapun yang diduga bermasalah secara hukum. Mereka diberi kesempatan atau dirangsang membangun relasi simbiosis mutualisme dengan elite bermasalah, namun dikalkulasi menguntungkan secara ekonomi dan politik.175 Karena sudah dilibatkan dalam ranah rekayasa hukum, akhirnya elite penegak hukum menjadi subordinasi dari kepentingan kaum sindikat.

Model peradilan yang kehilangan independensi itu jelas tidak akan memberi rasa keadilan pada masyarakat, disamping hanya bisa menciptakan kekalahan pada seseorang yang seharusnya menjadi pemenang. Elemen penegak hukum demikian juga layak digolongkan 175

Oknum peradilan merupakan penyebar penyakit yang membuat karut marutnya dunia

hukum. Dunia hukim sering disebut sebagai dunia ”pengaturan skor” akibat praktik kompromistik antar oknum dengan orang-orang yang terlibat perkara hukum, lihat Hamdan Fuad, Op.Cit, hal. 7

sebagai”tengkulak” yang memediasi nilai jual dari obyek perkara yang dijualnya, yang untuk memperlancarnya menggunakan institusi sebagai benteng pelindungnya.

Kalau pengadilan olah raga Italia (Calciopoli) tidak takut menghadapi berbagai bentuk tekanan (pressure) sosial, politik dan ekonomi, seharusnya mereka pun tidak perlu takut kepada ancaman segelintir orang atau seseorang, katakanlah dengan mafioso, bilamana mereka sudah menunjukkan diri sebagai penegak hukum yang tidak cacat hukum.

Dalam dokumen DI ERA MALAPRAKTIK PROFESI HUKUM (Halaman 117-121)