1. Gaya Bahasa di Awal Menjabat
Istilah ”gertak sambal” sudah menjadi kosakata yang akrab dalam kehidupan keseharian kita, tidak terkecuali dalam ranah kehidupan kenegaraan (pemerintahan).
Elit kekuasaan atau sosok yang sedang dipercaya memegang jabatan strategis sering berpidato yang kemudian membuat pernyataan ”revolutif” seperti dalam kata ”basmi, libas, habisi, sikat, ” dan lannya, terlebih di awal memimpin atau menyambut momen tertentu yang berhubungan dengan karier dan jabatannya, namun lambat laun, istilah yang diucapkan itu berlalu tanpa realita. Apa yang dilakukan oleh pemimpin ini tidak lebih dari “gertak sambal”.
Istilah yang bercorak ”revolutif” itu di awal-awalnya sangat menjanjikan, membius, dan seperti membahasakan kepentingan riil masyarakat. Komunitas pejabat ini seolah benar-benar memahami apa yang diimpikan oleh masyarakat atau bawahannya. Sayangnya, setelah beberapa waktu menikmati jabatannya, kata-kata manis itu terlupakan dan tinggal jadi kenangan kelembagaan dan kenegaraan.
Selain itu, umumnya pejabat kita memang terbiasa bermain atau memainkan bahasa yang dinilai bisa memediasi kepentingannya, setidaknya demi meyakinkan publik kalau dirinya akan menunjukkan peran besar dan strategis seperti yang dibahasakan atau ucapkannya.
Komunitas pejabat kita itu memang memahami realitas di masyarakat, bahwa seseorang itu pertama kali dilihat dari penampilan dan cara bicaranya, apalagi seseorang yang sedang dipercaya menduduki jabatan strategis. Jika saat penampilan perdana saja sudah
mengecewakan atau kurang meyakinkan publik, rakyat, atau bawahan, maka ia akan menjadi bahan gosip dan bahkan pembunuhan karakter.
Sayangnya, tidak sedikit kita temukan elite kekuasaan itu yang hanya mahir di penampilan perdanannya, sementara ketika sudah memasuki lingkaran kekuasaannya, mereka gagal memainkan perannya dengan baik (maksimal). Apa yang diucapkannya sebagai dorongan (motivasi) hingga ancaman kepada obyek, hanya berujung sebagai ”gertak sambal”.
”Gertak sambal” merupakan wujud terpenjaranya elite kekuasaan dengan janjinya sendiri. Ia mahir dan pintar menunjukkan olah verbal yang berelasi dengan kekuasaannya, akan tetapi saat dituntut pembuktian, dirinya gagal akibat apa yang digagas dan diucapkannya, terpenjara oleh kepentingan lain yang lebih besar, lebih kuat, dan berpengaruh besar pada dirinya.
2. Membaca Pembangkangan Hukum
F. Tanuwijaya198menyebutkan, bahwa ”gertakan” seseorang di awal menjabat merupakan bagian dari upaya pencitraan atau politik pembahasaan secara manis dan romantis, sekaligus represip yang dilakukannya guna menciptakaan kesan kalau dirinya tidak berasal dari sosok yang salah pilih, tidak gagap bermain, dan mampu melakukan perubahan.
Dalam relasinya dengan kasus kebandelan wajib pajak dalam menunaikan kewajibannya, janji penjaringan atau penegakan (hukum) seperti penyanderaan sudah sering didengungkan oleh pejabat yang menduduki posisi strategis di institusi perpajakan, akan tetapi janji ini seringkali hanya berjalan ”setengah hati”. Norma yuridis yang me-regulasikan lembaga sandera atau ”sanksi badan” sudah digariskan, akan tetapi dalam law in action-nya, lembaga ini tidak berjalan dengan baik, atau kalaupun ditegakkan, tidaklah sebanding dengan kasus ”pembang-kangan hukum” (legal discobidience) yang dilakukan oleh wajib pajak.
Upaya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak untuk mengejar tunggakan memang terus dilakukan. Sebagai bentuk keseriusan menagih tunggakan pajak yang nilainya Rp 51 triliun misalnya, Ditjen Pajak (segera) mengaktifkan kembali Lembaga Penyanderaan. Lembaga Penyanderaan akan diaktifkan untuk mengejar para penunggak pajak yangmembandel.
Secara teoritis, dalam prosedur penagihan tunggakan pajak, wajib pajak (WP) yang bersengketa dengan Ditjen Pajak terkait nilai
198
tunggakan harus diselesaikan melalui pengadilan. Jika pengadilan sudah mengambil keputusan, salah satu pihak yang tidak puas bisa mengajukan banding. Namun, jika sudah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht), proses penagihan langsung dilakukan. Mulai surat teguran, surat paksa, sita lelang, hingga sita badan atau sandera.
Lembaga ”sita badan” itu sudah sejak 2003 tidak aktif atau tidak diberdayakan oleh lembaga pajak. Dalam tenggang waktu sekian lamanya ini bukannya tidak ada wajib pajak yang membandel atau membangkang dari kewajiban membayar pajak, akan tetapi peradilan pajaknya yang belum berjalan dengan baik akibat ”kesulitan” menghadapi wajib pajak dari kalangan elite yang pandai berkelit, pandai menyiasati kewajibannya, atau penegak hukum pajaknya sendiri yang memang memilih bersikap ”mengalah” demi target-target tertentu.
Sebagai indikatornya, lembaga penyanderaan atau ”sita badan” baru mulai ada tanda-tanda berjalan (bernyawa) sejak Desember 2009. Misalnya di Kantor Pelayanan Pajak Rungkut Surabaya menerapkan ”sita badan” kepada seorang penunggak pajak, RG. Dia merupakan penanggung jawab PT SDS yang memiliki tunjangan pajak Rp 3, 3 miliar sejak sembilan tahun lalu.
Idealnya, lembaga pajak tidak perlu menunggu tunggakan pajak sampai menumpuk 51 trilyun rupiah, sebab kalau sampai sebesar ini uang negara yang ”dipermainkan” oleh wajib pajak, khususnya dari komunitas korporasi besar, maka problemnya menjadi komplikatif. Lawan yang dihadapi oleh elemen penagih pajaknya semakin banyak, apalagi kalau lawannya jelas-jelas punya nyali lebih besar dibandingkan dengan dirinya.
3. Kode Etik Profesi dan Egalitarianisme
Gertakan yang dilakukan oleh Ditjen Pajak tentulah diharapkan mampu membangkitkan semangat (komitmen) profetis elemen penagih dan peradilannya untuk menegakkan norma yuridis, khususnya sanksi hukuman ”sita badan”, bukan semata-mata demi citra sosok pimpinan dan lembaga perpajakan, tetapi demi keadilan berbasis egalitarianisme199(berprinsip kesederajatan).
Jangan hanya kepada korporasi kecil atau home industry, elemen penegak hukum pajak berani melakukan gertakan atau mengancam hendak memidakan pelanggar atau pembangkangannya, tetapi kepada korporasi besar, mereka (elemen penegak hukum) garus lebih berani 199
Prinsip egalitarianisme merupakan salah satu prinsip universal yang bermaknakan kesederajatan perlakuan di depan hukum dan pemerintahan maupun kehidupan makro lainnya di masyarakat. Lihat, Mustofa,Op.Cit, hal. 22.
dan menunjukkan militansinya. Hanya berapa yang bisa ”digiring” masuk ke negara dari wajib pajak golongan menengah ke bawah, kalau korporasi besar bisa leluasa atau liberal menjalankan kriminalisasi pajak tanpa tersentuh oleh sanksi yuridis.
Prinsip egalitarianisme jangan sampai tersandera oleh lembaga sandera yang diaktifikan oleh lembaga pajak, karena lembaga ”sita badan” ini mengandung pesan edukatif dan moral (penjeraan). Siapa saja wajib pajak yang tersandera, secara tidak langsung akan mengimbaskan bentuk pendidikan publik yang baik untuk membuat masyarakat menjadi masyarakat taat, sementara penjeraannya akan membuat negeri ini masih bisa diharapkan pamornya sebagai lembaga berwibawa yang setiap siapapun yang melanggar, juga terjaring sanksi hukum atau tidak mempunyai kekebalan layaknya “ raja yang tidak pernah salah” (king no wrongs).